Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Hubungan Kebiasaan Merokok Dan Mengkonsumsi Kafein Dengan Kejadian Osteoporosis Pada Usia Lanjut Dwi Nonita Nugraheni; Sri Wahyu Basuki; Anika Candrasari; Budi Hernawan
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 9 No 1 (2021): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 9.1 Edisi Maret - Juli
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v9i1.368

Abstract

Osteoporosis is a disease that is classified as a silent killer because it is not detected early and only known after the fracture occurs. Smoking habits are a risk factor for osteoporosis, because smokers lose bone mass faster than nonsmokers. Excess caffeine intake is associated with the effect of caffeine on bone homeostasis. The purpose of this study was to analyze the relationship between smoking and caffeine consumption and the incidence of osteoporosis in the elderly.The design of this research is a literature study or literature review. This study draws sources from Pubmed, Science Direct, and Google Scholar with the keywords: (smoking OR smoking habits) AND (caffeine OR caffeine consumption OR drink coffee) AND (osteoporosis) AND (elderly OR aged). The search results showed 1,136 articles were found, then after the duplicates were removed the remaining 1,104 articles. Then identified based on the title, abstract, and eligibility in accordance with the restriction criteria, 8 articles were reviewed. The research results from the article stated that smoking can increase the risk of osteoporosis. High caffeine consumption can put you at risk for osteoporosis, while low to moderate caffeine consumption can lower your risk of osteoporosis. Based on the results of the research that has been done, it can be concluded that there is a significant relationship between smoking habits and high consumption of caffeine on the risk of osteoporosis in the elderly.
TINJAUAN NARATIF : PATOFISIOLOGI OTITIS MEDIA SEROSA TERKAIT PERAN DISFUNGSI TUBA EUSTACHIUS: NARRATIVE REVIEW : PATHOPHYSIOLOGY OF SEROUS OTITIS MEDIA RELATED TO THE ROLE OF EUSTACHIAN TUBE DYSFUNCTION Rona Nasywa Mahira; Budi Hernawan; Sri Dewi Astutik; Chelsa Destra Putri Winarno; Cinta Nurul Husna Putri Suharyono; Aura Lintang Zahra
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 25 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v25i1.1014

Abstract

Otitis media serosa (OME) merupakan kondisi peradangan telinga tengah tanpa tanda infeksi akut yang ditandai dengan adanya efusi persisten. Disfungsi tuba Eustachius (TE) berperan penting dalam patogenesis OME karena mengganggu ventilasi dan drainase telinga tengah. Artikel ini bertujuan menjelaskan peran disfungsi TE dalam patofisiologi OME berdasarkan temuan ilmiah terbaru. Kajian dilakukan melalui penelusuran literatur di PubMed dan Google Scholar (2021–2025) menggunakan kata kunci “otitis media serosa” dan “disfungsi tuba Eustachius”. Delapan artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara deskriptif. Seluruh studi menunjukkan hubungan kuat antara disfungsi TE dan OME. Faktor obstruktif seperti hipertrofi adenoid, deviasi septum, dan massa sinonasal menurunkan ventilasi telinga tengah, sedangkan faktor non-obstruktif seperti refluks gastroesofageal dan infeksi SARS-CoV-2 memperburuk fungsi TE melalui mekanisme inflamasi. Intervensi medis dan bedah terbukti memperbaiki fungsi TE serta menurunkan efusi, meski beberapa kasus memerlukan pendekatan multimodal. Disfungsi TE merupakan faktor sentral dalam patogenesis OME melalui kombinasi mekanisme obstruktif dan inflamasi. Pemahaman mendalam tentang proses ini penting untuk menentukan terapi komprehensif dan mencegah kekambuhan.
RESISTENSI ANTIBIOTIK DIPENGARUHI OLEH BIOFILM PADA PENGOBATAN OTITIS MEDIA AKUT: TINJAUAN NARATIF: BIOFILM-MEDIATED ANTIBIOTIC RESISTANCE IN ACUTE OTITIS MEDIA TREATMENT: A NARRATIVE REVIEW Budi Hernawan; Malihatin Nur Rohmah; Muna Laila Zava; Handika Muhammad Bimantoro; Annisa Khusnul Triyuniati; Yuke Masaro
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 25 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v25i1.1041

Abstract

Otitis media akut (OMA) adalah infeksi telinga yang umum terjadi pada anak-anak dengan gejala seperti rasa sakit, demam, dan gangguan pendengaran yang dapat mempengaruhi kualitas hidup. Meskipun antibiotik telah menjadi pilihan pengobatan utama selama ini, banyak kasus yang tidak sembuh sepenuhnya. Salah satu penyebab masalah ini adalah adanya biofilm, yaitu kumpulan bakteri yang terorganisir dalam lapisan pelindung membuatnya kebal terhadap antibiotik dan sistem kekebalan tubuh inang. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa biofilm berperan penting dalam kegagalan terapi dan kekambuhan OMA. Mekanisme yang terlibat meliputi penghalang penetrasi obat, keberadaan sel persister, heterogenitas metabolik bakteri, dan transfer gen resistensi. Dampak klinis meliputi infeksi yang sering terjadi kembali, otitis media kronis, perforasi membran timpani, hingga gangguan perkembangan bicara dan kognitif pada anak-anak. Keterbatasan terapi antibiotik mendorong pengembangan pendekatan baru, seperti penggunaan agen antibiofilm non-antibiotik (misalnya N-asetilsistein), terapi faga, penghantaran obat menggunakan nanopartikel, serta pendekatan imunomodulasi. Selain itu, inovasi dalam diagnostik non-invasif dan terapi berbasis cahaya juga menunjukkan potensi yang menjanjikan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang peran biofilm, pengelolaan OMA perlu beralih dari sekadar mengandalkan antibiotik menjadi pendekatan multimodal yang lebih menyeluruh. Penerapan terapi inovatif diharapkan dapat mengurangi angka kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup anak-anak yang terdampak.