Gatot Pramuhadi
Departemen Teknik Mesin Dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian IPB University Bogor, Jawa Barat Indonesia And Pusat Pengembangan Ilmu Teknik Untuk Pertanian Tropika (CREATA) IPB University, Bogor, Indonesia

Published : 31 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : JURNAL PANGAN

Aplikasi Herbisida di Kebun Tebu Lahan Kering (Herbiciding at Dry Land Sugarcane Plantation) Pramuhadi, Gatot
JURNAL PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1247.053 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i3.310

Abstract

Aplikasi herbisida (herbiciding) di kebun tebu lahan kering dapat digunakan untuk mengantisipasi penurunan produktivitas tebu akibat serangan hama maupun persaingan tumbuh dengan gulma. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan efektivitas dan efisiensi aplikasi herbisida dengan menggunakan knapsack sprayer (KS), knapsack power sprayer (KPS), dan boom sprayer (BS). Aplikasi herbisida dilakukan di areal kebun tebu lahan kering milik PT Laju Perdana Indah (LPI), Palembang pada bulan Maret 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan KPS lebih efektif dibanding KS karena gulma-gulma yang mati setelah herbiciding yang menggunakan KPS sebesar 77,0 persen, sedangkan yang menggunakan KS sebesar (53,6-59,5) persen. Kecepatan operasi aplikasi herbisida rata-rata dengan menggunakan KS, KPS, dan BS berturut-turut sebesar 0,56 m/detik, 0,59 m/detik, dan 2,00 m/ detik sehingga mempengaruhi besar kapasitas lapang efektif aplikasi herbisida berturut-turut sebesar (0,10-0,11) ha/jam, 0,20 ha/jam, dan 2,66 ha/jam. Besar debit aliran herbisida dengan menggunakan KS, KPS, dan BS berturut-turut sebesar (60,69-65,40) liter/jam, 85,30 liter/jam, dan 1206,00 liter/jam, sehingga menghasilkan throwputcapacity sebesar (588,64-617,01) liter/ha, 418,94 liter/ha, dan 453,87 liter/ha. Perbedaan hasil unjuk kerja ketiga jenis sprayer tersebut menghasilkan perbedaan efisiensi aplikasi herbisida. Dengan menggunakan KS dan KPS terjadi ketidakefisienan (inefficiency) sebesar (47,2-54,3) persen dan 4,7 persen, atau terdapat pemborosan aplikasi herbisida sebesar (188,64- 217,01) liter/ha dan 18,94 liter/ha. Penggunaan BS ternyata lebih efisien yaitu terdapat penghematan sebesar 146,13 liter/ha (24,4 persen).Herbiciding at dry land sugarcane plantation can be used to anticipate decreasing sugarcane productivity caused by pest attack or growing competition with weeds. The objective of the research was to determine herbiciding effectiveness and efficiency using knapsack sprayer (KS), knapsack power sprayer (KPS), and boom sprayer (BS). Herbiciding was conducted on dry land sugarcane area of Laju Perdana Indah (LPI) Company, Palembang in March 2012. The results showed that the use of KPS was more effective than KS because the killed weeds after herbiciding using KPS was 77.0 percent, whereas using KS was (53.6-59.5) percent Herbiciding operational speeds using KS, KPS, and BS were 0.56 m/s, 0.59 m/s, and 2.00 m/s in average respectively, so that they influenced effective field capacity herbiciding of (0.10-0.11) ha/h, 0.20 ha/h, and 2.66 ha/h respectively. Herbicide solution debits using KS, KPS, and BS were (60.69-65.40) litre/h, 85.30 litre/h, and 1206.00 litre/h, so that they produced capacities of (588.64-61.01) litre/ha, 418.94 litre/ha, and 453.87 litre/ha. Difference in performances of the three sprayers would produce differences in herbiciding efficiency. The use of KS and KPS would produce inefficiency of (47.2- 54.3) percent and 4.7 percent, or there was any herbicide solution prodigality or providence of (188.64- 217.01) litre/ha and 18.94 litre/ha. The use of BS was more efficient because it could save herbicide solution of 146.13 litre/ha (24.4 percent). 
Faktor Iklim Pada Budidaya Tebu Lahan Kering Pramuhadi, Gatot
JURNAL PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1872.839 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i4.160

Abstract

Harga gula pasir, yang sekarang sudah mencapai lebih dari Rp 12.000,-/kg nampak semakin sulit dikendalikan Harga gula yang semakin menggiurkan tersebut akan memicu perusahaan-perusahaan gula nasional meningkatkan produktivitas tebu (Tonne Cane Per Hectare :TCH) dan rendemen giling supaya diperoleh produktivitas gula (Tonne Sugar per Hectare:TSH) tinggi sehingga diperoleh keuntungan besar. Produksi tebu merupakan fungsi dari tanaman, tanah, iklim, dan tindakan budidaya. Faktor iklim adalah faktor yang tidak bisa dimanipulasi sehingga merupakan salah satu faktor penting yang sangat perlu untuk dipertimbangkan pada budidaya tebu lahan kering. Di beberapa lokasi pabrik gula di Indonesia dilaporkan bahwa TCH, rendemen giling, dan TSH mengalami penurunan akibat pengaruh iklim, yaitu akibat bergesernya (mundur) saat turun hujan pada masa pemeliharaan tebu dan hujan yang masih turun dengan curah hujan cukup tinggi pada saat panen (tebang) tebu. Saat turun hujan yang terlambat menyebabkan tanaman tebu mengalami kekeringan dan berupaya untuk bertahan hidup dengan cara mengurangi/membatasi penguapan, seperti menutup stomata daun, dan memperlambat pertumbuhan tanaman (ditandai dengan ruas-ruas tebu yang pendek) sehingga pada saat dipanen akan dihasilkan TCH rendah. Hujan yang masih turun ketika musim panen tebu menjadi penyebab utama turunnya rendemen giling dan tidak terangkutnya tebu tebang karena mobilitas kendaraan-kendaraan angkut yang sangat rendah pada kondisi tanah becek yang mengakibatkan turunnya TSH dan kapasitas giling (Tonne Cane per Day:TCD). Disamping itu, penggunaan mesin-mesin tebang tebu juga tidak bisa efektif akibat kondisi tanah tidak mendukung untuk pengoperasian mesin-mesin tersebut. Dengan demikian, perlu ditataulang perencanaan dan teknik budidaya tebu lahan kering, termasuk mekanisasi, guna mengantisipasi dampak perubahan iklim yang dapat mempengaruhi besaran TCH, rendemen giling, TSH, dan TCD.Sugar price was seemed more and more complicated controlled, that now it achieved more than Rp 12,000,00/kg. The fantastic sugar price would initiate national sugar companies to increase sugarcane productivity (TCH) and yield mill in order to achieve high sugar productivity (TSH) so that the companies would obtain big profit. Sugarcane production was as a function of plant, soil, climate, and cultivation effort. Climate factor was non-manipulated factor so that it was one of important factor that must be considered on dry land sugarcane cultivation. In several locations of sugarcane factories in Indonesia, it reported that the decreasing of TCH, yield mill, and TSH were caused by climate impact that is caused by late rainy season on sugarcane maintenance activities and big precipitations during sugarcane harvesting season. The late rainy season caused draught period for sugarcane plants and it attempt to survive by decreased or restricted its evaporation, for example it closed its leaves stomata and it decelerated its growth (which it signed by short stem sections) so that it would caused low sugarcane productivity. The rain during harvesting season would be main factor for yield mill decreasing and harvested sugarcane could not be loaded because of very low vehicles mobility on wet soil surface conditions that caused decreasing of sugar productivity and milling capacity (TCD). Beside that, sugarcane harvester machines could not be applied effectively as a result of wet soil conditions could not support for that machines operation. It can be concluded that it must be rearranged for dry land sugarcane cultivation planning to anticipate climate alteration impact that can influence TCH, yield mill, TSH, and TCD achievements. 
Mekanisasi Usahatani Budidaya Tebu Lahan Kering Pramuhadi, Gatot
JURNAL PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2008.263 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i3.246

Abstract

Komoditi gula pasir senantiasa dibutuhkan oleh masyarakat, baik dalam skala rumah tangga maupun industri. Saat ini harga gula pasir cukup tinggi hingga kurang lebih Rp 9500,00/kg sehingga komoditi ini senantiasa diusahakan oleh pabrik-pabrik gula yang ada di Indonesia dengan cara membudidayakan tebu secara efektif dan efisien. Suatu studi diperlukan guna mempelajari efektivitas dan efisiensi pengolahan tanah, serta usahatani budidaya tebu lahan kering sehingga dapat dihitung keuntungan maksimum. Hasil studi di areal kebun tebu lahan kering dengan jenis tanah Ultisol milik PT Gula Putih Mataram, Sugar Group Company, Lampung Tengah pada bulan September 2002 hingga Agustus 2003 menunjukkan bahwa tindakan pengolahan tanah efektif menyebabkan kondisi sifat fisik tanah (densitas tanah) mencapai optimum rata-rata sebesar 1.30 g/cc untuk pertumbuhan tebu maksimum sehingga diperoleh produktivitas tebu (TCH) dan produktivitas gula (TSH) maksimum sebesar 63.08 ton/ha dan 7.30 ton/ha. Tindakan pengolahan tanah efisien menghasilkan waktu dan biaya pengolahan tanah minimum sebesar 0.64 jam/ha dan Rp 57673,00/ha. Pengolahan tanah efektif menghasilkan keuntungan sementara maksimum sebesar Rp 34966034,00/ha. Metode "subsoiling-plowing-harrowing-furrowing" merupakan metode pengolahan tanah optimum pada budidaya tebu lahan kering dengan jenis tanah Ultisol.  
Potensi Mekanisasi Budidaya Tebu Lahan Kering di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua (Mechanization Potency of Dry Land Sugarcane Cultivation at Merauke County, Papua Province) Pramuhadi, Gatot
JURNAL PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.921 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i2.84

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji potensi mekanisasi budidaya tebu lahan kering di Kabupaten Merauke, Propinsi Papua. Hasil kajian menunjukkan bahwa tanah di wilayah survey (Domande dan Kaliki) sangat potensial dalam menopang operasional mesin untuk pekerjaan pembukaan lahan, pembentukan lahan, dan penyiapan lahan sehingga tanah di wilayah survey berpotensi untuk aplikasi mekanisasi budidaya tebu lahan kering. Semua mesin (alat berat) merk Komatsu dan Caterpillar (ground pressure 0,26– 2,67 kgf/cm2) bisa dioperasikan di wilayah survey karena besar tahanan penetrasi tanah rata-rata hingga kedalaman 10 cm di lokasi survey sebesar 3,58 – 10,33 kgf/cm2. Tanah yang lebih dalam berpotensi memiliki densitas tanah maksimum lebih tinggi dibanding tanah di atasnya, sehingga perlu tindakan pengolahan tanah optimum lebih dari 40 cm. Nilai permeabilitas tanah rata-rata semakin turun pada lapisan tanah yang semakin dalam, yaitu dari 0,2625 mm/jam menjadi 0,0122 mm/jam dan dari 0,2567 mm/jam menjadi 0,0312 mm/jam. Tanah di wilayah survey tergolong tanah berdrainase buruk karena waktu peresapan air rata-rata ke dalam tanah lebih dari 30 hari, sehingga perlu rekayasa untuk membuat saluran-saluran drainase dalam dan kolam penampungan air yang bisa dimanfaatkan tanaman tebu lahan kering pada musim kering (kemarau). Waktu tersedia untuk operasional mesin sebanyak ± 14 hari/bulan dan sesuai untuk budidaya tanaman tebu lahan kering.The objective of the research was to study mechanization potency of dry land sugarcane cultivation in Merauke County, Papua Province with indicators were ability of machines to travel across soil surface on natural or field existing of soil physical and mechanical conditions, and ability of dry land sugarcane to grow and make interaction with new growing environment from planting up to harvesting. Results of the research showed that soil in surveyed region (Domande and Kaliki) were very potential in machines operational supporting for land clearing, land forming, and land preparation so that it had potency for mechanization application of dry land sugarcane cultivation. All machines with trade mark of Komatsu and Caterpillar (ground pressure of 0.26 – 2.67 kgf/cm2) could be operated in surveyed regions because the amount of average soil penetration resistance up to 10 cm depth in the surveyed regions were 3.58 – 10.33 kgf/cm2. Deeper soil layers possessed higher maximum soil dry bulk density than above soil layer, so that it needed optimum soil tillage action more than 40 cm from soil surface. Average soil permeabilities decreased on the deeper soil layers possessed higher maximum soil dry bulk density than above soil layer, so that it needed optimum soil tillage action more than 40 cm from soil surface. Average soil permeabilities decreased on the deeper soil layer, which were from 0.2625 mm/hour became 0.0122 mm/hour and from 0.2567 mm/hour became 0.0312 mm/hour. Soils in surveyed regions were categorized as bad drainage soil because it need average infiltration time more than 30 days, so that it need engineering application to make deep drainage canals and water ponds which can be took advantage by plant during draught season. Operational available time for machines operation was ± 14 days/month and suitable for dry land sugarcane cultivation. 
Potensi Mekanisasi Budidaya Tebu Lahan Kering di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua (Mechanization Potency of Dry Land Sugarcane Cultivation at Merauke County, Papua Province) Gatot Pramuhadi
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i2.84

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji potensi mekanisasi budidaya tebu lahan kering di Kabupaten Merauke, Propinsi Papua. Hasil kajian menunjukkan bahwa tanah di wilayah survey (Domande dan Kaliki) sangat potensial dalam menopang operasional mesin untuk pekerjaan pembukaan lahan, pembentukan lahan, dan penyiapan lahan sehingga tanah di wilayah survey berpotensi untuk aplikasi mekanisasi budidaya tebu lahan kering. Semua mesin (alat berat) merk Komatsu dan Caterpillar (ground pressure 0,26– 2,67 kgf/cm2) bisa dioperasikan di wilayah survey karena besar tahanan penetrasi tanah rata-rata hingga kedalaman 10 cm di lokasi survey sebesar 3,58 – 10,33 kgf/cm2. Tanah yang lebih dalam berpotensi memiliki densitas tanah maksimum lebih tinggi dibanding tanah di atasnya, sehingga perlu tindakan pengolahan tanah optimum lebih dari 40 cm. Nilai permeabilitas tanah rata-rata semakin turun pada lapisan tanah yang semakin dalam, yaitu dari 0,2625 mm/jam menjadi 0,0122 mm/jam dan dari 0,2567 mm/jam menjadi 0,0312 mm/jam. Tanah di wilayah survey tergolong tanah berdrainase buruk karena waktu peresapan air rata-rata ke dalam tanah lebih dari 30 hari, sehingga perlu rekayasa untuk membuat saluran-saluran drainase dalam dan kolam penampungan air yang bisa dimanfaatkan tanaman tebu lahan kering pada musim kering (kemarau). Waktu tersedia untuk operasional mesin sebanyak ± 14 hari/bulan dan sesuai untuk budidaya tanaman tebu lahan kering.The objective of the research was to study mechanization potency of dry land sugarcane cultivation in Merauke County, Papua Province with indicators were ability of machines to travel across soil surface on natural or field existing of soil physical and mechanical conditions, and ability of dry land sugarcane to grow and make interaction with new growing environment from planting up to harvesting. Results of the research showed that soil in surveyed region (Domande and Kaliki) were very potential in machines operational supporting for land clearing, land forming, and land preparation so that it had potency for mechanization application of dry land sugarcane cultivation. All machines with trade mark of Komatsu and Caterpillar (ground pressure of 0.26 – 2.67 kgf/cm2) could be operated in surveyed regions because the amount of average soil penetration resistance up to 10 cm depth in the surveyed regions were 3.58 – 10.33 kgf/cm2. Deeper soil layers possessed higher maximum soil dry bulk density than above soil layer, so that it needed optimum soil tillage action more than 40 cm from soil surface. Average soil permeabilities decreased on the deeper soil layers possessed higher maximum soil dry bulk density than above soil layer, so that it needed optimum soil tillage action more than 40 cm from soil surface. Average soil permeabilities decreased on the deeper soil layer, which were from 0.2625 mm/hour became 0.0122 mm/hour and from 0.2567 mm/hour became 0.0312 mm/hour. Soils in surveyed regions were categorized as bad drainage soil because it need average infiltration time more than 30 days, so that it need engineering application to make deep drainage canals and water ponds which can be took advantage by plant during draught season. Operational available time for machines operation was ± 14 days/month and suitable for dry land sugarcane cultivation. 
Faktor Iklim Pada Budidaya Tebu Lahan Kering Gatot Pramuhadi
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i4.160

Abstract

Harga gula pasir, yang sekarang sudah mencapai lebih dari Rp 12.000,-/kg nampak semakin sulit dikendalikan Harga gula yang semakin menggiurkan tersebut akan memicu perusahaan-perusahaan gula nasional meningkatkan produktivitas tebu (Tonne Cane Per Hectare :TCH) dan rendemen giling supaya diperoleh produktivitas gula (Tonne Sugar per Hectare:TSH) tinggi sehingga diperoleh keuntungan besar. Produksi tebu merupakan fungsi dari tanaman, tanah, iklim, dan tindakan budidaya. Faktor iklim adalah faktor yang tidak bisa dimanipulasi sehingga merupakan salah satu faktor penting yang sangat perlu untuk dipertimbangkan pada budidaya tebu lahan kering. Di beberapa lokasi pabrik gula di Indonesia dilaporkan bahwa TCH, rendemen giling, dan TSH mengalami penurunan akibat pengaruh iklim, yaitu akibat bergesernya (mundur) saat turun hujan pada masa pemeliharaan tebu dan hujan yang masih turun dengan curah hujan cukup tinggi pada saat panen (tebang) tebu. Saat turun hujan yang terlambat menyebabkan tanaman tebu mengalami kekeringan dan berupaya untuk bertahan hidup dengan cara mengurangi/membatasi penguapan, seperti menutup stomata daun, dan memperlambat pertumbuhan tanaman (ditandai dengan ruas-ruas tebu yang pendek) sehingga pada saat dipanen akan dihasilkan TCH rendah. Hujan yang masih turun ketika musim panen tebu menjadi penyebab utama turunnya rendemen giling dan tidak terangkutnya tebu tebang karena mobilitas kendaraan-kendaraan angkut yang sangat rendah pada kondisi tanah becek yang mengakibatkan turunnya TSH dan kapasitas giling (Tonne Cane per Day:TCD). Disamping itu, penggunaan mesin-mesin tebang tebu juga tidak bisa efektif akibat kondisi tanah tidak mendukung untuk pengoperasian mesin-mesin tersebut. Dengan demikian, perlu ditataulang perencanaan dan teknik budidaya tebu lahan kering, termasuk mekanisasi, guna mengantisipasi dampak perubahan iklim yang dapat mempengaruhi besaran TCH, rendemen giling, TSH, dan TCD.Sugar price was seemed more and more complicated controlled, that now it achieved more than Rp 12,000,00/kg. The fantastic sugar price would initiate national sugar companies to increase sugarcane productivity (TCH) and yield mill in order to achieve high sugar productivity (TSH) so that the companies would obtain big profit. Sugarcane production was as a function of plant, soil, climate, and cultivation effort. Climate factor was non-manipulated factor so that it was one of important factor that must be considered on dry land sugarcane cultivation. In several locations of sugarcane factories in Indonesia, it reported that the decreasing of TCH, yield mill, and TSH were caused by climate impact that is caused by late rainy season on sugarcane maintenance activities and big precipitations during sugarcane harvesting season. The late rainy season caused draught period for sugarcane plants and it attempt to survive by decreased or restricted its evaporation, for example it closed its leaves stomata and it decelerated its growth (which it signed by short stem sections) so that it would caused low sugarcane productivity. The rain during harvesting season would be main factor for yield mill decreasing and harvested sugarcane could not be loaded because of very low vehicles mobility on wet soil surface conditions that caused decreasing of sugar productivity and milling capacity (TCD). Beside that, sugarcane harvester machines could not be applied effectively as a result of wet soil conditions could not support for that machines operation. It can be concluded that it must be rearranged for dry land sugarcane cultivation planning to anticipate climate alteration impact that can influence TCH, yield mill, TSH, and TCD achievements. 
Mekanisasi Usahatani Budidaya Tebu Lahan Kering Gatot Pramuhadi
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i3.246

Abstract

Komoditi gula pasir senantiasa dibutuhkan oleh masyarakat, baik dalam skala rumah tangga maupun industri. Saat ini harga gula pasir cukup tinggi hingga kurang lebih Rp 9500,00/kg sehingga komoditi ini senantiasa diusahakan oleh pabrik-pabrik gula yang ada di Indonesia dengan cara membudidayakan tebu secara efektif dan efisien. Suatu studi diperlukan guna mempelajari efektivitas dan efisiensi pengolahan tanah, serta usahatani budidaya tebu lahan kering sehingga dapat dihitung keuntungan maksimum. Hasil studi di areal kebun tebu lahan kering dengan jenis tanah Ultisol milik PT Gula Putih Mataram, Sugar Group Company, Lampung Tengah pada bulan September 2002 hingga Agustus 2003 menunjukkan bahwa tindakan pengolahan tanah efektif menyebabkan kondisi sifat fisik tanah (densitas tanah) mencapai optimum rata-rata sebesar 1.30 g/cc untuk pertumbuhan tebu maksimum sehingga diperoleh produktivitas tebu (TCH) dan produktivitas gula (TSH) maksimum sebesar 63.08 ton/ha dan 7.30 ton/ha. Tindakan pengolahan tanah efisien menghasilkan waktu dan biaya pengolahan tanah minimum sebesar 0.64 jam/ha dan Rp 57673,00/ha. Pengolahan tanah efektif menghasilkan keuntungan sementara maksimum sebesar Rp 34966034,00/ha. Metode "subsoiling-plowing-harrowing-furrowing" merupakan metode pengolahan tanah optimum pada budidaya tebu lahan kering dengan jenis tanah Ultisol.  
Aplikasi Herbisida di Kebun Tebu Lahan Kering (Herbiciding at Dry Land Sugarcane Plantation) Gatot Pramuhadi
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i3.310

Abstract

Aplikasi herbisida (herbiciding) di kebun tebu lahan kering dapat digunakan untuk mengantisipasi penurunan produktivitas tebu akibat serangan hama maupun persaingan tumbuh dengan gulma. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan efektivitas dan efisiensi aplikasi herbisida dengan menggunakan knapsack sprayer (KS), knapsack power sprayer (KPS), dan boom sprayer (BS). Aplikasi herbisida dilakukan di areal kebun tebu lahan kering milik PT Laju Perdana Indah (LPI), Palembang pada bulan Maret 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan KPS lebih efektif dibanding KS karena gulma-gulma yang mati setelah herbiciding yang menggunakan KPS sebesar 77,0 persen, sedangkan yang menggunakan KS sebesar (53,6-59,5) persen. Kecepatan operasi aplikasi herbisida rata-rata dengan menggunakan KS, KPS, dan BS berturut-turut sebesar 0,56 m/detik, 0,59 m/detik, dan 2,00 m/ detik sehingga mempengaruhi besar kapasitas lapang efektif aplikasi herbisida berturut-turut sebesar (0,10-0,11) ha/jam, 0,20 ha/jam, dan 2,66 ha/jam. Besar debit aliran herbisida dengan menggunakan KS, KPS, dan BS berturut-turut sebesar (60,69-65,40) liter/jam, 85,30 liter/jam, dan 1206,00 liter/jam, sehingga menghasilkan throwputcapacity sebesar (588,64-617,01) liter/ha, 418,94 liter/ha, dan 453,87 liter/ha. Perbedaan hasil unjuk kerja ketiga jenis sprayer tersebut menghasilkan perbedaan efisiensi aplikasi herbisida. Dengan menggunakan KS dan KPS terjadi ketidakefisienan (inefficiency) sebesar (47,2-54,3) persen dan 4,7 persen, atau terdapat pemborosan aplikasi herbisida sebesar (188,64- 217,01) liter/ha dan 18,94 liter/ha. Penggunaan BS ternyata lebih efisien yaitu terdapat penghematan sebesar 146,13 liter/ha (24,4 persen).Herbiciding at dry land sugarcane plantation can be used to anticipate decreasing sugarcane productivity caused by pest attack or growing competition with weeds. The objective of the research was to determine herbiciding effectiveness and efficiency using knapsack sprayer (KS), knapsack power sprayer (KPS), and boom sprayer (BS). Herbiciding was conducted on dry land sugarcane area of Laju Perdana Indah (LPI) Company, Palembang in March 2012. The results showed that the use of KPS was more effective than KS because the killed weeds after herbiciding using KPS was 77.0 percent, whereas using KS was (53.6-59.5) percent Herbiciding operational speeds using KS, KPS, and BS were 0.56 m/s, 0.59 m/s, and 2.00 m/s in average respectively, so that they influenced effective field capacity herbiciding of (0.10-0.11) ha/h, 0.20 ha/h, and 2.66 ha/h respectively. Herbicide solution debits using KS, KPS, and BS were (60.69-65.40) litre/h, 85.30 litre/h, and 1206.00 litre/h, so that they produced capacities of (588.64-61.01) litre/ha, 418.94 litre/ha, and 453.87 litre/ha. Difference in performances of the three sprayers would produce differences in herbiciding efficiency. The use of KS and KPS would produce inefficiency of (47.2- 54.3) percent and 4.7 percent, or there was any herbicide solution prodigality or providence of (188.64- 217.01) litre/ha and 18.94 litre/ha. The use of BS was more efficient because it could save herbicide solution of 146.13 litre/ha (24.4 percent).