Claim Missing Document
Check
Articles

GAMBARAN TINGKAT STRES MAHASISWA Putri Dewi Ambarwati; Sambodo Sriadi Pinilih; Retna Tri Astuti
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 5, No 1 (2017): Mei 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.466 KB) | DOI: 10.26714/jkj.5.1.2017.40-47

Abstract

masalah yang banyak dialami oleh usia dewasa awal yaitu harus membuat keputusan mengenai karir, pernikahan, stres pekerjaan & keluarga, ansietas, dan depresi. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya stres yaitu faktor internal dan eksternal, faktor eksternal terdiri dari keadaan fisik, konfik, emosional, dan perilaku. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan pekerjaan, lingkungan masyarakat, lingkungan keluarga, masalah ekonomi, dan masalah hukum. Beban stres yang dirasa berat dapat memicu seseorang untuk berperilaku negatif, seperti merokok, alkohol, tawuran, seks bebas bahkan penyalahgunaan napza. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik mahasiswa tingkat akhir dan mengetahui tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas Muhammadiyah Magelang. Penelitian ini menggunakan desain deskritif kualitatif dengan pendekatan cross sectional dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sampel sebanyak 101 mahasiswa. Instrument yang digunakan adalah kuesioner. Hasil penelitan menunjukkan bahwa rata-rata usia mahasiswa 22,01 tahun. Rata-rata masa studi untuk program Diploma III (D3) adalah 6,00 semester, untuk program Sarjana (S1) rata-ratanya adalah 8,05 semester. Tingkat stres pada mahasiswa menunjukkan stres ringan sebanyak 35,6%, stres sedang 57.4 %, dan stres berat sebanyak 6,9 %. Tingkat stres tertinggi dialami oleh jenis kelamin perempuan dengan hasil stres sedang 33,6 %, dan tingkat stres berat 4,0%. Gambaran tingkat stres pada mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Magelang menunjukkan stres sedang sebanyak 33,6 %. Kata Kunci: Mahasiswa, Stres THE DESCRIPTION OF STRES LEVELS INCOLLEGE STUDENT ATMUHAMMADIYAH UNIVERSITY MAGELANG ABSTRACTThe problem that many experienced by the early adult age is having to make decisions about career, marriage, job & family stres, anxiety, and depression. Factors that because stres are internal and external factors, external factors consist of physical condition, conflicts, emotional, and behavior. While external factors consist of physical environment, work environment, community environment, family environment, economic problems, and legal issues. Heavily burdened stres can trigger a person to behave negatively, such as smoking, alcohol, brawl, free sex and even drug abuse. This study aims to determine the characteristics of college student and know the level of stres in the college student at the university of muhammadiyah magelang. This research used descriptive qualitative design with cross sectional approach with sampling technique using purposive sampling, 101 college student samples. Instrument used is a questionnaire. Indicated that the average age of college student was 22.01 years. The average duration of program for Diploma III (D3) was 6,00 semesters. For the undergraduate program (S1) the average was 8.05 semesters. The college student stres level showed a mild stres of 35.6 %, moderate stres 57.4 %, and severe stres as many as 6.9 %. The highest level of stres experienced by female with moderate stres 33.6 %, and Severe stres 4.0 %. Description of stres level in college student at Muhammadiyah University of Magelang shows moderate stres as much as 33.6%. Keywords: College student, stres
MANAJEMEN KESEHATAN JIWA BERBASIS KOMUNITAS MELALUI PELAYANAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA KOMUNITAS DI WILAYAH DINAS KESEHATAN KABUPATEN MAGELANG Sambodo Sriadi Pinilih; Retna Tri Astuti; Muh. Khoirul Amin
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2015: Prosiding Bidang MIPA dan Kesehatan The 2nd University Research Colloquium
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.852 KB)

Abstract

Based on Riskesdas at 2007, Magelang district are in the third rank for prevalence of mental disorders in the population Regency / City in Central Java province. Magelang district was ranked fourth highest for data that deprived people with mental disorders in regencies / cities in Central Java (Bakorwil 2) condition until December 2012 reached 32 cases. Magelang Regency has a variety of potential that can be empowered to support improve mental health services in the community, among others, by having 29 health centers as the spearhead of the provision of health services in the community. There are two public hospitals and one mental hospital, and there are some private hospital and private health clinics. Magelang district health centers in the region have had the nurse in charge of the community mental health program, but the program is not running and there is no allocation of funds related to community mental health programs. Efforts are undertaken to improve mental health nursing services in the community in the form of socialization of mental health and nursing intervention, training for nurses responsible for the mental health program in health centers and training cadres Mental Health (KKJ), as well as the provision of counseling on mental health for the community, especially for families of people with mental disorders. The results obtained from the implementation of the program which has trained 29 health center nurse in charge of mental health programs, has trained 231 people KKJ, detected 85 cases ODGJ health centers in 6 regions designated as target areas. And thereafter the program period 2014-2015 resulted in the level of knowledge KKJ 81% in the high category and 84.5% have a good attitude towards mental health issues. While knowledge is high for understanding the family in caring ODGJ (78.9%).Keywords: Mental health community, Cadre of Mental Health
The Effectiveness of Basic Dance Movement Therapy on the Completeness of Motoric Skill in Preschool Children Sambodo Sriadi Pinilih; M. Khoirul Amin; Evi Rositasari
Jurnal Kesehatan Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngesti Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46815/jkanwvol8.v10i1.113

Abstract

Motor development is one aspect of development that can integrate the development of other aspects. If the developmental aspect is not stimulated, the child's development will be delayed, so the child will have difficulty in following the learning process in elementary school. Basic Dance Movement Therapy is the provision of independent therapy. This study aims to determine the effectiveness of Basic Dance Movement Therapy on the Completeness of Motoric Skill in Preschool Children. This study used quasi-experimental with one group pre-post design. The sampling technique was Proportionate Stratified Random Sampling with a sample size of 58 children studying at Aisyiyah Playgroup, at Jamblang, Kaliabu Village, Salaman District and Az-Zahra NU Playgroup, Salaman District. Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis with the Wilcoxon statistical test. There was a significant effectiveness of Basic Dance Movement Therapy and the completeness of motor skills of preschool children in Aisyiyah Playgroup, Jamblang, Kaliabu Village, Salaman District and Az-Zahra NU Playgroup,  Salaman, with a p-value of 0.000 (p <0.05). Basic Dance Movement Therapy is effective to improve the children's motoric skills. Suggestion: This study can be used as the basic for further research, namely modified therapy under normal conditions or combined with other methods that can be done online or offline.
Iptek Mitigasi Sampah Plastik Pada Sekolah Dasar Di Kecamatan Mertoyudan Rasidi Rasidi; Galih Istiningsih; Sambodo Sriadi Pinilih
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 9, No 2 (2020): November
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v9i2.43414

Abstract

Kurangnya kesadaran sebagian masyarakat tentang lingkungan, seperti membuang sampah plastik sembarangan dapat menyebabkan berbagai masalah dan berbagai penyakit. Program mitigasi ini dilakukan untuk mengurangi bahayanya, Tujuannya adalah mampu menyusun langkah – langkah produktif sehingga gerakan mitigasi sampah plastik dan aspeknya membudaya di masyarakat. startegi pelatihan berbasis personal, berorientasi sosial yang tujuannya mengubah, pemikiran, pengetahuan, sikap dan tindakan seseorang. Tahapan kegiatannya: 1) Membangun kesadaran pribadi dengan pedekatan personal, diharapkan mampu mengubah Pemikiran, Sikap, perilaku kesadaran bahaya sampah plastik. 2) Membangun kesadaran kolektif yang berorientasi lingkungan. 3) Membangun kesadaran masyarakat, berbasis budaya sosial. 4) Best Practices dengan aktualisasi hasil tindakan. Keberhasilan program adalah dilaksanakannya model pelatihan mitigasi sampah plastik di sekolah. Hasil pengabdian ini adalah 1) Pengetahuan guru meningkat dari hasil pengukuran rata – rata pretest 60% sedangkan postest 79%, berhasil meningkatkan pengetahuan dengan skala 100 yaitu 18 poin atau 18%. 2) Meningkatnya respon guru terhadap program mitigasi sampah plastik dengan rata – rata respon 79% masuk dalam kategori baik. 3) Meningkatnya respon siswa terhadap program mitigasi dengan rata-rata respon 79.27% masuk kategori baik. Hasil ini menjadi capaian untuk memulai Gerakan mitigasi sampah plastik di sekolah. Hasil ini sebagai bahan untuk meningkatkan program mitigasi sampah plastik yang berdampak pada lingkungan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
PENINGKATAN KESEHATAN JIWA MELALUI PERAN KADER MENUJU KELURAHAN SIAGA SEHAT JIWA Sambodo Sriadi Pinilih; Estrin Handayani; Elza Shelviana; Evi Rositasari; Maulana Aziz
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol 3, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.816 KB) | DOI: 10.33330/jurdimas.v3i2.616

Abstract

Abstract: The problem of disability is now a global health problem. As a result of disability, problems affect the productivity and quality of health of individuals and the community. Persons with disabilities are not just people who have physical disabilities. People with mental disorders (ODGJ) are included in a group of people with disabilities. The stigma of Indonesian society that is still very strong regarding ODGJ is not as strong as that of other people with disabilities. This should not be allowed because it will result in a violation of dignity and value. The purpose of this activity is to establish and optimize the role of Mental Health Cadres (KKJ) in the community who are trained in the early detection of mental disorders in the community. This activity was carried out in the Magelang village in the Central Magelang subdistrict, Magelang city. With a population of 6,441 people, most of the community work in the Magelang village is working in the field of community services, government & individuals. In the 2019 Magelang sub-district has 18 patients with mental disorders. The results of the activities of the formation of mental health cadres (KKJ) in the community trained as many as 15 active cadres and are able to conduct early detection of mental disorders in the community so that the number of ODGJ of Magelang village is known to be 34 people and there are 2 people at risk of mental disorders. After knowing the number of ODGJ cadres implementing to the community one of them by providing psychological knowledge for families and communities.Keywords: disability; mental health cadres; mental disorders Abstrak: Masalah disabilitas saat ini menjadi masalah kesehatan global. Akibat adanya masalah disabilitas mempengaruhi produktivitas dan kualitas kesehatan perseorangan maupun masyarakat. Penyandang disabilitas bukan hanya orang yang mengalami kecacatan fisik saja. Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) termasuk dalam golongan penyandang disabilitas. Stigma masyarakat Indonesia yang masih sangat kuat mengenai ODGJ tidak sekuat pada penyandang disabilitas lainnya. Hal ini tidak boleh dibiarkan karena akan mengakibatkan pelanggaran martabat dan nilai. Tujuan dari kegiatan ini untuk membentuk dan mengoptimalkan peran Kader Kesehatan Jiwa (KKJ) di masyarakat yang terlatih dalam melakukan deteksi dini kasus gangguan jiwa di masyarakat. kegiatan ini dilakukan dengan metode pendampingan kepada kader  serta membantu para kader yang telah melakukan pelatihan tentang kesehatan jiwa. Dalam melakukan deteksi dini gangguan jiwa dimasyarakat dan pemetaan rumah penyandang disabilitas. Hasil kegiatan terbentuknya Kader Kesehatan Jiwa (KKJ) di masyarakat yang terlatih sebanyak 15 kader aktif dan mampu melakukan deteksi dini gangguan jiwa dimasyarakat sehingga diketahui jumlah ODGJ kelurahan magelang sebanyak 34 orang dan resiko gangguan jiwa ada 2 orang. Setelah diketahuinya jumlah ODGJ kader melakukan implementasi ke masyarakat salah satunya dengan cara memberikan pengetahuan psikologis bagi keluarga dan masyarakat.Kata Kunci: disabilitas; gangguan jiwa; kader kesehatan jiwa
Improving the ability of families and patients to prevent recurrence through health education Muhammad Khoirul Amin; Sambodo Sriadi Pinilih
Community Empowerment Vol 7 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.025 KB) | DOI: 10.31603/ce.5325

Abstract

Cadres and families are the closest people to People with Mental Disorders (ODGJ) in public life. However, it should be noted that there are problems experienced by some of the cadres or families, namely the symptoms of ODGJ who experience recurrence. Thus, it is often considered to add to the burden on the family. The purpose of this service activity is to assist families in preventing the recurrence of ODGJ assisted by the role of mental health cadres. This activity starts from determining the determination of ODGJ in Pabelan village, problem formulation, identification of alternative problem solving, preparation, implementation of activities, practice and simulation, mentoring and ends with evaluation. The results of service activities, namely the knowledge and ability of cadres and families increased in preventing recurrence of ODGJ patients after being given health education and mentoring activities.
Gambaran Kecenderungan Perilaku Self-Harm pada Mahasiswa Tingkat Akhir Studi Bilfrans Keyvien Alifiando; Sambodo Sriadi Pinilih; Muhammad Khoirul Amin
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.521 KB) | DOI: 10.56186/jkkb.98

Abstract

Perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm) merupakan kelakuan seseorang untuk menyakiti diri sendiri yang dimulai antar usia 11-15 tahun, dan proporsi tertinggi pada umur 10 tahun sampai 20 tahun dengan berbagai cara tanpa memandang ada atau tidaknya niat dan keinginan bunuh diri. Tindakan ini dilakukan untuk mengurangi ketegangan agar merasa lebih tenang dari perasaan yang tidak nyaman akibat masalah dirasakan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kecenderungan perilaku self-harm pada Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Magelang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan jumlah responden 104 mahasiswa dengan teknik purposive sampling. Data yang diperoleh diolah menggunakan analisis deskriptif SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 56,7% memiliki kecenderungan perilaku self-harm yang didominasi perempuan dengan presentase 47,7%. Mahasiswa yang tidak memiliki coping adaptif dapat berisiko melakukan tindakan self-harm.
Hubungan Keterampilan Sosial dengan Kecemasan Sosial pada Remaja Tunarungu Sambodo Sriadi pinilih
Buletin Kesehatan: Publikasi Ilmiah Bidang kesehatan Vol 2 No 2 (2018): Buletin Kesehatan: Publikasi Ilmiah Bidang Kesehatan
Publisher : AKPER Pasar Rebo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.257 KB) | DOI: 10.36971/keperawatan.v2i2.46

Abstract

important aspects in social and academic life in school-age children. Its physical limitations will be an internal stressor that disputes self-confidence due to disruption of self-esteem. The existence of a special learning curriculum for Children with Special Needs (ABK) consisting of 40% of academic and 60% of social skills becomes a program implemented in Wonosobo SLB. This research was descriptive correlational with cross sectional approach. The sample of this study amounted to 76 people determined were using total sampling techniqueThe purpose of the study was to find out the relationship between social skills and social anxiety. The instrument used was a questionnaire, while the data was processed by the Pearson Correlation Coefficient statistical test. The results of the study show that there is no relationship between social skills and social anxiety. The discussion of the results of the research can be done because the research subjects who are in a dormitory environment that get attention and foster sustainable social skills from caregivers and depend on peer communities with the same problems provide comfort. In conclusion, research needs to be done at the time and different data collection as a comparison.
Hubungan Spiritualitas dengan Kecemasan Perawat dalamMenangani PasienCOVID 19 di RSUD Temanggung Nurul Fitri Hidayati; Sambodo Sriadi Pinilih; Retna Tri Astuti
Buletin Kesehatan: Publikasi Ilmiah Bidang kesehatan Vol 6 No 1 (2022): Buletin Kesehatan: Publikasi Ilmiah Bidang Kesehatan
Publisher : AKPER Pasar Rebo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.628 KB) | DOI: 10.36971/keperawatan.v6i1.105

Abstract

Background: The number of phenomena in covid cases continues to increase from day to day so that health workers as the front line are increasingly stressed due to the increasing workload, worrying about their health, and their families. For health workers, the consequences of this pandemic have caused many physical and psychological impacts, psychological impacts such as anxiety. Good spirituality will have a positive impact on reducing anxiety for nurses who treat patients. Objective: This study aims to determine whether there is a relationship between spirituality and nurse anxiety in dealing with Covid-19 patients at Temanggung Hospital. Methods: Using a quantitative research design with a Cross Sectional approach, using a sample of 90 respondents. The instrument used is a spiritual level questionnaire using the Daily Spiritual Experience Scale (DSES) and an anxiety level questionnaire using a Self Reporting Questionnaire (SRQ 20). The data was processed using the Spearman Rank Statistical Test. Result: there is a significant relationship between spirituality level and nurses' anxiety in dealing with COVID-19 patients at Temanggung Hospital with a value (p = 0.000). Conclusion: Good spirituality will show no anxiety, and bad spirituality will show anxiety. Suggestion: it is hoped that it can improve the professionalism of nurses, especially in improving the spirituality of nurses so that nurses' anxiety in dealing with Covid-19 patients can be minimized.
Peran Kader Kesehatan Masyarakat terhadap Resiliensi Remaja Melahirkan di Kecamatan Pakis Sri Margowati; Sambodo Sriadi Pinilih
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 7th University Research Colloquium 2018: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1778.358 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui peran kader kesehatan masyarakatdalam membantu remaja melahirkan menjalani kehidupannya. Kemampuandan aktivitas kader dilakukan secara terencana melalui arahan bidan desa.Terpilih 11 Desa dari 20 desa yang ada di wilayah kecamatan Pakisdidasarkan pada kasus remaja melahirkan > 10 kasus pada desa tersebut.Batasan usia melahirkan remaja dalam penelitian ini adalah perempuan usia< 20 tahun didasarkan bahwa kehamilan dan persalinan dengan resiko tinggi(risti) terjadi pada perempuan usia < 20 tahun dan > 35 tahun. Informasidiperoleh melalui kuesioner untuk mengukur kemampuan umum kader dalammemberikan layanan kesehatan dan pengembangan masyarakat dankemampuan dalam kasus remaja melahirkan serta wawancara mendalam.Peran kader diukur sebelum dan sesudah dilakukan wawancara mendalamdalam jeda waktu satu minggu. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas kaderdalam memberikan motivasi, memantau kesehatan ibu dan anak sertakerjasama mempunyai selisih frekwensi (d) dengan nilai negatif. Uji nonparametrik Mann-Whitney menunjukan nilai p 0,027 terdapat hubunganbermakna pada pengukuran pre-post, dimana terjadi perubahan peran kaderdalam memberikan layanan kesehatan dan pengembangan masyarakat diwilayah tersebut. Hasil pengukuran terhadap kasus remaja melahirkandiperoleh hasil memberikan bimbingan, lindungan dan arahan dihasilkanselisih frekeunsi (d) dengan nilai negatif pada pemberian bimbingan danlindungan, sedangkan dalam memberikan arahan memiliki nilai positif. Uji tdengan nilai p:0,081 tidak terdapat signifikasi yang bermakna aktivitas kadertidak menunjukkan perubahan sebelum dan sesudah pengukuran. Perubahanyang nampak terdapat pada aktivitas kader dalam memberi arahan terhadapremaja melahirkan (positif) bekerjasama dengan pihak lain seperti sekolah,Puskesmas, organisasi remaja menunjukkan upaya kader untuk lebihmendewasakan usia kehamilan dan persalinan. Wawancara mendalamdiperoleh anggapan kader terhadap kasus kehamilan dan persalinan di usiadini disebabkan karena budaya atau tradisi masyarakat setempatmenganggap usia dan pendidikan pada anak perempuan dianggap cukupsetelah lulus SLTP (16 tahun). Selain itu remaja yang mengalami kehamilandan persalinan dianggap sebagai masalah privasi keluarga. Peran danaktivitas kader cukup positif. Pengembangan masyarakat seperti memberikanbimbingan, perlindungan pada remaja melahirkan belum menjadi prioritassehingga resiliensi remaja masih perlu ditingkatkan.