Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Hubungan Penyesuaian Diri dan Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Hardiness pada Remaja yang Mengalami Residential mobility di Keluarga Militer Sharen Junifa Clarabella; Hardjono .; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.286 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v7i1.79

Abstract

Hubungan Penyesuaian Diri dan Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Hardiness pada Remaja yang Mengalami Residential mobility di Keluarga Militer Relation of Self-Adjustment and Peers Social Support with Hardiness in Residential mobility Adolescents of Military Family Sharen Junifa Clarabella, Hardjono, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penyesuaian diri dan dukungan sosial teman sebaya dengan hardiness. Residential mobility merupakan kepindahan individu dari satu lokasi ke lokasi lain yang menyebabkan perubahan tempat tinggal dan sekolah atau kombinasi keduanya. Tingkat residential mobility yang tinggi dapat ditemukan di keluarga militer yang setidaknya akan mengalami kepindahan setiap 1-2 tahun sekali. Residential mobility menjadi pengalaman besar yang berpengaruh bagi remaja dan menjadi sumber stres tersendiri karena kaitannya dengan tuntutan menyesuaikan diri dan minimnya dukungan teman sebaya yang tersedia di lingkungan baru. Dampak negatif residential mobility dapat diminimalkan dengan memiliki kepribadian tangguh atau hardiness yang dapat membantu remaja menghadapi lingkungan yang berubah-ubah. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling dengan sampel 65 remaja yang mengalami residential mobility di keluarga militer. Hasil pengujian korelasi menunjukan nilai korelasi (R) sebesar 0,520 dengan sig. 0,000 (P
PENGARUH MENDENGARKAN AYAT-AYAT AL QURAN TERHADAP PENURUNAN STRES PADA PASIEN KANKER SERVIKS Iis Fitriatun; Nanang Wiyono; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 7, No 2 (2015)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.695 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v7i2.84

Abstract

Pengaruh Mendengarkan Ayat-ayat Al Quran terhadap Penurunan Stres pada Pasien Kanker Serviks The Effect of Listening to The Verses The Quran to Decrease Stress on The Cervical Cancer Patients Iis Fitriatun, Nanang Wiyono, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebalas Maret ABSTRAK Pasien kanker serviks yang menjalani kemoterapi harus menjalani hospitalisasi di rumah sakit. Intervensi medis, dampak yang ditimbulkan dari intervensi medis, proses hospitalisasi rentan menjadi sumber stres bagi pasien kanker serviks. Individu merespon stres melalui dua jalur yaitu respon psikologis dan fisiologis. Respon psikologis akan termanifestasikan dengan adanya ketakutan, ketidakberdayaan dan kecemasan. Sedangkan respon fisiologis terhadap stres akan mengaktifkan respon HPA aksis untuk mensekresikan hormon kortisol. Semakin tinggi stres yang dialami maka akan meningkatkan sekresi hormon kortisol oleh kelenjar adrenal. Hormon kortisol dapat diukur dengan menggunakan sampel saliva individu dan dianalisis dengan teknik ELISA. Pendekatan intervensi klinis bagi pasien hendaknya dilakukan secara holistik dengan mempertimbangkan aspek psikospiritual. Salah satu pendekatan psikologi yang mulai dikembangkan dalam bidang intervensi klinis adalah dengan menggunakan terapi musik. Terapi musik memiliki pengaruh yang efektif untuk menurunkan stres (Mucci & Mucci, 2002; O’Callaghan, 2006; Dewi, 2009) Ayat-ayat Al Quran yang dibacakan sesuai dengan kaidah tajwid dapat memberikan efek relaksasi seperti terapi musik bagi yang mendengarkannya sehingga ayat-ayat Al Quran yang dibacakan sesuai kaidah tajwid dapat menurunkan stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mendengarkan ayat-ayat Al Quran dalam menurunkan stres dan kadar kortisol pada pasien kanker serviks. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah single case experimental design dengan metode studi kasus. Perlakuan mendengarkan ayat-ayat Al Quran diberikan sebanyak lima kali dalam lima hari. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,022 untuk Skala Stres dan 0,090 untuk kadar kortisol dengan taraf signifikansi 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa mendengarkan ayat-ayat Al Quran memiliki pengaruh yang signifikan untuk menurunkan stres psikologis dan tidak memiliki pengaruh yang signifikan untuk menurunkan kadar kortisol pada pasien kanker serviks. Kata kunci: Stress, ayat-ayat Al Quran, kortisol.
Pengaruh Pelatihan Asertif untuk Meningkatkan Kematangan Emosi Remaja Kelas X Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang Hilda Rosa Ainiyah; Aditya Nanda Priyatama; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.46 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i2.107

Abstract

Pengaruh Pelatihan Asertif untuk Meningkatkan Kematangan Emosi Remaja Kelas X Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang     The Effect Of Assertive Training To Increase Emotional Maturity Of Adolesence In X Grades Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang   Hilda Rosa Ainiyah, Aditya Nanda Priyatama, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebelasMaret       ABSTRAK Salah satu tugas perkembangan remaja adalah mencapai kematangan emosional. Apabila remaja tidak mampu mengontrol emosinya maka akan sulit untuk menghadapi permasalahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Diperlukan adanya intervensi yang dapat membantu remaja untuk meningkatkan kematangan emosinya. Pelatihan Asertif merupakan salah satu upaya yang dapat membantu meningkatkan kematangan emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan asertif terhadap peningkatan kematangan emosi remaja putri kelas X Pondok Pesantren Darul Ulum. Subjek penelitian ini adalah remaja putri yang pertama kali tinggal di pondok pesantren berumur 14-17 tahun di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Desain penelitian ini adalah desain eksperimen pretest-posttest control group design dengan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing sebanyak sembilan orang. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan cara undian disesuaikan dengan kriteria subjek penelitian. Kelompok eksperimen diberikan pelatihan asertif selama tiga hari dengan menggunakan  metode kuliah, games, video, lembar kerja dan diskusi. Penelitian menggunakan modul pelatihan asertif adaptasi dari jurnal Amanatullah (2010) yang berjudul Negotiating gender roles: Gender differences in assertive negotiating are mediated by women’s fear of backlash and attenuated when negotiating on behalf of others. Pengumpulan data penelitian dengan skala kematangan emosi yang disusun oleh Vidianti (2011). Hasil analisis kuantitatif uji 2 Sampel Independen Mann-Whitney untuk peningkatan kematangan emosi diperoleh nilai Z -2, 712 dan p 0.030 > 0.05,Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pelatihan asertif terhadap peningkatan kematangan emosi remaja putri kelas X Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.   Kata kunci:Kematangan emosi,pelatihan asertif,remaja, pondok pesantren
Kepuasan Pernikahan Ditinjau dari Marital Expectation dan Keintiman Hubungan pada Pasangan Ta’aruf Devi Maya Puspita S; Istar Yuliadi; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.408 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i2.98

Abstract

Kepuasan Pernikahan Ditinjau dari Marital Expectation dan Keintiman Hubungan pada Pasangan Ta’aruf     Marital Satisfaction of Ta’aruf Couple Observed from Marital Expectation and Intimate Relationship     Devi Maya Puspita Sari, Istar Yuliadi, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebalas Maret       ABSTRAK   Menikah merupakan tahapan penting dalam kehidupan manusia. Memilih pasangan yang tepat akan menciptakan pernikahan yang bahagia antara suami dan istri. Memilih pasangan dapat dilakukan melalui ta’aruf, sebuah proses yang tidak membolehkan adanya kontak fisik antara pria dan wanita serta melibatkan mediator untuk mengenal calon pasangan. Pernikahan yang bahagia dapat dicapai jika suami dan istri merasa puas dengan pasangan dan pernikahannya, hal ini disebut kepuasan pernikahan. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan level kepuasan pernikahan adalah pemenuhan marital expectation dan kentiman hubungan antara suami istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara marital expectation dan keintiman hubungan dengan kepuasan pernikahan pada pasangan ta’aruf. Sampel penelitian ini diperoleh dengan menggunakan teknik purposive snowball sampling yang meliputi pasangan ta’aruf, yaitu suami (n = 36) dan istri (n = 66) yang berusia 21-39 tahun dengan usia pernikahan 3-15 tahun, memiliki anak minimal satu, minimal tingkat pendidikan SMA, dan merupakan pernikahan pertama. Pengumpulan data menggunakan instrumen berupa skala kepuasan pernikahan, skala marital expectation, dan skala keintiman hubungan. Analisis data penelitian ini menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara marital expectation dan keintiman hubungan dengan kepuasan pernikahan, dengan nilai Fhitung > Ftabel (117,150 > 3,088), p-value = 0,000 (p-value < 0,05), nilai R = 0,838, dan nilai R square adalah 0,703 atau 70,3%. Secara parsial, terdapat hubungan yang signifikan antara marital expectation dengan kepuasan pernikahan, dengan nilai rxy = 0,274 (p < 0,05) serta terdapat hubungan yang signifikan antara keintiman hubungan dengan kepuasan pernikahan, dengan nilai rxy = 0,626 (p < 0,05). Sumbangan efektif marital expectation terhadap kepuasan pernikahan sebesar 2,4%, sedangkan sumbangan efektif keintiman hubungan terhadap kepuasan pernikahan sebesar 67,9%. Hal ini menunjukkan bahwa keintiman hubungan memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap kepuasan pernikahan dibandingkan marital expectation.   Kata kunci: kepuasan pernikahan, marital expectation, keintiman hubungan, pasangan ta’aruf
Pengaruh Pelatihan Pemaafan terhadap Peningkatan Self Esteem Pecandu Narkoba di Program Re-Entry Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido, Bogor Kadek Widya Gunawan; Aditya Nanda Priyatama; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.392 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i1.89

Abstract

Pengaruh Pelatihan Pemaafan terhadap Peningkatan Self Esteem Pecandu Narkoba di Program Re-Entry Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido, Bogor     Effect of Forgiveness Training on Self Esteem Improvement Among Drug Addicts in Re-Entry Program of National Narcotics Rehabilitation Center Lido, Bogor     Kadek Widya Gunawan, Aditya Nanda Priyatama, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebalas Maret       ABSTRAK Salah satu penyebab prevalensi penyalahguna narkoba meningkat setiap tahun adalah pecandu narkoba lama yang telah menjalani rehabilitasi mengalami kekambuhan sehingga kembali menyalahgunakan narkoba. Rendahnya self esteem pada pecandu narkoba yang direhabilitasi menyebabkan individu memiliki persepsi yang buruk tentang hubungan sosial, serta tidak tahan dalam menghadapi stres yang akhirnya memicu individu untuk kembali menyalahgunakan narkoba. Self esteem adalah keyakinan individu bahwa dirinya berharga yang didasarkan pada penilaian orang lain dan sistem tata nilai di lingkungan individu tinggal. Kondisi psikologis tersebut dapat diatas dengan pemberian pelatihan pemaafan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan pemaafan terhadap peningkatan self esteem. Pelatihan pemaafan adalah modifikasi dari terapi pemaafan ke dalam bentuk workshop yang berfokus pada pemaafan (forgiveness) dan perasaan bersyukur (gratitude). Subjek dalam penelitin ini adalah pecandu narkoba di fase akhir program rehabilitasi, yaitu fase re-entry di Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido, Bogor. Desain yang digunakan adalah desain eksperimen pretest-posttest control group design dengan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang masing-masing berjumlah enam orang. Kelompok eksperimen diberikan pelatihan pemaafan sebanyak enam sesi selama tiga hari dengan metode ceramah, diskusi, studi kasus, mengerjakan tugas, dan mental imagery. Metode pengumpulan data berupa skala penelitian Adult Version of the Coopersmith Self Esteem Inventory dengan validitas yang bergerak antara 0,517 sampai 0,759,  dan koefisien reliabilitas skala adalah 0,840 sehingga skala dinyatakan valid.Teknik analisis data menggunakan statistik nonparametrik Mann-Whitney dan Wilcoxon Signed-Rank Test secara komputasi dengan software SPSS for MS Windows version 22.0. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah pelatihan pemaafan terbukti memiliki pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan self esteem pada pecandu narkoba di program re-entry Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido, Bogor ditunjukkan dengan nilai uji signifikansi (p) sebesar 0,029 (p<0,05) yang berarti hipotesis penelitian diterima. Kata kunci: pelatihan pemaafan, self esteem, rehabilitasi narkoba.
Pengaruh Pelatihan Syukur terhadap Peningkatan Subjective Well Being pada Ibu yang Memiliki Anak Down Syndrome Nurul Muslikhatul Khoiriyah; Rin Widya Agustin; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.633 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i1.90

Abstract

Pengaruh Pelatihan Syukur terhadap Peningkatan Subjective Well Being pada Ibu yang Memiliki Anak Down Syndrome     The Effect of Gratitude Training to Increase Subjective Well Being in Mother of Children with Down Syndrome     Nurul Muslikhatul Khoiriyah, Rin Widya Agustin, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebelasMaret       ABSTRAK   Keadaan anak down syndrome yang mengalami gangguan, baik fisik, psikologis, maupun sosial membuat ibu merasa tertekan dan kurang bahagia. Kebahagiaan (happiness) mengacu kepada pengalaman subjektif seseorang yang mengarah kepada penilaian terhadap kehidupan yang telah dijalani atau selanjutnya disebut dengan subjective well being. Subjective well being dapat dihasilkan melalui pelatihan yang membentuk karakter individu. Salah satu bentuk intervensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan subjective well being adalah pelatihan syukur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pelatihan syukur terhadap peningkatan subjective well being pada ibu yang memiliki anak down syndrome. Subjek penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak down syndrome di SLB B-C dan Autis YBA Surakarta. Desain penelitian ini adalah desain eksperimen pretest-posttest control group design dengan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing sebanyak lima orang. Kelompok eksperimen diberikan pelatihan syukur selama dua hari dengan menggunakan  metodesharing, kuliah, games, active communication, mental imagery, simulations, video,relaksasi, instruments, dan writing tasks.Metode pengumpulan data penelitian yaitu modul pelatihan syukur yang dimodifikasi dari Anggarani (2013), Satisfaction With Life Scale (Diener, dkk., 1985) dan Scale of Positive and Negative Experience (Diener dan Biswas-Diener, 2009). Hasil analisis kuantitatif dengan uji 2 Sampel Independen Mann-Whitney untuk kepuasan hidup diperoleh nilai Z -2.694 dan p 0.007< 0.05 pada pretest-posttest, sedangkan pretest-follow up memperoleh nilai Z sebesar -2.703 dan p 0.007< 0.05dan posttest-follow up mendapatkan nilai Z sebesar -2.612 dan  p 0.009< 0.05. Sedangkan perhitungan uji 2 sampel independen Mann-Whitney untuk balance affectdiperoleh nilai Z-2.627 dan p 0,009< 0.05 pada pretest-posttest,nilai Z sebesar -2.643 dan p 0.008< 0.05 untuk pretest-follow updan  nilai Z sebesar -2.635 dan  p 0,008< 0.05 untuk posttest-follow up. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatihan syukur memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan subjective well being pada ibu yang memiliki anak down syndrome. Kata kunci: pelatihan syukur, subjective well being, ibu, down syndrome.
Kompetensi Emosi dan Kompetensi Sosial pada Anak Kembar Identik Laki-Laki dengan Gangguan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) Sebuah Studi Kasus Akwila Adwin Falenttino; Suci Murti Karini; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.322 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.105

Abstract

Kompetensi Emosi dan Kompetensi Sosial pada Anak Kembar Identik Laki-Laki dengan Gangguan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) Sebuah Studi Kasus   Emotional Competence and Social Competence in Identical Tiwn Boys with Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) A Case Study   Akwila Adwin Falenttino, Suci Murti Karini, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret   ABSTRAK Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah sebuah gangguan yang secara konsisten memperlihatkan beberapa dari sejumlah karakteristik selama periode waktu tertentu: gangguan pemusatan perhatian, hiperaktif dan impulsif. Pada akhir masa kanak-kanak, anak pada umumnya mengalami periode meningginya emosi, keadaan yang demikian membuat anak harus menyesuaikan diri, sehingga anak cenderung cepat marah dan sulit untuk dihadapi. Hal ini menjadi suatu permasalahan tersendiri bagi anak dengan gangguan ADHD, karena fase memuncaknya emosi ini akan diperparah dengan sikap anak yang impulsif yang disertai dengan hiperaktivitas. Aspek emosi tersebut tidak dapat terlepas dari aspek sosialnya, dimana perkembangan emosi anak akan berdampak langsung pada kehidupan sosialnya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai kompetensi emosi dan kompetensi sosial yang dimiliki oleh anak kembar identik dengan gangguan ADHD. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan desain studi kasusyang diharapkan dapat menggali fokus penelitian secara mendalam. Subjek dalam penelitian ini adalah sepasang anak kembar identik laki-laki yang keduanya mengalami gangguan ADHD. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan riwayat hidup. Hasil penelitian ini menggambarkan kompetensi emosi dan kompetensi sosial yang dimiliki oleh anak kembar identik dengan gangguan ADHD. Kondisi keluarga menjadi faktor utama yang berpengaruh terhadap kompetensi emosi dan sosial pada anak kembar identik dengan gangguan ADHD. Sikap yang diberikan oleh ibu subjek yang cenderung terlalu melindungi ketika berurusan dengan kehidupan sosial anak dan juga sikap yang cenderung membiarkan anak berperilaku sesuka mereka di dalam rumah, berakibat pada pembentukan sikap agresif pada anak kembar identik tersebut. Sikap agresif tersebut dimunculkan oleh kedua subjek ketika mereka berada dalam kondisi emosi marah atau sedih, dan kondisi ini memerlukan waktu yang cukup lama agar kembali ke keadaan yang stabil. Keadaan emosi yang demikian berdampak pada kompetensi sosial kedua subjek, terutama kompetensi yang berhubungan dengan interaksi subjek dengan kelompok tertentu. Kedua subjek masih belum dapat bekerja sama dalam sebuah kelompok tertentu dan cenderung belum dapat memahami isyarat sosial dari orang lain.   Kata kunci: anak kembar identik, ADHD, kompetensi emosi, kompetensi sosial
Perbedaan Penyesuaian Diri Ditinjau dari Konsep Diri dan Tipe Kepribadian antara Mahasiswa Lokal dan Perantau di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Afina Naharindya Vidyanindita; Rin Widya Agustin; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.838 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i2.110

Abstract

Perbedaan Penyesuaian Diri Ditinjau dari Konsep Diri dan Tipe Kepribadian antara Mahasiswa Lokal dan Perantau di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret     Self-Adjustment Difference Viewed from Self-Concept and Personality Types among Local and Sojourner Students of Faculty of Medicine Sebelas Maret University       Afina Naharindya Vidyanindita 1, Rin Widya Agustin 2, Arif Tri Setyanto 3 Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebalasMaret       ABSTRAK   Mahasiswa baru umumnya menghadapi berbagai permasalahan, sepertimasalah komunikasi, tuntutan akademis, hubungan sosial, masalah keuangan, serta masalah-masalah lain dalam kehidupan sehari-hari yang berasal dari dalam maupun luar individu, yang bisa berujung pada kecemasan dan stres. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian diri yang baik bagi mahasiswa agar terwujud hubungan yang selaras antara individu dengan lingkungan.Proses penyesuaian diri dapat dipengaruhi oleh konsep diri dan kepribadian. Individu dengan konsep diri positif cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dibandingkan individu dengan konsep diri negatif, begitu pula individu yang memiliki kepribadian ekstrovert cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dibandingkan individu yang memiliki kepribadian introvert.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penyesuaian diri antara mahasiswa lokal dan perantau, perbedaan penyesuaian diri ditinjau dari konsep diri, perbedaan penyesuaian diri ditinjau dari tipe kepribadian, dan perbedaan penyesuaian diri ditinjau dari konsep diri dan tipe kepribadian antara mahasiswa lokal dan perantau. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa tahun pertama Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Sampel penelitian berjumlah 104 mahasiswa yang diambil melalui teknik purposive random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala penyesuaian diri, skala konsep diri, dan skala tipe kepribadian. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Three Way Anova.   Dari hasil perhitungan dengan menggunakan Three Way Anova, diperoleh kesimpulan bahwa untuk faktor daerah asal (lokal dan perantau) F hitung 11,558 (> F tabel 2,70) menunjukkan bahwa ada perbedaan penyesuaian diri ditinjau dari daerah asal. Untuk faktor konsep diri F hitung 9,134 (> F tabel 2,70), menunjukkan bahwa ada perbedaan penyesuaian diri ditinjau dari konsep diri. Untuk faktor tipe kepribadian F hitung 11,286 (> F tabel 2,70), menunjukkan bahwa ada perbedaan penyesuaian diri ditinjau dari tipe kepribadian. Hasil Three Way Anova untuk interaksi tiga faktor menunjukkan tidak ada interaksi antara daerah asal, konsep diri, dan tipe kepribadian.   Kata kunci: Penyesuaian diri, konsep diri, tipe kepribadian, mahasiswa perantau.  
Hubungan antara Adversity Quotient dan Dukungan Keluarga dengan Kematangan Karir Remaja Yatim di SMA di Surakarta Naila Khusna; Nugraha Arif Karyanta; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.068 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.101

Abstract

Hubungan antara Adversity Quotient dan Dukungan Keluarga dengan Kematangan Karir Remaja Yatim di SMA di Surakarta The Relationship between Adversity Quotient and Family Support with Career Maturity on Fatherless Adolescent In Senior High School of Surakarta Naila Khusna, Nugraha Arif Karyanta, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret ABSTRAK Salah satu tugas perkembangan remaja adalah memilih dan mempersiapkan karir. Kematangan karir merupakan keberhasilan seseorang dalam mencapai tugas perkembangan karir sesuai tahapan perkembangannya. Dalam mencapai kematangan karir, remaja seringkali mengalami hambatan, seperti hambatan ekonomi dan kurangnya dukungan keluarga. Hambatan tersebut juga banyak dialami oleh remaja yatim. Adversity Quotient dan dukungan keluarga merupakan hal-hal yang diduga terkait dengan kematangan karir remaja yatim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) hubungan antara adversity quotient dan dukungan keluarga dengan kematangan karir remaja yatim (2) hubungan antara adversity quotient dengan kematangan karir remaja yatim (3) hubungan antara dukungan keluarga dengan kematangan karir remaja yatim. Populasi dalam penelitian ini remaja yatim di SMA di Surakarta yang terdiri dari 37 sekolah. Pemilihan tempat penelitian menggunakan cluster random samplig, sehingga dari 37 sekolah didapatkan 12 sekolah untuk tempat  penelitian (5 SMA Negeri dan 7 SMA swasta). Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dan diperoleh subjek sebanyak 98 dari 120 remaja yatim yang lolos kriteria tertentu.Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan tiga skala psikologis, yaitu skala kematangan karir (α=0,877, r=0,349), skala adversity quotient (α=0,910, r=0,349), dan skala dukungan keluarga (α=0,905, r=0,349). Hipotesis pertama diuji menggunakan analisis regresi ganda, dan untuk menguji hipotesis kedua serta ketiga menggunakan analisis korelasi parsial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara adversity quotient dan dukungan keluarga dengan kematangan karir remaja yatim di SMA di Surakarta. Nilai F-test=6,390; p<0,05, dan nilai R=0,344. Secara parsial, terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara adversity quotient dengan kematangan karir (rx1-y=0,219, p<0,05), dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kematangan karir (rx2-y=0,120, p>0,05). Nilai R2 dalam penelitian ini sebesar 0,119 atau 11,9%, terdiri atas sumbangan efektif adversity quotient terhadap kematangan karir pada remaja yatim sebesar 8,17% dan sumbangan efektif dukungan keluarga terhadap kematangan karir pada remaja yatim sebesar 3,69%.   Kata kunci: kematangan karir, adversity quotient, dukungan keluarga, remaja yatim.
Perbedaan Psychological Well Being pada Waria Pekerja Seks Komersial (PSK) dan Waria Bukan Pekerja Seks Komersial Ditinjau dari Harga Diri Andini Dwi Yudhanti; Rin Widya Agustin; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.178 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.106

Abstract

Perbedaan Psychological Well Being pada Waria Pekerja Seks Komersial (PSK) dan Waria Bukan Pekerja Seks Komersial Ditinjau dari Harga Diri     Psychological Well Being Comparison between Transsexual Prostitute and Transsexual Non Prostitute Based on Self Esteem     Andini Dwi Yudhanti, Rin Widya Agustin, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebelasMaret       ABSTRAK   Psychological well being merupakan kondisi psikologis dimana individu mampu menjalani peran-peran dalam kehidupannya berdasarkan pengalaman-pengalaman sehingga melahirkan sikap positif dalam hidupnya. Perbedaan perlakuan masyarakat terhadap status pekerjaan waria (waria PSK dan waria Non PSK) menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan penghargaan diri waria kemudian mengarahkan pada kondisi psychological well being yang berbeda pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan psychological well being pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) ditinjau dari harga diri, perbedaan psychological well being pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK), dan perbedaan harga diri pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK). Populasi dalam penelitian ini adalah waria (waria PSK dan waria Non PSK) yang terdapat pada komunitas waria lokal Kota Surabaya yang bernama PERWAKOS dengan rentang usia 18-40 tahun. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 60 orang yang terdiri dari 30 orang waria pekerja seks komersial (PSK) dan 30 orang waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psychological well being (r=0,883) dan skala harga diri (r=0,902). Hasil analisa data menggunakan uji two way anova menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada psychological well being waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) ditinjau dari harga diri (Fhitung = 19,291, p < 0,05). Analisis data selanjutnya menggunakan uji t. Hasil analisia data tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan psychological well being pada waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) (thitung =-0,597, p > 0,05); serta tidak terdapat perbedaan harga diri waria pekerja seks komersial (PSK) dan waria bukan pekerja seks komersial (Non PSK) (thitung = 0,521, p > 0,05).   Kata kunci:psychological well being, harga diri, waria