Pendekatan suatu organisasi untuk menjamin kesehatan dan keselamatan karyawannya dikenal sebagai "budaya keselamatan". Nilai, keyakinan, sikap, dan perilaku terkait keselamatan di tempat kerja semuanya merupakan bagian dari budaya ini. Pekerja dilatih dan diinstruksikan untuk menempatkan kesehatan dan keselamatan mereka sendiri serta rekan kerjanya sebagai prioritas utama dalam budaya keselamatan kerja. Studi ini menggunakan pendekatan PRISMA sebagai Tinjauan Literatur Sistematis. Kata kunci berikut digunakan untuk menemukan artikel: faktor-faktor yang berhubungan dengan budaya keselamatan dan budaya keselamatan. Lima artikel relevan ditemukan dari pencarian literatur yang dilakukan menggunakan basis data jurnal Google dan Google Scholar. Kriteria inklusi meliputi artikel penelitian yang dilakukan di Indonesia, dipublikasikan pada rentang tahun 2021–2025, tersedia dalam teks lengkap, dan relevan dengan topik penelitian. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa budaya keselamatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain perasaan cemas dan takut, komunikasi, kepuasan kerja, persepsi, lingkungan kerja, pengetahuan, sikap, tingkat pendidikan, kepemimpinan, keterlibatan karyawan, kebijakan organisasi, serta pemanfaatan teknologi. Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dalam membentuk perilaku keselamatan di tempat kerja. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan budaya keselamatan memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan individu, organisasi, serta dukungan sistem dan kebijakan. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi referensi dalam pengembangan program keselamatan kerja di berbagai sektor di Indonesia. Sebagai kesimpulan faktor-faktor yang berhubungan dengan budaya keselamatan yaitu perasaan cemas dan takut, komunikasi, kepuasan kerja, persepsi, lingkungan kerja, pengetahuan, sikap, pendidikan, kepemimpinan, keterlibatan karyawan, kebijakan, dan teknologi. Rekomendasinya adalah diharapkan pekerja menerapkan perilaku budaya keselamatan di tempat kerjanya masing-masing.