Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengolahan Produk Holistik Nugget Nabati: Inovasi Nugget Tempe Dengan Sayuran Sebagai Makanan Alternatif Yang Kaya Protein Nabati Novita Surya Putri; Tria Anisa Firmanti; Atik Pramesti Wilujeng; Ali Syahbana
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): JPM SEPTEMBER 2025
Publisher : UPPM - STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jpm.v11i2.2816

Abstract

Perubahan gaya hidup yang memiliki pola makan yang kurang sehat. Serta gemarnya masyarakat mengkonsumsi produk siap saji diperlukan modifikasi produk pangan bahan ekonomis yang sering di konsumsi mitra yaitu produk nabati untuk di olah menyerupai produk siap saji seperti nuget. Tujuan kegiatan ini untuk memberdayakan serta meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam pengolahan makanan lokal (tempe dan sayur) sebagai makanan alternatif yang kaya protein nabati. Metode yang digunakan Participatory Learning and Action (PLA). Metode PLA merupakan proses pembelajaran dengan melibatkan komunitas (masyarakat) agar berpartisipasi secara aktif dalam proses kegiatan. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 2 September 2024 , yang diikuti oleh 6 orang dosen 6 orang mahasiswa. Mitra kegiatan ini adalah ibu-ibu PKK Lingkungan cungking Kelurahan Mojototo Banyuwangi, terdapat 15 orang ibu yang mengikuti kegiatan ini. Hasil kegiatan ini sebelum dilakukan edukasi dilakukan pre-test tentang pengetahuan gizi, pola makan sehat, pengolahan makanan lokal dan sayuran lokal, dari hasil pre-test menunjukkan sebagaian besar mitra yaitu 9 orang (60%) memiliki pengetahuan kurang tentang pengetahuan gizi, pola makan sehat, pengolahan makanan lokal dan sayuran lokal. Setelah dilakukan pre-test mitra diberikan edukasi tentang pengenalan gizi dan pola makan sehat yang dan pengolahan tempe dan sayuran lokal dalam pemenuhan gizi. Setelah diberikan materi mitra dilakukan post-test dengan hasil sebagian besar mitra memiliki pengetahuan tentang pengetahuan gizi, pola makan sehat, pengolahan makanan lokal dan sayuran lokal baik 13 orang (87%). Mitra memahami pengenalan gizi dan pola makan dan pengolahan tempe dan sayuran lokal dalam pemenuhan gizi. Dengan adanya edukasi ini pengetahuan dan pengalaman mitra meningkat.
Local Wisdom-Based Complementary Feeding for Stunting Prevention: A Qualitative Study Using the Health Promotion Model Atik pramesti wilujeng; Novita Surya Putri; Tria Anisa Firmanti; Badrul Munif; Dina Puspitasari; Akhmad Yanuar Fahmi Pamungkas
Jurnal Keperawatan Soedirman Vol 21 No 1 (2026): Jurnal Keperawatan Soedirman (JKS)
Publisher : Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jks.2026.21.1.17821

Abstract

Stunting remains a major health concern in low- and middle-income countries, including Indonesia, where complementary feeding practices are strongly influenced by culture, maternal knowledge, and environmental support. Local wisdom offers a culturally relevant approach for improving child nutrition and preventing stunting. This study aims to explore mothers’ experiences in preparing complementary foods using local wisdom and to analyze these practices through the Health Promotion Model. The researchers applied a qualitative phenomenological approach with ten mothers of undernourished children aged 6–24 months in coastal Banyuwangi. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using the Colaizzi method, guided by Health Promotion Model constructs. The analysis revealed five themes: cultural beliefs in food choices, maternal knowledge of nutrition, use of local ingredients, external support from health workers, and sustained maternal engagement in complementary feeding. The findings highlight that complementary feeding grounded in local wisdom can potentially support stunting prevention. Thus, strengthening maternal self-efficacy, addressing barriers, and enhancing social support are critical to improving feeding practices.
Progresive Muscle Relaxation sebagai Terapi Keperawatan Non-Farmakologis untuk Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah pada Pasien Diabetes Tipe 2: Studi Kasus Novita Surya Putri; Andrik Hermanto; Meira Safira Salsabila; Atik Pramesti Wilujeng; Riyan Dwi Prasetyawan; Tria Anisa Firmanti; Sholihin
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 11 No 2 (2026): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease characterized by unstable blood glucose. Unstable blood glucose levels are influenced by psychological and physiological stress, which triggers the secretion of stress hormones, thus worsening glycemic control. Non-pharmacological therapy using relaxation techniques is needed to reduce stress, including progressive muscle relaxation. Objective: The aim of this study was to implementing progressive muscle relaxation as a non-pharmacological nursing therapy for blood glucose level instability in type 2 diabetes patients: a case study. Methods: The research method used is a case study; the nursing problem in DM clients is Unstable blood glucose levels. Treatment that can be carried out for DM clients in dealing with nursing problems of unstable blood glucose levels is PMR therapy. The participants selected were two clients with blood glucose levels ≥200 mg/dl (Hyperglycemia). The research used interview techniques, observation, physical examination, documentation studies, and questionnaires. The assessment format used is the Medical Surgical Nursing format. Results: Progressive Muscle Relaxation (PMR) is given once daily for three consecutive days, with the intervention lasting 15–20 minutes. PMR therapy can effectively reduce blood glucose levels within three days. Participants experienced a decrease in blood glucose levels by an average of 1-24 mg/dl. Conclusion: The PMR relaxation technique affects the neuroendocrine system by reducing the response to stres. When the body is in a relaxed state, the dominance of the parasympathetic system increases, which is able to suppress the secretion of stress hormones and increase insulin sensitivity, thus having a positive impact on regulating blood glucose levels.