Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series : Medical Science

Analisis In Sillico Mekanisme Cell Survival Zat Aktif Daun Sirsak (Annona Muricata Linn) pada Kanker Kolorektal Hur'iynazzahra Kariima Romli; Lelly Yuniarti; Julia Hartati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1316

Abstract

Abstract. Colorectal cancer (CRC) is a malignancy of the colon which is the second leading cause of cancer death. The first-line treatment for CRC consists of chemotherapy and monoclonal antibodies that target cell survival. The efficacy of chemotherapy drugs in most cases of CRC still needs to be improved because the cancer cells show that they still have a defense mechanism. In several studies, the active compounds of soursop leaves have several anticancer effects such as cell survival. The drug discovery process requires time, several stages of clinical trials, and large funds so we need a method that can help make them more efficient, one of which is in sillico method. This study used the in sillico method by looking for the active compound of soursop leaves from published scientific articles and also looking for three-dimensional structures, predicting, and analysis of target proteins using several databases. The results of this study found 18 target proteins of soursop leaf active compound is involved in cell survival mechanism of CRC by regulating cell cycle regulation, miRNA transcription regulation, decreasing cell proliferation, triggering apoptosis, decreasing cell invasion and metastasis. The conclusion of this study is that the active substances of soursop leaves have some target proteins that can have some anticancer mechanism, one of which is by suppressing cell survival in CRC. Abstrak. Kanker kolorektal (KKR) merupakan keganasan pada usus besar yang menjadi kanker kedua penyebab kematian tertinggi akibat kanker. Pengobatan lini pertama KKR diantaranya kemoterapi dan antibodi monoklonal yang memiliki target salah satunya mekanisme cell survival. Efikasi obat kemoterapi pada sebagian besar kasus KKR masih perlu ditingkatkan karena sel kanker menunjukkan masih memiliki mekanisme pertahanan. Pada beberapa penelitian, zat aktif daun sirsak memiliki efek sebagai antikanker seperti melalui cell survival. Proses penemuan obat memerlukan waktu, beberapa tahap uji klinis, dan dana yang besar sehingga perlu metode yang membantu agar lebih efisien, salah satunya in sillico. Penelitian ini menggunakan metode in sillico dengan melakukan penelusuran zat aktif daun sirsak dari artikel ilmiah yang terpublikasi dan dilakukan pencarian stuktur tiga dimensi, prediksi, serta analisis protein target menggunakan beberapa database. Hasil dari penelitian ini yaitu ditemukan 18 protein target zat aktif daun sirsak yang terlibat pada mekanisme cell survival KKR dengan mengatur regulasi siklus sel, regulasi transkripsi miRNA, memicu apoptosis, menurunkan proliferasi sel, kemampuan invasi, dan metastasis sel. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu zat aktif daun sirsak memiliki protein target yang dapat memiliki mekanisme antikanker salah satunya dengan menekan cell survival pada KKR.
Scoping Review: Potensi Dalbavancin terhadap Kesembuhan Pasien Osteomyelitis Dewasa yang Disebabkan oleh Infeksi Staphylococcus Aureus Muhammad Emir Sidiq; Julia Hartati Hartati; Krishna Pradananta Pradananta
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1839

Abstract

Abstract. Osteomyelitis is an inflammation of bone structures, cancellous and periosteum in humans and caused by bacterial infection. Antibiotic treatments that are usually used are methicillin, vancomycin, and daptomycin, which often cause resistance nowadays. There is a new antibiotic called dalbavancin that has begun to be used for osteomyelitis treatment. This study aimed to analyze the potency of dalbavancin on adult osteomyelitis patient’s treatment caused by Staphylococcus aureus infection. Scoping review was used as a method for this research by analyzing research articles from four different databases: PubMed, SpringerLink, ScienceDirect and Wiley Online Library. 8.273 articles were generated from the four databases, and after adjusting for inclusion, exclusion, and eligibility criteria, three articles matched the criteria and were further analyzed. Three articles mentioned that the usage of dalbavancin for adult osteomyelitis patients resulted more cured patients and reduction in length-of-stay in dalbavancin group than the control group, but article 1 mentioned dalbavancin group has the same safety outcome and poorer safety outcome in article 2. Dalbavancin has an additional chain of A-40926 which able to bind dalbavancin to bacterial cell membrane so that a strong bond was form to d-alanyl-d-alanine receptors. In conclusion, dalbavancin is effective for adult osteomyelitis patients which caused by S. aureus infection. Abstrak. Osteomyelitis merupakan keadaan terjadinya peradangan pada tulang cancellous dan periosteum diakibatkan oleh infeksi bakteri yang dapat terjadi pada manusia ataupun hewan. Terapi Antibiotik yang paling sering digunakan berupa methicillin, vancomycin dan daptomycin, tetapi kini sering mengalami resistesi. Terdapat antibiotik baru berupa dalbavancin yang mulai digunakan untuk pengobatan osteomyelitis. menganalisis potensi dalbavancin pada pasien osteomyelitis yang disebabkan oleh infeksi Staphylococcus aureus dibandingkan dengan obat standar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa scoping review dengan menganalisis artikel ilmiah dari 4 database yaitu PubMed, ScienceDirect, SpringerLink, dan Wiley Online Library. Hasil pencarian awal sebanyak 8.273 artikel, yang setelah disesuaikan dengan kriteria inklusi, eksklusi dan kelayakan menghasilkan 3 artikel yang dapat dianalisis. Hasil analisis dari ketiga artikel menyatakan bahwa dalbavancin menghasilkan potensi yang baik untuk pengobatan osteomyelitis dan menghasilkan angka kesembuhan yang lebih tinggi dan pengurangan lama rawat inap lebih banyak pada grup dalbavancin dibanding pada grup obat standar, sedangkan keamanan dalbavancin dinyatakan sama seperti obat standar pada artikel 1, sementara artikel 2 menyatakan keamanan dalbavancin lebih buruk dibandingkan obat standar. Dalbavancin memiliki struktur rantai A-40926 yang mampu mengikatkan dalbavancin ke membran sel bakteri sehingga terbentuk ikatan kuat terhadap reseptor d-alanyl-d-alanin. Simpulan penelitian ini adalah pemberian dalbavancin efektif terhadap pasien osteomyelitis dewasa yang disebabkan oleh infeksi S. aureus.
Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Paru dengan Komorbid Diabetes Mellitus di RSUD Al Ihsan Bandung Tahun 2020 Rini Nur Islami Dinan; Julia Hartati; Heni Muflihah
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6795

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by infection with the bacterium Mycobacterium tuberculosis. In TB patients with Diabetes Mellitus (DM), chronic hyperglycemia impairs immunity and causes prolonged treatment. The aim of this study was to analyze the relationship between DM comorbidities and the success of pulmonary TB treatment. This cross-sectional study used secondary data from the TB information system (SITB) and medical records. The subjects of this study were pulmonary TB patients undergoing treatment at Al Ihsan Hospital during 2020. The inclusion criteria included a minimum age of 19 years, pulmonary TB, and completion of treatment. Research data included TB DM status and treatment outcomes. The end result of complete treatment includes cured and complete. Total TB patients were 1319 people with adult pulmonary TB as many as 634 people who met the inclusion criteria. Most of the pulmonary TB patients were male, 360 people (56.78%) and adults (20-59 years) 455 people (71.77%). Pulmonary TB patients with comorbid DM were 12 people (1.89%) and 622 people without DM (98.11%). There are 10 out of 12 TB DM patients who have incomplete treatment outcomes. There is no relationship between DM comorbidities and the success of pulmonary TB treatment with a P value of 2.517 (P value > 0.05). The conclusion of this study is that there is no relationship between DM comorbidities and treatment success rates. Abstrak. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada penderita TB dengan Diabetes Melitus (DM), hiperglikemia kronis merusak imunitas dan menyebabkan lamanya pengobatan.Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan komorbid DM dengan keberhasilan pengobatan TB Paru. Penelitian cross sectional ini menggunakan data sekunder sistem informasi TB (SITB) dan rekam medik. Subjek penelitian ini adalah pasien TB paru yang menjalani pengobatan di RSUD Al Ihsan selama tahun 2020. Kriteria inklusi meliputi usia minimal 19 tahun, TB paru, dan menyelesaikan pengobaan. Data penelitian meliputi status TB DM and hasil akhir pengobatan. Hasil akhir pengobatn lengkap meliputi sembuh dan lengkap. Total pasien TB sebanyak 1319 orang dengan TB paru dewasa sebanyak 634 orang yg memenuhi krikteria inklusi. Sebagian besar pasien TB paru memiliki jenis kelamin laki-laki 360 orang (56.78%) dan usia dewasa (20-59 tahun) 455 orang (71.77%). Pasien TB paru dengan komorbid DM 12 orang (1.89%) dan tidak DM 622 orang (98.11%). Terdapat 10 dari 12 orang pasien TB DM memiliki hasil akhir pengobatan tidak lengkap. Tidak terdapat hubungan antara komorbid DM dengan keberhasilan pengobatan TB paru dengan P value 2.517 (P value > 0.05). Simpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan komorbid DM dengan angka keberhasilan pengobatan.
Studi Literatur: Faktor Risiko Dermatitis Kontak pada Pekerja Putri Dwi Rahmasari; Herri S. Sastramihardja; Julia Hartati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6439

Abstract

Abstract. Contact dermatitis is inflammation of the skin caused by contact with exogenous substances characterized by itching, redness, scaling, vesicles and papules. Trigger factors for contact dermatitis can come from exposure to chemicals, personal hygiene, duration of contact, and other individual factors. The purpose of this study is to explain the risk factors for contact dermatitis in workers. The method used is a literature study by collecting several previous studies regarding risk factors for contact dermatitis in workers. The results of this study explain contact dermatitis starting from definition, causes, risk factors, pathogenesis, and signs and symptoms. Thus it can be concluded that the risk factors for contact dermatitis can come from exposure to chemicals for a long time, type of work, and other individual factors. Abstrak. Dermatitis kontak adalah inflamasi pada kulit yang disebabkan oleh kontak dengan zat eksogen yang ditandai dengan gatal, kemerahan, bersisik, vesikula, dan papul. Faktor pemicu dermatitis kontak dapat berasal dari paparan bahan kimia, personal hygiene, lama kontak, dan faktor individu lain. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan mengenai faktor risiko dermatitis kontak pada pekerja. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpulkan beberapa penelitian terdahulu mengenai faktor risiko dermatitis kontak pada pekerja. Hasil dari penelitian ini menjelaskan mengenai dermatitis kontak mulai dari definisi, penyebab, faktor risiko, patogenesis, dan tanda gejala. Dengan demikian dapat disimpulkan faktor risiko dermatitis kontak dapat berasal dari paparan bahan kimia dalam waktu lama, jenis pekerjaan, dan faktor individu lainnya.
Hubungan Antara Usia dan Jenis Kelamin dengan Kejadian Multidrugs-Resistant Tuberculosis (MDR-TB) di Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan (RSPG) Cisarua Bogor Siti Fatimah Az'zahra; Nurhayati, Eka; Hartati, Julia; Sawitri, Neni
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12431

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is a chronic infectious disease caused by Myobacterium tuberculosis. TB is considered the second top killer infectious disease and is the 13th cause of death worldwide. Long treatment and uncertain times of onset pose a challenge to compliance in the TB treatment process. Non-adherence to treatment results in multi-drug-resistant (MDR-TB). This condition occurs when TB patients experience resistance to the drugs isoniazid (H) and rifampicin (R), which are anti-tuberculosis drugs (OAT). This research is a cross sectional study conducted at RSPG Cisarua Bogor on 299 patients. Data was obtained from medical records in the form of age and gender characteristics. Data were analyzed using univariate and bivariate tests and then carried out the Chi-Square test. The results of this study show that the average age of MDR-TB patients is 39 years and more males. The Chi-Square test shows an age p-value of 0.014 (<0.05) and a gender p-value of 0.605 (>0.05). MDR-TB patients are more common in male than female, but there is no significant relationship because the location of the rpOB gene and KatG gene which are mutated are in bacteria, not humans. MDR-TB is more vulnerable in productive age because high productivity can cause treatment errors that result in MDR-TB. It was found from this study that there was a relationship between age and the incidence of MDR-TB and there was no relationship betweensex and the incidence of MDR-TB. Abstrak. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular kronis yang disebabkan oleh Myobacterium tuberculosis. TB dianggap sebagai penyakit infeksi pembunuh teratas kedua dan menjadi penyebab kematian ke-13 di seluruh dunia. Pengobatan yang lama dan onset waktunya tidak pasti menjadi tantangan kepatuhan dalam proses pengobatan TB. Ketidakpatuhan pengobatan mengakibatkan terjadinya multidrugs-resistant tuberculosis (MDR-TB). Kondisi ini terjadi ketika pasien TB mengalami resistensi terhadap obat isoniazid (H) dan rifampisin (R) yang merupakan obat anti-tuberkulosis (OAT). Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yang dilakukan di RSPG Cisarua Bogor pada 299 pasien. Data diperoleh dari rekam medis berupa karakteristik usia dan jenis kelamin. Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariate lalu dilakukan uji Chi-Square. Hasil penelitian ini menunjukkan rerata usia pasien MDR-TB adalah 39 tahun dan lebih banyak pada laki – laki. Uji Chi-Square menunjukkan p-value usia sebesar 0,014 (<0,05) dan p-value jenis kelamin sebesar 0,605 (>0,05). Pasien MDR-TB lebih banyak terjadi pada laki – laki dibandingkan perempuan namun tidak terdapat hubungan bermakna karena letak gen rpOB dan gen KatG yang mengalami mutasi terletak pada bakteri bukan pada manusia. MDR-TB lebih rentan pada usia produktif karena produktivitas yang tinggi dapat menyebabkan kelalaian pengobatan yang mengakibatkan MDR-TB. Didapatkan dari penelitian ini bahwa terdapat hubungan antara usia dengan kejadian MDR-TB dan tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian MDR-TB.