Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Inventarisasi Bambu di Sepanjang Sungai Tumbohon Hutan Lindung Gunung Saoan II, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Tuong, Niksen; Lasut, Marthen T.; Pangemanan, Euis F.S.
Silvarum Vol. 2 No. 3 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v2i3.53216

Abstract

Bambu di Indonesia dapat ditemukan mulai dari dataran rendah hingga sampai ke dataran tinggi atau pegunungan. Umumnya bambu dapat ditemukan di tempat-tempat terbuka namun terdapatjuga yang ditemukan dalam keadaan cukup tertutup. Bambu hidup tumbuh umumnya dalam kondisi merumpun, mempunyai ruas-ruas dan buku-buku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis- jenis bambu yang ada disepanjang sungai Tumbohon Hutan Lindung Gunung Saoan II, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Dalam penelitian ini data dianalisis dan disajikan secara deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan memvalidasi data terkait bambu kemudian disajikan dalam bentuk tabel yang dilengkapi dengan gambar dari setiap jenis dengan mengacu kepada herbarium dan kunci identifikasi yang telah dibuat. Berdasarkan hasil inventarisasi dan identifikasi yang dilakukan disepanjang tepi Sungai Tumbohon, Hutan Lindung Gunung Saoan II ditemukan sebanyak 3 jenis bambu dari 2 marga. Jenis bambu yang ditemukan adalah Buluh nasi jaha (Schizostachyum brachycladum Kurz), Buluh pagar (Gigantochloa atter (Hassk) Kurz), dan Bambu gombong (Gigantochloa verticillata (Willd.) Munro). Bambu gombong merupakan catatan baru di Sulawesi.
Keanekaragaman Tumbuhan Obat di Kelurahan Manado Tua II, Kecamatan Bunaken Kepulauan Alexsandro, Brayen J.; Lasut, Marthen T.; Pangemanan, Euis F.S.
Silvarum Vol. 2 No. 3 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v2i3.53218

Abstract

Kelurahan Manado Tua II terlertak di kepulauan Manado Tua Kecamatan Bunaken Kepulauan. Masyarakat di kelurhan Manado Tua II yang bermukim di sekitaran hutan umumnya memanfaatkan sumber daya hutan untuk keperluan sehari-hari salah satunya yaitu tumbuhan obat. Pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan secara tradisional untuk pengobatan atau perawatan kesehatan sehari-hari pengetahuan itu didapatkan secara turun-temurun. Di Kelurahan Manado Tua II masih banyak yang menggunakan tumbuhan obat tapi sayangnya sejauh ini belum pernah ada penelitian tentang penggunaan atau pemanfaatan tumbuhan obat sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa lama kelamaan hal ini akan menghilang atau resepnya tidak lengkap. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui keanekaragaman serta pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat di Kelurahan Manado Tua II Kecamatan Bunaken Kepulauan pada bulan Februari 2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan observasi lapangan. Teknik pemilihan informan yang digunakan dalam observasi ini yaitu teknik Snowball sampling responden ditentukan berdasarkan informasi dari pihak kelurahan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui 26 jenis tumbuhan dari 20 famili yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat. Bagian-bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat yaitu daun, kulit pohon, buah, semua bagian tumbuhan, akar, getah, bunga, dan rimpang. Berdasarkan habitus, dari 26 jenis tumbuhan obat yang paling banyak dimanfaatkan yaitu herba 14 jenis (54%), pohon 7 jenis (27%) dan perdu 5 jenis (19%). Khasiat dari tumbuhan yang diperoleh salah satunya melancarkan persalinan, dan mengobati penyakit sarampa/morbili, dibalurkan pada benjolan merah di kepala bayi, mengobat ginjal, mengobati panas, mengobati sakit perut, mengobati kencing batu, mengobati sakit pinggang, mengobati diare anak-anak, menurunkan kolestrol, mengobati keracunan, mengobati maag, mengobati patah tulang dan mengobati stroke.
Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan kayu oleh Masyarakat sekitar Hutan Kampung Manunggal Jaya, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Papua Korwa, Veby Yola; Lasut, Marthen T.; Pangemanan, Euis F.S.
Silvarum Vol. 2 No. 3 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v2i3.53223

Abstract

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia salah satunya di Kampung Manunggal Jaya Distrik Makimi Kabupaten Nabire Papua dengan status hutan APL dan luas kawasan hutan kurang lebih 525 ha. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan manfaat hasil hutan bukan kayu di Kampung Manungga Jaya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan melakukan survei langsung untuk mendapatkan informasi data menggunakan kuisioner kepada 30 responden yang sudah ditentukan sebelumnya. Jenis hasil hutan bukan kayu di Kampung Manunggal Jaya yaitu buah merah (Pandanus conoideus) untuk pangan, pewarna makanan, pakan ternak, dan obat herbal, daun gatal (Laportea decumana) untuk obat herbal, matoa (Pometia pinnata)buahnya sebagai pangan, melinjo (Gnetum gnemon) kulit batangnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan noken dan daun untuk pangan, rotan (Calamus sp) dimanfaatkan sebagai tali busur , ikan mujair (Oreochromis mossambicus), ikan gabus (Channa striata), dan babi hutan (Sus scrofa) dijadikan pangan. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa pemanfaatan HHBK oleh masyarakat Kampung Manunggal Jaya masih berkembang.
The Role of Understory Plants in Microclimate in Coconut-Based Agroforestry Pangemanan, Euis F.S.; Kalangi, Josephus I.; Saroinsong, Fabiola B.; Ratag, Semuel P.
Jurnal Agroekoteknologi Terapan (Applied Agroecotechnology Journal) Vol. 6 No. 2 (2025): ISSUE JULY-DECEMBER 2025
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v6i2.64481

Abstract

The use of land with a coconut-based agroforestry system is currently widely practiced in the South Minahasa region. In this agroforestry system, coconut trees are planted together with other plants on a single plot of land. The diversity of underplanting also plays a role in modifying the microclimate around the coconut trees, which in turn can affect the growth and productivity of the plants. Microclimate is the climatic conditions that occur around plants and is greatly influenced by various factors, including plant diversity. Coconut trees in coconut-based agroforestry systems bring about changes in the microclimate under the canopy and can lower air temperature, reduce radiation, and decrease wind speed under the canopy. This study aims to determine the effect of various types of vegetation on the microclimate in coconut-based agroforestry. The research was conducted in Ongkaw Village using a survey method. Microclimate measurements included solar radiation transmission, air temperature, air humidity, and wind speed at each observation plot. Data on underplant vegetation was observed using a purposive sampling plot method on coconut agroforestry land with different vegetation structures. The results showed that, compared to monoculture areas, the presence of understory plants significantly reduced air temperature, increased relative humidity, slowed wind speed, and reduced the intensity of light reaching the ground. Compared to other types of plants, plots with multi-strata fruit plants had the best microclimate conditions; shrub plots showed a moderate effect on microclimate moderation, while more open plots tended to have higher temperatures and lower humidity. The conclusion of this study is that the selection of understory plants in coconut agroforestry systems greatly influences microclimate conditions. Multi-strata fruit trees have been proven to be the most effective in creating a cooler and more humid microclimate, which can contribute to improved soil health and reduced stress on the main crop
Pertumbuhan Awal Langusei (Ficus minahassae (Teysm.et.Vr.) Miq) Nawawi, Pravitasari; Pangemanan, Euis F.S.; Lasut, Marthen T.
Silvarum Vol. 4 No. 3 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i3.63801

Abstract

Langusei (Ficus minahassae (Teysm.et.Vr.) Miq) merupakan salah satu diantara flora endemik Sulawesi yang tersebar di Pulau Sulawesi bagian utara, kepulauan Sangir dan Talaud. Namun kini keberadaan langusei sudah semakin langkah. Upaya untuk pelestarian keberadaan spesies F. minahassae patut menjadi perhatian karena spesies F. minahassae yang tidak dapat tumbuh sendiri. Mengantisipasi permasalahan tersebut, salah satu tindakan yang dapat dilakukan adalah mengetahui informasi budidaya jenis langusei. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan awal F. minahassae dengan menggunakan beberapa perlakuan perendaman dalam ekoenzim dan GA3. Jenis penelitian ini ialah penelitian kuantitatif dengan metode percobaan menggunakan desain Rancang Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan, dan satu kontrol yaitu: (A) Air suling (kontrol), (B) Ekoenzim murni, (C) Ekoenzim: Air  1:1ml, (D) Ekoenzim: Air  1:10, (E) GA3 dengan 4% (F) GA3 d15%, dan  (G) GA3 25%. Setiap perlakuan di ulang sebanyak empat kali. Berdasarkan hasil penelitian ini, perlakuan yang diberikan pada biji langusei terdapat satu perlakuan yang membuat biji langusei bertumbuh/berkecambah, yaitu, perlakuan Giberalin dengan konsentrasi 15%.
Inventarisasi Tumbuhan Obat yang Digunakan Masyarakat Desa Tombasian Atas, Kecamatan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa Tondon, Indrawati Bone; Pangemanan, Euis F.S.; Sumakud, Maria Y.M.A.
Silvarum Vol. 4 No. 3 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i3.64004

Abstract

Tumbuhan obat adalah tumbuhan yang satu atau lebih bagiannya mengandung zat aktif yang bermanfaat bagi kesehatan dan dapat digunakan untuk mengobati penyakit. Menurut Dalimarta (2000), tumbuhan obat adalah spesies yang bagian-bagian tertentu—seperti akar, batang, kulit kayu, daun, atau sekresinya—diyakini dapat menyembuhkan atau meringankan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan obat, bagian tumbuhan yang digunakan, dan cara pemanfaatannya oleh masyarakat di Desa Tombasian Atas, Kecamatan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa, selama bulan Juli 2025. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 20 spesies tumbuhan obat yang termasuk dalam 15 famili yang digunakan sebagai obat tradisional. Bagian tumbuhan yang paling umum digunakan adalah daun. Tanaman obat ini digunakan secara tradisional untuk mengobati berbagai kondisi kesehatan seperti gangguan pencernaan, penyembuhan luka, menurunkan kolesterol, meningkatkan produksi ASI, kesehatan mata, mengurangi kadar asam urat, kesehatan kulit, meredakan nyeri sendi, sakit perut, kembung, sakit gigi, tekanan darah tinggi, jerawat, demam, pengaturan gula darah, bau badan, diare, mendukung sistem kekebalan tubuh, dan meningkatkan jumlah trombosit.
Characterization and Utilization of Woka (Saribus rotundifolius (Lam.) Blume.) Based on Local Wisdom of the People of Bolaang Mongondow Regency Wawan Nurmawan; Hengki D. Walangitan; Maria Y. M. A. Sumakud; Euis F. S. Pangemanan
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 12 (2025): December
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i12.13159

Abstract

Woka (Saribus rotundifolius (Lam.) Blume.) is a palm tree that has significant ecological and socio-cultural value for the community of Bolaang Mongondow. However, local knowledge about its use and characteristics is threatened by extinction due to modernization. This study aims to: (1) identify the morphological characteristics of the woka plant, and (2) document the forms of utilization based on the local wisdom of the community of Bolaang Mongondow in managing woka. This study used qualitative methods with an ethnobotanical approach. Data were collected through field observations, in-depth interviews with key informants (traditional leaders and craftsmen), and documentation studies. The results show that woka has distinctive morphological characteristics, such as round fan-shaped leaves (rotundifolius) and strong stems. Woka has a wide range of uses, especially its leaves, which are used as roofing material for traditional houses (baloi), woven crafts for traditional ceremonies, and as food wrappers. Local wisdom is reflected in the knowledge system of sustainable harvesting techniques, traditional rules of harvesting, and beliefs that support the preservation of woka. It is concluded that woka is not just a plant but an integral part of the local cultural identity and ecosystem. This documentation is expected to serve as a database for the conservation and sustainable development of the economic value of woka.
Urban Forests as Nature-Based Solutions for Climate Resilience and Human Well-Being in Urban Landscapes. Saroinsong, Fabiola B.; Patinggi, Febi F.; Pangemanan, Euis F. S.; Nurmawan, Wawan; Kalangi, Josephus I.
Jurnal Agroekoteknologi Terapan (JAT) Vol. 7 No. 1 (2026): ISSUE JANUARY-JUNE 2026
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v7i1.49650

Abstract

Rapid urban expansion has increased environmental pressures in cities, including rising urban temperatures, declining air quality, higher stormwater runoff and flood risk, and growing public health concerns. Nature-based solutions have gained attention as cost-effective and multifunctional approaches to address these challenges, with urban forests representing one of the most strategic forms of green infrastructure. This study reviews recent scientific evidence on the role of urban forests as nature-based solutions for strengthening climate resilience and improving human well-being in urban landscapes. A structured literature review was conducted using Scopus, Web of Science, and Google Scholar, focusing on peer-reviewed journal articles published between 2021 and 2025 and indexed with a DOI. Findings were synthesized thematically across key ecosystem service pathways, including urban heat regulation, stormwater and runoff control, carbon storage and sequestration, air quality improvement, and wellbeing-related benefits. The reviewed literature indicates that urban forests contribute to climate adaptation by reducing heat exposure through shading and evapotranspiration and by supporting stormwater regulation through rainfall interception and improved infiltration. Urban forests also contribute to climate mitigation through carbon storage and ongoing sequestration, while providing co benefits for human health through recreation opportunities, psychological restoration, and improved quality of life. However, effectiveness depends on long term canopy continuity, appropriate species selection, maintenance capacity, and governance arrangements, with common challenges including limited land availability, funding constraints, and unequal access to green spaces. Overall, urban forests function as multifunctional nature-based infrastructure that can enhance urban resilience and human wellbeing when integrated into long-term planning and participatory management. Keywords: climate resilience, ecosystem services, human wellbeing, nature-based solutions, urban forest
Concepts of Landscape Planning and Design for the Conservation of Target Species and Target Ecosystems in Biodiversity Management for Sustainable Tourism Saroinsong, Fabiola B.; Cumentas, Javier M.; Pangemanan, Euis F. S.; Sumakud, Maria Y. M.A.
Asia Pacific Journal of Interdisciplinary Studies Vol. 2 No. 1 (2026): Asia Pacific Journal of Interdisciplinary Studies
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/asnvet90

Abstract

Conservation-based landscape planning is an increasingly important strategic approach in addressing the challenges of ecosystem degradation and species extinction due to land use change, habitat fragmentation, and climate change. This article aims to analyze how landscape planning can effectively support the conservation of target species and target ecosystems within the framework of sustainable biodiversity management. Through a systematic literature review of 30 articles of reputable international journals (2005–2025), this study identifies the main principles, planning methods, and indicators of success in integrating conservation into landscape spatial planning. The results show that ecosystem-based approaches, connectivity planning, and multi-stakeholder participation are the main foundations in conservation landscape planning. Indicator species and umbrella species are often used as proxies to identify priority areas, while target ecosystems are selected based on their level of uniqueness, threat, and ecological function. The integration of GIS-based spatial data and habitat modeling allows for effective identification of ecological corridors and conservation core areas. Studies also found that long-term success relies heavily on supportive policies, institutional capacity, and local community involvement. This article concludes that holistic and adaptive landscape planning is key to achieving conservation goals while supporting sustainable development. Policy recommendations include strengthening cross-sectoral landscape governance and building technical capacity in evidence-based planning.