Ristiawan Agung Nugroho
Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto SH, Tembalang, Jawa Tengah – 50275

Published : 38 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

PENGARUH HUFA (Highly Unsaturated Fatty Acids) DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP TOTAL KONSUMSI PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIPELIHARA PADA SALINITAS BERBEDA Widayati, Noor; Subandiyono, - -; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.182 KB)

Abstract

Lemak merupakan komponen penting di dalam pakan ikan.  Lemak digunakan sebagai sumber energi yang dapat berfungsi membantu proses metabolisme, osmoregulasi, dan menjaga keseimbangan di dalam air.  Semua aktivitas biologis tersebut membutuhkan energi, dan diharapkan pemberian HUFA akan mempengaruhi total konsumsi pakan pertumbuhan ikan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh maupun interaksi penambahan HUFA pada pakan terhadap total konsumsi pakan dan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan salinitas yang berbeda.  Pakan diberikan dengan cara at satiation sebanyak 3 kali sehari pada pukul 08.00, 12.00 dan 16.00 WIB.  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial.  Percobaan yang dilakukan yaitu dengan ordo (3x2) dan masing-masing diulang sebanyak 3 kali.  Faktor pertama yaitu pemberian HUFA dengan 3 tingkatan, faktor A yaitu 0, 1, 2% untuk perlakuan A1, A2 dan A3.  Faktor kedua adalah faktor B dengan 2 salinitas yang berbeda pada media budidaya yaitu 0 dan 10 ppt untuk perlakuan B1 dan B2.  Variabel yang diamati yaitu total konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi ratio (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), dan survival rate (SR).  Hasil penelitian menunjukan bahwa HUFA maupun salinitas dalam pakan buatan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, PER, dan RGR namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai SR.  Terdapat interaksi antara HUFA dan salinitas untuk hasil TKP, EPP, PER, dan RGR namun tidak terdapat interaksi pada SR.  Perlakuan A3B2 menunjukkan hasil tertinggi untuk TKP (108,04±1,29g), EPP (64,45±2,94%), PER (2,01±0,03%), RGR (3,88±0,19%/hari), dan SR A2B2 (96,67±5,77%).  Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perlakuan A3B2memberikan hasil tertinggi untuk RGR, EPP, TKP, dan PER. Perlauan A2B2 memberikan hasil tertinggi untuk SR. Fat is one the important components in fish feed.  Fat was used as energy sourceand involved in metabolic process, osmoregulation, and maintained of fluidal osmotic the fish.  All of those biological activities required energy, and dietary HUFAs were expected could affect the rate of feed consumption and growth of the fish.  The use of HUFAs (Highly Unsaturated Fatty Acids) to know the influence of dietary HUFAs on feed consumption and growth of tilapia (Oreochromis niloticus) which was maintained in various media salinities. The fish was fed for 3 times a day (i.e. at 08.00 am, 12.00 and 16.00 pm ), by applying at satiation feeding method.  The experimental design used was of factorial- randomized completely design (RCD) with the order of (3x2) and each treatment was repeated for 3 times.  The first factor was dietary HUFAs (i.e factor A) with 3 levels that were factor A was trial diets with 0, 1, and 2% dietary HUFAs, for the treatment of A1, A2, and A3, respectively.  The second factor B (i.e various media salinities) with 2 level, that were 0 and 10 ppt, for the treatment of B1 and B2, respectively.  The variables measured were were food consumption rate (FCR), food efficiency utilization (FEU), protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR), and survival rate (SR). The result showed that both HUFAs and different media salinities had significantly affected (P<0,05) on FCR, FEU, PER, and RGR values, but didn’t for the SR (P>0,05) value.   There was an interaction for HUFAs and different media salinities factor on the values of the FCR, FEU, PER, and RGR, but didn’t for SR.  The treatment of A3B2 showed the highest value for FCR (108,04±1,29g), FEU (64,45±2,94%), PER (2,01±0,03%), RGR (3,88±0,19%/ day), and SR (96,67±5,77%).  The conclusion of this research was that treatment A3B2 resulted on the highest values of FCR, FEU, PER and RGR, while the treatment of A2B2 resulted on the highest value of SR.
PENGARUH LAMA WAKTU PERENDAMAN EMBRIO DALAM EKSTRAK PURWOCENG (Pimpinella alpina) TERHADAP PENGALIHAN KELAMIN IKAN CUPANG (Betta splendens) Lestari, Rosita; Susilowati, Titik; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.587 KB)

Abstract

Ikan cupang (Betta splendens) berkelamin jantan merupakan salah satu jenis ikan yang digemari oleh masyarakat dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ikan cupang berkelamin jantan memiliki keunggulan pada bentuk dan warnanya. Upaya untuk memperoleh persentase jantan dapat dilakukan dengan cara pengalihan kelamin dengan melakukan perendaman embrio dalam ekstrak purwoceng. Ekstrak purwoceng (Pimpinella alpina) merupakan tumbuhan afrodisiaka yang mengandung senyawa berkaitan dengan fitosteroid, misalnya stigmasterol yang berkhasiat meningkatkan kualitas seksual.  Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah A selama 0 jam, perlakuan B selama 5 jam, perlakuan C selama 10 jam dan perlakuan D selama 15 jam dengan dosis yang sama yaitu 20 mg/liter. Data yang diamati meliputi derajat penetasan (HR), kelulushidupan (SR), persentase jantan dan betina (%), dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman menggunakan esktrak purwoceng  pada embrio dengan lama waktu yang berbeda memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap derajat penetasan (HR), kelulushidupan (SR),  persentase jantan dan betina. Persentase kelamin jantan pada perlakuan A sebesar 42,77 %, perlakuan B sebesar 67,66 %,  perlakuan C sebesar 72,52 %, dan perlakuan D sebesar 81,14 %. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran layak untuk budidaya Ikan Cupang (B. splendens). Kesimpulan dari penelitian ini adalah perendaman menggunakan esktrak purwoceng dalam embrio dengan lama waktu perendaman yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase jantan ikan cupang (B. splendens) dan lama waktu perendaman yang terbaik adalah pada perlakuan D dengan lama waktu perendaman 15 jam yang menghasilkan persentase jantan sebanyak 81,14 %.Male Betta fish is one of popular ornamental fish and has high economic value. Male Betta fish has an aestethical feature, espicially on it’s caudal fin. The attempt to obtain the percentage of male fish can be done by sex reversing with embryos immersion in Purwoceng Extract. Purwoceng (Pimpinella alpina)  extract is an aphrodisiac plant  that contain several compounds associated with fitosteroid like stigmasterol that can improve sexual quality.  This research is conducted by applying completely randomized desing (RAL), which consists of 4 treatments and 3 replicates. The treatment is A 0 hour, B treatment for 5 hours, treatment C for 10  hours and D treatment for 15 hours with the same dose of 20 mg/liter. Measuring variables this research were hatching rate, survival rate (SR), the percentage of males and females (%), and water quality. The results showed that embryos immersion in Extract Purwoceng with different lenght of time had significant different (P < 0.01) hatching rate, survival rate (SR), in male and female fish percentage. The percentage of male fish in treatment A was 42,77%, treatment B was 67,66%, treatment C was 72,52% and  treatment D was 81,14%. Water quality in the media, there is a range of decent maintenance for Betta fish farming (B. splendens). The conclusion of this research was that submergence using Extract Purwoceng in embryos with different immersion time gives a real influence against the percentage of males and females fish betta (B. splendens) and long soaking is best at the treatment D when with the old 15 hour immersion which produced 81,14% of male fish.
PENGARUH PEMBERIAN OMEGA-3 DAN KLOROFIL DALAM PAKAN TERHADAP FEKUNDITAS DAN DERAJAT PENETASAN BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Noviantoro, Adi; Sudaryono, Agung; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.065 KB)

Abstract

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan kualitas benih ikan nila yaitu dengan meningkatkan kualitas nutrisi pakan induk. Unsur nutrien yang harus ada dalam pakan induk ikan antara lain asam lemak esensial dan vitamin E yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi benih yang berkualitas. Penelitian ini menambahkan suplemen pakan yaitu omega-3 dan klorofil dengan menambahkannya pada pakan induk ikan nila. Kombinasi bahan tersebut diharapkan meningkatkan fekunditas dan derajat penetasan ikan nila. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian omega-3 dan klorofil ke dalam pakan induk terhadap fekunditas dan derajat penetasan ikan nila. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan dan masing-masing terdiri dari 3 ulangan. Perlakuan uji adalah A (tanpa kombinasi omega-3 dan klorofil ke dalam pakan), B (Kombinasi 2,5 mL omega-3 dan 2,5 mL klorofil/kg pakan), C (kombinasi 1,7 mL omega-3 dan 3,3 mL klorofil/kg pakan) dan D (kombinasi 3,3 mL omega-3 dan 1,7 mL klorofil/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian omega-3 dan klorofil tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap fekunditas dan derajat penetasan. Nilai fekunditas  pada perlakuan A, B, C, dan D masing-masing adalah 4878; 5168; 6248; dan 6910 butir/kg. Nilai derajat penetasan pada perlakuan A, B, C, dan D masing-masing adalah 81,38; 81,59; 82,18; dan 86,39%. Berdasarkan hasil penelitian pemberian omega-3 dan klorofil dalam pakan belum dapat meningkatkan nilai fekunditas dan derajat penetasan benih ikan nila. One of the efforts to improve and optimize the larvae quality of tilapia was by increasing the feed nutrition quality for the broodstock. The nutrients such as vitamin E and essential fatty acids are required to increase the quality of fish reproduction. The research was designed to add omega-3 and chlorophyll as feed suplements in diets for tilapia broodstock. This combination was expected to improve fecundity and hatching rate tilapia larvae. The research was aimed to know influence of omega-3 and chlorophyll addition in diets on fecundity and hatching rate of tilapia larvae. A completely randomized design was applied to the research with 4 treatments  and 3 replicates. Those treatment were A (without combination of omega-3 and chlorophyll), B (combination of 2.5 mL omega-3 and 2.5 mL chlorophill/kg feed diets), C (combination of 1.7 mL omega-3 and 3.3 mL chlorophill/kg feed diets) and D (combination of 3.3 mL omega-3 and 1.7 mL chlorophyll/kg feed diets). The result revealed that addition of omega-3 and chlorophyll did not affect significantly (P>0,05) on the fecundity and hatching rate. The fecundity values of the treatments A, B, C, and D were 4878; 5168; 6248; and 6910 grain/kg. The hatching rate values of the treatments A, B, C, and D were 81.38; 81.59; 82.18; dan 86.39%. it was concluded that  addition  of omega-3 and chlorophyll in diets could increase fecundity and hatching rate of tilapia larvae.
PENGARUH LAMA PERENDAMAN INDUK BETINA DALAM EKSTRAK PURWOCENG (Pimpinela alpina) TERHADAP MASKULINISASI IKAN GUPPY (Poecilia reticulata) Matondang, Aliriza Hamonangan; Basuki, Fajar; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.477 KB)

Abstract

Ikan guppy (Poecilia reticulata) merupakan ikan hias yang mempunyai nilai komersil tinggi baik untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri. Berdasarkan morfologisnya, ikan guppy jantan memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan corak warna tubuh dan sirip yang lebih cemerlang dari pada guppy betina, sehingga permintaan komoditas ikan guppy jantan lebih banyak dari pada guppy betina. Salah satu upaya untuk memenuhi tingginya permintaan dengan melakuakan maskulisasi ikan guppy dengan ekstrak purwoceng, sebagai bahan alternatif pengganti hormon sintetik 17α-metiltestosteron. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah A 0 jam, perlakuan B selama 8 jam, perlakuan C selama 12 jam dan perlakuan D selama 16 jam dengan dosis yang sama yaitu 20 mg/L. Data yang diamati meliputi, persentase jantan dan betina (%), kelulushidupan (SR) dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman menggunakan ekstrak purwoceng pada induk betina bunting dengan lama waktu yang berbeda memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap persentase jantan, betina dan kelulushidupan (SR). Persentase kelamin jantan pada perlakuan A sebesar 47.01%, perlakuan B sebesar 63.98%, perlakuan C sebesar 56.72% dan perlakuan D sebesar 55.68%. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran layak untuk budidaya Ikan Guppy (P. reticulata). Kesimpulan dari penelitian ini adalah perendaman ekstrak purwoceng pada induk guppy betina bunting dengan lama waktu perendaman yang berbeda memberikan pengaruh terhadap persentase kelamin jantan pada benih ikan guppy (P. reticulata) usia 45 hari. Lama waktu perendaman yang terbaik adalah pada perlakuan B yaitu dengan lama waktu perendaman 8 jam yang menghasilkan persentase kelamin jantan sebersar 63,98%. Guppy fish is an ornamental fish which has high economic value on local or international trade. Based on its morphology, male guppy fish has slimmer and colourfull body with more sparkle fin than female guppy fish. So, the comodity of male guppy fish has higher demand than female guppy. One of effort to fulfill its demand is by guppy fish masculinization with purwoceng extract as an alternative substitution of sinthetic hormone 17α-metiltestosteron. This research was conducted by applying completely randomized design (CRD), which consisted of 4 treatments and 3 replicates. The treatment was A 0 hour, B treatment for 8 hours, treatment C for 12 hours and D treatment for 16 hours with the same dose of 20 mg/Ll. Measuring variables in this research were, the percentage of males, females (%), and survival rate (SR) and water quality. The results showed that pregnant female guppy which immersed in purwoceng extract with different lenght of time had significant different (P < 0.05) in male, female, and survival rate fish percentage,. The percentage of male fish in treatment A was 47.01%, treatment B was 63.98%, treatment C was 56.72% and treatment D was 55.68%. Water quality in the media was in recommended range for maintaining Guppy fish (P. reticule). The conclusion of this research was that the defferent periode immersion of pregnant guppy fish with purwoceng extract had significant effect on male larvae guppy fish 45 days (P. reticulate) percentage. The best defferent period immersion was in treatment B with 8 hours immersion period which produced 63.98% of male guppy fish.
ANALISA KARAKTER REPRODUKSI IKAN NILA KUNTI (Oreochromis niloticus) F6 DAN F7 Prayuda, Dwi Ari; Basuki, Fajar; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.514 KB)

Abstract

Ikan nila di Indonesia merupakan salah satu ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis penting. Berbagai upaya terus dilakukan dalam meningkatkan produksi ikan nila, salah satunya adalah dengan pemuliaan seperti perbaikan genetik. Selective breeding adalah riset genetik yang dominan untuk memperbaiki pertumbuhan sebagai tujuan utama baik dari seleksi famili maupun individu.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan karakter reproduksi yang dihasilkan dari ikan nila kunti F6 dan F7 sehingga diketahui terjadinya  peningkatan performa karakter reproduksi dari generasi 6 ke generasi 7. Hasil penelitian perbandingan karakter reproduksi antara ikan nila kunti F6 dan F7 berpengaruh nyata. Ikan nila F6 lebih baik dari F7 dari variabel seperti hatching rate, bobot dan diameter telur, bobot dan panjang larva kuning telur, bobot dan panjang larva lepas kuning telur. Akan tetapi ikan nila kunti F7 baik di variabel seperti fekunditas dan jumlah larva dimulut, itu membuktikan bahwa ikan nila F7 masih tetap terjaga kualitasnya. Variabel pengukuran untuk ikan nila kunti F6 meliputi nilai fekunditas 881±73 dan HR 91,24±1,75% yang kemudian ditunjang oleh data variabel lain seperti diameter telur, bobot telur, bobot dan panjang larva kuning telur, bobot dan panjang larva lepas kuning telur dan jumlah larva dimulut. Sedangkan data variabel F7 meliputi nilai fekunditas 887±102 dan HR 89,37±2,13%, ditunjang data diameter telur, bobot telur, bobot dan panjang  larva kuning telur, bobot dan panjang larva lepas kuning telur dan jumlah larva dimulut. Nilai heritabilitas dari F6 ke F7 untuk fekunditas -0,81, HR -0,08 nilai tersebut tidak sesuai dengan nilai heritabilitas pada umumnya karena nilai heritabilitas berkisar antara 0-1. Diameter dan bobot telur 0,67 dan -0,09, panjang dan bobot larva kuning telur 0,05 dan -0,11, panjang dan bobot larva lepas kuning telur 0,47, 0,49 dan jumlah larva dimulut 0,69 di duga disebabkan oleh faktor keturunan dan juga faktor inbreeding atau silang dalam yang akan menghasilkan individu homozigositas yang akan melemahkan individu-individu terhadap perubahan lingkungan. Tilapia in Indonesia is one of the freshwater fish that has a significant economic value.  Various efforts continue to be made in increasing the production of tilapia, one of roomates is the breeding as genetic improvement. Selective breeding is a dominant genetic research to improve growth as the main objective of both the family and individual selection. The purpose of this research was to compare the reproductive characters generated from tilapia kunti F6 and F7 thus known to the increased performance of reproductive character from generation 6 to generation 7. The result of comparison of reproduction character between tilapia kunti F6 and F7 have real effect. Tilapia F6 is better than F7 from variables such as hatching rate, weight and egg diameter, weight and length of egg yolk larvae, weight and larvae length of loose egg yolks. However, Kunti F7 tilapia is good in variables such as fecundity and the number of larvaes in mouth, it proves that F7 tilapia is still maintained in quality. Measurement variables for kunti F6 include fecundity value 881±73 and HR 91.24±1.75% which then supported by other variable data such as egg diameter, egg weight, weight and length of egg yolk larvae, weight and length of yellow larvae eggs and larval number of mouths. While the data of F7 variable include fecundity value 887±102 and HR 89,37±2,13%, supported data of egg diameter, egg weight, weight and length of egg yolk larvae, weight and larvae length of egg yolk and larva number of mouth. The heritability value of F6 to F7 for fecundity -0.81, HR -0.08 is not in accordance with the heritability value in general because the heritability value ranges from 0-1. The diameter and weight of the eggs were 0.67 and -0.09, the length and weight of the 0.05 and -0.11 yolk larvae, the larvae length and larvae off 0.47, 0.49 and the larval larvae of 0.69 in Allegedly caused by hereditary factors and also of inbreeding or cross-linking factors that would result in individual homozygosity that would weaken individuals towards environmental change.
PENGARUH KOMBINASI OMEGA-3 DAN KLOROFIL DALAM PAKAN TERHADAP FEKUNDITAS, DERAJAT PENETASAN DAN KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio, L) Firmantin, Irfana Tiya; Soedaryono, Agung; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.22 KB)

Abstract

Rendahnya derajat penetasan telur ikan mas merupakan permasalahan serius yang dihadapi pada kegiatan budidaya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan kualitas benih ikan mas yaitu dengan meningkatkan kualitas nutrisi pakan induk. Unsur nutrien yang harus ada dalam pakan induk ikan antara lain asam lemak esensial dan vitamin E yang dibutuhkan untuk dapat meningkatkan kualitas reproduksi induk. Penelitian ini mengkombinasikan suplemen pakan yaitu omega-3 dan klorofil dengan menambahkannya pada pakan induk ikan mas. Kombinasi bahan tersebut diharapkan meningkatkan fekunditas, derajat penetasan, dan kelulushidupan benih ikan mas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi omega-3 dan klorofil ke dalam pakan induk terhadap fekunditas, derajat penetasan, dan kelulushidupan benih ikan mas. Perlakuan uji adalah A (tanpa kombinasi omega-3 dan klorofil ke dalam pakan), B (kombinasi 5 mL omega-3 dan 5 mL klorofil/kg pakan), C (kombinasi 3,5 mL omega-3 dan 6,5 mL klorofil/kg pakan) dan D (kombinasi 6,5  mL omega-3 dan 3,5 mL klorofil/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi omega-3 dan klorofil berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai fekunditas, derajat penetasan dan kelulushidupan. Nilai fekunditas dan derajat penetasan pada perlakuan B, C dan D tidak berbeda nyata (P>0,05), akan tetapi berbeda nyata (P<0,05) terhadap perlakuan A. Nilai kelulushidupan pada perlakuan D berbeda nyata (P<0,05) terhadap perlakuan A, B dan C. Perlakuan D menunjukkan nilai kelulushidupan yang tertinggi. Kombinasi 6,5 mL omega-3 dan 3,5 mL klorofil/kg pakan merupakan kombinasi yang paling disarankan untuk dapat meningkatkan fekunditas, derajat penetasan dan kelulushidupan ikan mas (C. carpio L). The low hatching rate of eggs in the common carp is a serious problem faced in fish culture. One of the efforts to improve and optimize the seed quality of common carp was by increasing the feed nutrition quality for the broodstock. The nutriens such as vitamin E and essential fatty acids are required for increasing the quality of broodstock reproduction. The research was design to combine omega-3 and chlorophyl as feed supplements in diets for common carp broodstock. This combination was expected to improve fecundity, hatching rate and survival rate common carp seeds. The research was aimed to know influence of combination omega-3 and chlorophyll in feed diets on fecundity, hatching rate and survival rate of common carp seeds. Those treatments were A (without combination of omega-3 and chlorophyl), B (combination of 5 mL omega-3 and 5 mL chlorophyl/kg feed diets), C (combination of 3.5 mL omega-3 and 6.5 mL chlorophyl/kg feed diets) and D (combination of 6.5 mL omega-3 and 3.5 mL chlorophyl/kg feed diets). The result revealed that combination omega-3 and chlorophyl affected significantly (P<0,05) on the fecundity, hatching rate and survival rate. The fecundity and hatching rate values of the treatments of B, C and D did not significantly affect (P>0,05) but significantly affected (P<0,05) on the treatment A. The survival rate values of the treatment D significant different effect (P>0,05) with treatments A, B and C. Treatment D performed the best survival rate. Base on the results suggested that the combination of combination of 6.5 mL omega-3 and 3.5 mL chlorophyl/kg feed diets could to increase fecundity,hatching rate and survival rate of common carp larvae.
PENGARUH PERENDAMAN HORMON TIROKSIN DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP DAYA TETAS TELUR, PERTUMBUHAN, DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA IKAN MAS KOKI (Carassius auratus) Oktaviani, Lani; Basuki, Fajar; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.231 KB)

Abstract

Ikan mas koki (Carassius auratus) merupakan salah satu jenis ikan hias yang sangat digemari masyarakat serta memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Namun dalam pembudidayaannya ikan mas koki terdapat permasalahan terutama rendahnya derajat penetasan pada telur ikan mas koki yang berkisar antara 40%-50%. Penggunaan teknik rekayasa hormonal seperti hormon tiroksin merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas pengembangan kultivasi pada ikan air tawar diantaranya ikan mas koki. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh perendaman hormon tiroksin terhadap daya tetas, kelangsungan hidup larva ikan mas koki (Carassius auratus) serta untuk mengetahui pengaruh dosis  hormon tiroksin yang terbaik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan mas koki(Carassius auratus). Tiroksin mengandung mineral berupa yodium yang dapat meningkatkan daya tetas dan kelangsungan hidup ikan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah penggunaan dosis yang berbeda. Perlakuan tersebut adalah A 0 mg/L atau tanpa dilakukan perendaman dengan tiroksin, perlakuan B dosis 0.05 mg/L, perlakuan C dosis 0.1 mg/L dan perlakuan D dosis 0.15 mg/L dengan lama perendaman sama yaitu 24 jam. Data yang diamati meliputi derajat penetasan telur (%), pertumbuhan (SGR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunujukkan bahwa daya tetas telur ikan mas koki pasca perendaman hormon tiroksin berpengaruh nyata (P<0,05) dengan hasil terbaik pada perlakuan D 73.67% (dosis 0.15 mg/L ), hasil juga menunjukan berpengaruh nyata (P<0,05) dengan hasil terbaik pada perlakuan B 83.99% (dosis 0.05 mg/L) serta laju pertumbuhan spesifik menunjukkan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) dengan nilai tertinggi pada perlakuan C 9.73% (dosis 0.1 mg/L). Sedangkan kualitas air selama pemeliharaan masih dalam kisaran layak untuk budidaya ikan mas koki. The goldfish (Carassius auratus) is one of the most popular fish species and has a very high economic value. But in the cultivation of goldfish chef there are problems, especially the low degree of hatching on the egg. The use of hormonal techniques such as thyroxine hormone is one way that can be done to improve the quality of cultivation development among freshwater fish including goldfish chef. The purpose of this research has determined the effect of thyroxine hormone immersion on hatching rate, survival rate of carp larvae (Carassius auratus) and to know the influence of doses thyroid hormone soaking is best for growth and survival of carp larvae (Carassius auratus). Thyroxine contains mineral such as iodine which can increase hatching rate and survival rate of the fish. The treatment in this study was treatment A 0 mg/L (Without immersion of the hormone thyroxine), B dose of thyroxine 0.05 mg / l, C dose of thyroxine 0.1 mg / l, and D dose of thyroxine 0.15 mg / l. Observed data included egg hatching (HR), survival rate (SR), specific growth rate, and water quality. The results showed that the hatching power of goldfish eggs after immersion hormone thyroxine significantly (P<0,05) with the best results on treatment D 73.67% (dose 0.15 mg / L), and also SR show significant effect (P<0,05) with the best value at treatment B 83.99%  (dose 0,05 mg / L) and specific growth rate showed no significant effect (P>0,01) with highest value in treatment C 9.37% (dose  0.1 mg / L hormone). While the quality of water during maintenance is still within a reasonable range for the cultivation of the goldfish.
PENGARUH PEMBERIAN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN (rGH) MELALUI METODE PERENDAMAN DENGAN LAMA WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA BAWAL AIR TAWAR (Colossoma macropomum Cuv) Atmojo, Aditya; Basuki, Fajar; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.665 KB)

Abstract

Permintaan pasar bawal air tawar yang tinggi harus didukung dengan usaha budidaya yang berkelanjutan dan siklus produksi yang cepat. Rekombinan hormon pertumbuhan (rGH) merupakan inovasi teknologi dibidang perikanan yang memiliki potensi sebagai pakan suplemen yang diharapkan dapat memberikan percepatan pertumbuhan pada ikan budidaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui lama waktu perendaman rGH yang terbaik terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan larva bawal air tawar (C. macropomum). Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 3 pengulangan. Ikan uji yang digunakan adalah bawal air tawar dengan bobot individu rata – rata 2,59±0,32 g/ekor dan panjang 4,5 – 5,5 cm. Ikan uji dipelihara selama 45 hari dengan padat tebar 1 ekor/l. Dosis rGH yang digunakan adalah 2,5 mg/l. Perlakuan A tanpa perendaman, B perendaman 30 menit, C perendaman 60 menit, D perendaman 90 menit. Data yang diamati meliputi tingkat konsumsi pakan (TKP), rasio konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan panjang mutlak (L), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil pengamatan total konsumsi pakan perlakuan A sebesar 193,72±2,96g, perlakuan B sebesar 193,06±4,55g, perlakuan C sebesar 193,81±10,32g, perlakuan D sebesar 192,01±3,85g. Nilai rasio konversi pakan perlakuan A sebesar 1,07±0,09, perlakuan B sebesar 1,11±0,05, perlakuan C sebesar 1,10±0,1, perlakuan D sebesar 0,99±0,01. Laju pertumbuhan spesifik didapatkan hasil A sebesar 3,44±0,03%/hari, perlakuan B sebesar 3,36±0,07%/hari, perlakuan C sebesar 3,45±0,06%/hari, perlakuan D sebesar  3,58±0,03%/hari. Pertumbuhan panjang mutlak diperoleh hasil perlakuan A sebesar 3,51±0,26cm, perlakuan B sebesar 3,45±0,21cm, perlakuan C sebesar 3,46±0,10cm, perlakuan D sebesar 3,95±0,06cm. Nilai kelulushidupan diperoleh perlakuan A sebesar 90,00±8,66%, perlakuan B sebesar 88,33±2,89%, perlakuan C sebesar 90,00±8,66%, perlakuan D sebesar 93,33±2,89%. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk ikan uji. Pemberian rGH melalui metode perendaman dengan lama waktu 90 menit dapat meningkatkan laju pertumbuhan spesifik dan pertumbuhan panjang mutlak bawal air tawar. Market demand on red-bellied pacu should be responded by sustainable and fast production cycle. Recombinant Growth Hormone was a technology innovation in fisheries sector which has potential ability that hopefully could give a growth acceleration on aquaculture organism. The aim of this research was to found the best duration of Recombinant Growth Hormone effects through immersion method on growth and survival rate of red-bellied pacu (C. macropomum) fry. This research was used an experimental method of completely randomized design for 4 treatments and 3 replicates. The trial fish was red-bellied pacu (C. macropomum) with 2,59±0,32 g/fish body weight average and 4,5 – 5,5 cm height. The fish was cultured for 45 days with 1 fish/l stocking density. The dose of rGH was 2,5mg/l. The treatments of this research were: A that was for trial with no rGH immersion, B with 30 minutes of rGH immersion, C with 60 minutes of rGH immersion, and D with 90 minutes rGH immersion. The measured data included the feed consumption, feed convertion ratio (FCR), specific growth rate (SGR), absolute length growth (L), survival rate (SR), and water quality. The result showed total feed consumption treatment A 193,72±2,96g, treatment B 193,06±4,55g, treatment C 193,81±10,32g, treatment D 192,01±3,85g. Feed convertion ratio treatment A 1,07±0,09, treatment B 1,11±0,05, treatment C 1,10±0,1, treatment D 0,99±0,01. Specific growth rate treatment A 3,44±0,03%/day, treatment B 3,36±0,07%/day, treatment C 3,45±0,06%/day, treatment D 3,58±0,03%/day. Absolute length growth treatment A 3,51±0,26cm, treatment B 3,45±0,21cm, treatment C 3,46±0,10cm, treatment D 3,95±0,06cm. Survival rate treatment A 90,00±8,66%, treatment B 88,33±2,89% SR, treatment C 90,00±8,66%, treatment D 93,33±2,89%. Water quality parameters during rearing period were suitable for the trial fish. Giving rGH through immersion method with 90 minutes duration could increased the specific growth rate and absolute length growth of red-bellied pacu.
ANALISIS KARAKTER REPRODUKSI IKAN NILA PANDU (F6) (Oreochromis niloticus) DENGAN STRAIN IKAN NILA MERAH LOKAL KEDUNG OMBO DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM RESIPROKAL Wicaksono, Katon Adhi; Susilowati, Titik; Nugroho, Ristiawan Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.935 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui karakter reproduksi hasil pemijahan ikan nila Pandu (F6) (Oreochromis niloticus) dengan strain ikan nila merah lokal Kedung Ombo secara hibridisasi dan inbreeding meliputi fekunditas, diameter dan bobot telur, dan hatching rate (HR), panjang dan bobot larva kuning telur, panjang dan bobot larva lepas kuning telur, survival rate (SR), feed convertion ratio (FCR) dan specific growth rate (SGR) dan mengetahui perlakuan terbaik. Penelitian ini dilaksanakan dari Maret - Juni 2015 di Satuan Kerja Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Janti, Klaten. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan nila Pandu (F6) dan ikan nila merah lokal Kedung Ombo dengan bobot rata-rata ♂ ± 240-540 g dan ♀ ± 110-260 g. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (Pandu (F6) ♂ x Pandu (F6) ♀), B (Pandu (F6) ♂ x Nila Merah Lokal Kedung Ombo ♀), C (Nila Merah Lokal Kedung Ombo ♂ x Pandu (F6) ♀), dan D (Nila Merah Lokal Kedung Ombo ♂ x Nila Merah Lokal Kedung Ombo ♀). Data yang diamati meliputi fekunditas, HR, diameter dan bobot telur, panjang dan bobot larva kuning telur, panjang dan bobot larva lepas kuning telur, SGR, FCR, SR, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai fekunditas, HR, SR, FCR dan SGR menunjukkan bahwa perlakuan hibridisasi lebih baik dari perlakuan inbreeding dengan masing-masing nilai terbaik yaitu fekunditas pada perlakuan B (1479,00±120,58 butir telur), HR pada perlakuan B (73,61±2,71%), SR pada perlakuan C (74,68±3,99%), FCR pada perlakuan B (0,65±0,06), dan SGR pada perlakuan B (7,01±0,37 %/hari), tetapi pada nilai diameter dan bobot telur menunjukkan bahwa perlakuan inbreeding lebih baik dari perlakuan hibridisasi dengan masing-masing nilai terbaik yaitu diameter telur pada perlakuan A (2,79±0,23 mm) dan bobot telur pada perlakuan A (0,01±0,001 gram), Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk budidaya ikan nila. The objectives to know the character reproduction spawning tilapia Pandu (F6) (Oreochromis niloticus) with strains tilapia local red Kedung Ombo in hybridization and inbreeding covering fecundity, diameter and weights eggs, and hatching rate (HR) long and weight larvae egg yolk, long and weight larvae off egg yolk, survival rate (SR), feeds convertion ratio (FCR) and specific growth rate (SGR), and knowing the best treatment. Study was conducted from March-June 2015 in a work unit is Satuan Kerja Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Janti, Klaten. The  fish tilapia with weights on average ♂ ± 240-540 g and ♀ ± 110-260 g. This research was conducted with the experimental method using Random Design Complete (RAL) with 4 treatments and 3 repetition. The treatments in this study: the treatment A (Pandu (F6) ♂ x Pandu (F6) ♀), B (Pandu (F6) ♂ x Local Red Tilapia Kedung Ombo ♀), C (Local Red Tilapia Kedung Ombo ♂ x Pandu (F6) ♀), and D (Local Red Tilapia Kedung Ombo ♂ x Local Red Tilapia Kedung Ombo ♀). The observed data covering fecundity, HR, egg weight, diameter and length of the larval weights and egg yolks, the length and weight of the egg yolk off larvae, FCR, SGR, SR, and water quality. The research results show that the value of fecundity, HR, SR, FCR and SGR shows that treatment hybridization better than treatment inbreeding with each the best value that is fecundity in treatment B (1479.00±120.58 egg), HR in treatment B (73.61±2.71%), SR in treatment C (74.68±3.99%), FCR in treatment B (0.65±0.06), and SGR in treatment B (7.01±0.37%/day), but on the value diameter and weights eggs shows that treatment inbreeding better than treatment hybridization with each the best value that is diameter the eggs in treatment A (2.79±0.23 mm) and weights the eggs in treatment A (0.01±0.001 gram), the quality of water at media maintenance found in a range unfit for cultivation tilapia.
PERFORMA BIOLOGIS TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN KEPADATAN BERBEDA MENGGUNAKAN SISTIM LONGLINE (The Biological Performance Of Pearl Oysters (Pinctada Maxima) Which Are Cultured In Different Densities Uses A Longline System) Sri Hastuti Hastuti; Subandiyono Subandiyono; Seto Windarto; Ristiawan Agung Nugroho
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 15, No 1 (2019): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.741 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.15.1.54-59

Abstract

Kerang mutiara (Pinctada maxima) merupakan salah satu sumberdaya laut yang memiliki prospek untuk dikembangkan, bernilai ekonomis yaitu menghasilkan butiran mutiara yang bernilai jual tinggi.  Budidaya tiram mutiara pada tahap pendederan merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam usaha produksi mutiara.  Pada saat ini benih hasil pendederan banyak dibutuhkan perusahaan mutiara untuk meningkatkan target produksi mutiaranya.  Rendahnya angka kelangsungan hidup tiram yang disebabkan oleh kepadatan tebar dalam satu pocket net merupakan permasalahan yang perlu dipecahkan.  Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kepadatan optimum dalam pemeliharaan kerang mutiara.  Penelitian dilakukan di perairan Sekotong, Lombok Barat.  Penelitian ini dirancang dengan model rancangan acak lengkap (RAL).  Variabel bebas yang diterapkan adalah kepadatan spat tiram mutiara (P. Maxima), yaitu 50, 100 dan 150 individu pocket-1.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepadatan kerang mutiara (P. Maxima) dalam sistim pemeliharaan longline berpengaruh terhadap performa pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Kepadatan optimum kerang mutiara dalam 1 pocket net berada pada kisaran 89 hingga 124  individu per pocket net.   Pearl oyster (Pinctada maxima) is one of the marine resources that has the prospect of being developed, has high economic value, and produces pearls of pearls that have high selling value.   Nursery pearl oysters is one of a series of activities in the business of pearl production.  Harvest from the nursery are needed by pearl companies to increase their pearl production target at this time.  The low survival rate of oysters caused by shell density in the longline nursery method is a problem that needs to be solved. This research was conducted with the aim to analyze optimum density in the cultivation of oysters.  The research was conducted in Sekotong waters, West Lombok, Indonesia. This study was designed with a completely randomized design model (CRD).  The independent variables applied were the density of pearl oyster spat (P. Maxima), namely 50, 100 and 150 individual pocket-1.  The results showed that the density of pearl oysters (P. Maxima) in the longline system affected growth and survival performance. The optimum density of pearl oysters in 1 pocket net is in the range of 89 to 124 individuals pocket net-1.  The maximum density that is still capable of supporting its life is 135 individuals pocket net-1