Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pertimbangan Hakim Mengenai Kekuatan Mengikat Akta Pembagian Harta Bersama Berdasarkan Keadilan Distributif Aristoteles Pradita, Mahkota Fadia Bella; Nugraheni, Anjar Sri Ciptorukmi
Indonesian Journal of Social Sciences and Humanities Vol. 6 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Social Sciences and Humanities (IJSSH)
Publisher : Indonesian Publication Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the judge’s legal considerations regarding the binding force of the deed of division of joint assets in Decision Number 38/Pdt.G/2020/PN Smn viewed from the perspective of Aristotle’s distributive justice. This study uses prescriptive and applied normative legal methods, with a statutory and conceptual approach. Data collection through literature studies. Types of legal materials include primary and secondary legal materials. Deductive analysis techniques and legal syllogism methods. The results of the study show that the legal considerations of the Panel of Judges are in line with applicable positive law, namely: (1) determination of the object of the dispute as joint assets based on Article 35 paragraph (1) of Law No. 1 of 1974; (2) recognition of the Deed of Statement of Division of Gono Gini Assets Number 41 as a legal instrument of choice for the parties after the divorce in accordance with Article 37 of Law No. 1 of 1974; (3) determination of the deed as authentic evidence with perfect evidentiary force referring to Article 1868 and Article 1870 of the Civil Code. The consistency of these considerations was affirmed up to the cassation level through the ne bis in idem decision. Overall, Decision Number 38/Pdt.G/2020/PN Smn has reflected the principle of justice through a combination of procedural justice and Aristotelian distributive justice. Procedural justice is realized through adherence to the principles of pacta sunt servanda and good faith as per Article 1338 of the Civil Code. Distributively, the decision provides proportional economic protection for children as vulnerable parties and recognizes the wife’s immaterial contribution. The judge also upheld corrective justice by rejecting the Plaintiff’s breach of contract to ensure the best interests of the children.
Pembaruan Regulasi Fidusia dalam Mengakomodasi Kepastian Hukum dan Kewenangan Notaris dalam Penghapusan Jaminan Fidusia Multahada, Indy; Anjar Sri Ciptorukmi Nugraheni; Emmy Latifah
Jurisprudentie: Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Vol 12 No 2 (2025): Volume 12 Nomor 2 Desember 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum uin alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jurisprudentie.v12i2.62868

Abstract

This study examines the weaknesses in the regulations governing the removal of fiduciary guarantees. Although the obligation to remove is regulated in relevant laws and regulations, practice shows that thousands of fiduciary guarantees have not been removed even after being paid off, creating legal uncertainty and hindering debtors from reusing the collateral. This study aims to analyse the urgency of updating fiduciary guarantee regulations and to formulate a regulatory framework that can strengthen legal certainty, including proposals for special markings on evidence of fiduciary guarantee objects and confirmation of the authority of the parties entitled to carry out the removal. This study uses a normative-empirical research method, employing a legislative and conceptual approach, with primary legal sources (related legislation) and secondary legal sources in the form of literature and interviews. This study found a gap between regulation and practice. The results of the study indicate the need for regulatory updates, including special markings on fiduciary collateral objects, as is the practice for encumbrances, as well as the affirmation of authority to legal subjects for the removal process. Regulatory updates are expected to create a more accountable removal mechanism and increase legal certainty for all parties.
KOMPARASI HAK ASUH DAN HAK NAFKAH ANAK DALAM PUTUSAN- PUTUSAN PERCERAIAN DI PENGADILAN NEGERI DAN PENGADILAN AGAMA KOTA SURAKARTA Nugraheni, Anjar Sri Ciptorukmi; Cahyaningsih, Diana Tantri; Luthfiyah, Zeni
Yustisia Vol 2, No 3: December 2013
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v2i3.10158

Abstract

AbstractThe high number of divorce in every year creates concern toward the children’s rights whose have parents divorce. Therefore, the writers did the research in order to identify the legal protection of children’s rights post parents divorce either for rights to rearing and rights to basic necessities. The research is involved into sociological research. The primary data was obtained through interview and the secondary data was coming from literature study from judge’s verdict in District court of Surakarta (either for general District court or religion District court). Technical analysis uses qualitative data specially using deductive method. This research shows that most of all the verdicts (judge’s decision), more than 75%, does not have any substantial decision regarding rights to rearing and rights to basic necessities (in both district court-general District court and religion District court). Based on this result, it means that the legal protection for the children’s who experience parents divorce is at very minimum legal protection for their rights.  The differences of legal protection, research by the writers between both district court, are in religion District court, the underwriter for rearing is given to the mother if the children are below 12 years old (mumayiz) and beyond 12 years old, the children could choose the underwriter is (until he or she is in the mature age-21 years old). Meanwhile, in general District court, there are no clauses regarding what and who are the underwriter, there is no mumayiz term including the differences uses of mature age between 18 years old or 21 years old.Keywords: divorce, rights to rearing, rights to basic necessities, age limit.AbstrakSemakin tingginya angka perceraian setiap tahunmemunculkan keprihatinan penulis tentang nasib anak- anak yang orangtuanya mengalami perceraian.Oleh karena itu penulis melakukan penelitian dengan tujuanmengidentifikasi perlindungan hukum terhadap hak-hak anak pasca perceraian kedua orangtuanya baik hak asuh maupun hak nafkah anak. Penelitian ini termasuk penelitian sosiologis.Data primer diperoleh melalui wawancara dan data sekunder diperoleh melalui studi pustaka putusan-putusan hakim di PN dan PA Kota Surakarta.Teknik analisis menggunakan analisis data kualitatif khususnya dengan metode deduktif. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar putusan (+75%) tidak mengandung amar putusan tentang hak asuh dan hak nafkah anak baik putusan perceraian di PN maupun PA.Hal ini berarti masih kurangnya perlindungan hokum terhadap hak-hak anak pasca perceraian kedua orangtuanya.Perbedaan perlindungan hukum yang diidentifikasi penulisantara di PA dan PN ialah jika di PA, kuasa hak asuh diseyogyakan adalah ibu jika anak belum berumur 12 tahun (mumayiz) dan setelah berumur lebih dari 12 tahun, anak dapat memilih siapa yang memegang hak asuh atas dirinya serta umur kedewasaan adalah 21 tahun. Sementara di PN, tidak ada ketentuan yang jelas siapa kuasa hak asuh, tidak dikenal istilah mumayyiz dan umur kedewasaan ada yang menganggap sampai berumur 18 tahun tapi ada juga yang sampai berumur 21 tahun .Kata kunci: Perceraian, hak asuh anak, hak nafkah anak, batas umur.
PERLINDUNGAN HUKUM PADA END USER LICENSE AGREEMENT (PERJANJIAN LISENSI PENGGUNA AKHIR) BAGI PENGGUNA MEDIA SOSIAL FACEBOOK Khaerunisa, Alinda; Nugraheni, Anjar Sri Ciptorukmi
Jurnal Privat Law Vol 10, No 1 (2022): JANUARI-JUNI
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/privat.v10i1.60471

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui problematika hukum yang hadir dalam end user license agreement atau perjanjian lisensi pengguna akhir media sosial Facebook yang selanjutnya disebut EULA, serta model perlindungan hukum bagi data pribadi pengguna yang telah disediakan dalam perjanjian tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian hukum normatif, dengan  pendekatan  undang-undang dan pendekatan konseptual. Bahan hukum  yang digunakan adalah bahan hukum primer dan sekunder,dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik studi dokumen atau studi kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa terdapat problematika hukum data pribadi dalam EULA media sosial Facebook pada bagian preamble atau pembukaan, Pasal 2, Pasal 3, dan Pasal 4 pada kontrak tersebut. Selain itu, telah terdapat model perlindungan hukum data pribadi dalam EULA media sosial Facebook tersebut. Namun, model perlindungan hukum data pribadi ini belum maksimal dalam memberikan perlindungan kepada pengguna media sosial Facebook. Oleh karena itu, diperlukan pengubahan, penghapusan, atau penambahan terhadap beberapa pasal dalam EULA media sosial Facebook, sehingga dapat dihasilkan suatu model perlindungan hukum data pribadi yang ideal.
IMPLEMENTASI ASAS IN BEZIT STELLING PADA CASH COLLATERAL SEBAGAI JAMINAN ATAS PERJANJIAN KREDIT (Studi PT. Bank Rakyat Indonesia (PERSERO) KC Bojonegoro) Permata, Khoirunnisa Diyah; Nugraheni, Anjar Sri Ciptorukmi
Jurnal Privat Law Vol 12, No 2 (2024): AGUSTUS-DESEMBER
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/privat.v12i2.50734

Abstract

AbstractThis Articles aims to analyze the implementation of in bezit stelling principle on cash collateral as collateral for credit agreements and the execution of cash collateral by analyze first the implementation of credit agreements. This study belongs to empirical law research that is descriptive in nature. The data was obtained from primary and secondary data. Considering the result of research and discussion Based on the results of the research and discussion, a conclusion was made regarding the implementation of in bezit stelling principle on cash collateral at BRI Bojonegoro Branch Office and execution of cash collateral, credit loans use cash collateral tied to a mortgage agreement to ensure repayment of debtor debt, There is a surrender of cash collateral as a real delivery which is the legal amount of the mortgage along with the blocking of the credit. Creditor also has preference right, namely the right to precedence in the term of debt repayment over object execution result becoming the mortgage collateral objects against other creditor. If when the debtor makes a default, then BRI Bojonegoro Branch Office execute directly (parate execution) against cash collateral. Execution may be made by withdrawal for payment of debtor debt.
PENGATURAN PEMBAGIAN HARTA BERSAMA DALAM PERKAWINAN POLIGAMI Muttaalliyah, Putri; Nugraheni, Anjar Sri Ciptorukmi
Jurnal Privat Law Vol 10, No 2 (2022): JULI - DESEMBER
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/privat.v10i2.65052

Abstract

AbstractThis article aims to determine the arrangements regarding the distribution of joints property and legal protection of wives in polygamy marriages. This type of research is normative legal research, prescriptive, and used legal analysis techniques that are deductive to the syllogism method. Based on the result of the study, it can be concluded that the existing legislation both Law Number 1 of 1974 concerning Marriage and Presidential Instruction Number 1 of 1991 concerning Compilation of Islamic Law does not clearly regulate the distribution of shared assets in polygamous marriages. In its development, the arrangement for sharing assets  with  polygamy  marriages  is  explaned  in  book  II  of  The  Technical Guidelines for the Religious Courts concerning Guidelines for the Implementation of Duties and Administration of Religious Courts issued by the Supreme Court. In polygamy marriages there two forms of legal protection, preventive to prevent disputes  and  repressive  to  resolve  disputes.  The  form  of  preventive  legal protection is in the form of strict requirements for husbands who will apply for a polygamy permit,  a  marriage agreement,  and  when  applying  for a  polygamy permit  the husband must apply for the determination  of  joint assets  with  the previous  wife.  The  form  of  repressive  legal  protection  is  in  the  form  of cancellation of a marriage that can be done by the previous wife if the conditions for holding a polygamous marriage are not fulfilled. Keywords : Marriage; Joint Asset; Polygamy; Legal Protection                                                                                AbstrakArtikel ini bertujuan untuk  mengetahui pengaturan mengenai pembagian harta bersama dan perlindungan hukum istri dan atau istri-istri dalam perkawinan poligami. Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah penelitian hukum normatif, bersifat preskriptif, dan menggunakan teknik analisis bahan hukum yang bersifat  deduksi dengan metode silogisme. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan  bahwa  peraturan  perundang-undangan  yang  ada  baik  Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan maupun Instruksi Presiden Nomor  1  Tahun  1991  tentang  Kompilasi  Hukum  Islam  tidak  secara  jelas mengatur mengenai pembagian harta bersama dalam perkawinan poligami. Dalam perkembangannya, pengaturan pembagian harta bersama perkawinan poligami dijelaskan dalam buku II Pedoman Teknis Peradilan Agama tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan Agama yang diterbitkan oleh Mahkamah Agung.  Pada perkawinan poligami, terdapat dua bentuk perlindungan hukum, preventif untuk mencegah terjadinya sengketa dan represif untuk menyelesaikan sengketa bagi istri dan atau istri-istri. Bentuk perlindungan hukum preventif  berupa  adanya  persyaratan  yang  cukup  ketat  bagi suami  yang  akan mengajukan izin poligami, dibuatnya perjanjian perkawinan, serta pada saat mengajukan permohonan izin poligami suami harus mengajukan permohonan penetapan harta bersama dengan istri sebelumnya. Bentuk perlindungan hukum represif berupa pembatalan perkawinan yang dapat dilakukan oleh istri terdahulu apabila syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan poligami tidak terpenuhi.Kata Kunci : Perkawinan; Harta Bersama; Poligami; Perlindungan Hukum
PROBLEMATIKA HUKUM PADA PERJANJIAN KEMITRAAN PT. SOLUSI TRANSPORTASI INDONESIA (GRAB) DENGAN MITRA PENGEMUDI DITINJAU DARI ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK Adinugraha, Muhammad Farhan; Nugraheni, Anjar Sri Ciptorukmi
Jurnal Privat Law Vol 12, No 2 (2024): AGUSTUS-DESEMBER
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/privat.v12i2.50538

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis problematika hukum pada perjanjian kemitraan antara Grab dengan para mitra pengemudi yang ditinjau dari asas kebebasan berkontrak, menganalisis bentuk perlindungan hukum bagi mitra pengemudi pada perjanjian kemitraan antara Grab dengan mitra pengemudi, serta membangun model perlindungan hukum bagi mitra pengemudi yang dapat diterapkan dalam perjanjian kemitraan antara Grab dengan mitra pengemudi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual. Bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan sekunder, dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik studi dokumen atau studi kepustakaan. Teknik analisis bahan hukum menggunakan analisis hukum yang bersifat deduksi dengan metode silogisme. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penerapan asas kebebasan berkontrak pada perjanjian kemitraan Grab menimbulkan adanya beberapa klausula yang mengesampingkan tanggung jawab Grab atas segala bentuk kerugian mitra pengemudi. Selain itu, berdasarkan analisis terhadap bentuk perlindungan hukum bagi mitra pengemudi pada perjanjian kemitraan Grab, ditemukan suatu bentuk perlindungan hukum secara preventif maupun represif. Namun, bentuk perlindungan ini belum berjalan secara optimal dibuktikan dengan problematika hukum yang ada. Oleh karena itu, penelitian ini turut memberikan model perlindungan hukum yang optimal guna melindungi mitra pengemudi dengan cara mengubah pasal, menghapus pasal, dan menambahkan beberapa pasal dalam perjanjian kemitraan Grab.
TINJAUAN YURIDIS HARMONISASI PERLINDUNGAN DATA PRIBADI E-CONSUMER PADA KEGIATAN JUAL BELI DALAM PLATFORM ONLINE MARKETPLACE Cahyani, Disty Allyagita; Nugraheni, Anjar Sri Ciptorukmi
Jurnal Privat Law Vol 13, No 1 (2025): JANUARI-JUNI
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/privat.v13i1.54793

Abstract

AbstractThis  article  examines  the  laws  and  regulations  of  e-consumer  personal  data protection in buying activities in online marketplace, also the harmonization of these  regulations  with  the  personal  data  protection  bill.  This  research  is  a prescriptive normative with statutory approach. The data used were primary data and secondary data. Data collection techniques carried out by literature study or document study with qualitative deductive legal material analysis techniques. The results of the reseacrh and discussion show that the laws and regulations in Indonesia have regulated the protection of e-consumer personal data in online marketplace platform, but are still scattered in several laws and regulations. Meanwhile, the personal data protection bill regulates the protection of personal data  in  general,  not  only in  the scope  of  systems  or  electronic transactions. Harmonization   between   the   personal   data   protection   bill   and   laws   and regulations has been implemented in several aspects, includes the obligations of users of personal data, the rights of the owner of personal data, to role of the government and society. Where the personal data protection bill regulates in more detail or clarifies what has been regulates in laws and regulations. Keywords:  E-Consumer;  Harmonization;  Online  Marketplace;  Personal  Data ProtectionAbstrakArtikel ini mengkaji bentuk perlindungan data pribadi e-consumer dalam kegiatan jual beli online marketplace dalam peraturan perundangan-undangan serta harmonisasi peraturan tersebut dengan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif yang bersifat preskriptif   dengan   pendekatan   perundang-undangan.   Bahan   hukum   yang digunakan adalah bahan hukum primer dan bahan hukum skunder. Teknik pengumpulan  data  dilakukan  dengan  studi  kepustakaan  atau  studi  dokumen, dengan teknik analisis bahan hukum bersifat deduktif kualitatif. Hasil penelitian dan   pembahasan   menunjukkan   bahwa   peraturan   perundang-undangan   di Indonesia telah mengatur perlindungan data pribadi e-consumer dalam platform online marketplace, namun masih tersebar di beberapa peraturan perundang- undangan. Sedangkan untuk RUU PDP mengatur perlindungan data pribadi secara umum tidak hanya di lingkup sistem atau transaksi elektronik. Harmonisasi antara Rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi dan peraturan perundang- undangan telah terlaksana dalam beberapa aspek, mencakup kewajiban pengguna data pribadi, larangan-larangan terhadap data pribadi, hak pemilik data pribadi, hingga peran dari pemerintah dan masyarakat. Dimana Rancangan Undang- Undang Perlindungan Data Pribadi mengatur lebih terperinci atau memperjelas kembali yang sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan.Kata Kunci: E-Consumer; Harmonisasi; Online Marketplace; Perlindungan DataPribadi
KEDUDUKAN HAK WARIS SEORANG TRANSEKSUAL YANG TELAH MENGGANTI IDENTITAS JENIS KELAMINNYA MELALUI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI Perwira, Muhammad Satria Praja; Nugraheni, Anjar Sri Ciptorukmi
Jurnal Privat Law Vol 12, No 1 (2024): JANUARI-JUNI
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/privat.v12i1.50508

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan seorang transeksual terhadap hukum kewarisan di Indonesia yang meliputi hukum waris perdata barat, hukum waris islam, dan hukum waris adat. Transeksual yang dimaksudkan dalam artikel ini adalah seorang transeksual yang sudah sah secara yuridis melalui pengesahan pengadilan negeri. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif. Bahan hukum yang digunakan meliputi bahan hukum perimer dan sekunder, dengan teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan konsep dan pendekatan undang-undang. Berdasarkan hasil penelitian yang ada menunjukan bahwa hak waris seorang transeksual sangat bergantung terhadap hukum yang digunakan, sebagai contoh hukum waris perdata barat berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, jenis kelamin bukan merupakan indikator dari pembagian hak warisan sehingga perubahan jenis kelamin tidak berpengaruh pada pembagian warisan kepada hak seorang transeksual, namun dalam Hukum waris islam berdasarkan Kompilasi Hukum dan Hukum waris adat matrilineal (Minangkabau) ataupun Patrilienal (Bali) mengenal pembagian warisan berdasarkan jenis kelamin seseorang, sehingga bergantinya jenis kelamin pada seorang transeksual sangatlah mempengaruhi kedudukan hak waris seseorang.
PERTANGGUNGJAWABAN PERDATA AHLI WARIS PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI YANG SUDAH MENINGGAL Sirait, Obed Joshua; Nugraheni, Anjar Sri Ciptorukmi
Jurnal Privat Law Vol 12, No 1 (2024): JANUARI-JUNI
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/privat.v12i1.50465

Abstract

AbstractThis articles aims to analyze the construction of the legal relationship between testator, heirs, and the state as well as to study and analyze the form of accountability for state losses that have been caused by criminal offenders who have died in court proceedings. The research method is using normative legal research with statute approach, case approach, and conseptual approach. The legal materials used are primary and secondary legal materials, with data collection techniques used are document study technique or library study technique. Based on the result of the research, it can be concluded that there is a relationship between the heir and the state resulting from the act of the testator who commits corruption and the obligation to pay the loss still exists even though in the Criminal Code the criminal obligation has been terminated because the perpetrator died, the heirs of the perpetrators of a criminal act of corruption are obliged to be responsible if the person concerned receives the inheritance and the inheritance has been proven to contain losses to state finances.Keywords: Heirs; Inheritance; Responsibilities; State Finance LossAbstrakArtikel ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi hubungan hukum antara pewaris, ahli waris, dan negara serta mengkaji dan menganalisis bentuk pertanggungjawaban dari kerugian negara yang telah diakibatkan oleh pelaku tindak pidana yang sudah meninggal di dalam proses pengadilan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang - undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan sekunder, dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik studi dokumen atau studi kepustakaan. Berdasarkan hasil pembahasan dapat diketahui bahwa adanya konstruksi hubungan antara ahli waris dengan negara yang ditimbulkan dari perbuatan pewaris yang melakukan korupsi dan kewajiban untuk membayar kerugiannya tetap masih ada walaupun di dalam KUHP kewajiban pidananya telah gugur dikarenakan pelakunya meninggal dunia, Ahli waris dari pelaku tindak pidana korupsi wajib bertanggungjawab apabila yang bersangkutan menerima harta warisan tersebut dan harta warisan tersebut telah secara nyata terbukti mengandung kerugian keuangan negara.Kata Kunci: Ahli Waris; Kerugian Keuangan Negara; Tanggung Jawab; Waris