Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM (Sebuah Pendekatan Normatif) Khairuddin Khairuddin; Ali Murtopo
Jurnal Edukasi Vol 10 No 2 (2022): JURNAL EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agama adalah kebenaran yang datang dari Tuhan maka agama memiliki nilai kemutlakan. Apa yang dapat dilakukan manusia adalah mencoba mendekati kebenaran itu, sedangkan yang sesungguhnya mengetahui kebenaran mutlak hanyalah Allah semata, Itulah pandangan dasar Islam dalam usaha memahami ajaran agama yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Melalui pendekatan studi kepustakaan, terdapat berbagai istilah pemimpin dalam Islam diantaranya ada kata Khalifah, Ulil Amri, Imam dan Ro’in. Ada dua bentuk paradigma umat terhadap kepemimpinan yang Islami diantaranya paradigma formalistic dan paradigma substantif. Kepemimpinan/ kekuasaan, menurut pandangan Islam merupakan sebuah amanah dan tanggungjawab yang tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada manusia tetapi juga akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Jadi pertanggungjawaban kepemimpinan/kekuasaan dalam Islam tidak hanya bersifat horizontal sesama manusia, tetapi juga bersifat vertikal kepada Allah diakhirat, barangkali inilah hakekat kepemimpinan/kekuasaan dalam Islam yang menjadi pembeda dengan kepemimpinan sekuler saat ini. Pemimpin yang ideal menurut konsep Islam adalah pemimpin yang mempraktekan prinsip-prinsip dasar kepemimpinan dalam Islam seperti prinsip Tauhid (QS.an-Nisa;48, QS.al-Ikhlas:1-4), prinsip Musyawarah (QS.al-Imran:159), prinsip Keadilan (QS.an-Nisa:58, QS.al-Maidah:8), prinsip Persamaan (QS. Al-Huzarat:13), prinsip Kebebasan yang bertanggung jawab (QS.al-Baqarah:256, QS.al-Kahfi:29). Disamping prinsip-prinsip diatas, seorang pemimpin yang ideal adalah kepemimpinan seperti apa yang telah dicontohkan Rasullullh SAW karena dalam dirinya terdapat suri tauladan yang baik, hal ini tercermin dalam sifat atau karakter yang ada pada diri Rasulullah yakni Siddiq (Jujur), Tabligh (menyampaikan kebenaran), Amanah (dipercaya), Fathannah (Cerdas).
Pelatihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa Sebagai Usaha Meningkatkan Karakter Bangsa Khairuddin Khairuddin; Edi Susrianto Indra Putra; A. Muthalib; Ahmad Ahmad; Edi Ardian
CEMARA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin Vol 1 No 2 (2023): CEMARA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Indragiri (UNISI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61672/cemara.v1i2.2683

Abstract

Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi, menggerakan, dan mengarahkan suatu tindakan pada diri seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Kepemimpinan merupakan salah satu aspek manajerial dalam kehidupan organisasi yang merupakan posisi kunci. Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) mengambil Tema, “Mengembangkan karakter guna mencapai kepemimpinan yang aktif, solidaritas, inspiratif dan kritis”. Peserta pelatihan ini adalah mahasiswa yang terlibat dalam kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan berbagai Organisasi Mahasiswa (ORMAWA). Kegiatan ini dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang bekerjasama dengan HMJ dilingkungan FKIP Universitas Islam Indragiri. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 19 Nopember 2023 bertempat di Aula Hotel Inhil Pratama Tembilahan. Melalui kegiatan ini diharapkan ada penambahan wawasan dalam berfikir, bersikap dan bertinggah laku dalam rangka menciptakan pendidikan karakter dikalangan mahasiswa. Metode kegiatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah ceramah, tanya jawab, diskusi dan simulasi.
PROFESIONALISME DOSEN DALAM METODE DISKUSI PADA PEMBELAJARAN Khairuddin Khairuddin
Jurnal Edukasi Vol 7 No 2 (2019): EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Indragiri (UNISI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v7i2.832

Abstract

Profesional adalah orang yang memiliki profesi atau pekerjaan yang dilakukan dengan memiliki kemampuan yang tinggi atau orang yang menjalankan profesi sesuai dengan keahliannya. Sementara profesionalisme sama dengan orang yang hidup dengan cara mempraktekkan suatu keterampilan yang mereka miliki dan terlibat dengan kegiatan yang sesuai dengan keahliannya tersebut. Metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar karena tujuan pembelajaran akan dapat di capai dengan penggunaan metode yang tepat. Dalam pembelajara banyak metode yang bisa digunakan dalam proses belajar mengajar, salah satunya metode diskusi. Maka dari itu metode diskusi adalah salah satu metode yang bisa diterapkan bahkan sering digunakan oleh dosen dalam pembelajaran. Metode diskusi merupakan metode yang paling popular di perguruan tinggi karena metode diskusi dianggap lebih efektif dalam mengembangkan kreatifitas, kemandirian dan kerjasama antara mahasiswa. Metode diskusi merupakan metode yang melatih mahasiswa untuk tampil percaya diri, punya ide sendiri, dan pengembangan ilmu pengetahuan secara alami, namun hal tersebut bisa terjadi jika metode diskusi dilaksanakan dengan baik dan benar di dalam pembelajaran.
MEMBANGUN PROFESIONALISME GURU DALAM ERA GLOBALISASI Khairuddin Khairuddin
Jurnal Edukasi Vol 8 No 1 (2020): EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Indragiri (UNISI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v8i1.1112

Abstract

Profesi guru pada dewasa ini sering dikategorikan sebagai profesi yang paling mendekati profesi penuh sebagaimana halnya dengan dokter, akuntan, pengacara, dan apoteker yang bersifat profesi, bernomor register, dan memiliki kode etik keprofesionalan sehingga guru benar-benar menjadi profesi yang membanggakan setara dengan profesi-profesi lainnya. Dari sini diharapkan dapat dijadikan tonggak kebangkitan guru untuk senantiasa terus meningkakan profesionalismenya dan sebagai upaya agar profesi guru menjadi daya tarik bagi siswa terbaik di negeri ini untuk menjadi guru. Dalam menjalankan tugasnya, guru lebih bersifat sebagai fasilitator sehingga siswa dapat berkembang menjadi dewasa yang utuh, maka dari itu model yang diutamakan adalah siswa yang aktif dan dominan. Tugas guru adalah memberi fasilitas agar siswa akhirnya belajar, mengolah bahan sehingga mengerti dan berkembang diri menjadi lebih dewasa. Guru harus lebih merangsang siswa untuk belajar, memberi dukungan, dan motivasi agar siswa mau terus belajar. Selain itu juga guru memberi tantangan kepada siswa, apa yang telah ditemukan oleh guru dipersoalkan sehingga siswa mengeluarkan segala pemikirannya untuk menjawab persoalan yang didiskusikan tersebut. Kemudian guru dan siswa mencari solusi bersama dan saling mengomunikasikan pemikiran masing-masing.
KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DITENGAH PANDEMI COPID-19 Khairuddin Khairuddin
Jurnal Edukasi Vol 8 No 2 (2020): EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Indragiri (UNISI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v8i2.1161

Abstract

Saat ini dunia sedang dikejutkan dengan adanya virus yang mematikan, yaitu virus corona atau Covid-19. Coronavirus disease (Covid-19) ini mengguncang dunia. Kejadian besar yang dipicu penyakit menular ini di luar prediksi banyak kalangan sehingga memberi banyak perubahan kepada aspek kehidupan salah satunya bidang pendidikan. Sistem pendidikan di sekolah merupakan salah satu yang terkena dampak negatif dari meluasnya wabah virus corona. Oleh karena itu, sistem pendidikan harus beradaptasi dengan virus corona apalagi sampai saat ini tidak ada tanda-tanda masa pandemic ini akan berakhir. Demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19, pemerintah mengubah sistem pendidikan yang pada mulanya proses pembelajaran dilakukan di sekolah diganti menjadi pembelajaran dari rumah. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi kepala sekolah untuk mengelola sebuah lembaga pendidikan dalam situasi yang berbeda. Kepala Sekolah dituntut kreatif dan menjadi motivator yang baik unutk merancang kurikulum dan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi darurat bencana covid-19 ini, melalui optimalisasi pemanfaatan teknologi bagi semua pihak disekolah dalam pelaksanaan model pembelajaran daring dengan menggunakan media seperti whatsApp, google classroom, zoom meeting dan sebagainya sehingga tercipta siswa yang memiliki kemampuan dan tujuan pendidikan tetap tercapai.
KONSEPSI ISLAM TENTANG TUHAN DAN IMPLIKASINYA PADA PENDIDIKAN Khairuddin
Jurnal Edukasi Vol 9 No 1 (2021): EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Indragiri (UNISI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v9i1.1547

Abstract

Dalam konsep Islam, Tuhan disebut Allah (bahasa Arab: الله‎) dan diyakini sebagai Zat Maha Tinggi Yang Nyata dan Esa, Pencipta Yang Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang Abadi, Penentu Takdir, dan Hakim bagi semesta alam. Islam menitikberatkan konseptualisasi Tuhan sebagai Yang Tunggal dan Maha Kuasa (tauhid). Dia itu wahid dan Esa (ahad), Maha Pengasih dan Maha Kuasa. Menurut ajaran Islam, Tuhan muncul di mana pun tanpa harus menjelma dalam bentuk apapun. "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (Al-'An'am :103). Sebagai pencipta, Allah itu maha esa dalam wujud-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya, oleh karena itu sifat Tuhan hendaknya ditransformasikan dalam pendidikan untuk mewujudkan manusia sebagai khalifah. Penciptaan dan penguasaan alam semesta menjadi saksi atas keesaan-Nya dan kuasa-Nya. Alam semestsa dirancang oleh Allah sebagai pasilitas hidup, yang harus dikembangkan melalui kreativitas manusia sehingga melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, Tuhan harus dikenal melalui ciptaan-Nya sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya, pemahaman tentang eksistensi Tuhan merupakan tujuan pendidikan.
KONSEPSI ISLAM TENTANG ALAM DAN IMPLIKASINYA PADA PENDIDIKAN Khairuddin Khairuddin
Jurnal Edukasi Vol 9 No 2 (2021): EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Indragiri (UNISI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/judek.v9i2.1731

Abstract

Dalam konsep Islam, Alam dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya adalah alam ghoib dan alam syahadah. Alam syahadah dalam istilah Inggris disebut universe yang artinya seluruhnya, yang dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai alam semesta. Alam semesta merupakan ciptaan Allah yang diurus dengan kehendak dan perhatian Allah. Allah menciptakan alam semesta ini dengan susunan yang teratur dalam aspek biologi, fisika, kimia, dan geologi beserta semua kaidah sains. Penciptaan dan penguasaan alam semesta menjadi saksi atas keesaan-Nya dan kuasa-Nya. Alam semestsa dirancang oleh Allah sebagai pasilitas hidup, yang harus dikembangkan melalui kreativitas manusia sehingga melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, Sunnatullah atau hukum Allah yang menyebabkan alam semesta selaras, serasi dan seimbang dipatuhi sepenuhnya oleh partikel atau zarrah yang menjadi unsur alam semesta. Hukum-hukum yang mengatur operasional alam harus dipelajari, sehingga peserta didik memilki keteraturan dalam hidupnya. Pendidikan hanya akan berhasil jika terjadi interkasi yang baik antara peserta didik dengan lingkungan seperti melestarikan lingkungan alam. Mempelajari alam dan hukum-hukum alam harus mengarah kepada alam sebagai tanda keagungan Tuhan.
Konsepsi Islam Tentang Manusia Dan Implikasinya Pada Pendidikan Khairuddin Khairuddin
Jurnal Edukasi Vol 10 No 1 (2022): EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Indragiri (UNISI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61672/judek.v10i1.1972

Abstract

God affirms that man is at the top of his creation, with a degree of perfection and uniqueness that is superior to all other creatures. (QS.At-Tin:4). But God warned him that he was not yet perfected and that he had to struggle to be perfected. (QS.Asy-Syams:7-10). This perfecting process is possible because the human being is in essence philosophical, intellectual, and intelligent, plus the coming of the apostles of the Lord, bringing the Scriptures as guidance to mankind's life. (QS.An-Nisa:174). It will not be accomplished if man does not use his understanding and does not follow the guidance of God. Education is simply a process of humanizing man; "man is the core of the educational process", that is, man is the nucleus of an educational procedure. It shows that human beings are both objects and perpetrators of education. Therefore, the formulation and implementation of education must always be based on the concept of human rights. The potential of human reason is capable of producing science, which must be cultivated and developed in an optimal and integrated way through the educational process. He is the God of the earth, and he is the Lord of all things.
Kepemimpinan Dalam Islam (Sebuah Pendekatan Normatif) Khairuddin Khairuddin; Ali Murtopo
Jurnal Edukasi Vol 10 No 2 (2022): EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Indragiri (UNISI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61672/judek.v10i2.2376

Abstract

Religion is the truth that comes from God, and religion has the value of the ultimate. It is only God who knows the truth, and he is the only one who understands the truth. Through the library study approach, there are various leaders in Islam, including the words Khalifah, Ulil Amri, Imam, and Ro’in. There are two forms of people's paradigms of Islamic leadership: the formalistic paradigm and the substantive paradigm. It is not only God’s will, but it is also His will, and it is His will that he will be the Lord of all the worlds. The ideal leader according to the Islamic concept is a leader who practices the basic principles of leadership in Islam, such as the principle of Tauhid (QS.an-Nisa:48, QS.al-Ikhlas:1-4), the principles of Mutyawarah (Qs. al-Imran:159), the principles of justice (QC.an-Nisa:58, QC.al-Maidah:8), the principle of equality (QD. Al-Huzarat:13), and the principle of responsible freedom. (QS.al-Baqarah:256, QS.al-Kahfi:29). In addition to the above principles, an ideal leader is one who has leadership like what has been explained by the Prophet (peace be upon him), because in him there is a good teaching, which is reflected in the nature or character of the prophet (Siddik), Tabligh (delivering the truth), Trust (believing), and Fathannah.
Nasihat Kyai Zaini Jambi Meliputi Ruang Dan Waktu Sepanjang Zaman (Fid-Dãraini) Abdul muthalib; Khairuddin Khairuddin
Jurnal Edukasi Vol 11 No 2 (2023): EDUKASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Indragiri (UNISI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61672/judek.v11i2.2670

Abstract

This letter is addressed to one of the Kyai Pondok Sa'adatasdaraian Jambi, who has a high commitment to preparing his centrinna, who will walk life safely and safely both for now and in the future, even far from that, the Fid-Daraini (dunia-akhirat). Kyai's advice was so bold that he passed it on to his sister-in-law. With that in mind, we'd like to know more about it. This method of research is based on the historical method, the theory of qualitative theory, while the aim is to know further why Kyai Zaini so seriously conveyed it to his sister and to really pay attention to the "advice" consisting of that rule. Though the advice of Kyai Kharismatik Jambi has passed decades ago, if observed deeply, it can be drawn the red thread that wherever a human being lives on this earth, if he follows all the "rules," whether religious rules, rules of state, or customary rules somewhere, then he will live safely and safely, and a healthy life is the dream of everyone.