Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI PENGAWET ALAMI TERHADAP MUTU NIRA KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis, Jacq.) (The Effect of Type and Concentration Natural Preservative to Palm Oil Neera (Elaeis guineensis, Jacq.)) Muhammad Irham Derza; Terip Karo-Karo; Ridwansyah Ridwansyah
Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian Vol 6, No 4 (2018): Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.098 KB)

Abstract

ABSTRACT   The research conducted to determine the effect of the type and concentration of natural preservative on the quality of palm oil neera. The research had been performed using a completely randomized design with two factors, i.e. the type of natural preservative (J) : (guava leaves), (jackfruit stem), (mangosteen rind), and the concentration of natural preservative (K) : (3%), (5%), (7%) dan (9%). Parameters analized was pH, alcohol content, moisture content, ash content, total soluble solid, total sugar, total acid, total microbes, hedonic organoleptic test on color, aroma, flavor, and consistency. The results showed that the type of natural preservative had highly significant effect on pH, alcohol content, total solid soluble, total sugar, total acid hedonic value of color and had significant effect on ash content and total microbes. The concentration of natural preservative had highly significant effect on pH, alkohol content, ash content, total soluble solid, total sugar, total acid, and total microbes.The interaction of both factors had highly significant effect on pH, total soluble solid, and total sugar. The type of natural preservative of mangosteen rind and the concentration of 9% was the best treatment for the quality of palm oil neera. Keywords: Concentration Of Natural Preservative, Palm Oil Neera, Type Of Natural Preservative ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi pengawet alami terhadap mutu nira kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq). Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu jenis pengawet alami (J) :  (daun jambu biji), (kayu nangka), (kulit manggis), dan konsentrasi pengawet alami (K) : (3%), (5%), (7%) dan (9%). Parameter yang dianalisa adalah pH, kadar air, kadar abu, total padatan terlarut, total gula, total asam, total mikroba, dan uji organoleptik secara hedonik terhadap warna, aroma, rasa dan kekentalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jenis pengawet alami  memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap pH, alkohol, total padatan terlarut, total gula, total asam, nilai hedonik warna dan memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kadar abu dan total mikroba. Konsentrasi pengawet alami memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap pH, alkohol, kadar abu, total padatan terlarut, total gula, total asam, dan total mikroba. Interaksi kedua faktor memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap pH, total padatan, dan total gula. Penambahan pengawet alami kulit manggis dan konsentrasi 9% adalah perlakuan terbaik terhadap mutu nira kelapa sawit.   Kata kunci: Jenis Pengawet Alami, Konsentrasi Pengawet Alami, Nira Kelapa Sawit.
KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK BUBUK ASAM GELUGUR BERDASARKAN TINGKAT KEMATANGAN DAN SUHU PENGERINGAN (Characteristics of Organoleptic Gelugour Powder Based on Maturity Level and Drying Temperature) Poppy Julianty Situmorang; Terip Karo-Karo; Ismed Suhaidi
Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian Vol 6, No 4 (2018): Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.326 KB)

Abstract

ABSTRACK This study was conducted to characteristics of organoleptic gelugour powder based on maturity level and drying temperature. This study used a completely random is factorial design with 2 factor namely the maturity level (T): raw, half-ripe and ripe and S = drying temperature (S): (50 °C), (60 °C), (70 °C). The results showed that the level of maturity had a very significant effect pH value and yield. Drying temperature had a very significant effect on yield and color score; had no significant effect on pH value, hedonic value of color and aroma. The level of maturity raw and drying temperature 50 °C produced the best and more acceptable quality of gelugur powder.   Keyword : Drying temperature, Gelugour, Maturity level.     ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik organoleptik bubuk asam gelugur berdasarkan tingkat kematangan dan suhu pengeringan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 2 faktor yaitu tingkat kematangan (T) : mentah, setengah matang, matang dan S=suhu pengeringan (S) : (50 °C), (60 °C), (70 °C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematangan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata nilai pH dan rendemen. Suhu pengeringan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap rendemen dan nilai skor warna; memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap nilai pH, nilai hedonik warna dan aroma. Tingkat kematangan mentah dan suhu pengeringan 50 °C menghasilkan kualitas bubuk asam gelugur terbaik dan lebih diterima.   Kata kunci : Asam gelugur, Suhu pengeringan, Tingkat kematangan.
PENGARUH SUHU PENGERINGAN DAN LAMA PENGERINGAN BUAH ASAM GELUGUR (Garcinia atroviridis) TERHADAP MUTU ASAM POTONG (The Effect of Asam Gelugur Fruit (Garcinia atroviridis) Drying Temperature and Drying Period on the Quality of Dried Sliced Asam Gelugur) Ade Maharani Manik; Terip Karo-Karo; Linda Masniari Lubis
Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.501 KB)

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect of drying temperature and drying period of the asam gelugur fruit (Garcinia atroviridis) on the quality of dried sliced asam gelugur. The research was designed using a completely randomized design with two factors, i.e the drying temperature (T) : (45 oC, 50 oC, 55 oC, and 60 oC) and the drying period (L): (9, 11, 13, and 15 hours). The drying temperature had highly significant effect on the moisture and, ash contents, total acid, total soluble solid, pH, vitamin C, weight loss, and had no effect on organoleptic hedonic value of flavor and organoleptic score of color. Moreover, the drying period had highly significant effect on the moisture content, total soluble solid, weight loss, and had significant effect on pH, and had no effect on ash content, total acid, vitamin C, organoleptic hedonic value of flavor, and organoleptic score of color. Interaction of the two factors had significant effect on the moisture content, total soluble solid, weight loss, and had no effect on ash content, total acid, vitamin C, organoleptic hedonic value of flavor, and organoleptic score of color.  Drying temperatures of 55 oC and drying period of 15 hours produced the best dried sliced asam gelugur because it has a moisture content that is in accordance with the market and expected nutrient content. Keywords : Asam Gelugur Fruit, Dried Sliced Asam Gelugur, Drying, Garcinia Atroviridis, ABSTRAK   Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu pengeringan dan lama pengeringan buah asam gelugur (Garcinia atroviridis) terhadap mutu asam potong. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor, yakni suhu pengeringan (T) : (45 oC, 50 oC, 55 oC, dan 60 oC) dan lama pengeringan (L) : (9 jam, 11 jam, 13 jam, dan 15 jam). Suhu pengeringan memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar air, kadar abu, total asam, total padatan terlarut, nilai pH, kadar vitamin C, susut bobot, dan memberi pengaruh berbeda tidak nyata terhadap nilai hedonik aroma dan nilai skor warna. Lama pengeringan memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar air, total padatan terlarut, susut bobot, memberi pengaruh berbeda nyata terhadap nilai pH, serta memberi pengaruh berbeda tidak nyata terhadap kadar abu, total asam, kadar vitamin C, nilai hedonik aroma, dan nilai skor warna. Interaksi kedua faktor memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar air, total padatan terlarut, susut bobot, dan memberi pengaruh berbeda tidak nyata terhadap kadar abu, total asam, nilai pH, kadar vitamin C, nilai hedonik aroma, dan nilai skor warna. Suhu pengeringan 55 oC (T3) dan lama pengeringan 15 jam (L4) menghasilkan asam potong dengan mutu terbaik karena memiliki kadar air yang sesuai dengan dipasaran dan kandungan gizi yang diharapkan.   Kata kunci : Asam Gelugur, Asam Potong, Garcinia Atroviridis, Pengeringan.
PENGARUH PENAMBAHAN ASAM KANDIS DAN PERBANDINGAN GUM ARAB DENGAN GELATIN TERHADAP MUTU BUMBU ASAM PADEH INSTAN (The Effect of The Addition of Asam Kandis and Ratio of Arabic Gum and Gelatine on The Quality of Instant Asam Padeh Powder) Amalia Addina; Linda Masniary Lubis; Terip Karo-Karo
Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.987 KB)

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect of drying temperature and drying period of the asam gelugur fruit (Garcinia atroviridis) on the quality of dried sliced asam gelugur. The research was designed using a completely randomized design with two factors, i.e the drying temperature (T) : (45 oC, 50 oC, 55 oC, and 60 oC) and the drying period (L): (9, 11, 13, and 15 hours). The drying temperature had highly significant effect on the moisture and, ash contents, total acid, total soluble solid, pH, vitamin C, weight loss, and had no effect on organoleptic hedonic value of flavor and organoleptic score of color. Moreover, the drying period had highly significant effect on the moisture content, total soluble solid, weight loss, and had significant effect on pH, and had no effect on ash content, total acid, vitamin C, organoleptic hedonic value of flavor, and organoleptic score of color. Interaction of the two factors had significant effect on the moisture content, total soluble solid, weight loss, and had no effect on ash content, total acid, vitamin C, organoleptic hedonic value of flavor, and organoleptic score of color.  Drying temperatures of 55 oC and drying period of 15 hours produced the best dried sliced asam gelugur because it has a moisture content that is in accordance with the market and expected nutrient content. Keywords : Asam Gelugur Fruit, Dried Sliced Asam Gelugur, Drying, Garcinia Atroviridis, ABSTRAK   Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu pengeringan dan lama pengeringan buah asam gelugur (Garcinia atroviridis) terhadap mutu asam potong. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor, yakni suhu pengeringan (T) : (45 oC, 50 oC, 55 oC, dan 60 oC) dan lama pengeringan (L) : (9 jam, 11 jam, 13 jam, dan 15 jam). Suhu pengeringan memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar air, kadar abu, total asam, total padatan terlarut, nilai pH, kadar vitamin C, susut bobot, dan memberi pengaruh berbeda tidak nyata terhadap nilai hedonik aroma dan nilai skor warna. Lama pengeringan memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar air, total padatan terlarut, susut bobot, memberi pengaruh berbeda nyata terhadap nilai pH, serta memberi pengaruh berbeda tidak nyata terhadap kadar abu, total asam, kadar vitamin C, nilai hedonik aroma, dan nilai skor warna. Interaksi kedua faktor memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar air, total padatan terlarut, susut bobot, dan memberi pengaruh berbeda tidak nyata terhadap kadar abu, total asam, nilai pH, kadar vitamin C, nilai hedonik aroma, dan nilai skor warna. Suhu pengeringan 55 oC (T3) dan lama pengeringan 15 jam (L4) menghasilkan asam potong dengan mutu terbaik karena memiliki kadar air yang sesuai dengan dipasaran dan kandungan gizi yang diharapkan.   Kata kunci : Asam Gelugur, Asam Potong, Garcinia Atroviridis, Pengeringan.
KARAKTERISTIK MINYAK AMPAS JAHE PADA TIGA VARIETAS JAHE ( Characterization Oil of Ginger Shreds from Three Varieties of Ginger) Nursarah Nursarah; Ridwansyah Ridwansyah; Terip Karo-Karo
Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian Vol 7, No 2 (2019): Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.705 KB)

Abstract

ABSTRACT The aim of this research was to determine the characteristic oil from shreds ginger. This research was conducted using randomized block design with two factors i.e. quantity of squeezing ginger porridge  (A): (1 time, 2 time, and 3 time) and varieties of ginger (J): (red ginger, giant ginger, and small ginger). The results showed that quantity of squeezing of porridge from ginger had highly significant effect on yield of ginger shred oil and Varieties of ginger also had highly significant effect on yield of ginger shred oil. Identification of ginger oil contents showed the peak from chromatogram give a different equals of peak from β-bisabolen, β-citronellol, Zingiberen atau α-zingiberen, geraniol, and β-seskuiphelandren. Keywords : Ginger Shreds, Varieties, Compound of Essential Oil ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik  minyak ampas jahe yang diperoleh dari hasil pemerasan pati dengan jumlah pemerasan yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 2 faktor ampas jahe yang berasal dari ampas bubur jahe dengan jumlah pemerasan (A): 1 kali, 2 kali, dan 3 kali dengan tiga varietas jahe (J): jahe merah, jahe gajah, dan jahe emprit. Hasil menunjukkan bahwa jumlah pemerasan tiga varietas jahe pada bubur jahe pembuatan pati memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap rendemen minyak ampas jahe yang dihasilkan. Pada hasil identifikasi komponen minyak atsiri yang dihasilkan bahwa setiap perlakuan memberikan nilai tinggi puncak pada hasil kromatogram yang berbeda untuk lima komponen yang berbeda yaitu β-bisabolen, β-citronellol, Zingiberen atau α-zingiberen, geraniol, dan β-seskuiphelandren.   Kata Kunci : Ampas Jahe, Varietas, Komponen Minyak Atsiri
KARAKTERISTIK SENSORI BERAS DAN NASI ANALOG DARI TEPUNG UBI KAYU TERMODIFIKASI, TEPUNG JAGUNG DAN PATI SAGU (Sensory Characteristics of Analog Rice And Cook Analog Rice from Modified Cassava Flour, Corn Flour and Sago Starch) Nurul Siti Fatimah Dewi; Ridwansyah Ridwansyah; Terip Karo-Karo
Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian Vol 7, No 2 (2019): Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.364 KB)

Abstract

ABSTRACT This research had been performed using completely randomized design (CRD) with non-factorial, i.e sieve size of modified cassava flour (A), i.e 40 mesh, 50 mesh and 60 mesh. The purpose of this research was to determine the effect of sieve size of modified cassava flour on sensory characteristic of analog rice and cook analog rice with good quality. The results showed that the sieve size of modified cassava flour had no significant effect on sensory test of color, aroma and overall acceptability of analog rice and sensory test of color, aroma, taste, texture and overall acceptability of cook analog rice. The highest sensory test value of color, aroma and overall acceptability of analog rice was analog rice with modified cassava flour with sieve of 50 mesh. The highest sensory test value of color, aroma, taste, texture and overall acceptability of cook analog rice was cook analog rice with modified cassava flour with sieve size 50 mesh. Keywords : Analog Rice, Cook Analog Rice, Sieve Size   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non-faktorial, yaitu ukuran ayakan tepung ubi kayu termodifikasi (A), dengan A1 = ukuran ayakan 40 mesh, A2 = ukuran ayakan 50 mesh dan A3 = ukuran ayakan 60 mesh. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh ukuran ayakan tepung ubi kayu termodifikasi terhadap karakteristik sensori pada beras dan nasi analog dengan mutu yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh ukuran ayakan tepung ubi kayu termodifikasi memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap nilai hedonik warna, aroma dan penerimaan umum pada beras analog dan nilai hedonik warna, aroma, rasa, tekstur dan penerimaan umum pada nasi analog. Nilai uji organoleptik tertinggi terhadap warna, aroma dan penerimaan umum beras analog yaitu pada A2 (ukuran ayakan 50 mesh). Nilai uji organoleptik tertinggi terhadap warna, aroma, rasa, tekstur dan penerimaan umum nasi analog yaitu pada A2 (ukuran ayakan 50 mesh).   Kata kunci : Beras Analog, Nasi Analog, Ukuran Ayakan
PENGARUH PERBANDINGAN STRAWBERRY DAN ANGGUR MERAH SERTA LAMA PENYIMPANAN TERHADAP MUTU INFUSED WATER (The Effect Ratio of Strawberry and Red Grape and Storage on Quality of Infused Water) Ori Sativa Br.Sinaga; Rona J. Nainggolan; Terip Karo-Karo
Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian Vol 7, No 3 (2019): Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.38 KB)

Abstract

ABSTRACInfused water was the drink made by soaking fruit in the cooled water for about a night in the refrigerator. This study was aimed to study of vitamin C content, sugar content, total microbes, pH value, total acid, total dissolved solids, and organoleptic of the infused water. This study used a Completly Randomized Design (CRD), with two factors. The first factor was the ratio of strawberries with red grapes (80:20, 60:40, 40:60, 20:80) and the second factor was the length of storage (0 days, 2 days, 4 days, 6 days, 8 days). The results showed that the combination of strawberry treatment with red wine with a ratio of 80:20 for 0 days had the best quality. The characteristics of this infused water were; vitamin C levels 7.3316 mg / 100 g; total sugar content of 9,658%; pH 4,3688; total acid 0.9140%; total dissolved solids 4,625oBrix; microbial total of 4,0250 CFU / g; hedonic color 4.14; hedonic aroma 4.36; numeric color 4.00; numerical aroma of 3.99. The length of storage and ratio of strawberries with red wine had a very significant effect on pH values, total dissolved solids, total sugar, microbial total, total acid, vitamin C levels, hedonic organoleptic values ​​of color and aroma, and organoleptic values ​​of color and aroma scores.  Keywords: Infused Water, Strawberry, Red Grape.   ABSTRAK Infused water adalah minuman yang dibuat dengan cara perendaman buah dalam pendingin air selama semalam di lemari es. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  kadar vitamin C, kadar gula total, total mikroba, pH, total asam, total padatan terlarut, dan uji organoleptik infused water. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan dua faktor. Faktor yang pertama perbandingan strawberry dengan anggur merah (80:20, 60:40, 40:60, 20:80) dan faktor yang kedua lama penyimpanan (0 hari, 2 hari, 4 hari, 6 hari, 8 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan strawberry dengan anggur merah dengan perbandingan 80:20 selama 0 hari memiliki mutu terbaik. Karakteristik dari infused water ini yaitu; kadar vitamin C 7,3316 mg/100 g; kadar gula total 9,658%; pH 4,3688; total asam 0,9140%; total padatan terlarut 4,625oBrix; total mikroba 4,0250 CFU/g; hedonik warna 4,14; hedonik aroma 4,36; numerik warna 4,00; numerik aroma 3,99. Lama penyimpanan dan perbandingan strawberry dengan anggur merah memberi pengaruh sangat nyata terhadap nilai pH, total padatan terlarut, total gula, total mikroba, total asam, kadar vitamin C, nilai organoleptik hedonik warna dan aroma, serta nilai organoleptik skor warna dan aroma.   Kata kunci : Infused Water, Strawberry, Anggur Merah.
PENGARUH KALSIUM HIDROKSIDA DAN LAMA PENGERINGAN TERHADAP KARAKTERISTIK MUTU SUKADE LAPISAN ENDODERMIS KULIT BUAH NAGA (Hylocereus polyrhizus) (The Effect of Calcium Hydroxide and Drying Time on the Quality Characteristics of Sukade of endodermic layer o Ria Angelina Tobing; Linda Masniary Lubis; Terip Karo-Karo
Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian Vol 7, No 3 (2019): Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.365 KB)

Abstract

ABSTRACT The aim of this research was to determine the effect of calcium hydroxide and drying time on the quality characteristics of the endodermic layer of dragon fruit skin (Hylocereus polyrhizus). This research was using factorial Completely Randomized Design with two factors, i. e: calcium hydroxide (K) : (0; 0,5%; 1%; 1,5%; 2%) and drying time combination (P) (8 hours; 10 hours; 12 hours). The results showed that calcium hydroxide had highly significant effect on moisture content, ash content, vitamin C content, total dissolved solids, color hedonic values, texture hedonic values, color score values, texture score values ​​and gave a significantly effect on crude fiber content. The interaction of calcium hydroxide and duration of drying gave highly significant different effects on the value of vitamin C levels, texture score values. 1.5% calcium hydroxide and 12 hours drying time produce the best and most acceptable quality of dragon fruit skin. The results of observations of dragon fruit bark with the best quality showed that the dragon fruit peel had 36.3711% total sugar content which showed the total sugar content in sukade products according to the standard. Keywords : Calcium Hydroxide, Dragon Fruit Skin, Drying Time, Sukade ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kalsium hidroksida dan lama pengeringan terhadap karakteristik mutu sukade lapisan endodermis kulit buah naga (Hylocereus polyrhizus). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 2 faktor yaitu kalsium hidroksida (K) : (0; 0,5%; 1%; 1,5%; 2%) dan lama pengeringan (P) : (8 jam; 10 jam; 12 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalsium hidroksida memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap terhadap kadar kadar air, kadar abu, kadar vitamin C, dan nilai skor tekstur dan memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kadar total padatan terlarut, nilai hedonik rasa, dan nilai hedonik tekstur. Lama pengeringan memberikan pengaruh pengaruh berbeda sangat nyata terhadap kadar air, kadar abu, kadar vitamin C, total padatan terlarut, nilai hedonik warna, nilai hedonik tekstur, nilai skor warna, nilai skor tekstur dan memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kadar serat kasar. Interaksi kalsium hidroksida dan lama pengeringan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap nilai kadar vitamin C, nilai skor tekstur. Kalsium hidroksida 1,5% dan  lama pengeringan 12 jam menghasilkan kualitas sukade kulit buah naga terbaik dan dapat diterima. Hasil pengamatan sukade kulit buah naga dengan mutu terbaik menunjukkan sukade kulit buah naga memiliki kadar total gula 36,3711% yang menunjukkan kadar total gula pada produk sukade sesuai standar. Kata Kunci : Lama Pengeringan, Kalsium Hidroksida, Kulit Buah Naga, Sukade   i
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA SOBICOS FLAKES SEBAGAI MAKANAN BERINDEKS GLIKEMIK RENDAH (Physicochemical Characteristics of Sobicos Flakes as Suplement low glycemic index) Ade Putri Sihotang; Terip Karo-Karo; Zulkifli Lubis
Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian Vol 7, No 4 (2019): Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian
Publisher : Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.628 KB)

Abstract

The aim of this research was to determine the effect of bran, sorghum flour, and wheat  flour on nutritional content of flakes and the value of glycemic index of  flakes as food low glycemic index. The formulation of bran, sorghum flour, wheat flour i.e. 25% : 55% : 20%, 30% : 50% : 20%, 35% : 45% : 20%, 40% : 40% : 20%, 45% : 35% : 20%, 50% : 30% : 20%, dan 55% : 25% : 20%, in this research has been found an analysis of physics characteristic i.e. color index and texture test, chemical characteristic i.e. carbohydrate content and crude fiber content. The formulation of bran, sorghum flour, wheat flour in flakes which had best quality and the best response of consumer was the flakes with ratio of 45% bran, 35% sorghum flour, and 20% wheat flour, the result of the glycemic index value of the best flakes was 54,9205 mg/dl which was classified as a low glycemic index. Key words : Bran, Flakes, Glycemic Index, Sorghum Flour ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan bekatul, tepung sorgum, dan tepung terigu terhadap kandungan gizi  flakes dan nilai indeks glikemik  flakes sebagai makanan berindeks glikemik rendah. Perbandingan bekatul, tepung sorgum, dan tepung terigu yaitu 25% : 55% : 20%, 30% : 50% : 20%, 35% : 45% : 20%, 40% : 40% : 20%, 45% : 35% : 20%, 50% : 30% : 20%, dan 55% : 25% : 20%, pada penelitian ini telah dilakukan analisis terhadap karakteristik fisik yaitu indeks warna dan uji tekstur serta karakteristik kimia yaitu kadar karbohidrat dan kadar serat kasar. Formulasi perbandingan bekatul, tepung sorgum, dan tepung terigu dalam flakes dengan mutu dan penerimaan konsumen yang terbaik adalah flakes dengan perbandingan 45% bekatul, 35% tepung sorgum, dan 20% tepung terigu, menghasilkan nilai indeks glikemik flakes perlakuan terbaik sebesar 54,9205 mg/dl yang tergolong pada indeks glikemik rendah.   Kata kunci : Bekatul,  Flakes, Indeks Glikemik, Tepung Sorgum
PERBAIKAN PROSES PENGERINGAN DAN PENGEMASAN KERUPUK OPAK DI PANCUR BATU Ridwansyah Ridwansyah; Elisa Julianti; Terip Karo Karo
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2018: 2. Penguatan Inovasi Teknologi (Pangan, Pertanian, Energi, Transportasi) Bagi Pemerintah Daera
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.279 KB)

Abstract

Industri opak di Pancur Batu ini masih belum menggunakan kemasan untuk memasarkan opaknyasehingga sangat mudah terkontaminasi dan menyerap air kembali kalau udara sekitarnya lembab.Pengeringan juga masih penjemuran langsung dengan matahari.Untuk mengatasi persoalan diatas,perlu dilakukan perbaikan proses pengeringan opak dan diikuti dengan pengemasan opak yangakan dipasarkan. Penerapan iptek yang dilakukan yaitu penjemuran langsung matahari digantisecara bertahap dengan pengeringan surya. Pengemasan dilakukan dengan menggunakan plastikyang di paking. Pengeringan opak dengan alat pengering surya dan penjemuran matahari dilakukan pengukuran laju pengeringannya dengan waktu 8 jam dihasilkan opak dengan kadar air masing-masing sebesar 7,6 % dan 9,56%. Setelah 2,5 bulan penyimpanan dengan metode pengemasan yang berbeda opak tersebut dianalisa. Kadar air masing-masing menjadi 11,98% untuk opakyang dikemas dengan pelastik dan 13,72% untuk opak yang dikemas dengan goni biasa. Kadarabu adalah sama sebesar 2,16 (%bk) dan TPC masing-masing sebesar 67,86 dan 95,42koloni/gram. UKM telah memproduksi dan menjual opak ukuran kemasan 200 g dijual dengan hargaRp 2.000,- ukuran 500 g dengan harga Rp 4500,- dan ukuran 1000 g dengan harga Rp 9.000,-.Sangat berbeda jika UKM menjual dengan kemasan goni opak dijual dengan harga Rp 7000,- perkg. Terjadi Peningkatan nilai jual Rp 2.000,-/kg. Pemasaran opak kemasan pelastik UKM perminggu100 kg, jadi kalau penjualan perbulan mencapai 400 kg maka akan diperoleh harga penjualan Rp800.000,-. Jika biaya kemasan 10% dari harga jual yaitu sebesar Rp 360.000,-, akan diperoleh nilaitambah sebesar Rp 440.000,- perbulan.
Co-Authors Ade Maharani Manik Ade Putri Sihotang Alex Frans GL Tobing Alex Septia Rusli Amalia Addina Arfian Saputra Atania Br Tarigan Ayu Lumbantoruan Azhar Husni Bangun, Inesta Rosani Beby Yunita Br Hutagalung, Sarah Helena Brananda Hasiholan Perangin-angin Debora Agnesty Desy Lyan Sari Simanjuntak Dona Bastanta Donald S Napitupulu Dyna Juniaty Edy Syahputra Harahap Elisa Julianti Elisa Julianti Elisa Julianti Era Yusraini Fachry Wirathama, Syahrinal Anggi Daulay Halimatuddahliana Fadiah Syahfitri Gilang Permata Sari Guntur Kurniawan Hasibuan Hengky Irawan Herla Rusmarilin Herla Rusmarilin Herla Rusmarilin Herla Rusmarilin Herla Rusmarilin Hutabarat, Nauas Domu Marihot Romauli Indah Novita Sari M. Ismed Suhaidi Ismed Suhaidi Ismed Suhaidi Ismed Suhaidi Ismed Suhaidi Ismed Suhaidi Joel Mika Silalahi Julianti, Elisa Juwita Tiarma Khatarina Lubis Karina Nola Sinamo Khasya Rahmi Sitompul Kosasih, Sofia Winnie Lasma Nora Limbong Linda Masniari Lubis Linda Masniary Lubis Linda Masniary Lubis Linda Masniary Lubis Linda Masniary Lubis Linda Masniary Lubis Liston Preddy Pasaribu Memori SRY Citra R Gulo Michael Simanjuntak Muhammad Idris Muhammad Irham Derza Mutiah Mutiah Nia Rizki Paramida Nurita Lastri Tampubolon Nursarah Nursarah Nurul Siti Fatimah Dewi Ori Sativa Br.Sinaga Poppy Julianty Situmorang Pratama, Santi Princen Rumahorbo Randi Fernando Sitorus Ria Angelina Tobing Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Ridwansyah Rini Hardiyanti Romauli, Nauas Domu Marihot Rona J. Nainggolan Rona J. Nainggolan Rona J. Nainggolan Rudi Ardiansyah Sartika Maranata Lumbangaol Sentosa Ginting Sentosa Ginting Sentosa Ginting Septian Ruri Septyan Aindr Irawan Silaban, Rutdiani Sinaga, Hotnida Sirait, Dielsie Naomi Ekaputri Sri Efriyanti Harahap Suchi Andriani Maqfirah Lubis Veronica, Afryna Winda Widyastuti Zulkifli Lubis Zulkifli Lubis Zulkifli Lubis