Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Intensifikasi Pengolahan Limbah Cair Laboratorium Melalui Proses Koagulasi dan Adsorpsi Studi Pengolahan Limbah Cair Laboratorium dengan Metode Kombinasi Fisika-Kimia Sufra, Rifqi; Panjaitan, Jabosar R.H; Alhanif, Misbahudin; Mustafa, Mustafa; Yusupandi, Fauzi; Adriansyah, Endi; Rahmadini, Gustia; Raqin, M. Rayhan; Herawati, Peppy; Suzana, Asih
Jurnal Talenta Sipil Vol 7, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/talentasipil.v7i1.460

Abstract

Laboratory is one of the generators of hazardous liquid waste derived from chemicals used in practice and research. The waste is very dangerous when discharged into the environment because of the pollutants it contains. Therefore, it is necessary to treat the waste before it is disposed of to minimize the impact of pollution caused by the waste. The study aims to compare the effectiveness of zeolite adsorbents and activated carbon in reducing COD, TSS, and Cr heavy metals. Waste treatment is carried out by coagulation and adsorption methods. The adsorption process is performed using two types of adsorbents: zeolite and activated carbon. This study was carried out by variing the mass of the adsorbents at the time of complaining for 120 minutes in batches. Variations in the masses of the used 3, 5, 7, and 10 grams of adsorbenes. The results of the study showed that the more adsorbanes used, the higher the reduction of pollutant levels. The use of 10 grams of activated carbon adsorbents can reduce TSS pollutants levels of 92%, COD 95%, Cr 65%, and pH 5,0-6,38.
PENGARUH KOAGULAN DAN ANALISIS GROSS PROFIT MARGIN TERHADAP KADAR MUTU KARET REMAH SIR 20 Panjaitan, Jabosar Ronggur Hamonangan; Simbolon, Nur Indah; Pasaribu, Tulus Jaya
LUMBUNG Vol. 21 No. 2 (2022): Agustus
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.328 KB) | DOI: 10.32530/lumbung.v21i2.517

Abstract

Indonesia merupakan negara produsen karet kedua terbesar di dunia dan merupakan negara pengekspor karet. Salah satunya karet yang diekspor dari Indonesia adalah SIR 20. Rendahnya mutu bahan olah karet adalah permasalahan karet yang sering dijumpai di Indonesia. Hal ini biasanya disebabkan oleh koagulan yang dipakai. Pada penelitian ini akan dilakukan analisis Plasticity Retention Index (PRI), kadar abu, kadar kotoran, kadar zat menguap serta analisis Gross Profit Margin (GPM) pada koagulasi karet dengan menggunakan koagulan asam format, asam sulfat dan tawas terhadap kadar mutu karet remah SIR 20. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai PRI koagulan asam sulfat adalah yang terbesar dengan nilai 77. Koagulan asam sulfat merupakan koagulan yang memiliki kadar abu dan kotoran terendah dibandingkan dengan asam format dan tawas yaitu sebesar 0,365% dan 0,025%. Kadar zat menguap pada koagulan tawas menunjukkan nilai terbesar yaitu 0,451%. Koagulan asam format memiliki nilai profit dan GPM terkecil dikarenakan harga yang lebih mahal dibandingkan asam sulfat dan tawas.
Pengaruh Variasi Sumber Nitrogen pada Produksi Selulosa Bakteri dari Limbah Kulit Pisang Panjaitan, Jabosar Ronggur Hamonangan; Wibowo, Adhitia
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 7 No. 2 (2022): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33536/jcpe.v7i2.793

Abstract

Pisang merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia sehingga mengakibatkan meningkatnya limbah kulit pisang. Limbah kulit pisang memiliki banyak kandungan yang masih belum dimanfaatkan. Salah satu produk yang dapat diproduksi dengan bahan baku limbah kulit pisang adalah selulosa bakteri atau nata. Pada penelitian ini akan diteliti pengaruh pemberian bahan alami yang mengandung nitrogen seperti tauge, santan kelapa dan urea dalam pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum untuk menghasilkan bakteri selulosa dari bahan baku kulit pisang. Dari hasil penelitian diperoleh urea sebagai sumber nitrogen alami memberikan hasil produksi nata yang paling tinggi pada waktu fermentasi 10 hari dengan nilai rendemen 46,90%, kadar air 17,38%, dan berat natanya 190,18 gram. Sedangkan sumber nitrogen alami dari santan kelapa dengan waktu fermentasi 5 hari memberikan hasil nata yang paling rendah dengan nilai rendemen 6,53%, kadar air 51,72%, dan berat natanya 5,57 gram. Fermentasi selulosa bakteri selama 10 hari menghasilkan selulosa yang paling tinggi dibandingkan dengan 5 hari.
Comparison of Paper Waste Hydrolysis Using Potassium Hydroxide From Empty Palm Fruit Bunch Ash and Commercial Potassium Hydroxide Panjaitan, Jabosar Ronggur Hamonangan; Riziq, Annisa Zahara; Fadhila, Syalsa; Sanjaya, Andri; Alhanif, Misbahudin
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 9 No. 2 (2024): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/jcpe.v9i2.1225

Abstract

Paper waste is one type of waste that is quite abundant. Effective processing of paper waste can be done using hydrolysis process because this process can decompose lignocellulose compounds in paper waste into simpler compound such as glucose and other derivative products. Hydrolysis process was generally carried out using chemical catalysts such as acids, bases and enzymes. In this study, paper waste hydrolysis was investigated using base catalysts such as potassium hydroxide (KOH) from palm oil empty fruit bunches (POEFB) ash and commercial KOH. The research stages began with the preparation of POEFB ash, KOH production from POEFB ash, paper waste preparation, and the hydrolysis process of paper waste using KOH from POEFB ash and commercial KOH. This study uses variations in hydrolysis time were carried out to evaluate the hydrolysis conversion. Based on the research, it was showed that KOH catalyst from POEFB ash contain potassium compounds in the form of 5.87% potassium oxide (K2O) and 31.45% potassium carbonate (K2CO3). Comparison of catalyst performance between KOH catalyst from POEFB ash and commercial KOH catalyst showed that commercial KOH catalyst was better than KOH catalyst from POEFB ash. The effect of hydrolysis reaction time was directly proportional to the conversion value that the highest conversion was 12.11% at 90 minutes using commercial KOH catalyst.
Produksi Selulosa Bakteri Berbasis Limbah Kulit Pisang dan Limbah Kulit Pepaya dengan Penambahan Etanol Panjaitan, Jabosar Ronggur Hamonangan; Purnomo, Agus
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.8706

Abstract

Limbah kulit pisang dan limbah kulit pepaya merupakan limbah buah hasil konsumsi yang cukup banyak dihasilkan di Indonesia. Potensi kandungan mineral dan gula yang terdapat di dalam kedua limbah ini dapat digunakan sebagai media fermentasi untuk memproduksi biomaterial salah satunya adalah selulosa bakteri atau nata. Pada penelitian ini akan diteliti perbandingan produksi selulosa bakteri dari bahan baku limbah kulit pisang dan limbah kulit pepaya yang disertai pengaruh produksi selulosa bakteri terhadap penambahan etanol. Penelitian ini menunjukkan bahwa kulit pisang dan kulit pepaya dapat digunakan sebagai bahan baku dalam produksi selulosa bakteri dengan yield tertinggi sebesar 9,33% diperoleh dari media limbah kulit pepaya tanpa adanya penambahan etanol. Sedangkan yield terendah nata sebesar 1,33% diperoleh dari media fermentasi kulit pepaya dengan penambahan 3% etanol. Penambahan etanol pada penelitian ini menghambat proses fermentasi dikarenakan tingginya konsentrasi etanol yang digunakan. Etanol yang semula pada penelitian ini diharapkan sebagai sumber karbon berubah menjadi senyawa toksik bagi pertumbuhan Acetobacter xylinum.
EVALUASI PENYERAPAN CL2 MENGGUNAKAN LARUTAN NaOH PADA H2 SCRUBBER Panjaitan, Jabosar Ronggur Hamonangan
CHEMTAG Journal of Chemical Engineering Vol 6, No 1 (2025): CHEMTAG Journal of Chemical Engineering
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/cjce.v6i1.5375

Abstract

Klorin adalah senyawa halogen yang dalam konsentrasi tinggi dapat mencemari lingkungan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi klorin dari lingkungan adalah dengan proses absorpsi menggunakan larutan alkali sodium hidroksida (NaOH). Pada penelitian ini akan diteliti penyerapan gas Cl2 skala industri dengan menggunakan larutan NaOH pada alat H2 Scrubber. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan nilai excess OH yang tinggi menghasilkan efisiensi Scrubber yang tinggi. Beberapa faktor dapat mempengaruhi efisiensi H2 scrubber antara lain penggunaan umur packing dan tray, berkurangnya performa pompa, scalling pada pipa, hangusnya larutan alkali akibat banyaknya aliran Cl2, perubahan rate produksi, dan ClO2 plant tripped. Selain itu, analisis efisiensi pompa menunjukkan bahwa pada laju alir 10 m3/h menghasilkan nilai efisiensi pompa yang paling besar yaitu 34,49%. Hal ini menandakan meningkatnya laju alir membuat efisiensi pompa semakin naik. Faktor lain seperti kuat arus dan daya yang besar juga membuat efisiensi pompa yang dihasilkan akan semakin besar.
Rancang Bangun Perangkat Instrumentasi dan Kontrol Bioreaktor Cascara Berbasis Raspberry Pi Hariyanto, Duwi; Miranto, Afit; Naufal, Daffa; Rafif, Muhammad Nur; Hernanda, Muhammad Pramudhitya; Marvie, Ilham; Panjaitan, Jabosar Ronggur Hamonangan
Jurnal Teknik Elektro dan Komputasi (ELKOM) Vol 7, No 1 (2025): ELKOM
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/elkom.v7i1.23858

Abstract

Kemajuan teknologi saat ini mendorong pengembangan perangkat yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas berbagai proses produksi, termasuk dalam industri fermentasi. Salah satu produk bernilai tinggi yang dapat dihasilkan dari kulit kopi (cascara) adalah asam cuka, yang tidak hanya memperpanjang masa simpan cascara tetapi juga meningkatkan nilai ekonomisnya. Penelitian ini berfokus pada perancangan perangkat instrumentasi dan kontrol bioreaktor berbasis mini komputer Raspberry Pi yang didukung mikrokontroler Arduino Nano secara serial. Sistem ini dirancang untuk memantau dan mengendalikan parameter kritis fermentasi, seperti suhu, pH, dan kadar oksigen. Perangkat ini menggunakan sensor DS18B20 untuk mendeteksi suhu, sensor pH SKU: SEN0169 dari DF Robot untuk mengukur tingkat keasaman, serta sensor oksigen SKU: SEN0322 dari DF Robot untuk memantau tingkat oksigen. Raspberry Pi berfungsi sebagai pusat pemrosesan data, kontrol perangkat keras, dan antarmuka pengguna, sementara Arduino Nano berfungsi dalam menangani pembacaan sensor. Pemrograman mikrokontroler dilakukan melalui Arduino Integrated Development Environment (IDE). Hasil memberikan bahwa karakteristik sensor-sensor tersebut sesuai untuk digunakan dalam monitoring dan pegendalian proses produksi asam cuka dari kulit kopi di bioreaktor.
EVALUATION OF ECONOMIZER HEAT TRANSFER IN BOILER RECOVERY UNITS IN PULP FACTORY Panjaitan, Jabosar Ronggur Hamonangan; Manurung, Anggun Theresia; Galingging, Vanisa Helena; Purba, Sasro Arif
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v26i1.3494

Abstract

A boiler generates steam by principally exchanging heat. The economizer helps heat the feed water as part of a boiler system. Economizer and boiler functions predictably can improve heat transfer efficiency. Specifically, this study's research method for heat transfer and economizer efficiency of the boiler is in the pulp production plant unit. The heat transfer coefficient and efficiency were calculated based on water temperature and flue gas entering and exiting the economizer. Based on this research, it was found that during the second to fourth-day evaluation, the heat transfer effectiveness and heat transfer coefficient were low. The lowest economizer heat transfer effectiveness on the second day was 72%. Meanwhile, the lowest economizer heat transfer coefficient on the fourth day was 925 W/m2K. The low value of the heat transfer effectiveness and heat transfer coefficient can be caused by scaling in the economizer, so heat transfer was not optimal. The higher the value of heat transfer effectiveness in the economizer, the more flue gas heat will be extracted. Maximum heat transfer can be reached by the economizer cleaning process to remove the scaling, so heat transfer between flue gas and water occurs maximally.
Paper Waste Hydrolysis with Stepwise Sulfuric Acid Catalyst Panjaitan, Jabosar Ronggur Hamonangan; Nury, Dennis Farina; Hutabarat, Fransisco Xala; Hutabarat, Monalisa
Reka Buana : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil dan Teknik Kimia Vol 8, No 2 (2023): EDISI SEPTEMBER 2023
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rekabuana.v8i2.5023

Abstract

The need for paper results in a lot of paper waste. Paper waste, which is lignocellulosic, can be hydrolyzed using an acid catalyst to produce various cellulose degradation products. In this study, the effect of the sulfuric acid catalyst addition method on the waste paper hydrolysis process was investigated. The addition of the catalyst was carried out in three types. The Type-1 method was sulfuric acid addition in the 0th minute. The Type-2 method was sulfuric acid addition in the 0th and 30th minutes. The Type-3 method was sulfuric acid addition every 10 minutes. The results showed that the lowest residual mass of waste paper hydrolyzed was produced using the Type-3 method. This showed that the Type-3 method, sulfuric acid addition every 10 minutes, had an effect on the residual mass of the hydrolyzed sample. The Type-3 method was the most effective type of sulfuric acid catalyst addition compared to other types. On the other hand, variations in the concentration of the sulfuric acid catalyst affect the residual mass of the waste paper hydrolyzed sample, where higher sulfuric acid concentration will lower residual mass. The catalyst concentration of 2% sulfuric acid with The Type-3 addition method resulted in the highest conversion which was 38.27%.
Hydrolysis Kinetics of Bacterial Cellulose Using Sodium Hydroxide Panjaitan, Jabosar Ronggur Hamonangan; Padang, David Andrian; Fatchurohman, Aziz; Ramadhan, Fourka Fitra
Reka Buana : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil dan Teknik Kimia Vol 8, No 1 (2023): EDISI MARET 2023
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rekabuana.v8i1.4433

Abstract

The hydrolysis reaction is a rupture reaction of reactants with water which is generally used to produce useful derivative products and can be reviewed for kinetics as a basis for reactor design. Nata or bacterial cellulose is a compound consisting of pure cellulose and water so that it can be hydrolyzed to produce various cellulose degradation products. This research examined the kinetic hydrolysis of bacterial cellulose using a sodium hydroxide catalyst. This study aimed to determine the kinetic parameters of the nata hydrolysis reaction using a base sodium hydroxide catalyst. The results showed higher temperatures and longer hydrolysis time performed better in hydrolysis reactions. The hydrolysis kinetics in this study were divided into two types, Type 1 hydrolysis kinetics which used the wet weight of bacterial cellulose, and Type 2, which used the dry weight of bacterial cellulose. From the calculation results, the order of bacterial cellulose hydrolysis reaction ranges from 5 – 6, with the kinetic constants of Type 1 hydrolysis kinetics at 40oC, 60oC, and 80oC were 0.000012, 40,255.4, and 299,839 min-1. In comparison, the reaction constants of Type 2 hydrolysis kinetics at 40oC, 60oC, and 80oC were 0.516851, 1.124119, and 2.408972 min-1. The activation energy of Type 1 hydrolysis kinetics was 558.3932 kJ/mol, and Type 2 hydrolysis kinetics was 35.31205 kJ/mol. The difference in kinetic parameter values for Types 1 and 2 will be a reference in designing a nata hydrolysis reactor from wet and dry nata reactants to produce various cellulose degradation compounds.ABSTRAKReaksi hidrolisis merupakan reaksi pemecahan reaktan dengan air yang umumnya dilakukan untuk memproduksi produk – produk turunan bermanfaat dan dapat ditinjau kinetikanya sebagai dasar dalam perancangan reaktor. Nata atau selulosa bakteri merupakan senyawa yang terdiri dari selulosa murni dan air sehingga dapat dihidrolisis untuk menghasilkan berbagai senyawa degradasi selulosa. Pada penelitian ini diteliti kinetika hidrolisis selulosa bakteri menggunakan katalis natrium hidroksida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan parameter kinetika reaksi hidrolisis nata menggunakan katalis basa natrium hidroksida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu dan lama waktu hidrolisis akan meningkatkan kinerja reaksi hidrolisis. Kinetika hidrolisis pada penelitian ini terbagi dua tipe yaitu kinetika hidrolisis Tipe 1 yang menggunakan berat basah selulosa bakteri dan dan Tipe 2 yang menggunakan berat kering selulosa bakteri. Dari hasil perhitungan diperoleh orde reaksi hidrolisis selulosa bakteri berkisar antar 5 – 6 dengan konstanta reaksi kinetika hidrolisis Tipe 1 pada suhu 40oC, 60oC dan 80oC berturut – turut adalah 0,000012; 40.255,4; dan 299.839 min-1. Sedangkan konstanta reaksi kinetika hidrolisis Tipe 2 pada suhu 40oC, 60oC dan 80oC berturut – turut adalah 0,516851; 1,124119; dan 2,408972 min-1. Energi aktivasi kinetika hidrolisis Tipe 1 sebesar 558,3932 kJ/mol, dan energi aktivasi kinetika hidrolsis Tipe 2 sebesar 35,31205 kJ/mol. Perbedaan nilai parameter kinetika pada Tipe 1 dan 2 akan menjadi acuan dalam perancangan reaktor hidrolisis nata berbahan baku nata basah dan kering untuk memproduksi berbagai senyawa degradasi selulosa.