Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

DORMANSI ORGANISASI DI ERA GLOBALISASI WARDANI, ARI KUSUMAH
Moderat: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan Vol 4, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Galuh Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.833 KB) | DOI: 10.25147/moderat.v4i3.1691

Abstract

Perkembangan dan kemajuan zaman memaksa sebuah organisasi untuk adaptif terhadap segala perubahan, baik perubahan dari lingkungan internal maupun dari lingkungan eksternal. Tidak jarang dengan perubahan yang terjadi secara signifikan banyak organisasi yang sulit adaptif dan menjadi tidak produktif, serta akhirnya tidak dapat mencapai keberhasilan. Banyak faktor yang menjadi penghambat bagi organisasi untuk maju dan berkembang. Sehingga dalam penelitian deskriptif kualitatif ini penulis mencoba menganalisis sampai dengan hal yang mikro. Faktor penghambat dari organisasi untuk maju, diantaranya blockage organisasi dan uncreative organization. Selain itu, hal tersebut dapat menyebabkan organisasi semakin mengalami kemunduran. Beberapa faktor yang menyebabkannya, yaitu: (1) Pemimpin hanya sibuk dengan kepentingan lain dan mengindahkan kepentingan yang penting untuk kemajuan organisasi;(2) Adanya kegagalan dalam membuat sebuah produk kebijakan dan menghambat pada pelayanan terhadap pelanggan;(3) Kurang adaptifnya perusahaan terhadap kemajuan dan perubahan lingkungan eksternal suatu organisasi; (4) Semangat kerja yang rendah dan ditunjukkan oleh rendahnya produktivitas dari pegawai; (5) Penggunaan sumber daya menjadi terpecah karena tidak fokus terhadap program dan kegiatan yang menjadi priorotas; dan (6) Pertanggungjawaban yang tidak jelas menyebabkan beberapa program organisasi menjadi tersendat.  Kata Kunci:   Organisasi, Budaya Organisasi, Efektivitas Organisasi, dan Globalisasi
URGENSI INOVASI PELAYANAN BIDANG ADMINISTRASI PUBLIK DI ERA DISRUPSI Ari Kusumah Wardani
Dinamika : Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara Vol 6, No 2 (2019): Dinamika
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.624 KB) | DOI: 10.25157/dinamika.v6i2.2258

Abstract

Era modern saat ini telah menjadikan pelayanan publik harus mampu beradaptasi dengan perilaku masyarakat yang cenderung menginginkan pelayanan yang efektif dan efisien, serta menginginkan proses birokrasi yang semakin mudah. Adapun permasalahan yang muncul, yakni arah dan sikap dari masyarakat sebagai pengguna jasa dan membutuhkan akan pelayanan jasa sulit diprediksi serta semakin beragam. Metode penelitian yang digunakan mengguankan penelitian kualitatif, yakni penelitian yang menggunakan latar alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa:  (1) Pelayanan publik harus berorientasi pada masyarakat dalam memberikan pelayanan yang baik; (2) Pelayanan publik di era industri 4.0 harus berbasis digital; (3) Inovasi sangat diperlukan agar setiap penyelenggara pelayanan dapat adaptif dengan segala perubahan; (4) Pengembangan sumber daya di setiap lembaga pemerintah harus terus dilakukan dan bersifat berkelanjutan; dan (5) Inovasi pelayanan publik berbasis dan berorientasi pada pemanfaatan perkembangan teknologi informasi.
URGENSI KERJASAMA INTERNASIONAL DALAM KONSEP SOUND GOVERNANCE Ari Kusumah Wardani; Arie Budiawan
Dinamika : Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara Vol 8, No 3 (2021): Dinamika
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/dak.v8i3.6695

Abstract

Dalam kurun waktu yang lama Good Governance menjadi sebuah acuan dalam penyelenggaran Pemerintahan yang baik. Namun demikian, perlahan-lahan beberapa aspek dalam pemikiran tersebut dianggap usang dan tidak kompatibel lagi dengan perkembangan dalam keilmuan Administrasi Publik sehingga muncul pemikiran baru sebagai penyempurnaan yang dikenal dengan Sound Government. Konsep ini dianggap lebih komprehensif karena berisi fitur normatif dan rasional dari good governance, memiliki karakteristik kualitas governance yang lebih unggul, bercocokan dengan nilai konsitusi dan responsif kepada norma, aturan dan rezim internasional, memiliki sistem administrasi efektif dan efisien. Ada 1 hal yang sangat menonjol dalam Sound Governance. Hal tersebut adalah kerjasama/kemitraan internasional. Hal ini sangat diperlukan untuk difahami dan diimplementasikan  dalam era globalisasi sekarang ini untuk memerangi penyakit-penyakit birokrasi dan meningkatkan efektivitas penyelenggraan pemerintahan dan administrasi. Kata Kunci: Sound Governance, Kerjasama Internasional
MENDEFINISIKAN KEMBALI SITU MUSTIKA (SEBUAH ANALISIS REVITALISASI OBJEK WISATA) Ari Kusumah Wardani
Dinamika : Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara Vol 5, No 4 (2018): Dinamika
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.381 KB) | DOI: 10.25157/dinamika.v5i4.1747

Abstract

Revitalisasi merupakan sebuah cara untuk meningkatkan nilai sesuatu yang dianggap sudah tidak berfungsi dengan baik. Pada prinsipnya Revitalisasi merupakan jawaban atas terbengkalainya sebuah aset terutama dalam hal ini aset yang dimiliki oleh pihak Pemerintah. Konsep ini sering diimplementasikan sebagai salah satu solusi untuk memunculkan kembali aset pemerintah yang sudah lama berkurang nilai kemanfaatannya, terutama dalam konteks Pariwisata. Dengan Revitalisasi maka aset atau dalam hal ini sebuah objek wisata akan muncul kembali dengan beberapa perubahan dan perbaikan, dan diharapkan popularitasnya meningkat sehingga akan berdampak langsung secara ekonomis pada pendapatan daerah. Sebagai salah satu Objek Wisata yang berada di Kota Banjar, Situ Mustika memang sudah lama eksis, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kondisinya seakan “mati suri”. Semenjak 2017, usaha revitalisasi Situ Mustika memang sudah muncul sebagai wacana, namun demikian baru pada tahun 2018 inilah rencana tersebut dapat terealisasikan. Serangkaian usaha sudah dan sedang dilakukan untuk mengembalikan popularitas serta nilai ekonomis dari Objek Wisata ini. Meskipun belum sepenuhnya selesai, namun Revitalisasi Objek Wisata Situ Mustika sudah mulai menampakan hasil, namun diperlukan kajian akademis untuk menganalisis, serta mengevaluasi proses tersebut agar dapat berjalan secara efektif, efisien, dan sesuai yang diharapkan oleh semua Pihak. Itulah tujuan utama dalam tulisan ini. Selain berfungsi sebagai dukungan secara moril, tulisan ini diharapkan mampu menjadi salah satu acuan dalam menggambarkan dan menjelaskan proses Revitalisasi Objek Wisata Situ Mustika, terutama dari perspektif Akademis. Sehingga, hal-hal yang positif dalam proses tersebut dapat dipertahankan dan bahkan ditingkatkan, serta hal-hal yang dianggap kurang akan segera diperbaiki. Selain itu tulisan ini juga diharapkan akan menambah kontribusi dalam hal mengaplikasikan Administrasi Publik sebagai sebuah Ilmu yang bersifat Multi-Disiplin, yang dapat diterapkan dalam konteks Pariwisata, tentu saja dengan dan kekhasan ilmiah yang spesifik.
FENOMENA JUAL BELI PASAL UNDANG-UNDANG OLEH OKNUM DPR (Sebuah Analisis Etika) Ari Kusumah Wardani
Dinamika : Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara Vol 5, No 2 (2018): Dinamika
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/dinamika.v5i2.1412

Abstract

Abstrak DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) mengemban tugas untuk menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat, namun tugas tersebut acapkali diwarnai oleh kepentingan politik yang bersifat ego sektoral di kalangan Oknum anggota DPR tersebut. Hal ini berakibat pada semakin meningkatnya praktik uang yang dilakukan oleh para oknum anggota DPR untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Sulit untuk dibantah jika ada pihak yang mengatakan bahwa aktivitas para oknum di gedung parlemen negeri ini sesekali seperti pasar saja, proses legislasi di negeri ini kadang-kadang terjadi seperti sebuah proses jual beli. Gedung parlemen terkadang diwarnai penyimpangan-penyimpangan seperti jual beli pasal-pasal dalam pembahasan RUU. Meskipun praktik ini terkesan tertutupi, namun perlu difahami bahwa Publik sudah mulai bijak dan waspada dalam mengamati dan menilai. Praktik jual beli pasal yang dilakukan para oknum saat pembahasan UU merupakan bentuk pelanggaran hukum yang harus dibawa ke ranah penyidikan dan penyelidikan oleh pihak berwajib. Banyaknya gugatan mengenai isi UU kepada MK membuktikan bahwa ada suatu hal yang salah pada fungsi legislasi di DPR kita. Padahal UU merupakan salah satu dasar negara yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara kearah yang lebih baik lagi. Dalam membongkar praktik jual beli pasal ini, tentunya dibutuhkan penegakan hukum yang tegas yang dapat memutus jaringan-jaringan kolusi modal, serta diperlukan keberanian untuk menindak pejabat negara yang melakukan lobi-lobi ilegal, karena praktik semacam ini jelas-jelas sangat merugikan negara, terutama rakyat sebagai pihak yang paling dirugikan. Kata Kunci: Etika, Jual Beli Pasal, DPR
MEMAHAMI ADMINISTRASI NEGARA MELALUI PERSPEKTIF PERBANDINGAN Ari Kusumah Wardani
Dinamika : Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara Vol 4, No 4 (2017): Dinamika
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/dinamika.v4i4.891

Abstract

AbstrakTulisan ini bermaksud untuk memperkenalkan Perbandingan Administrasi Publik / Negara sebagai salah satu perspektif atau kajian tersendiri dalam Ilmu Administrasi Publik / Negara. Secara khusus, bagi para akademisi Administrasi Publik / Negara, tulisan ini diharapkan menjadi salah satu acuan dalam mengimplementasikan penelitian dalam lingkup Administrasi Publik / Negara dengan basis perbandingan.Pada prinsipnya, tujuan akhir dari pendekatan Perbandingan Administrasi Negara adalah untuk memperpendek kesenjangan antara objek yang dibandingkan. Contohnya negara maju vs Negara berkembang, sentralisasi vs Desentralisasi, dll. Caranya adalah dengan mengenali dan menganalisis faktor yang menyebabkan satu satu objek tertinggal atau secara kualitas lebih rendah daripada yang lain atau begitupun sebaliknya. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana hal tersebut agar menjadi meningkat setelah dibandingkan.Pendekatan ini sangatlah aplikatif dalam menjawab masalah-masalah dalam administrasi publik pada situasi yang spesifik, mengingat perbedaan khas pada konteks tiap institusi dan level dalam administrasi pemerintahan. Karena pendekatan ini berorientasi pada benchmarking / studi tolak ukur, maka secara positif dan signifikan berdampak pada perubahan & Reformasi Administrasi.  Kata Kunci: Perbandingan Administrasi Negara / Publik, Komparatif, Benchmarking.
ADOLF HITLER: SEBUAH ANALISIS TIPE KEPEMIMPINAN ARI KUSUMAH WARDANI
Moderat: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan Vol 1, No 4 (2015)
Publisher : Universitas Galuh Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25147/moderat.v1i4.2849

Abstract

Kepemimpinan merupakan isu yang sangat menarik untuk dibahas karena setiap pemimpin memiliki kekhasan masing-masing dalam gaya atau kepemimpinannya, terutama para pemimpin dunia. Dari sekian banyak pemimpin dunia yang popular, mungkin Adolf Hitler merupakan salah seorang pemimpin yang paling dikenal dan dihujat. Terutama karena gaya atau tipe kepemimpinannya yang sangat massif dan berdampak buruk pada kondisi dunia. Namun demikian, kepemimpinan Adolf Hitler tersebut sangat menarik untuk dipahami dan dianalisis. Bagaimana tidak, seseorang yang tadinya bukan siapa-siapa bahkan sempat menjadi tunawisma, bisa menjelma menjadi seorang politisi Jerman dan pemimpin partai NAZI yang kemudian membawa perubahan yang sangat besar, bukan saja dalam internal partai atau untuk sejarah Jerman saja tetapi dalam sejarah dunia. Secara umum, Hitler adalah pemimpin yang otokratis dan ditaktor. Tipe kepemimpinan ditaktor yang dimiliki oleh Hitler membuatnya menjadi seperti memiliki Negara Jerman itu secara personal, bukan sebuah entitas bangsa atau institusi pemerintahan. Namun di sisi lain, sikap ini berdampingan dengan tipe kepemimpinan kharismatik yang juga dimiliki Hitler. Hal ini dibuktikan dengan kesetiaan para pengikutnya yang tetap mendukungnya, baik ketika ia hanya seorang anggota partai kecil yang terlihat hanya mampu berpidato dengan handal, hingga setelah ia menjadi seorang pemimpin bangsa Jerman yang menguasai daratan Eropa dan menginvasi Negara-negara lain dalam kancah Perang Dunia 2.
ANALISIS PENGUATAN KAPASITAS PEMERINTAH DESA DALAM PENGEMBANGAN OBYEK WISATA BUDAYA DI KABUPATEN CIAMIS Ari Kusumah Wardani; Slamet Riyadi
Moderat: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan Vol 6, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Galuh Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/moderat.v6i4.4548

Abstract

Era desentralisasi saat ini telah menjadikan Pemerintah Daerah berpusat pada penyelenggaraan pelayanan publik yang baik terhadap masyarakat, baik dalam pelayanan administrasi sampai kepada pelayanan dasar. Namun permasalahan muncul, dimana masih banyak masyarakat perdesaan yang tergolong pra sejahtera. Selain itu, kualitas dari SDM masyarakat perdesaan yang secara kompetensi belum seluruhnya mempunyai tingkat kompetensi yang berdaya saing. Inilah yang menjadi tantangan bagi Pemerintah Desa sebagai motor dari pembangunan yang berbasis kemasyarakatan. Potensi sumber daya yang ada di perdesaan didominasi oleh kualitas Sumber Daya Alam (SDA) yang dapat dikembangkan menjadi sebuah potensi ekonomi bagi masyarakat perdesaan. Di Kabupaten Ciamis terdapat beberapa potensi wisata yang berada di wilayah perdesaan. Hal tersebut tentunya dapat dijadikan potensi ekonomi berbasis kemasyarakatan yang dapat dikembangkan oleh Pemerintah Desa sebagai bagian dari Pendapatan Asli Desa (PADes). Kapasitas Pemerintah Desa dalam menjalankan roda pemerintahan di Desa tentunya, hal ini dapat dijadikan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan. Hal tersebut menjadi urgensi agar penelitian tentang penguatan kapasitas Pemerintah Desa dalam mengembangkan obyek wisata yang berada di wilayah perdesaan, khususnya yang ada di Kabupaten Ciamis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran dari Pemerintah Desa yang berada di Kabupaten Ciamis dalam mengembangkan potensi dan obyek wisata, khususnya wisata budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal masyarakat perdesaan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yakni menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif Hasil penelitian ini menunjukkan Pemerintah Desa cukup berperan aktif dalam pengembangan obyek wisata budaya. Hal tersebut ditunjukkan dengan munculnya kelompok masyarakat yang mengusung konsep Community Based Tourism (CBT) dan Smart Tourism yang ditandai dengan banyaknya sosial media yang mempromosikan destinasi wisata di Kabupaten Ciamis.
KARAKTER KEPEMIMPINAN IDEAL DALAM ORGANISASI Sahadi Sahadi; Otong Husni Taufiq; Ari Kusumah Wardani
Moderat: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan Vol 6, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Galuh Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/moderat.v6i3.3990

Abstract

Penelitian mengenai kepemimpinan telah ada sejak perang dunia II, namun memang masih terdapat perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat tersebut dapat dikarenakan dari masing-masing tersebut mempunyai ajaran yang berbeda. Sama  halnya antara kepemimpinan dan manajemen terdapat perbedaan. Kajian tentang kepemimpinan sejak dimulai pada masa Aristoteles, sedangkan manajemen dimulai pada abad 20 dengan lahirnya masyarakat industri. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriftif analisis, yaitu dengan cara menggambarkan secara umum mengenai fakta-fakta yang ditemukan, kemudian dianalisis berdasarkan teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli yang ada kaitannya dengan permasalahan yang akan diteliti. Sedangkan  teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini dapat dilakukan dengan cara studi kepustakaan dan studi lapangan. Kepemimpinan ideal menjadi dambaan atau harapan bagi setiap  organisasi. Terdapat 8 (delapan) karakter kepemimpinan ideal, yaitu : cerdas, bertanggung jawab, jujur, dapat dipercaya, inisiatif, konsisten, tegas dan lugas. Karakter merupakan kunci penentu dalam keberhasilan suatu organisasi. Hal ini, akan membawa berkah bagi seluruh anggota organisasi yang ada di dalamnya.  Maju dan mundurnya, keberhasilan dan kegagalan suatu organisasi banyak ditentukan oleh pemimpin, karena pemimpin merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh oleh organisasi menuju tujuan yang akan dicapai
ADOLF HITLER: SEBUAH ANALISIS TIPE KEPEMIMPINAN ARI KUSUMAH WARDANI
Moderat: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan Vol 1, No 4 (2015)
Publisher : Universitas Galuh Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1929.902 KB) | DOI: 10.25147/moderat.v1i4.2849

Abstract

Kepemimpinan merupakan isu yang sangat menarik untuk dibahas karena setiap pemimpin memiliki kekhasan masing-masing dalam gaya atau kepemimpinannya, terutama para pemimpin dunia. Dari sekian banyak pemimpin dunia yang popular, mungkin Adolf Hitler merupakan salah seorang pemimpin yang paling dikenal dan dihujat. Terutama karena gaya atau tipe kepemimpinannya yang sangat massif dan berdampak buruk pada kondisi dunia. Namun demikian, kepemimpinan Adolf Hitler tersebut sangat menarik untuk dipahami dan dianalisis. Bagaimana tidak, seseorang yang tadinya bukan siapa-siapa bahkan sempat menjadi tunawisma, bisa menjelma menjadi seorang politisi Jerman dan pemimpin partai NAZI yang kemudian membawa perubahan yang sangat besar, bukan saja dalam internal partai atau untuk sejarah Jerman saja tetapi dalam sejarah dunia. Secara umum, Hitler adalah pemimpin yang otokratis dan ditaktor. Tipe kepemimpinan ditaktor yang dimiliki oleh Hitler membuatnya menjadi seperti memiliki Negara Jerman itu secara personal, bukan sebuah entitas bangsa atau institusi pemerintahan. Namun di sisi lain, sikap ini berdampingan dengan tipe kepemimpinan kharismatik yang juga dimiliki Hitler. Hal ini dibuktikan dengan kesetiaan para pengikutnya yang tetap mendukungnya, baik ketika ia hanya seorang anggota partai kecil yang terlihat hanya mampu berpidato dengan handal, hingga setelah ia menjadi seorang pemimpin bangsa Jerman yang menguasai daratan Eropa dan menginvasi Negara-negara lain dalam kancah Perang Dunia 2.