Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Hubungan Penyakit Ginjal Kronik dengan Derajat Klinis Covid-19 di Ruang Rawat Inap RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 2021 Tasya Sherina; Yuke Andriane; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6710

Abstract

Abstract. Chronic kidney disease can increase the risk of death due to COVID-19 infection. It is caused by changes in the immune system, including persistent systemic inflammation and immunosuppression. Apart from respiratory cells, SARS-Cov-2 also attacks other organs, including the kidney where there are proximal renal tubular epithelial cells, glomerular mesangial cells, and podocytes that express ACE2 receptors on their surface which are the targets of COVID-19. This study uses an observational analytic design through a cross-sectional approach. The sampling technique used simple random sampling which met the inclusion and exclusion criteria, with a total sample of 60 taken from secondary data in the form of inpatient medical records. Bivariate analysis was carried out to analyze the relationship between chronic kidney disease and the clinical degree of COVID-19 using the chi-square test. Univariate data analysis showed that the number of Covid-19 sufferers who experienced chronic kidney disease was 30 people (50.0%), Covid-19 sufferers who did not experience chronic kidney disease were 30 people (50.0%) and the clinical degree of Covid-19 was without symptoms and mild symptoms none (0%), moderate symptoms 37 people (61.7%), severe symptoms 9 people (15.0%) and critical symptoms 14 people (23.3%). The results of bivariate data analysis obtained 0.596 (p> 0.05) so that it can be concluded that there is no relationship between chronic kidney disease and the degree of clinical symptoms in Covid-19 patients at Al Ihsan Hospital in Bandung. Abstrak. Penyakit ginjal kronik dapat meningkatkan risiko kematian karena infeksi COVID-19. Hal ini disebabkan oleh perubahan sistem kekebalan, termasuk inflamasi sistemik persisten dan terjadi imunosupresi. Selain sel pernapasan, SARS-Cov-2 juga menyerang organ lain, termasuk ginjal yang dimana terdapat sel epitel tubulus ginjal proksimal, sel mesangial glomerulus, dan podosit yang mengekspresikan reseptor ACE2 pada permukaannya yang menjadi target COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional melalui pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan jumlah sampel 60 yang di ambil dari data sekunder berupa rekam medis pasien rawat inap. Analisis bivariat di lakukan untuk menganalisis hubungan penyakit ginjal kronik dengan derajat klinis COVID-19 menggunakan uji chi-square. Analisis data univariat menunjukan jumlah penderita Covid-19 yang mengalami penyakit ginjal kronik sebanyak 30 orang (50.0%), penderita Covid-19 yang tidak mengalami penyakit ginjal kronik sebanyak 30 orang (50.0%) dan derajat klinis Covid-19 tanpa gejala dan gejala ringan tidak ada (0%), gejala sedang 37 orang (61.7%), gejala berat 9 orang (15.0%) dan gejala kritis 14 orang (23.3%). Hasil analisis data bivariat diperoleh 0.596 (p>0,05) sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara penyakit ginjal kronik dengan derajat gejala klinis pada pasien covid-19 di RSUD Al Ihsan Bandung.
Pengaruh Tingkat Stres terhadap Kejadian Emotional Eating pada Mahasiswi Kedokteran Tingkat 1 Unisba Siska Firdayanti; Nuzirwan Acang; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6914

Abstract

Abstract. Stress is a person's reaction both physically and emotionally that can occur due to negative thoughts or feelings about oneself. Negative emotions can cause a response in the form of emotional eating. Emotional eating is a form of coping strategy to deal with stress and anxiety. Based on this phenomenon, the problems in this study are formulated as follows: (1) What is the description of the stress level of Unisba level one medical students? (2) What is the description of the emotional eating behavior of Unisba first year medical faculty students? (3) Is there a relationship between stress and emotional eating behavior in first year students at Unisba? Researchers used the method of observational analysis with a cross sectional approach. The population selected in this study were first-level medical students at Unisba, totaling 172 female students. With the sampling technique, namely simple random sampling, the number of research samples was obtained as many as 90 female students. Data collection techniques used in this study were questionnaires. The data collection technique used in this study was a questionnaire. The data analysis technique was carried out using univariate and bivariate methods with the Chi-Square test. The results of this study are: There is no relationship between stress and emotional eating in level 1 female students at Unisba. Abstrak. Stres adalah reaksi seseorang baik secara fisik maupun emosional yang dapat terjadi karena pikiran atau perasaan negatif tentang diri sendiri. Emosi negatif dapat menimbulkan respon berupa emotional eating. Emotional eating merupakan bentuk coping strategy untuk mengatasi stres dan kecemasan. Berdasarkan fenomena tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimana gambaran tingkat stres mahasiswi fakultas kedokteran tingkat satu Unisba? (2) Bagaimana gambaran perilaku emotional eating mahasiswi fakultas kedokteran tingkat satu Unisba? (3) Apakah terdapat hubungan antara stres dan perilaku emotional eating pada mahasiswi tingkat satu Unisba?. Peneliti menggunakan metode analisis observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah mahasiswi fakultas kedokteran tingkat satu Unisba yang berjumlah 172 mahasiswi. Dengan teknik pengambilan sample yaitu simple random sampling diperoleh jumlah sampel penelitian sebanyak 90 mahasiswi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Adapun teknik analisis data dilakukan dengan cara univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil dari penelitian ini adalah: Tidak terdapat hubungan antara stres dengan emotional eating pada mahasiswi tingkat 1 Unisba.
Diabetes Melitus sebagai Komorbiditas Utama terhadap Mortalitas Pasien COVID-19 Zahra Salsabila; Yani Triyani; Sadiah Achmad
Jurnal Riset Kedokteran Volume 3, No.2, Desember 2023, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v3i2.3000

Abstract

Abstract. The purpose of this study was to analyze the relationship between comorbidities and mortality in COVID-19 patients. This study uses analytic methods with a cross-sectional research design. Data were obtained from the medical records of inpatients with confirmed COVID-19 at Al-Islam Hospital Bandung for the 2021 period. The statistical test used a univariate data test by looking at the characteristics of COVID-19 patients based on age, sex, and length of stay and using the Chi test -Square to analyze whether there is a relationship between the independent and dependent variables. The number of respondents in this study was 2,047 people, with the most age being ≥60 years (39.5%), male sex (51.3%), with the highest comorbidity diabetes mellitus (41.9%), followed by hypertension (35.7%) and renal disease (12.4%) which have CFR values of 10.1%, 5.9%, and 5.2% respectively. Patients with comorbid diseases have a decreased immune response and the location of ACE-2 receptors is found not only in the respiratory tract but also in other organs such as the pancreas and kidneys. The conclusion shows that there is a relationship between comorbidities and mortality of COVID-19 patients at Al-Islam Hospital Bandung in 2021 with a p-value <0.001 (p <0.05). Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan komorbiditas dengan mortalitas pasien COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Data diperoleh dari rekam medis pasien rawat inap yang terkonfirmasi COVID-19 di Rumah Sakit Al-Islam Bandung Periode 2021. Uji Statistik menggunakan uji data univariat dengan melihat karakteristik pasien COVID-19 berdasarkan usia, jenis kelamin, dan lama rawat inap serta menggunakan uji Chi-Square untuk menganalisis ada tidaknya hubungan antara variable bebas dan terikat. Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 2.047 orang, dengan usia yang paling banyak  ≥60 tahun (39,5%), jenis kelamin laki-laki (51,3%), dengan komorbiditas tertinggi diabetes melitus (41,9%), disusul dengan hipertensi (35,7%) dan renal disease (12,4%) yang memiliki nilai CFR berturut-turut 10,1%, 5,9%, dan 5,2%. Pasien dengan penyakit komorbid berada dalam penurunan respon imun serta lokasi reseptor ACE-2 yang ditemukan tidak hanya di saluran respirasi, tetapi juga didapatkan di organ lain seperti pankreas dan ginjal. Kesimpulan menunjukkan terdapat hubungan komorbiditas dengan mortalitas pasien COVID-19 di RS Al-Islam Bandung tahun 2021 dengan nilai p <0.001 (p<0.05).
Hubungan Status Gizi dengan Tingkat Kebugaran Berdasarkan 6 Minute Walk Test M. Azhari Hakim; Rizky Suganda Prawiradilaga; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.11254

Abstract

Abstract. Physical fitness is a person's ability to carry out their daily activities efficiently without producing significant fatigue. Physical fitness is important for medical students to carry out their daily activities that have a busy schedule. This study aims to determine the relationship between nutritional status with fitness level. This study used observational analytic quantitative research with a cross-sectional design. The subjects in this study were active students of the Faculty of Medicine, Islamic University of Bandung in the academic year 2022-2023 as many as 87 people aged 20 to 29 years. Nutritional status data were obtained from anthropometric measurements in the form of body mass indeks and measuring fitness levels using the six minute walk test. Statistical tests used the Spearman correlation test. The results showed that there was a statistically significant relationship between body mass index and fitness level (p=0.013). This result may be due to many other factors that can affect fitness levels such as adequate rest, smoking status, health status, and so on. Abstrak. Kebugaran jasmani ialah kemampuan seseorang dalam melaksanakan aktivitas hariannya dengan efisien tanpa menghasilkan kelelahan yang berarti. Kebugaran jasmani penting bagi mahasiswa kedokteran untuk menjalankan aktivitas hariannya yang memiliki jadwal yang padat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan tingkat kebugaran. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik observasional dengan desain cross-sectional. Subjek pada penelitian ini mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung tahun ajaran 2022-2023 sebanyak 87 orang berusia 20 sampai 29 tahun. Data status gizi diperoleh dari pengukuran antropometri berupa indeks massa tubuh dan pengukuran tingkat kebugaran menggunakan six minute walk test. Uji statistik menggunakan uji spearman correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara indeks massa tubuh dengan tingkat kebugaran (p=0.013). Hasil ini dapat disebabkan karena banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat kebugaran seperti kecukupan istirahat, status merokok, status kesehatan, dan sebagainya.
Gangguan Kognitif sebagai Efek Samping Penggunaan Steroid Anabolik Androgenik Athar Fathur Rafi; Sadiah Achmad; Lelly Yuniarti
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.11993

Abstract

Abstract. Adolescent and adult men are relatively satisfied with a muscular body shape. Efforts to increase muscle mass are the main strategy for achieving your dream body shape. One method used to increase muscle mass is using anabolic-androgenic steroids. However, androgenic anabolic steroids have side effects that can harm several body organs. This study aimed to explore and analyze the side effects of using anabolic-androgenic steroids as a supplement to increase muscle mass in adult men. This research is a systematic review to identify and analyze articles using ScienceDirect, PubMed, and Taylor and Francis, Proquest, and SpringerLink database sources. The eligibility criteria used are Population (adult men who use anabolic-androgenic steroids or their derivatives), Exposure (anabolic-androgenic steroids or their derivatives), Comparison (individuals who do not use anabolic-androgenic steroids or their derivatives), Outcome (side effects related to use anabolic-androgenic steroids or their derivatives), Study (cohort, case-control, cross-sectional study). Critical review was carried out using JBI critical appraisal, the PRISMA diagram method was used in this research and resulted in sixteen articles that met the inclusion and eligibility criteria. From 5 databases, 1,153 articles were obtained that met the inclusion criteria, and 16 articles were produced that met the eligibility criteria. Based on the results of the analysis of sixteen articles, thirteen articles were found which stated that supplementation with androgenic anabolic steroids had significant side effects on several body organs in adult men, while three other studies concluded that there were no significant differences or side effects. Based on the results of the analysis and discussion of the descriptions of the research articles reviewed, it can be concluded that the use of androgenic anabolic steroids has side effects on various organs in adult men such as organs in the nervous system, heart, kidneys, reproductive organs and periodontal. Abstrak. Pria remaja dan dewasa relatif memiliki kepuasaan terhadap bentuk tubuh yang berotot. Upaya meningkatkan masa otot merupakan strategi utama untuk memperoleh bentuk tubuh idaman. Salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan masa otot adalah menggunakan steroid anabolik-androgenik. Namun, steroid anabolik androgenik memiliki efek samping yang dapat membahayakan beberapa organ tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan menganalisis efek samping penggunaan steroid anabolik-androgenik sebagai suplementasi penambah masa otot pada laki-laki dewasa. Penelitian ini merupakan systematic review untuk mengidentifikasi dan menganalisis artikel melalui sumber database ScienceDirect, PubMed, dan Taylor and Francis,Proquest, dan Springerlink. Kriteria kelayakan yang digunakan yaitu Populasi (pria dewasa pengguna steroid anabolik-androgenik atau turunannya), Exposure (steroid anabolik-androgenik atau turunannya), Comparison (individu yang tidak menggunakan steroid anabolik-androgenik atau turunannya), Outcome (efek samping yang berhubungan dengan penggunaan steroid anabolik-androgenik atau turunannya), Study (cohort, case-control, cross-sectional study). Telaah kritis dilakukan dengan menggunakan JBI critical appraisal, Metode diagram PRISMA digunakan dalam penelitian ini dan menghasilkan enam belas artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan kelayakan. Dari 5 database didapatkan 1.153 artikel sesuai dengan kriteria inklusi, dan dihasilkan 16 artikel yang memenuhi kriteria kelayakan. Berdasarkan hasil analisis dari enam belas artikel, didapatkan tiga belas artikel yang menyebutkan pemberian suplementasi steroid anabolik androgenik memiliki efek samping signifikan terhadap beberapa organ tubuh pada laki-laki dewasa, sedangkan tiga penelitian lainnya menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan atau efek samping yang signifikan. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dari uraian artikel penelitian yang di-review, dapat disimpulkan bahwa penggunaan steroid anabolik androgenik memiliki efek samping terhadap berbagai macam organ pada pria dewasa seperti organ pada sistem saraf, jantung, ginjal, organ reproduksi, dan periodontal.
Analisis Penyalahgunaan Zat sebagai Faktor Risiko Kejadian Gangguan Bipolar pada Orang Dewasa Nadiya Amalia; Lelly Yuniarti; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12024

Abstract

Abstract. Bipolar disorder is an emotional disorder with recurrent episodes of mood swings and depression, followed by changes in activity or energy and associated with characteristic cognitive, physical, and behavioral symptoms. Age, genetics, psychology, environment, and substance and alcohol abuse are risk factors for bipolar disorder. This study aimed to explore and analyze articles regarding substance abuse as a risk factor for bipolar disorder in adults. This research uses the Systematic Review method to identify and analyze articles regarding substance abuse as a risk factor for bipolar disorder in adults. The databases used were Pubmed, SpringerLink, ScienceDirect and Taylor and Francis, the PRISMA diagram method was used in this research. The PICOS suitability used in this study is Population (adults), Exposure (substance abuse (alcohol, cannabis, nicotine)), Comparison (control group or group that does not abuse substances), Outcome (incidence of bipolar disorder, manic episodes, depressive episodes, or mixed episode), Study (observational (cohort, case-control, or cross-sectional)), and critical review were carried out using the JBI checklist. From 5 databases, 5,493 articles were obtained that met the inclusion criteria and after conducting a feasibility test, 5 articles were suitable. Based on the results of the analysis, 4 articles state that substance abuse is a risk factor for bipolar disorder in adults. Marijuana and alcohol abuse are the substances that are most often risk factors for bipolar disorder in adults, and marijuana abuse carries a higher risk of developing bipolar disorder than abuse of other substances. Substance abuse influences the age at which manic, depressive and psychotic symptoms first appear. Abstrak. Gangguan bipolar adalah gangguan emosi dengan episode berulang pada perubahan suasana hati dan depresi, yang diikuti dengan adanya perubahan aktivitas atau energi dan berhubungan dengan karakteristik gejala kognitif, fisik, dan perilaku. Usia, genetik, psikologis, lingkungan, penyalahgunaan zat dan alkohol merupakan faktor risiko terjadinya gangguan bipolar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan menganalisis artikel mengenai penyalahgunaan zat sebagai faktor risiko gangguan bipolar pada orang dewasa. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Review untuk mengidentifikasi dan menganalisis artikel mengenai penyalahgunaan zat sebagai faktor risiko kejadian gangguan bipolar pada orang dewasa. Database yang digunakan Pubmed, SpringerLink, ScienceDirect dan Taylor and Francis, metode diagram PRISMA digunakan dalam penelitian ini. Kesesuaian PICOS yang digunakan pada penelitian ini adalah Population (orang dewasa), Exposure (penyalahgunaan zat (alcohol, cannabis, nicotine)), Comparison (kelompok kontrol atau kelompok yang tidak menyalahgunakan zat), Outcome (kejadian bipolar disorder, manic episode, depressive episode, atau mixed episode), Study (observational (cohort, case-control, atau cross-sectional)), dan telaah kritis dilakukan menggunakan checklist JBI. Dari 5 database didapatkan 5.493 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan setelah dilakukan uji kelayakan terdapat 5 artikel yang sesuai. Berdasarkan hasil analisis, terdapat 4 artikel yang menyatakan bahwa penyalahgunaan zat merupakan faktor risiko kejadian gangguan bipolar pada orang dewasa. Penyalahgunaan ganja dan alkohol merupakan zat yang paling sering menjadi faktor risiko terjadinya gangguan bipolar pada orang dewasa, dan penyalahgunaan ganja beresiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi gangguan bipolar dibanding dengan penyalahgunaan zat lain. Penyalahgunaan zat memengaruhi usia pertama kali timbulnya gejala manik, depresif dan psikosis yang timbul.