Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH VARIASI BORING SILINDER LINER TERHADAP PERFORMA MOTOR 4 TAK 102CC Febri Ari Sandi; Nely Ana Mufarida; Kosjoko Kosjoko
J-Proteksion Vol 2, No 1 (2017): J-Proteksion
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/jp.v2i1.2221

Abstract

Silinder bertujuan untuk meningkatkan performance mesin sepeda motor. Piston adalah komponen penggerak utama mesin yang sangat penting, dimana piston bergera kturun naik di dalam silinder membuat langkah hisap, kompresi, usaha dan langkah buang. Dua kemungkinan dilakukannya oversize yaitu untuk meningkatkan performance mesin dari yang sebelumnya atau akibat dari pemakaian motor dalam jangka waktu yang lama, sehingga terjadi keausan yang menyebabkan celah (clearence) antara piston dengan silinder. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental. Metode eksperimental yaitu metode yang digunakan untuk menguji atau desain baru dengan cara membandingkan Variasi silinder liner boring standart, silinder liner boring 0,50mm dan silinder liner boring 1,00 mm. Dari data hasil pembahasan performa motor 4 tak 102 CC yang diuji, telah mendapa tnilai rata-rata dari daya, torsi, dankonsumsi bahan bakar spesifik yang berbeda. Yaitu menggunakan boring silinder liner standart dengan daya 5,8 sedangkan untuk torsi 6,66 dan konsumsi bahanbakar specific 1,166 (L/h). Nilai yang diperoleh dari data hasil rata-rata menggunakan boring silinder liner 0,50 mm dengan daya 5,4 sedangkan nilai torsi 5,5 dan untuk bahan bakar spesifik 1,136 ( L/h). Sedangkan untuk nilai yang diperolehdari data hasil rata-rata menggunakan boring silinder liner 1,00 mm dengan daya 5,5 sedangkan nilai torsi 6,23 dan untuk bahan bakar spesifik 1,198(L/h).
Pengaruh Variasi Media Pendinginan terhadap Kekuatan Tarik Baja AISI 1045 Galang Goldy Putra A.S.B; Kosjoko Kosjoko
J-Proteksion Vol 5, No 1 (2020): J-Proteksion
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/jp.v5i1.4359

Abstract

Baja merupakan campuran antara besi dan elemen pemadu utama besi yaitu karbon. Pada penelitian ini baja yang digunakan adalah Baja AISI 1045. Baja AISI 1045 merupakan baja karbon kelas menengah. AISI sendiri merupakan standarisasi baja American Iron and Steel Institute dengan kode 1045, yang mana dari angka 1045 menunjukkan bahwa 45 adalah kandungan atau kadar karbon pada baja tersebut yaitu 0,45% sedangkan angka 10 menunjukkan plain karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai uji tarik dan struktur mikro melalui proses perlakuan panas dengan variasi media pendingin Oli SAE 10 dan Oli SAE 140 terhadap baja AISI 1045. Metode pengujian yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan baja AISI 1045 yang diperlakukan panas suhu 8500C dengan variasi media pendingin Oli SAE 10 dan Oli SAE 140 yang berfungsi untuk mengetahui nilai uji tarik dan sifat karakteristik yang terjadi serta daya tahan baja tersebut. Berdasarkan metode pengujian yang digunakan diperoleh hasil adalah penggunaan media pendingin Oli SAE 10 dan Oli SAE 140 sangat berpengaruh terhadap nilai kekuatan uji tarik dan terbentuknya struktur mikro yang dihasilkan serta dari semua uji tarik yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata paling tinggi pada penggunaan media pendingin Oli SAE 140 dengan hasil nilai tegangan luluh 1009,94 MPa, tegangan maksimum 1173,41 MPa, tegangan patah 1123,86 MPa dan untuk kekuatan uji tarik terendah terjadi pada material tanpa perlakuan dengan nilai tegangan luluh 499,37 MPa, tegangan maksimum 730,62 MPa, dan tegangan patah 554,75 MPa.
PENGARUH DIAMETER ELEKTRODA TERHADAP UJI TARIK LAS SMAW Moch Iqbal Mihrozi; Nely Ana Mufarida; Kosjoko Kosjoko
J-Proteksion Vol 2, No 2 (2018): J-Proteksion
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/jp.v2i2.2226

Abstract

Kekuatan hasil lasan dipengaruhi oleh besar busur, besar arus, kecepatan pengelasan, besarnya penembusan dan polaritas listrik. Penentuan besar arus dalam pengelasan ini mengambil tengah-tengah dari ukuran yang telah ditentukan yaitu 110 A. Pengambilan 110 A dimaksudkan sebagai pembanding dengan interval elektroda diatas. Pengujian tarik pada umumnya adalah parameter kekuatan, parameter kelihatan atau keuletan yang ditunjukkan dengan adanya persentase perpanjangan dan persentase kontraksi atau reduksi penampang. Dari data tabel dan diagram diatas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata dari tensile strength tertinggi terdapat pada pengujian uji tarik menggunakan elektroda (2 mm) dengan nilai (223,654 Mpa) sedangkan menggunakan elektroda (2,6 mm) mengalami penurunan nilai rata-rata sebesar (40,654 Mpa) disebabkan oleh beberapa faktor terutama pada teknik pengelasan. Untuk nilai rata-rata upper yield strength tertinggi terdapat pada elektroda (3,2 mm) dengan nilai (30,647 Mpa) sedangkan nilai terendah terdapat pada elektroda (2 mm) dengan nilai (17,354 Mpa). Disebabkan karna hasil kekuatan las kurang sempurna.
Pengaruh Variasi Kampuh dan Kuat Arus Pengelasan SMAW terhadap Kekuatan Bending pada Baja ASTM A36 Rofi Amzamsyah; Kosjoko Kosjoko; Mega Lazuardi Umar
J-Proteksion Vol 5, No 2 (2021): J-Proteksion
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/jp.v5i2.4129

Abstract

Di dalam dunia industri, baja karbon rendah sering digunakan untuk material pembangunan konstruksi. Salah satu masalah yang sering didapatkan pada pengelasan baja karbon rendah pada bahan dasar konstruksi yaitu sifatnya yang sukar mengalami patahan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui sifat mekanik yang dihasilkan pada hasil pengelasan SMAW dengan variasi bentuk kampuh dan kuat arus. Guna memperoleh hasil kekuatan bending tentang analisis variasi bentuk kampuh dan kuat arus pada baja karbon rendah setelah mengalami proses pengelasan SMAW. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif, yaitu mengolah data dengan cara membandingkan spesimen yang telah diberi perlakuan yang berbeda-beda ketika proses pengelasan. Hasil penelitian diperoleh untuk kekuatan bending pada kampuh single V kuat arus 80 A didapatkan dengan nilai sebesar 61,20 MPa. Kuat arus 100 A mengalami penurunan yaitu 52,77, sedangkan untuk kuat arus 120 mengalami penurunan kembali dengan nilai sebesar 32,78 MPa. Kemudian untuk variasi bentuk kampuh double V dengan variasi kuat arus 80 A memiliki kekuatan bending sebesar 110,24 MPa. Kuat arus 100 A mengalami penurunan dengan nilai 110,03 sedangkan untuk kuat arus 120 A juga mengalami penurunan yaitu dengan nilai 84,72 MPa.
Serbuk Kayu Jati (Tectona Grandis L.F) sebagai Bahan Penguat Komposit Brake Pad Sepeda Motor Bermatriks Epoxy Kosjoko Kosjoko
J-Proteksion Vol 6, No 1 (2021): J-Proteksion
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/jp.v6i1.4979

Abstract

Salah satu faktor yang menentukan kenyamanan dan jaminan keselamatan suatu kendaraan adalah kepakeman fungsi sistem pengereman. Bahan asbestos sudah dilarang untuk dijadikan brake pad, karena tidak ramah lingkungan dan berdampak mengganggu kesehatan. Pada penelitian ini menggunakan serbuk gergajian kayu jati sebagai bahan utama brake pad. Proses pembuatannya yaitu, pertama penyiapan bahan-bahan pembuat kampas rem, setelah semua siap maka dilakukan penimbangan sesuai dengan komposisi masing-masing bahan. Lalu bahan dicampur di dalam gelas secara manual. Kemudian dimasukkan ke dalam cetakan yang sebelumnya telah dipasangi plat kampas sebagai tempat bahan kampas rem yang telah diberi perekat. Lalu pengepresan dengan beban ton selama 7 menit dan disintering dengan suhu sintering 200°C dengan waktu 30 menit,. Setelah dipres dan diperbanyak kampas rem variasi waktu sintering spesimen fraksi volume 40% : 60% dan 3 spesimen fraksi volume 50% : 50% = 3 spesimen, dan yang standar adalah 3 spesimen jadi total spesimen 9 Pc. Kampas rem sebagai pembanding dengan total jumlah spesimen uji adalah 9 spesimen. Hasil Pengujian kekerasan brake pad material komposit serbuk gergaji kayu jati bermatriks epoxy dengan campuran fraksi volume uji kering  40% : 60% = 61,83, fraksi volume uji kering 50% : 50% = 60,30, fraksi volume uji basah 40% : 60% = 56,30, fraksi volume uji basah 50% : 50% = 54,50. Uji kering yang ada di pasaran 52,00, uji basah 50,00. Uji keausan kering dengan fraksi volume 40% : 60% = 0,001 gr/mm2.S, 50% : 50% = 0,003. Uji keausan basah fraksi volume 40% : 60% = 0,004 gr/mm2.S, 50% : 50% = 0,01 gr/mm2.S. Hasil uji keausan kering yang ada di pasaran = 0,015 gr/mm2.S, Hasil uji keausan basah yang ada di pasaran = 0,04 gr/mm2.S
PENGARUH KEDALAMAN PEMAKANAN TERHADAP KEBULATAN GEOMETRIK POROS HASIL BUBUT Kosjoko Kosjoko
J-Proteksion Vol 3, No 1 (2018): J-Proteksion
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/jp.v3i1.2276

Abstract

Kerusakan bantalan (bearing) atau bantalan luncur akan menimbulkan panas, getaran atau kemacetan mesin. Kerusakan tersebut umumnya disebabkan oleh geometrik poros. Salah satu geometrik poros yang mempengaruhi kerusakan adalah kebulatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui kedalaman pemakanan (depth of cut) terhadap kebulatan poros hasil bubut. Penelitian menggunakan desain eksperimental faktorial dengan benda kerja baja lunak (mild steel), pahat Carbide jenis pahat kanan PCLNR1616H09, dengan variabel perubahan kedalaman pemakanan dipilih 0,3 mm, 0,6 mm, 0,9 mm, 1,2 mm, 1,5 mm. Hasil pengujian dan analisis menunjukkan bahwa kecepatan asutan, kedalaman pemakanan dan interaksi keduanya berpengaruh terhadap geometris kebulatan hasil bubut. Semakin tinggi kecepatan asutan dan semakin tebal kedalaman pemakanan, maka semakin besar penyimpangan yang terjadi. Penyimpangan kebulatan terkecil terjadi pada 0,016 mm, kecepatan pemakanan (Feed Rate) 0,070 mm/rev, kedalaman pemakanan 0,3 mm. Kebulatan terbesar 0,056 mm terjadi pada kecepatan pemakanan) 0,070 mm/rev dan kedalaman pemakanan 1,5 mm
PENGARUH VARIASI MEDIA PENDINGIN TERHADAP KEKERASAN DAN KEKUATAN UJI TARIK PADA HASIL PENGELASAN SMAW MATERIAL STAINLESS STEEL AISI 304 Rachmad Adi Pranoto; Nely Ana Mufarida; Kosjoko Kosjoko
J-Proteksion Vol 2, No 1 (2017): J-Proteksion
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/jp.v2i1.2218

Abstract

Teknologi pengelasan merupakan salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam suatu proses manufaktur karena pengelasan memegang peranan penting dalam setiap rekayasa logam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi media pendingin terhadap nilai kekuatan uji tarik dan nilai kekerasan Stainless Steel AISI 304, Pada penelitian ini pengelasan yang dilakukan adalah pengelasan SMAW menggunakan elektroda E308-16 Ø 2,6 mm pada material Stainless Steel AISI 304 dengan sambungan pengelasan berbentuk kampuh V tunggal dengan sudut kampuh 70° dan variasi media pendingin yang digunakan adalah coolant mesin bubut , coolant engine dan oli SAE 40. Dari hasil analisa data penelitian nilai kekerasan tertinggi pada logam las terdapat pada hasil pengelasan SMAW dengan variasi media pendingin coolant engine dengan nilai rata-rata 129,83 HB, dan nilai kekerasan terendah pada logam las terdapat pada hasil pengelasan SMAW dengan variasi media pendingin oli SAE 40 dengan nilai rata-rata 98,87 HB, dan Dari hasil analisa data penelitian nilai kekuatan tarik tertinggi terdapat pada hasil pengelasan SMAW dengan variasi media pendingin coolant engine dengan nilai rata rata 991,343 N/mm2, dan nilai kekuatan tarik terendah terdapat pada hasil pengelasan SMAW dengan variasi media pendingin oli SAE 40 dengan nilai rata-rata 900,991 N/mm2
PENGARUH VARIASI ARUS PENGELASAN SHIELD METAL ARC WELDING (SMAW) TERHADAP KEKUATAN TARIK PADA MATERIAL STAINLESS STEEL 304L Moh. Ainul Yaqin; Nely Ana Mufarida; Kosjoko Kosjoko
J-Proteksion Vol 4, No 1 (2019): J-Proteksion
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/jp.v4i1.3016

Abstract

Proses pengelasan merupakan salah satu cara untuk menyambungkan dua bagian logam secara permanen dengan menggunakan energi panas yang diperoleh dari elektroda. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen dengan memvariasikan kuat arus pengelasan pada spesimen baja Stainlesss Steel 304L. Selain itu, pada proses pengelasan menggunakan model butt weld joint dengan alur berbentuk V tunggal. Dari hasil penelitian dan analisis data, dapat diketahui bahwa nilai uji tarik yang diperoleh mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya variasi kuat arus pengelasan. Pada variasi kuat arus 73 A diperoleh nilai uji tarik rata-rata sebesar 704 N/mm2. Untuk variasi kuat arus 78 A menghasilkan nilai rata-rata uji tarik sebesar 718 N/mm2. Dan variasi kuat arus 80 A menghasilkan nilai uji tarik tertinggi yaitu sebesar 804 N/mm2.
Pemanfaatan Limbah Serbuk Arang Kayu Jati (Tectona Grandis L.F) sebagai Material Brake Pads Kosjoko Kosjoko; Nely Ana Mufarida
J-Proteksion Vol 7, No 1 (2022): J-Proteksion
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/jp.v7i1.8052

Abstract

Bahan yang terbuat dari asbestos sangat mengganggu kesehatan terutama yang berhubungan dengan paru-paru manusia begitu juga pemerintah juga melarang penggunaan asbestos sebagai bahan rem kendaraan. Bahan yang terbuat dari logam juga mengganggu kesehatan dan suara bising. Tugas utama pada pad adalah untuk menghentikan laju kendaraan dengan halus tanpa menimbulkan guncangan. Perlu adanya indikator-indikator untuk perbaikan sistem pengereman yang tidak mempengaruhi pada kendali kemudi pada saat terjadinya pengereman. Apa yang dimaksud dengan keausan adalah sebagian hilangnya material dari permukaan yang dipengaruhi oleh bahan yang bergesekan. Dari pengujian kekerasan Spesimen brake pads yang diperlakukan pirolisis temperatur 200°C dengan nilai yang tertinggi fraksi volume 50% : 50 % menggunakan alat Shore Durometer = 77 HD, terendah pirolisis fraksi volume 30%:70% = 49 Hard Durometer. Hasil uji keausan yang paling rendah yaitu campuran 50% arang hasil pirolisis dan 50% epoxy : 0.02404 mm3/kg.m, tertinggi fraksi volume 30% : 70% = 0,06598 mm3/kg.m. Pengujian bending tertinggi dengan fraksi volume 40% : 60% sebesar = 24,27 Mpa. Terendah fraksi volume 50% : 50% = 19,52 Mpa.
Pengaruh Variasi Kemiringan Sudut Sudu Pengarah Angin 20, 40, dan 60 terhadap Tingkat Efisiensi Turbin Angin Sumbu Vertikal Dendroimas Nandang Kaputra; Kosjoko Kosjoko; Ardhi Fathoni Syam Putra Nusantara
J-Proteksion Vol 7, No 1 (2022): J-Proteksion
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/jp.v7i1.7860

Abstract

Energi listrik adalah suatu energi yang berpengaruh besar bagi kehidupan manusia. Pembangkit listrik sendiri masih sangat ketergantungan dengan menggunakan energi fosil, sedangkan persediaan bahan bakar fosil untuk saat ini semakin menipis, sehingga dibutuhkan energi alternatif untuk menggantikan penggunaan bahan bakar fosil untuk mendapatkan energi listrik. Wilayah Indonesia sendiri memiliki kecepatan angin rata-rata berkisar antara 3-6m/s. Oleh karena itu dibutuhkannya sistem konversi energi angin yang sesuai dengan profil kecepatan angin di wilayah Indonesia. Penggunaan energi angin sendiri bukan penemuan yang baru lagi oleh umat manusia. Sejak tahun 2000 manusia sudah memanfaatkan energi air dan angin sudah dikenal sejak dulu dalam bentuk turbin angin (windmills). Hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu dengan menggunakan variasi 4 sudu pelat pengarah angin dengan kemiringan 40° menghasilkan daya listrik sebesar 0,64 watt. Sedangkan efisiensi terbaik turbin angin savonius di dapat pada variasi 4 sudu pengarah angin dengan kemiringan sudu pelat 40° dengan nilai efisiensi 2,44% dikarenakan memiliki komparasi yang baik antara jarak keregangan sudu dengan aliran turbulensi angin.