Agatha Trisari Swastikanthi
Indonesian Literature Study Program, FISIB, Pakuan University Jln. Pakuan No 1, Ciheuleut Bogor, 082111112781

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

SIMBOLISME KERIS SEBAGAI REPRESENTASI PERLAWANAN DALAM PEREMPUAN YANG MENGAWINI KERIS” KARYA WAYAN SUNARTA Dadan Suwarna; Agatha Trisari Swastikanthi
Triangulasi: Jurnal Pendidikan Kebahasaan, Kesastraan, Dan Pembelajaran Vol 2, No 2 (2022): Triangulasi: Jurnal Pendidikan Kebahasaan, Kesastraan, dan Pembelajaran
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNPAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55215/triangulasi.v2i2.6736

Abstract

Abstrak. Perlawanan manusia tidak selalu dilangsungkan secara langsung melainkan juga tidak langsung. Simbolisme adalah perlawanan tidak langsung melalui seperangkat tanda. Gambar atau banda adalah suatu cara manusia mengekspresikan sikap di balik perlawanannya. Dalam tradisi Bali, keris bukan hanya simbolisme status, juga adalah harkat dan harga diri manusia. Keris kemudian jadi cara merperesantsikan bahwa seseorang itu ada atau dipaksa ada. Semiotik mempelajari simbol sebagai cara menjelaskan maksud sesuatu.Kata kunci: simbolisme, keris, semiotika Abstract. Human resistance is not always carried out directly but also indirectly. Symbolism is indirect resistance through a set of signs. Pictures or bands are a way for humans to express the attitude behind their resistance. In Balinese tradition, a keris is not only a symbol of status, it is also human dignity and worth. The keris then becomes a way of conveying that someone exists or is forced to exist. Semiotics studies symbols as a way of explaining the meaning of something.Keywords: simbolism, keris, semiotika 
Dongeng sebagai Media Pencitraan Perempuan dalam Budaya Patriarkat Karunia Fitriarti; Agatha Trisari
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.247 KB) | DOI: 10.33751/jsalaka.v4i1.5671

Abstract

Stigma negatif sudah melekat dalam diri perempuan. Hal ini tergambar dalam dongeng. Perempuan harus mengikuti stereotipe agar bisa dapat dianggap normal dan diakui oleh masyarakat. Perempuan diharuskan untuk pasrah dan tidak berdaya. Namun, jika perempuan berpendirian, ia dianggap manipulatif dan jahat. Padahal, perempuan adalah sosok penting dan berpengaruh dalam pewarisan dongeng dari satu generasi ke generasi. Hal tersebut terjadi karena budaya patriarkat yang terdapat di masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis citra perempuan di dalam dongeng Grimm Bersuadara dan dongen nusantara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggambaran seorang perempuan di dalam dongeng merepresentasikan ketidakberdayaan dirinya atas dominasi yang dilakukan oleh laki-laki.
RESISTENSI DALAM NOVEL HULUBALANG RAJA KARYA NUR SUTAN ISKANDAR: KAJIAN POSKOLONIAL Abi Dapit; Prapto Waluyo; Agatha Trisari
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 2, No 2 (2020): Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.034 KB) | DOI: 10.33751/jsalaka.v2i2.2485

Abstract

Artikel ini merupakan sebuah kajian poskolonial yang mendeskripsikan resistensi di dalam novel Hulubalang Raja karya Nur Sutan Iskandar. Artikel ini menggunakan metode analisis deskriptif dan dekonstruksi. Artikel ini menggunakan pendekatan unsur intrinsik. Penelitian ini berfokus pada perlawanan dan mimikri yang terjadi di dalam novel Hulubalang Raja. Untuk menggambarkan perlawanan dan mimikri tersebut, perilaku orientalisme dalam novel ini dianalisis. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, di dalam novel Hulubalang Raja, perilaku orientalisme merupakan dikotomi yang dikonstruksi oleh Belanda. Hal ini dilakukan agar Belanda dapat mengeksploitasi masyarakat Minangkabau dan memengeruhi perilaku orientalisme juga dilakukan oleh anak negeri. Kedua, resistensi yang terjadi di dalam novel Hulubalang Raja adalah perlawanan tokoh Raja Adil atas represi dari pihak yang berserikat dengan kompeni. Di dalam kajian poskolonial, hal itu disebut reristensi radikal. Ketiga, mimikri yang dilakukan oleh tokoh Hulubalang Raja dan berada di pihak yang berserikat dengan kompeni merupakan mimikri untuk mempertahankan eksistensi diri. Di dalam kajian poskolonial, hal itu disebut resistensi pasif. Kata Kunci: konflik orientalisme; poskolonial; resistensi.
ANALISIS GENDER DAN KESADARAN PEREMPUAN DALAM NOVEL TEMPURUNG KARYA OKA RUSMINI Gina Purwanti; Agatha Trisari; Dadan Suwarna
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 2, No 2 (2020): Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.563 KB) | DOI: 10.33751/jsalaka.v2i2.2540

Abstract

Artikel ini bertujuan mendeskripsikan unsur instrinsik, hasil analisis gender perempuan, dan kesadaran perempuan dalam novel Tempurung karya Oka Rusmini. Artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalah novel Tempurung karya Oka Rusmini. Artikel ini berfokus pada permasalahan yang berkaitan dengan ketidakadilan perempuan dan kesadaran perempuan yang dikaji dengan analisis gender. Data diperoleh dengan teknik membaca dan mencatat. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) struktur novel berupa unsur intrinsik yang difokuskan pada tema yaitu kehidupan perkawinan yang tidak sempurna juga peran perempuan yang tidak mudah, plot yang terbagi menjadi tahap awal , tahap tengah, dan tahap akhir, penokohan yaitu tokoh Aku” tambahan dan tokoh utama cerita, dan latar yang terbagi menjadi latar tempat, latar waktu, dan latar sosial-budaya; (2) analisis gender yang dibagi menjadi tiga fokus, yaitu subordinasi perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan ketidakadilan gender perempuan; (3) bentuk kesadaran perempuan berupa kesadaran akan tubuh, kemandirian, dan lepasnya perempuan dari tradisi yang mengekang mereka.Kata Kunci: gender; kesadaran perempuan; Oka Rusmini; Tempurung.
LATAR SOSIAL DALAM NOVEL BEKISAR MERAH KARYA AHMAD TOHARI Geo Fanny Jacklin Padoma Nova; Agatha Trisari s; Dedi Yusar
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 2, No 1 (2020): Volume 2 Nomor 1 Tahun 2020
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.118 KB) | DOI: 10.33751/jsalaka.v2i1.1835

Abstract

ABSTRAKKarya sastra merupakan gambaran kehidupan sosial yang dituangkan ke dalam cerita dan dapat dipahami serta dimanfaatkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, penulis   tertarik dengan latar sosial yang digambarkan oleh Ahmad Tohari di dalam salah satu keryanya berjudul Bekisar Merah. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan latar sosial yang dialami oleh tokoh utama dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif deskriptif. Penulis berusaha mendeskripsikan latar sosial yang di alami oleh tokoh utama. Dalam memperoleh data, penulis mendapatkan dengan cara studi pustaka menggunakan berbagai buku yang memiliki kaitan dengan latar sosial. Penelitian ini mendeskripsikan latar sosial yang dialami oleh tokoh utama dengan cara memaparkan unsur intrinsik dan memaparkan latar sosial yang muncul sehingga memudahkan langkah selanjutnya  untuk  mengetahui  latar  sosial  terhadap  tokoh  utama.   Kajian  ini  pun dilakukan mengunakan analisis unsur-unsur pembagunan cerita berupa unsur intrisik yang meliputi alur, tokoh, dan latar. Kesimpulannya, terdapat  enam  latar  sosial  yang  muncul dalam kajian ini: latar sosial tokoh utama kedua,  latar  sosial  penjual  nira  ketiga,  latar kehidupan masyarakat Karangsoga keempat, latar mitos atau kepercayaan kelima, latar asal- usul Lasi keenam, latar perilaku masyarakat. Latar sosial tersebut berpengaruh  terhadap tokoh utama terhadap keputusan yang Lasi ambil. Latar sosial yang muncul lebih banyak membuat Lasi lebih banyak menderita dari pada mendapatkan kebahagaian menjadi seorang perempuan simpanan. Latar pendidikan yang sangat rendah membuat pola pikir Lasi menjadi mudah di kendalikan orang lain bahkan orang-orang yang baru ia kenal. Kata Kunci: Latar Sosial, Bekisar Merah, Kajian Intrinsik.
STRUKTUR NARATIF VLADIMIR PROPP (TINJAUAN KONSEPTUAL) Agatha Trisari
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 3, No 1 (2021): Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.897 KB) | DOI: 10.33751/jsalaka.v3i1.3315

Abstract

Artikel ini bertujuan menguraikan pokok pemikiran konseptual teori struktur naratif Vladimir Propp. Pokok pemikiran Propp dituangkan dalam bukunya yang berjudul Morfology of the Folktale. Analisis yang dilakukan menitikberatkan pada fungsi pelaku. Menurut Propp, suatu fungsi adalah tindakan seorang tokoh yang dibatasi dari segi maknanya. Dari teori Propp ini, diketahui terdapat unsur yang tetap dan unsur yang berubah.  Unsur yang tetap adalah perbuatan atau tindakan, sedangkan Unsur yang berubah adalah pelaku atau penderita.  Unsur yang tetap tersebut merupakan unsur yang penting dalam teori Propp.  Terdapat empat hal yang panting dalam teori ini.  Pertama, Fungsi Pelaku merupakan unsur-unsur yang tetap, Konstan dalam cerita, tanpa menghiraukan bagaimana dan oleh siapa fungsi-fungsi tersebut dipenuhi.   Kedua, jumlah fungsi dalam cerita adalah tetap (31 fungsi).   Ketiga, urutan fungsi pelaku senantiasa sama. Keempat, cerita dongeng  dipandang  dari  sudut  struktur  adalah  satu  tipe.   Melalui   analisis fungsi pelaku pada lima cerita  rakyat  Jambi  dapat  diketahui  beberapa  hal, (1)  Jumlah  fungsi  pelaku;  (2)  urutan  fungsi  pelaku  dan  kerangka  urutan  fungsi  pelaku;  (3) penyebaran  fungsi-fungsi  di antara  pelaku; (4)  skema  pergerakan  ceritaKata kunci: fungsi pelaku; penyebaran fungsi pelaku; Propp; skemapergerakan cerita; struktur naratif.
Semiotika Dalam Bahasa Propaganda Mahasiswa Dari Masa Ke Masa Tenu Permana; Agatha Trisari; Prapto Waluyo
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jsalaka.v5i1.8739

Abstract

Penelitian ini mengkaji makna dan latar sosiokuktural yang melahirkan bahasa propaganda di demontrasi mahasiswa dari masa ke masa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan semiotika dari gaya bahasa yang digunakan mahasiswa dalam bahasa propagandanya dari masa ke masa dan mendeskripsikan penyebab kondisi sosiokultural yang mengakibatkan adanya perubahan-perubahan gaya bahasa dalam demontrasinya dari masa ke masa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriftif kualitatif dan menggunakan teori semiotika yang menginterpretasi tanda-tanda yang ada dalam demontrasi mahasiswa dan menelaah pergeseran bahasa yang dipakai oleh mahasiswa dari masa ke masa.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tanda-tanda yang ada dalam bahasa propaganda mahasiswa dari masa ke masa meski berbeda-beda gaya bahasa yang digunakan namun tetap seirama memiliki makna yang dijadikan seruan perlawanan terhadap penguasa. Dari bahasa propaganda yang beragam itu adalah hasil dari latar sosiokultural yang dialami oleh mahasiswa. Pergeseran persepsi yang membentuk mahasiswa dihasilkan dari dialektika antara realitas dan kebijakan yang dilakukan penguasa, dan mahasiswa menilai serta selalu mengupayakan perlawanan pada penguasa yang zalim pada rakyat.
Semiotika Dalam Bahasa Propaganda Mahasiswa Dari Masa Ke Masa Tenu Permana; Agatha Trisari; Prapto Waluyo
Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jsalaka.v5i1.8739

Abstract

Penelitian ini mengkaji makna dan latar sosiokuktural yang melahirkan bahasa propaganda di demontrasi mahasiswa dari masa ke masa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan semiotika dari gaya bahasa yang digunakan mahasiswa dalam bahasa propagandanya dari masa ke masa dan mendeskripsikan penyebab kondisi sosiokultural yang mengakibatkan adanya perubahan-perubahan gaya bahasa dalam demontrasinya dari masa ke masa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriftif kualitatif dan menggunakan teori semiotika yang menginterpretasi tanda-tanda yang ada dalam demontrasi mahasiswa dan menelaah pergeseran bahasa yang dipakai oleh mahasiswa dari masa ke masa.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tanda-tanda yang ada dalam bahasa propaganda mahasiswa dari masa ke masa meski berbeda-beda gaya bahasa yang digunakan namun tetap seirama memiliki makna yang dijadikan seruan perlawanan terhadap penguasa. Dari bahasa propaganda yang beragam itu adalah hasil dari latar sosiokultural yang dialami oleh mahasiswa. Pergeseran persepsi yang membentuk mahasiswa dihasilkan dari dialektika antara realitas dan kebijakan yang dilakukan penguasa, dan mahasiswa menilai serta selalu mengupayakan perlawanan pada penguasa yang zalim pada rakyat.
LITERARY ECOLOGY STUDY NOVEL JERIT RINDU DARI LENGKO BUKIT KOMBA FOR THE RESCUE AND PRESERVATION OF THE NATURAL ENVIRONMENT IN MANGGARAI Agatha Trisari Swastikanthi
Prosiding Seminar Nasional dan Internasional HISKI 2021: PROCEEDING INTERNATIONAL CONFERENCE ON LITERATURE HISKI (NOVEMBER 2021)
Publisher : Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/psni.v0i0.9

Abstract

Nature and man work together to take care of each other. However, the nature of man causes an imbalance between the two because man utilizes and exploits natural wealth for his benefit. The purpose of the study is to uncover manganese mining exploitation activities in Bukit Rengge Manggarai. This research method is qualitatively descriptive. The data source is the text of the novel Jerit Rindu dari Lingko Bukit Rengge Komba by Endang Moerdopo. The analysis results showed that the people of Manggarai were aware of the adverse effects of mangan mining activities in their area.  Their struggle was successful, even though many people were victims. The local government followed up the community's request by making policies to preserve the natural environment in Bukit Range Manggarai NTT.
NILAI-NILAI KEARIFAN BUDAYA LOKAL TEMBANG SUNDA NYOREANG NYAWANG DAN LAJUNING LAKU PATANJALA SEBAGAI UPAYA KONSERVASI LINGKUNGAN DI BOGOR Swastikanthi, Agatha Trisari; Septriani, Hilda
Media Bahasa, Sastra, dan Budaya Wahana Vol 30, No 1 (2024): Volume 30 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/wahana.v30i1.10220

Abstract

Local cultural wisdom is based on locality. One of the forms of locality is the tembang. Sundanese songs that are part of oral literature today are not as much as they used to be, but there is still a group of people who still maintain the existence of these songs. One of them is as a means of invitation to build awareness in protecting nature and the environment. The data of this research is Sunda Nyoreang Nyawang and Lajuning Laku Patanjala. This study aims to identify the structure of the Sundanese Nyoreang Nyawang and Lajuning Laku Patanjala songs and identify the values of local cultural wisdom manifested in the Sundanese Nyoreang Nyawang and Lajuning Laku Patanjala songs. This research uses a qualitative method.  The theory used is that of Charles Sanders Pierce's semiotics. The data analysis technique begins by recording words related to local wisdom, to further reveal the conceptual meaning of each word that is used as data in the research. The results of this study show that the two songs represent the values of local cultural wisdom contained in the lyrics of the songs and are evidence of the footsteps of their creators related to concern for the environment and concern for others to continue to be aware of protecting the environment together.Keywords: Konservasi; value of local wisdom; tembang