Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI PERMUKIMAN KUMUH DI PUSAT KOTA JAMBI May Istikasari; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 2, No 4 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.885 KB)

Abstract

Abstrak: Pesatnya perkembangan Kota Jambi yang berfungsi sebagai pusat kegiatan serta menyediakan layanan primer dan sekunder menjadi daya tarik penduduk untuk bertempat tinggal dan bekerja terutama di daerah pusat Kota Jambi. Sebagai daerah yang terletak di pusat kota Jambi tentunya tidak terlepas dari adanya permasalahan permukiman terutama keberadaan permukiman kumuh. Tujuan dari penelitian ini adalah  menemukan lokasi permukiman yang termasuk dalam kawasan kumuh di Pusat Kota Jambi. Identifikasi kawasan permukiman kumuh dilakukan berdasarkan parameter penilaian kawasan permukiman kumuh yang telah ditetapkan oleh Direktorat Pengembangan Permukiman berdasarkan kondisi fisik bangunan, aksesbilitas, kependudukan, status tanah, dan kondisi prasarana lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan lokasi yang merupakan kawasan permukiman kumuh di Kecamatan Pasar Jambi yang berlokasi di Kelurahan Sungai Asam dan Kelurahan Beringin dengan tingkat kekumuhan sedang, dan Kelurahan Orang Kayo Hitam dengan tingkat kekumuhan yang tinggi. Kawasan permukiman permukiman kumuh tersebut dikarenakan kawasan tersebut sering tergenang banjir bila musim penghujan dan kualitas lingkungan yang rendah akibat dari buruknya kondisi bangunan dan jarak bangunan yang sangat rapat,serta kondisi prasarana lingkungan seperti kondisi jalan lingkungan, kondisi drainase, kondisi air minum, kondisi air limbah dan kondisi persampahan yang buruk. Sehingga kualitas lingkungan permukiman di kawasan tersebut menjadi menurun dan menyebabkan munculnya permukiman kumuh yang berdampak pada menurunnya kualitas hidup masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.Kata Kunci : Permukiman Kumuh, Pusat Kota, Jambi Abstract: The rapid growth of Jambi to be the central of activities and primary and secondary services provider attracts people to live and to work In Jambi, especially in the central area. As an area located in Central of Jambi, it has issue about the settlement, especially about the existence of slum area. The aim of this research is to identify and determine slum area in the central of Jambi. The determination of slum area is based on assessment parameter which set by Directorate of settlement development based on the physical condition of the buildings, accessibility, population, land tenure, and the condition of infrastructure. Based in the research, the location of slum area is in Pasar jambi, specifically in Sungai Asam Village and Beringin Village, on middle level of slum area, meanwhile Orang Kayo Hitam Village is on high level. The slum area is happened because it is often flooded in the rainy season and its bad quality of environment due to the bad condition and no space for each building, and also the condition of infrastructure such as the road, the drainage, the water, the sanitation, and the waste management is in bad condition. Therefore, the quality of the area is decreased so it creates slum area which affected to bad quality life for the people. Keywords: Slums, Downtown, Jambi 
PENGARUH KEBERADAAN ALUN-ALUN MINI SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK TERHADAP PERUBAHAN AKTIVITAS DI KORIDOR JALAN AHMAD YANI UNGARAN Frientha Henda Pradipta; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.082 KB)

Abstract

Abstrak: Alun-Alun Mini Ungaran yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani Ungaran. Pada awalnya dibangun sebagai ruang terbuka hijau publik yang diperuntukkan dengan kegiatan utama olahraga dan ruang terbuka. Dengan fungsinya yang mampu mewadahi interaksi masyarakat, aktivitas di Alun-Alun Mini mulai meningkat sehingga tumbuh adanya perdagangan. Perdagangan yang ada di Alun-Alun Mini pun menyeruak hingga Koridor Jalan Ahmad Yani Ungaran. Sehingga yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah “Apakah Alun-Alun Mini yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau publik mampu mempengaruhi aktivitas di Koridor Jalan Ahmad Yani Ungaran yang berubah fungsi menjadi kawasan komersial?” Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan metode analisis deskriptif kuantitatif dan superimpose. Dari hasil analisis yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Alun-Alun Mini memberikan pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perubahan aktivitas di Koridor Jalan Ahmad Yani Ungaran. Pengaruh tersebut dilihat dari faktor lokasi dan jenis kegiatan usaha perdagangan. Pengaruh langsung didapatkan dari perdagangan kuliner, pengaruh tidak langsung didapatkan dari perdagangan kebutuhan sekunder, tersier, dan jasa. Alun-Alun Mini sebagai Ruang Terbuka Hijau Publik mampu menjadi embrio perkembangan kota dan dapat mempercepat pertumbuhan perdagangan di Koridor Jalan Ahmad Yani Ungaran. Kata kunci: Alun-Alun Mini, Ruang Terbuka Hijau Publik, Perubahan Aktivitas  Abstract: Alun-Alun Mini Ungaran located in Ahmad Yani, Ungaran Street, originally built as public green open space allocated with the main activities of sports and open spaces. With the function that are able to embody the community interaction, activity in Alun-Alun Mini began to increase and now growing in to a commercial area. The commercial area in Alun-Alun Mini also extends to Ahmad Yani, Ungaran Street Corridor. So, the research question is, “Does the Alun-Alun Mini as public green open space is able to affect activity at Ahmad Yani, Ungaran Street Corridor has changed into a commercial area?” The methods used in this research is quantitative methods with quantitative descriptive analysis method and superimpose. From the results of the analysis that has been done, then it can be inferred that Alun-Alun Mini gives a direct and indirect influence of the change of activity in Ahmad Yani, Ungaran Street Corridor. Its influence can be seen from the location factor and the type of business activities of trade factors. The direct influence resulted from culinary trade, indirect influence resulted from secondary needs trade, tertiary, and services. Alun-Alun Mini as a public green open space able to be embryo development and can accelerate the growth of commercial area in Ahmad Yani, Ungaran Street Corridor. Keywords: Alun-Alun Mini, Public Green Open Space, Change of Activity
PERUBAHAN FISIK LINGKUNGAN PERMUKIMAN AKIBAT BANJIR ROB DI KAWASAN LAYUR KOTA SEMARANG Arion Januar Prasasti; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.377 KB)

Abstract

Abstrak: Banjir rob terus-menerus menggenangi permukiman yang ada di Jalan Layur Kelurahan Dadapsari. Hal tersebut berdampak langsung terhadap kondisi bangunan rumah dan infrastruktur yang ada di jalan Layur. Banjir rob di jalan Layur terjadi karena kawasan tersebut memiliki permukaan tanah yang lebih rendah dibanding kawasan lainnya. Kawasan ini mengalami penurunan muka tanah antara 8-10 cm setiap tahunnya. Jalan Layur merupakan satu-satunya jalan yang paling rendah di Kelurahan Dadapsari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk perubahan fisik lingkungan permukiman yang diakibatkan oleh banjir rob dalam kurun waktu 2003-2013. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian yang di temukan adalah perubahan fisik pada bangunan rumah yang ada di jalan Layur yang meliputi RT 5 di RW 7 dan RT 5, 6,7 di RW 4 pada kurun waktu 2003-2013 yang dipengaruhi oleh penghasilan penghuninya. Perubahan fisik tersebut yaitu  peninggian lantai bangunan, penggantian material alas rumah, menambal dan pengecatan tembok yang retak atau keropos, meninggikan atau menghilangkan plafon rumah serta menambah lantai bangunan 1 tingkat. Selain itu perubahan fisik pada infrastruktur yaitu peninggian jalan di RW 4 pada tahun 2009, pengaspalan jalan di RW 7 pada tahun 2011, pembangunan talud di sepanjang selokan dan Kali Semarang serta pembangunan rumah pompa pada tahun 2009. Kata Kunci : Fisik Lingkungan Permukiman, Banjir Rob Abstract: Continuous tidal flood commemorate the existing settlements at Jalan Layur Kelurahan Dadapsari. This is a direct impact on the condition of the home building and existing infrastructure at Jalan Layur . Tidal flood at Jalan Layur happens because this areas has a lower ground level than other areas. This areas due to land subsidence 8-10 cm per year.  Jalan Layur is the only way that the lowest in Kelurahan Dadapsari. This study aims to determine the form of the physical changes caused by tidal flood neighborhoods causes tidal flood in the period 2003-2013. The method used in this study is a qualitative method qualitative descriptive analysis techniques. The result is a physical change to the building houses in Jalan Layur which includes RT 5 at RW 7  and RT  5, 6, 7  at RW 4 in the period from 2003 to 2013, adjusted income residents. Physical changes in the elevation of the floor of the building, replacement of the base material, patching and painting the walls were cracked or porous, raising or eliminating the ceiling of the house and add 1 level floor of the building. In addition to the physical changes in the elevation of the road infrastructure, among others, in RW 4 in 2009, paving the way in RW 7 in 2011, talud development along the gutter and Kali Semarang as well as the construction of the pump house in 2009. Keywords : Physical of settlements, flood tidal
TINGKAT EFEKTIVITAS PROGRAM PELESTARIAN BATIK SEMARANGAN DI KAMPUNG BATIK SEMARANG Miftahurrahma Widanirmala; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.714 KB)

Abstract

Abstrak: Batik merupakan salah satu warisan pusaka budaya Bangsa Indonesia yang bersifat intangible dan telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO. Embrio perkembangan batik pertama di Kota Semarang berada pada Kampung Batik, Kelurahan Rejomulyo. Akan tetapi, pada masa penjajahan Jepang sempat terjadi kebakaran yang menyebabkan aktivitas kebudayaan batik menjadi mati. Oleh karena itu pada tahun 2006, pemerintah Kota Semarang mulai mengembangkan kembali budaya batik sebagai identitas daerah dengan cara mengembangkan Industri Batik Semarangan melalui Program pelestarian Batik Semarangan. Program  bertujuan untuk menjadikan Kampung Batik sebagai pusat kegiatan pelestarian dan pengembangan Batik Semarangan. Upaya pelestarian batik yang dilakukan oleh pemerintah kota cukup besar, Disperindag merupakan salah satu instasi yang memiliki peran cukup besar dalam pengembangan Kampung Batik. Namun sayangnya hingga saat ini, keberadaan program tersebut belum dapat mewujudkan tujuannya. Penyusunan karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keefektifitasan Program Pelestarian Batik Semarangan di Kampung Batik. Penelitian ini menggunakan metode kuantitif dengan menggunakan teknik analisis skoring. Hasil dari penelitian adalah, tingkat keefektifitasan Program Pelestarian Batik Semarangan di Kampung ini termasuk sedang yaitu memiliki rata-rata nilai indeks skoring sebesar 1,64. Keberadaan program ini sudah dapat menimbulkan perubahan sebelum dan sesudah program. Hal tersebut dikarenakan program tersebut sudah dapat membangkitkan aktivitas membatik sebagai wujud pelestarian Batik Semarangan, sebanyak 47% peserta pelatihan sudah mulai menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun demikian kegiatan pelestarian ini belum dapat dilakukan secara optimal sebab, tidak adanya kegiatan pengawasan pasca pelaksanaan program, kesibukan masyarakat, ketidak tepatan sasaran program, dan masih banyaknya tumpang tindih kegiatan antar instansi akibat tidak adanya kebijakan yang mengaturnya. Kata Kunci: Tingkat Efektivitas, Program Pelestarian Batik, Kampung Batik Abstract: Batik is an intangible original culture heritage of Indonesian and it has been recognized by UNESCO.  The batik’s embryo of Semarang city developed in Kampung Batik Rejomulyo district. But after this moment when the period of Japan colonialism the kampung has burned, so that those culture activity has died. Furthermore since 2006 the Semarang Municipal has been started to develop batik culture again as a local identity by develops  industry of Semarang batik  through program of Semarang batik preservation. The aims of the program is to make Kampung Batik as a central preservation activities and developing of Semarang batik. Department of Industrial and Trading  has a significant role to this program. Every year this institution finance program of developing Semarang’s batik, but unfortunately until now the program couldn’t able to do the aims. This is the problem of research, and the research question is:” How many level of effectiveness of the preservation batik’s program which is arrange by Department of Industrial and Trading.The aim of research is to know  how  level of effectiveness of  Semarang Batik’s Preservation Program in Kampung Batik. This researcher completed with methode of kuantitative and scoring analysis program. The result of research show that, the effectiveness level of program is categorized good enough, which have value means of scoring index around 1.64. The program is suitable to emerge changing of people behavior before and after the program. The program is suitable to generate batik activity in kampung Batik.  47 % of participant started to apply batik in their day life activity. Although just now this program is not yet optimally running, because  there’s no  control activity after the program done, people business, inappropriate of goals program, and among one  another institution  still  do overlapping and inefficiency activities,  for there’s no integrated policy  cover them. Keywords: Effectiveness level, Batik Preservation Program, Kampung Batik
Yang Menarik Bagi Masyarakat Tentang Kondisi Bangunan Kuno Di Kota Lama Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 4, No 2 (2018): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.912 KB) | DOI: 10.14710/ruang.4.2.%p

Abstract

This study was conducted to determine the public perception of the condition of the buildings in the old city of Semarang, what is appealing to the public. Quantitated method is used for this research, data obtained from questionnaires distributed randomly to the 100 respondents who met and are conducting activities in the Old City. The questionnaire contains ratings (based on public perception) of the elements considered most attractive, from a few choice elements of the building include building orientation, ornament, colour and facade, dimensions, architectural style, doors and windows, ceiling, walls and columns, floors, and roof. The assessment uses a Likert scale 1-5 where 1 to the lowest value (strongly disagree) and 5 for the highest value (strongly agree). The results showed that there are five components of the building are considered attractive and are of particular concern to the people; ornament; colour and façade; architectural style; doors and windows; as well as the shape of the roof of the building, it is seen that the value reached over 300, meaning that leads to agree and strongly agree as building components are interesting and deserve to be the basis of conservation.
Kajian Perubahan Morfologi Kampung Condet Sebagai Kawasan Cagar Budaya dan Buah-buahan Emmilia Sandy Leonita; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 4, No 1 (2018): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.876 KB) | DOI: 10.14710/ruang.4.1.39-47

Abstract

The existence of the city related to the history of developments, current conditions, as well as the image of the city in the future. As part of the history, Kampung Condet, located in Kramat Jati, East Jakarta, was designated as the cultural and lands heritage area in accordance with Governor Decree No. D.I-7903/a/30/75. The occurrence of urbanization in Jakarta affecting Kampung Condet. Now, Kampung Condet has experienced numerous changes that also eliminate the identity of the cultural and land heritage area. The developments change the morphology of Kampung Condet. Based on these problems, this research aims to identify the morphological changes that occur in 2004 to 2016. This research uses qualitative descriptive spatial methods with five stages, i.e. identify Kampung Condet’s condition as thecultural and land heritage area, identify the figure ground, identifies the linkage, identify the place, and analyze the changing shape of morphology at 2004 to 2016. The results showed themorphology in Condet changing from of linear in 2004 into form of an octopus in 2016. Changes in the morphology due to land use change amounted to 36.87%. Land use in 2016 developed following the network approaching urban areas.
Persepsi Masyarakat Terhadap Lokasi Rencana Pembangunan Simpang Lima Kedua Di Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang Retno Sari Dewi; Parfi Khadiyanta
Ruang Vol 1, No 3 (2015): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.1.3.141-150

Abstract

Rencana pembangunan Simpang Lima Kedua merupakan sebuah rencana pembangunan ruang publik baru yang bertujuan untuk memecah konsentrasi kepadatan yang terdapat di pusat kota. Namun, jalan yang menjadi lokasi rencana Simpang Lima Kedua merupakan jalan yang cukup padat pada kondisi eksisting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji persepsi masyarakat terkait rencana pembangunan Simpang Lima Kedua sebagai ruang publik dan pusat pertumbuhan baru kota, khususnya dampak yang dapat ditimbulkan jika pembangunan tersebut telah selesai dilaksanakan. Oleh karena itu, rencana pembangunan tersebut juga dikaji berdasarkan dampak-dampak yang mungkin ditimbulkan, seperti gangguan keamanan, kenyamanan, dan kemacetan sehingga akan terlihat apakah dampak tersebut lebih menguntungkan atau merugikan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan teknik analisis statistik deskriptif. Dari hasil analisis yang dilakukan, sebagian besar masyarakat merasa setuju dengan adanya pembangunan Simpang Lima Kedua. Selain itu, gangguan keamanan dan kenyamanan tidak akan terlalu dirasakan. Sedangkan, dampak berupa gangguan kemacetan akibat adanya ruang publik tersebut akan dirasakan. Namun, jika pembangunan tersebut disertai dengan penataan lingkungan di sekitarnya maka gangguan kemacetan tersebut dapat diatasi.  
Pengaruh Kebijakan Pemerintah di Sektor Batik Terhadap Kesejahteraan Pelaku Industri Batik di Kota Pekalongan Ricko Ardhian Hermanto; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.985 KB) | DOI: 10.14710/ruang.2.4.225-232

Abstract

Pengembangan sektor industri batik menjadi salah satu fokus kebijakan pemerintah Kota Pekalongan dengan melihat besarnya potensi batik bagi perekonomian Kota Pekalongan. Industri batik di Kota Pekalongan sangat potensial untuk dikembangkan dimana total 70% produksi batik nasional dilakukan di Kota Pekalongan, batik merupakan kekuatan besar bagi perekonomian Kota Pekalongan, batik telah memberikan multiplier efek terhadap aktivitas ekonomi di Kota Pekalongan khususnya perdagangan, perindustrian, jasa, dan pariwisata. Aktivitas ekonomi tersebut merupakan sektor yang menjadi penyokong ekonomi Kota Pekalongan dan memiliki andil besar dalam kondisi kesejahteraan masyarakat Kota Pekalongan terutama para pelaku industri batik. Pengembangan sektor batik juga sangat didukung oleh city branding Kota Pekalongan sebagai World City of Batik dan berbagai event baik yang berskala nasional maupun internasional. Ditambah dengan keberadaan museum batik, pasar grosir batik dan ratusan outlet batik sebagai sarana pemasaran pendukung industri batik di Kota Pekalongan serta banyak industri batik juga tersebar di kampung-kampung batik di penjuru Kota Pekalongan dengan berbagai skala.Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana pengaruh kebijakan pemerintah di sektor batik terhadap kesejahteraan pelaku industri batik di Kota Pekalongan, metode yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis deskriftif berdasarkan hasil skoring dan frekuensi. Dari hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah Kota Pekalongan di sektor batik dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan sektor batik yang semakin meningkat dan juga dapat mempengaruhi kondisi kesejahteraan pelaku industri batik yang sebagian besar berada pada tingkat kesejahteraan sedang hingga tinggi.
Persepsi Pengunjung Terhadap Tingkat Kenyamanan Alun-Alun Kabupaten Pemalang Galang Kahar Paningkat; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 5, No 2 (2019): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.352 KB) | DOI: 10.14710/ruang.5.2.140-149

Abstract

Population growth rates and city development which is increasing drastically will increasingly improve urban services.Same time it will have a negative impact on the protection of nature so that in realizing a sustainable city, it is necessary to provide green open space as a counterweight to the environment. The form of green open space in urban areas is a parks. Pemalang Regency has a city park that is Pemalang Town Square. Public space meetings are a basic requirement. If there is no comfort in public spaces, it is difficult to see the needs of visitors in public spaces as users. the purpose of the study was to study the comfort level of Pemalang Town Square according to the perceptions of visitors. Visitors are taken as research objects because they are users of green open space, so their position is important as an evaluation of a planning program.The results of the study are the comfort level of Pemalang Town square based on the perceptions of visitors included in the convenient category. However, there are still aspects that still need to be improved to improve comfort such as lighting facilities in the park that are dim at night. 
Pengaruh Perkembangan Kawasan Komersial Terhadap Perubahan Permukiman di Kelurahan Kembangsari Kota Semarang Jurike Winarendri; Parfi Khadiyanta
Ruang Vol 1, No 3 (2015): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.1.3.91-100

Abstract

Pertumbuhan ekonomi mendorong peningkatan kegiatan perdagangan dan jasa sehingga dapat menarik investor untuk mengembangkan bisnis properti di pusat perkotaan. Kelurahan Kembangsari merupakan kawasan permukiman yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan komersial. Kegiatan komersial yang tinggi mendesak perubahan kawasan permukiman dan mendorong fungsi permukiman menjadi komersial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perkembangan kawasan komersial terhadap perubahan permukiman dengan mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik penduduk, perkembangan aktivitas pendukung, perubahan perubahan bentuk dan fungsi bangunan rumah serta menganalisis perubahan prasarana lingkungan jalan di Kelurahan Kembangsari. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode analisis statistik deskriptif dan pemetaan. Penelitian ini menunjukan bahwa terdapat keterkaitan kecil antara perkembangan komersial terhadap penduduk. Aktivitas pendukung memiliki peran untuk mencari nafkah,  mendukung kegiatan komersial, menyediakan pelayanan bagi masyarakat. Tingkat perubahan bentuk dan fungsi bangunan rumah tergantung pada kedekatan dengan bangunan komersial dan tingkat kesejahteraan penduduk. Selain itu, perkembangan komersial mendorong peningkatan prasarana lingkungan. Secara keseluruhan, perkembangan komersial mempengaruhi sisi eksternal dan internal permukiman dan berpotensi membawa perubahan yang lebih besar pada Kelurahan Kembangsari.