Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Biopori Absorption Hole: Alternative Technology in the Framework Simple Harvest Rain Water Conservation. Purnami, Wahyuni
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol 8 No 2 (2016): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Water supply is a necessity for the prolongation of life. Water supply should be keptand conserved in order to meet the necessity of all the living things which are continously growing anddeveloping. Manggarai region, especially in Ruteng, tends to have high rain precipitation. Yet, it is nowonderthat in the dry season there is a draught, while flood and landslide occur in the raining season. It is a timefor raining to be harvested for the sake of water preservation and the prevention of flood and landslide. Asimple technology can be applied by creating the Biopori Absorption Hole (BAH). Biopori AbsorptionHole is a rain harvesting technology which optimally uses microorganism to make the land’s pores for theexpansion absorption facet to be absorbed into the ground. In addition to the benefit for the water-landpreservation, Biopori Absorption Hole is also useful for recyclinghousehold organic wastes and themaking of compost that can raise high economic value.Keywords: biopori, technology, harvest rain, water conservation
Pengembangan Modul Pendidikan Lingkungan Hidup di Sekolah Dasar Purnami, Wahyuni; Madu, Fransiska Jaiman; Utama, Wigbertus Gaut
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol 9 No 2 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah lingkungan merupakan tanggung jawab bersama baik masyarakat maupun pemerintah. Upaya penanaman rasa peduli lingkungansudah saatnya di tanamkan sejak dini, pada anak-anak. Berbagai upaya untuk menanamkan kepedulian lingkungan yang telah dilakukan antara lain melalui sosialisasi maupun kegiatan praktis dalam rangka menumbuhkan kepeduliaan lingkungan seperti pengelolaan sampah. Selain upaya diatas maka kepedulian lingkungan ini juga akan ditanamkanpada anak melalui proses pembelajaran di sekolah, yaitu melalui mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup. Modul untuk mendukung dan menjadi panduan dalam pembelajaran menjadi salah satu sumber belajar dalam pendidikanlingkungan hidup. Modul pendidikan lingkungan hidup yang akan dijadikan panduan ini merupakan modul yang lebih berbasis pada kultur sekolah, yang akan memuat materi lingkungan yang kontekstual dan kearifan localyang mendukung pelestarian lingkungan. Pengembangan modul ini merupakan tahap lanjutan dari penelitian yang pernah dilakukan berkaitan dengan pengelolaan sampah di sekolah dasar. Tahapan dalam pengembangan modul ini melalui tahap 3D (define, desaign dan development). Pada tahap define (pendefinisian) dilakukan pengkajian standar kompetensi, kompetensi dasar, indicator dan pengumpulan referensi materi yang berhubungan denganlingkungan serta kearifan-kearifan lokal yang mendukung permalahan lingkungan. Tahap Design (perancangan) dilakukan perancangan modul pendidikan lingkungan hidup dan pada tahap Development (pengembangan) dilakukanpembuatan modul pendidikan lingkungan hidup yang divalidasi oleh para ahli.
Introduksi Inovasi dan Teknologi Sederhana Konservasi Lingkungan pada Siswa Seminari Pius XII Kisol: Usaha Menciptakan Calon Pemimpin Sadar Lingkungan Utama, Wigbertus G.; Madu, Fransiska Jaiman; Purnami, Wahyuni
RANDANG TANA - Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 1 (2018): Randang Tana - Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah lingkungan hidup menjadi pusat perhatian dunia akhir-akhir ini. Hal tersebut terjadi karena begitu banyak masalah lingkungan yang terjadi dan tentu mengganggu segala aktivitas manusia. Salah satu masalah yang kerap menyita perhatian publik adalah, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Berdasarkan masalah tersebut, manusia tentu khawatir akan nasib bumi untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu, perlunya kreatifitas tinggi manusia sebagai penghuni dan tentu penjaga planet bumi. Salah satu langkah yang dapat dibuat adalah upaya internalisasi kesadaran ekologis melalui inovasi-inovasi pertanian yang ramah lingkungan seperti pembuatan pupuk bokasi, melakukan kegiatan daur ulang limbah kertas, dan mengkonserfasi air tanah. Adapun mitra dalam kegiatan ini adalah siswa seminari Pius XII Kisol dan tempat pelaksanaan kegiatan di lingkungan asrama siswa seminari.
Kesadaran Ekologis Di Lingkungan Sekolah Dasar Purnami, Wahyuni; Utama, Wigbertus Gaut; Madu, Fransiska Jaiman
JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar) Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar
Publisher : Program Studi Guru Sekolah Dasar STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitianpendahuluan yang berisi tentang upaya internalisasi kesadaran ekologis di lingkungan SDK Ruteng IV Ruteng Flores NTT. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi dan bentuk pengelolaan sampah di sekolah, perubahan perilaku siswa dalam pengelolaan sampah di lingkungan sekolah serta menemukan strategi yang efektif dalam upaya internalisasi kesadaran ekologis pada diri siswa SD. Luaran penelitian ini adalah tersusunnya strategi pengelolaan sampah di lingkungan sekolah Dasar serta adanya rekomendasi untuk instansi terkait dalam upaya pengelolaan sampah di sekolah. Pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner, wawancara, oberservasi, uji coba perlakuan sertareview dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode deskriptifkualitatif, menggunakan model Miles dan Huberman dengan pengumpulan data, reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pengelolaan sampah di SDK Ruteng IV dilakukan secara mandiri oleh guru, siswa dan pegawai di SDK Ruteng IV,penanganan sampah dilakukan secara mandiri dengan menumpuk sampah di samping sekolah,membakar sampah dan membuang keluar sekolah. Persepsi awal siswa menunjukkan sebagian besar,yaitu 60,27% siswa belum mengetahui manfaat sampah, sebanyak 50,64% siswa belum mengetahuibahaya sampah yang tidak diolah dengan baik. upaya yang dilakukan oleh sekolah dalam penanganan sampah di kelas dengan melibatkan siswa untuk piket membersihkan kelas. Upaya yang dilakukan dalam internalisasi ekologis dengan meningkatkan kesadaran tentang sampah (awareness). Pemikiran tentang sampah (thinking) dan pola perlakuan terhadap sampah (Doing). Perubahan yang terjadi pada siswa setelah upaya internalisasi ekologis adalah peningkatan prosentase siswa yang mengetahuimanfaat sampah yaitu 54% siswa. Siswa mampu membuat ketrampilan dari sampah yaitu 83%.Adanya perubahan ini menunjukkan perlunya penanaman sikap ekologis yang terus dan berkelanjutan baik melalui pembelajaran pendidikan Lingkungan Hidup maupun terintegrasi dalam mata pelajaranyang sesuai. Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan pola internalisasi ekologismelalui pembelajaran pendidikan lingkungan hidup.
Pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB Di Lingkungan SDI Konggang Kecamatan Langke Rembong-Manggarai. Utama, Wigbertus Gaut; Purnami, Wahyuni; madu, Fransiska Jaiman
JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar) Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar
Publisher : Program Studi Guru Sekolah Dasar STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tak dapat dipungkiri, air merupakan kebutuhan primer bagi semua makhlukhidup terutama manusia. Air yang dimaksud dalam hal ini tentu merupakan air sehat. Akan tetapi, masalahyang dihadapi sekarang adalah kurangnya ketersediaan air bersih di bumi tempat manusia tinggal terutamadi Manggarai. Berdasarkan masalah tersebut, manusia sebagai penghuni di bumi tak dapat tinggal diam.Persoalan ini, perlu disikapi secara serius. Berbagai solusi yang telah dilakukan dan yang akan dilakukanuntuk mengatasi masalah kurangnya ketersediaan air bersih. Salah satu solusi baru yang ditawarkan di siniadalah pembuatan lubang resapan biopori (LRB). Solusi ini ditawarkan agar manusia mampu menabung airdi dalam tanah untuk menjaga ketersediaan air tanah sehingga tidak mengalami kekurangan ketersediaanair saat musim kering. Dalam pelaksanaannya, dapat dilakukan dengan langkah-langkah yakni: 1)Penyebarluasan Informasi dan Penanaman Pengetahuan; 2) Pembuatan LRB di Lingkungan Sekolah; 3)Menjaga Keberlanjutan Kegiatan LRB di Lingkungan Sekolah.
PEMBUATAN LUBANG RESAPAN BIOPORI (LRB) DI LINGKUNGAN SDI KONGGANG KECAMATAN LANGKE REMBONG-MANGGARAI Wigbertus Gaut Utama; Wahyuni Purnami; Fransiska Jaiman Madu
JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar) Vol. 2 No. 1 (2018): JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar)
Publisher : PGSD UNIKA SANTU PAULUS RUTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB Di Lingkungan SDI Konggang Kecamatan Langke Rembong-Manggarai. Tak dapat dipungkiri, air merupakan kebutuhan primer bagi semua mahkluk hidup terutama manusia. Air yang dimaksud dalam hal ini tentu merupakan air sehat. Akan tetapi, masalah yang dihadapi sekarang adalah kurangnya ketersediaan air bersih di bumi tempat manusia tinggal terutama di Manggarai. Berdasarkan masalah tersebut, manusia sebagai penghuni di bumi tak dapat tinggal diam. Persoalan ini, perlu disikapi secara serius. Berbagai solusi yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah kurangnya ketersediaan air bersih.Salah satu solusi baru yang ditawarkan di sini adalah pembuatan lubang resapan biopori (LRB). Solusi ini ditawarkan agar manusia mampu menabung air di dalam tanah untuk menjaga ketersediaan air tanah sehingga tidak mengalami kekurangan ketersediaan air saat musim kering. Dalam pelaksanaanya, dapat dilakukan dengan langkah-langkah yakni: 1) Penyebarluasan Informasi dan Penanaman Pengetahuan; 2) Pembuatan LRB di Lingkungan Sekolah; 3) Menjaga Keberlanjutan Kegiatan LRB di Lingkungan Sekolah.
KESADARAAN EKOLOGIS DI LINGKUNGAN SEKOLAH DASAR Wahyuni Purnami; Wigbertus G. Utama; Fransiska J. Madu
JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar) Vol. 1 No. 1 (2017): JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar)
Publisher : PGSD UNIKA SANTU PAULUS RUTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36928/jipd.v1i1.616

Abstract

This study attempts to examine perception, the students’ behavior, and way of managing rubbish at SDK IV, Ruteng Flores NTT. This research is also sought to find out an effective strategy toward internalizing the ecological awareness to the primary students. The research product is the strategy of managing rubbish at the school environment, which is also recommended to other institutions. The data were obtained through questionnaire, interview, observation, and treatment as well as document review. The data were descriptively analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The research revealed that the school employed a self- management of rubbish involving the students, the teachers, and the staffs. The students’ perception increased from 60.27% to 83 %. The findings indicated that the internalization treatment improve the students’ perception and ecological awareness toward rubbish management at the school.
PERAN KELUARGA, LEMBAGA ADAT, PEMERINTAH DESA, DAN PERGURUAN TINGGI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR ANAK DI PERKAMPUNGAN TRADISIONAL Wahyuni Purnami; Ambros Leonanggung Edu; Elisabet Sarinastitin
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 7 No. 1 (2015): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.439 KB) | DOI: 10.36928/jpkm.v7i1.30

Abstract

Pendidikan anak merupakan fondasi dalam membangun suatu negara yang kokoh. Kenyataan pendidikan anak yang terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur, pada perkampungan tradisional di Manggarai masih sangat membutuhkan dukungan dan sentuhan dari berbagai lembaga terkait. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk ujicoba kerjasama antar berbagai stakeholder yaitu peran keluarga, lembaga adat, pemerintah Desa dan Perguruan tinggi dalam meningkatkan motivasi belajar anak. Lokasi penelitian dilakukan di kampung Meti, Desa Golo Wu’a, Kecamatan Wae Rii, Manggarai, Ruteng, Flores, NTT. Penelitian ini dilakukan dengan metode action research,. Selain data yang digunakan untuk penelitian, masyarakat setempat akan merasakan manfaat langsung dari proses penelitian tersebut. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dengan menggunakan: wawancara, Focus Group Discusion (FGD)/Diskusi kelompok Terarah, Uji Coba belajar bersama. Hasil dari penelitian ini diperoleh gambaran profil pendidikan masyarakat di kampung meti serta persepsi masyarakat terhadap kegiatan uji coba belajar bersama. Berdasarkan profil pendidikan di kampung meti menunjukkan angka putus sekolah yang tinggi yaitu 89% dari warga kampung meti yang berjumlah 842 orang tidak mempunyai ijazah dan hanya berijazah SD. Hasil akhir dari adanya tindakan yang dilakukan terhadap orang tua, tokoh adat, pemerintah desa serta kegiatan belajar bersama anak, menunjukkan adanya sikap dan perubahan persepsi terhadap pendidikan anak.
PENGEMBANGAN MODUL PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP DI SEKOLAH DASAR Wahyuni Purnami; Fransiska Jaiman Madu; Wigbertus Gaut Utama
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 2 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (998.043 KB) | DOI: 10.36928/jpkm.v9i2.129

Abstract

Masalah lingkungan merupakan tanggung jawab bersama baik masyarakat maupun pemerintah. Upaya penanaman rasa peduli lingkungan sudah saatnya di tanamkan sejak dini, pada anak-anak. Berbagai upaya untuk menanamkan kepedulian lingkungan yang telah dilakukan antara lain melalui sosialisasi maupun kegiatan praktis dalam rangka menumbuhkan kepeduliaan lingkungan seperti pengelolaan sampah. Selain upaya diatas maka kepedulian lingkungan ini juga akan ditanamkan pada anak melalui proses pembelajaran di sekolah, yaitu melalui mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup. Modul untuk mendukung dan menjadi panduan dalam pembelajaran menjadi salah satu sumber belajar dalam pendidikan lingkungan hidup. Modul pendidikan lingkungan hidup yang akan dijadikan panduan ini merupakan modul yang lebih berbasis pada kultur sekolah, yang akan memuat materi lingkungan yang kontekstual dan kearifan local yang mendukung pelestarian lingkungan. Pengembangan modul ini merupakan tahap lanjutan dari penelitian yang pernah dilakukan berkaitan dengan pengelolaan sampah di sekolah dasar. Tahapan dalam pengembangan modul ini melalui tahap 3D (define, desaign dan development). Pada tahap define (pendefinisian) dilakukan pengkajian standar kompetensi, kompetensi dasar, indicator dan pengumpulan referensi materi yang berhubungan dengan lingkungan serta kearifan-kearifan lokal yang mendukung permalahan lingkungan. Tahap Design (perancangan) dilakukan perancangan modul pendidikan lingkungan hidup dan pada tahap Development (pengembangan) dilakukan pembuatan modul pendidikan lingkungan hidup yang divalidasi oleh para ahli.
LUBANG RESAPAN BIOPORI (LRB): ALTERNATIF TEKNOLOGI SEDERHANA PANEN HUJAN DALAM RANGKA PELESTARIAN AIR Wahyuni Purnami
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 8 No. 2 (2016): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.213 KB) | DOI: 10.36928/jpkm.v8i2.186

Abstract

Lubang Resapan Biopori (LRB): Alternatif Teknologi Sederhana Panen Hujan dalam Rangka Pelestarian Air. Ketersediaan air merupakan kebutuhan utama untuk berlangsungnya suatu kehidupan. Ketersediaan air sudah semestinya dijaga dan dilestarikan, demi tercukupinya kebutuhan bagi semua makhluk hidup yang terus bertumbuh dan berkembang. Wilayah Manggarai, khususnya di daerah Ruteng, mempunyai kecenderungan curah hujan yang tinggi, tapi bukan hal yang mustahil sering mengalami kekeringan pada musim kemarau dan banjir serta longsor pada musim hujan. Sudah saatnya air hujan harus dipanen dalam rangka pelestarian air dan mencegah banjir serta longsor. Salah satu teknologi sederhana yang berpihak pada ciptaanNya dalam upaya pelestarian air adalah pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB). Lubang Resapan Biopori merupakan teknologi panen hujan dengan mengoptimalkan kerja hewan dan mikroorganisme tanah untuk membuat pori-pori tanah guna memperluas bidang penyerapan air ke dalam tanah. Selain bermanfaat untuk menjaga kelestarian air tanah, lubang resapan biopori juga dapat membantu penanganan sampah organik rumah tangga dan pembuatan kompos sehingga mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi.