Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PRODUKSI N-ASETILGLUKOSAMIN DARI KITIN KULIT UDANG DENGAN FERMENTASI MENGGUNAKAN Salmonella enterica STRAIN LT2 [PRODUCTION OF N-ACETYLGLUCOSAMINE FROM SHRIMP SHELLS’ CHITIN BY FERMENTATION USING Salmonella enterica STRAIN LT2] Yuniwaty Halim; Lucia Crysanthy Soedirga; Valentina Michelle
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol 6, No 2 (2022): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v6i2.5920

Abstract

Chitin is found abundantly in shrimp shells and can be converted into N-acetylglucosamine, which has a wide range of uses in the biomedical and industrial fields. Chitin can be produced using chitinase produced by bacteria through the fermentation process. Salmonella enterica strain LT2 was one of the chitinolytic bacteria that was isolated from shrimp shells. This research aimed to determine the best pH (5, 6, 7, 8, and 9) and temperature (32oC, 37oC, and 42oC) of fermentation, as well as fermentation time (2, 3, 4, 5, and 6 days) for the production of N-acetylglucosamine using the S. enterica strain LT2. Results showed that the highest production of N-acetylglucosamine occurred at the temperature of 37oC, pH of 8, and 4 days of fermentation, which produced 69.62 ± 1.00 g/L of N-acetylglucosamine. Furthermore, the highest N-acetylglucosamine production for the fermentation time occurred on the third day which produced 73.19 ± 1.63 g/L of N-acetylglucosamine.Bahasa Indonesia Abstract:Kitin banyak ditemukan pada cangkang udang dan dapat dipecah menjadi N-asetilglukosamin, yang banyak digunakan dalam dunia biomedik maupun industri lainnya. Kitin dapat diproduksi menggunakan kitinase yang dihasilkan oleh bakteri melalui proses fermentasi. Salmonella enterica strain LT2 merupakan salah satu bakteri kitinolitik yang diisolasi dari cangkang udang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pH (5, 6, 7, 8, dan 9) dan suhu fermentasi (32oC, 37oC, dan 42oC) terbaik, serta lama fermentasi terbaik (2, 3, 4, 5, dan 6 hari) untuk produksi N-asetilglukosamin menggunakan S. enterica LT12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi N-asetilglukosamin diperoleh pada suhu fermentasi 37oC, pH 8, dan waktu fermentasi 4 hari, yang menghasilkan N-asetilglukosamin sebesar 69,62 ± 1,00 g/L. Selain itu, produksi N-asetilglukosamin tertinggi terjadi setelah fermentasi pada hari ketiga, yaitu sebesar 73,19 ± 1,63 g/L.
PEMANFAATAN TEH DAUN SALAM DALAM PEMBUATAN KOMBUCHA [UTILIZATION OF BAY LEAF TEA IN KOMBUCHA PRODUCTION] Yuniwaty Halim
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol 7, No 1 (2023): May
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v7i1.6612

Abstract

Kombucha is a beverage made from tea and sugar, fermented with a symbiosis of bacteria and yeast. Kombucha is known for its health effect, therefore many traditional plants are used in the making of kombucha. Bay leaf or Syzygium polyanthum is one type of tropical plant that is often found in Indonesia. Bay leaf functions as an antioxidant, antiviral, antimicrobial, anti-inflammatory, and antitumor. In this research,  bay leaves were processed using different processing methods, namely fresh tea (unprocessed), black tea, and green tea to reduce their astringency. The aims of this research were to determine the best processing method for bay leaf to be used in kombucha making and to determine the best concentration of bay leaf tea and fermentation time in making kombucha. The bay leaf tea concentration of 30%, 40%, and 50% and fermentation time of 7, 10, and 13 days were used. Results showed that bay leaf was best processed using green tea method, with total phenolic content obtained of 240.29 ± 9.48 mg GAE/L, total flavonoids of 41.61 ± 0.97 mg QE/L, total condensed tannins of 371.03 ± 5.60 mg CE/L, and antioxidant activity with IC50 of  9605.58 ± 279.12 ppm. Furthermore, kombucha made with the addition of 50% bay leaf tea and fermentation time of 10 days was chosen because it had the best organoleptic characteristics and antioxidant activity with IC50 of 6920.10 ± 360.04 ppm, total phenolic content of 340.21 ± 0.45 mg GAE/L, and total flavonoid content of 122.21± 1.53 mg QE/L.Bahasa Indonesia Abstract:Kombucha merupakan produk minuman yang dibuat dari teh dan gula yang difermentasi menggunakan simbiosis bakteri dan khamir. Kombucha diketahui memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, sehingga banyak tanaman tradisional yang dimanfaatkan dalam pembuatan kombucha. Daun salam atau Syzygium polyanthum merupakan salah satu tanaman tropis yang banyak ditemukan di Indonesia. Daun salam diketahui berfungsi sebagai antioksidan, antivirus, antimikroba, antiinflamasi, dan antitumor. Pada penelitian ini, dan salam diproses dengan berbagai metode, yaitu teh segar (tanpa proses), teh hitam, dan teh hijau, untuk mengurangi rasa sepat daun salam. Tujuan penelitian ini adalah menentukan metode pengolahan daun salam terbaik untuk pembuatan kombucha, serta menentukan konsentrasi teh dan lama fermentasi terbaik dalam pembuatan kombucha. Adapun konsentrasi teh daun salam yang digunakan adalah 30, 40, dan 50%, dengan lama fermentasi 7, 10, dan 13 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengolahan daun salam terbaik adalah dengan metode pengolahan teh hijau, yang menghasilkan total fenolik sebesar 240,29 ± 9,48 mg GAE/L, total flavonoid sebesar 41,61 ± 0,97 mg QE/L, total tanin terkondensasi sebesar 371,03 ± 5,60 mg CE/L, dan aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 9605,58 ± 279,12 ppm. Selain itu, kombucha yang dibuat dengan penambahan teh daun salam sebesar 50% dan lama fermentasi 10 hari merupakan formulasi terpilih karena memiliki karakteristik organoleptik terbaik, dan aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 6920,10 ± 360,04 ppm, total fenolik sebesar 340,21 ± 0,45 mg GAE/L, dan total flavonoid sebesar 122,21± 1,53 mg QE/L.
PENENTUAN KONDISI FERMENTASI DALAM PRODUKSI N-ASETILGLUKOSAMIN DARI KULIT UDANG MENGGUNAKAN BAKTERI Providencia stuartii Yuniwaty Halim; Ratna Handayani; Shella Trey Lamtoro; Hardoko Hardoko
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 8, No 5 (2023): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jstp.v8i5.43422

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menentukan jenis substrat, pH, suhu, dan lama fermentasi terbaik untuk menghasilkan N-asetilglukosamin oleh bakteri Providencia stuartii. Bakteri Providencia stuartii yang digunakan merupakan hasil isolasi dari penelitian sebelumnya. Kondisi fermentasi terbaik ditentukan dengan melakukan fermentasi pada berbagai suhu (32oC, 37oC, dan 42oC), pH (5, 6, 7, dan 8), serta lama fermentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi N-asetilglukosamin tertinggi dengan menggunakan substrat tepung cangkang udang dihasilkan pada suhu fermentasi 37oC dengan pH media 7 dan lama fermentasi 9 hari, yaitu sebesar 178.752,670 ± 1.774,478 ppm. Sedangkan konsentrasi N-asetilglukosamin tertinggi dengan menggunakan substrat kitin dihasilkan pada suhu fermentasi 37oC dengan pH media 8 dan lama fermentasi 4 hari, yaitu sebesar 68.789,00 ± 2682,65 ppm.
Immobilization of Providencia stuartii Cells in Papaya Trunk Wood for N-acetylglucosamine Production from Pennaeus vannamei Shrimp Shells Yuniwaty Halim; Steven Fausta Tantradjaja; Hardoko Hardoko; Ratna Handayani
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 13 No. 2 (2021): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v13i2.28011

Abstract

Highlight Research AbstractChitin is a natural compound found abundantly in shrimp shells. Chitin can be degraded to produce N-acetylglucosamine, which has wide applications in the food and pharmaceutical fields. Fermentation using chitinolytic microorganisms can be used to produce N-acetylglucosamine from shrimp shells' chitin. One of the strong chitinolytic bacteria that was isolated from previous research was Providencia stuartii. To provide better stability and efficiency in fermentation, P. stuartii cells were immobilized using entrapment method in papaya trunk wood. The aims of this research were to determine the optimum papaya trunk wood size, ratio of papaya trunk wood and growth medium, as well as the optimum fermentation cycle to produce N-acetylglucosamine from P. vannamei shrimp shells using submerged fermentation method. The research used experimental method with treatment of different sizes of papaya trunk wood (1 x 1 x 1 cm3, 1.5 x 1.5 x 1.5 cm3, and 2 x 2 x 2 cm3), different ratio of papaya trunk wood and growth medium (1:10, 1:15 and 1:20), and 4 fermentation cycles. Results showed that papaya trunk wood with size of 1 x 1 x 1 cm3 and ratio (w/v) of 1:10 could immobilize 87.08±2.05% of P. stuartii cells and produce the highest N-acetylglucosamine concentration, which was 238177.78±3153.48 ppm. The highest N-acetylglucosamine production was obtained from first fermentation cycle and decreased over the last three cycles, but still produced high concentration of N-acetylglucosamine. Therefore, it is possible to perform continuous N-acetylglucosamine production from shrimp shells using P. stuartii cells immobilized in papaya trunk wood. 
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA CIBUGEL MELALUI USAHA PENINGKATAN MUTU ALPUKAT BEKU TEROLAH MINIMAL Parhusip, Adolf; Cidarbulan Matita, Intan; Halim, Yuniwaty; Wijaya, Julia Ratna; Tri Nugroho, Raphael Dimas
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 6 (2023): INOVASI PERGURUAN TINGGI & PERAN DUNIA INDUSTRI DALAM PENGUATAN EKOSISTEM DIGITAL & EK
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v6i0.2217

Abstract

Desa Cibugel merupakan salah satu desa di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten yang memiliki jumlah penduduk sekitar 12.069 jiwa dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai wiraswasta atau pedagang. Usaha yang telah dirintis oleh salah satu kelompok masyarakat Desa Cibugel adalah usaha buah beku (frozen fruit) dari alpukat. Namun, dalam pelaksanaan produksi usaha ini, masyarakat Desa Cibugel belum memiliki kesadaran akan pentingnya pengetahuan dalam penanganan pasca panen buah alpukat dan pengolahan buah alpukat beku yang benar. Hal ini terlihat dari perlakuan pekerja terhadap buah alpukat tersebut, seperti belum diaplikasikannya hygiene pekerja dan sanitasi area kerja, serta prosedur kerja yang kurang tepat. Penanganan yang belum optimal dapat meningkatkan risiko kontaminasi yang tidak diinginkan dan mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas pada buah alpukat beku. Berdasarkan informasi dan permasalah yang telah diperoleh, maka tim PKM Teknologi Pangan UPH melakukan kegiatan penyuluhan sanitasi pangan dan prosedur kerja untuk produk alpukat terolah minimal agar memberdayakan masyarakat Desa Cibugel melalui usaha peningkatan mutu buah alpukat beku. Kegiatan PKM ini dilakukan melalui survei, wawancara/diskusi, penyuluhan, pemberian video panduan, dan pemberian peralatan penunjang pada pelaku usaha alpukat terolah minimal (beku). Antusiasme peserta PKM dapat dilihat melalui sesi diskusi yang interaktif. Hasil evaluasi dari 84% responden menyatakan bahwa 100% peserta PKM merasa kegiatan PKM ini bermanfaat dan ingin mengikuti kembali kegiatan PKM yang serupa.
Fermentation Using Providencia stuartii and Salmonella enterica to Produce N-Acetylglucosamine from Shrimp Shells’ Chitin Halim, Yuniwaty; Chanan Din, Nabilah binti; Soedirga, Lucia C.
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 9 No. 1 (2025): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v9i2.10385

Abstract

Chitin is a biopolymer that can be extracted from exoskeleton of shrimp shells and other arthropods. One of its derivatives is N-acetylglucosamine that is comprised of glucose and amino acid glutamine. N-acetylglucosamine is known for its health effect, particularly in the treatment of osteoarthritis symptoms. One of the methods to produce N-acetylglucosamine is by fermentation using chitinolytic microorganisms. The aim of this research was to determine the optimum condition (pH, ratio of bacteria, fermentation time, and temperature) for fermentation using the combination of Providencia stuartii and Salmonella enterica to produce N-acetylglucosamine. The research was conducted at different pH (5, 6, 7, 8, 9) and bacterial ratios (3:1, 1:1 and 1:3). Furthermore, the optimum incubation temperature (30, 37, 40oC) and fermentation time (1, 2, 3 and 4 days) were also evaluated. The results showed the optimum condition was achieved at pH 8 with bacterial ratio of 1:1, incubated at 37oC for 3 days.  Under these conditions, N-acetylglucosamine concentration obtained was 87,707.04 ± 906.54 ppm.
Pemanfaatan Buah Leunca (Solanum nigrum L.) Dalam Pembuatan Minuman Sari Buah (Utilization of Black Nightshade (Solanum nigrum L.) in the Making of Fruit Juice) Halim, Yuniwaty; Effendi, Diana; Nurwitri, Caecilia C.
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 1 No. 2 (2018): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Black nightshade (Solanum nigrum L.) fruit contains many antioxidant compounds, however, utilization of black nightshade as food or beverage product has not been much studied. The research was aimed to determine sugar concentration and acid source used in black nightshade juice making to obtain a product that is acceptable for the panelists and to observe the black nightshade juice quality changes during storage. Sugar concentration used were 10%, 12.5%, and 15%. Acids used were from citric acid, belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) and lime (Citrus aurantifolia). It was found that the selected formulation was black nightshade juice added with 15% of sugar concentration and acid added from belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi). This formula has acceptance value of 4.41± 1.357  and the IC50 value of 2118.0582 ± 96.3983 mg/L. Storage was done for 6 weeks in refrigerated temperature. During storage, quality of black nightshade juice decreased after 2 weeks, observed from decrease in its antioxidant activity, total phenolic and flavonoid compound.  
KARAKTERISTIK EDIBLE FILM DARI KULIT KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) DAN UMBI PORANG (Amorphophallus muelleri Blume) [CHARACTERISTICS OF EDIBLE FILM FROM ROBUSTA COFFEE’S SILVER SKIN (Coffea canephora) AND PORANG TUBER (Amorphophallus muelleri Blume)] Halim, Yuniwaty; Katherina, Livia
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 2 No. 2 (2019): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coffee silver skin contains pectin, while porang tuber contains glucomannan which can be utilized in edible film making. The aim of this research was to determine the concentrattion of glycerol as a plasticizer and pectin: glucomannan ratio to obtain edible film with the best characteristics. Edible film was made by combining 4 level of glycerol concentration (0%, 1%, 2%, 3%), and 3 level of pectin: glucomannan ratio (1:1, 3:4, 4:3). The best formulation from this research was edible film made from pectin: glucomannan with ratio of 3:4 and 1% glycerol concentration. Selected edible film formulation has thickness of 0.11±0.1 mm, tensile strength of 2.05± 0.04 MPa, elongation of 40.13±0.39% and water vapor transmission rate of 3.50±0.02 g mm/ m2h.BAHASA INDONESIA ABSTRAK:Kulit kopi mengandung pektin, sedangkan umbi orang mengandung glukomanan, sehingga keduanya dapat dimanfaatkan untuk pembuatan edible film. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi gliserol sebagai plasticizer dan ratio pektin: glukomanan terbaik untuk memperoleh edible film dengan karakteristik terbaik. Edible film dibuat dengan mengkombinasikan 4 level konsentrasi gliserol (0%, 1%, 2%, 3%) dan 3 level rasio pektin: glukomanan (1:1, 3:4, 4:3). Formulasi terbaik dari penelitian ini adalah edible film yang dibuat dari rasio pektin: glukomanan sebesar 3:4 dan konsentrasi gliserol sebesar 1%. Edible film terpilih ini memiliki ketebalan sebesar 0,11±0,1 mm, kuat tarik sebesar 2,05± 0.04 MPa, elongasi sebesar 40,13±0,39%, dan laju transmisi uap air sebesar 3,50±0,02 g mm/ m2.jam.
IMOBILISASI KITINASE INTRASELULER Providencia stuartii DENGAN KALSIUM ALGINAT DAN APLIKASINYA DALAM PRODUKSI N-ASETILGLUKOSAMIN Halim, Yuniwaty
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 3 No. 1 (2019): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kitin, polimer linier yang terdiri dari unit ß-1,4-N-asetilglukosamin, ditemukan secara alami pada cangkang udang dan dapat diubah menjadi glukosamin, yang memiliki fungsi yang luas, khususnya di bidang kesehatan untuk mengobati penyakit pada sendi. N-asetilglukosamin (NAG), salah satu bentuk glukosamin, dapat dihasilkan melalui fermentasi kitin menggunakan mikroorganisme kitinolitik seperti kapang atau bakteri. Produksi kitinase oleh Providencia stuartii telah dipelajari, namun imobilisasi kitinase untuk produksi NAG belum secara langsung dievaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh rasio antara kitinase intraselular dan support menggunakan alginat dan pengaruh banyaknya siklus fermentasi terhadap aktivitas enzim kitinase intraseluler yang diimobilisasi dan produksi NAG dari kitin yang diperoleh dari cangkang udang Penaeus monodon. Rasio kitinase: support yang digunakan adalah 1:1, 1,5:1, dan 2:1. Rasio 2:1 menghasilkan aktivitas enzim tertinggi, yaitu sebesar 2,030 ± 0,0405 U/ml. produksi NAG tertinggi diperoleh dari siklus fermentasi pertama yang menghasilkan konsentrasi NAG sebesar 1347,7778 ± 50,1848 ppm. Kitinase intraseluler yang diimobilisasi dengan alginat dapat digunakan hingga 4 siklus fermentasi dengan aktivitas enzim yang dipertahankan adalah sebesar 66,91%.
PRODUKSI N-ASETILGLUKOSAMIN DARI KULIT UDANG MENGGUNAKAN KITINASE EKSTRASELULER DARI Providencia stuartii Halim, Yuniwaty; Cynthia, Cynthia; Hardoko, Hardoko; Handayani, Ratna
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 3 No. 2 (2020): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cangkang udang tersusun dari kitin. Salah satu turunan kitin, yaitu glukosamin, biasanya terdapat dalam bentuk N-asetilglukosamin dan dapat diproduksi melalui fermentasi enzimatis terhadap kitin dengan menggunakan mikroorganisme kitinolitik. Salah satu bakteri kitinolitik adalah Providencia stuartii. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kondisi fermentasi optimum, yaitu pH, suhu, konsentrasi substrat, dan lama inkubasi, untuk memproduksi N-asetilglukosamin menggunakan kitinase ekstraseluler dari Providencia stuartii. pH yang digunakan dalam fermentasi adalah 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9, sedangkan suhu yang digunakan adalah 30, 40, 50, 60, 70 and 80oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitinase ekstraseluler kasar memiliki aktivitas optimum pada pH 5 dan suhu 40oC, yaitu berturut-turut sebesar 3,23 ± 0,06 U/ml dan 3,42 ± 0,06 U/ml. Kitinase ekstraseluler semi murni memiliki aktivitas optimum pada pH 7 dan suhu 40oC, yaitu berturut-turut sebesar 4,74 ± 0,06 U/ml and 4,44 ± 0,06 U/ml. Selanjutnya, konsentrasi kitin sebagai substrat yang digunakan adalah sebesar 0,5; 1; 1,5; dan 2% dengan lama inkubasi 2, 4, 6, dan 24 jam. Konsentrasi N-asetilglukosamin tertinggi diperoleh setelah lama inkubasi 6 jam dengan konsentrasi substrat sebesar 1%, yaitu sebesar 933,89 ± 12,55 ppm menggunakan kitinase ekstraseluler kasar dan 1050,56 ± 12,54 ppm menggunakan kitinase ekstraseluler semi murni.