Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENEGAKAN, PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG ATAS NATIONAL RISK ASSESSMENT Ali Imron; Sella Yulianti
Jurnal Surya Kencana Dua : Dinamika Masalah Hukum dan Keadilan Vol 6, No 1 (2019): Jurnal Surya Kencana Dua: Dinamika Masalah Hukum & Keadilan
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.019 KB) | DOI: 10.32493/SKD.v6i1.y2019.3037

Abstract

Abstrak Pelaku tindak pidana berusaha menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang merupakan hasil dari tindak pidana dengan berbagai cara agar harta kekayaan hasil tindak pidananya susah ditelusuri oleh aparat penegak hukum, sehingga dengan leluasa memanfaatkan harta kekayaan tersebut baik untuk kegiatan yang sah maupun tidak sah. Dalam konsep antipencucian uang, pelaku dan hasil tindak pidana dapat diketahui melalui penelusuran, untuk selanjutnya hasil tindak pidana tersebut dirampas untuk Negara atau dikembalikan kepada yang berhak. Dalam perkembangannya, tindak pidana pencucian uang semakin kompleks, melintasi batas – batas yuridiksi, dan menggunakan modus yang semakin variatif, memanfaatkan lembaga di luar sistem keuangan, bahkan telah merambah ke berbagai sektor. Untuk mengantisipasi hal itu, Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF ML) telah mengeluarkan standar internasional yang menjadi ukuran bagi setiap Negara dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme. Berkaitan dengan rekomendasi FATF, peraturan Otoritas Jasa Keuangan perlu mengatur beberapa rekomendasi FATF tetapi tidak terbatas pada pengaturan penerapan program anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme di sektor jasa keuangan berbasis risiko. Penanganan tindak pidana pencucian uang di Indonesia yang dimulai sejak disahkannya Undang-Undang No. 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, telah menunjukan arah yang positif. Pada tahun 2010 telah diubah dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.Kata Kunci: Pencegahan, tindak pidana, pencucian uang
KEBIJAKAN REFORMA AGRARIA TERHADAP LAHAN PERTANIAN DI KABUPATEN TULUNGAGUNG Siti Chadijah; Dwi Kusumo Wardhani; Ali Imron
JCH (Jurnal Cendekia Hukum) Vol 6, No 1 (2020): JCH (JURNAL CENDEKIA HUKUM)
Publisher : STIH Putri Maharaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33760/jch.v6i1.286

Abstract

The phenomenon of agricultural land use change one of which occurred in Tulungagung Regency, East Java. Agricultural land in Tulungagung Regency continues to experience shrinking, triggering fears of instability in the area's food security. Thus this research aims to answer and describe how: (1) Implementation of policies on agricultural land in Tulungagung Regency and (2) Factors that influence the implementation of agrarian reform in the Tulungagung Regency. The analysis begins dissecting the laws and regulations relating to Agrarian and Agrarian Reform Policies, among others: UUPA, Perpres No. 86 of 2018 on Agrarian Reform, and is associated with regulations related to the control and use of agricultural land, among others; Law No. 41 of 2009 concerning Protection of Sustainable Agricultural Land. Furthermore, reviewing the regulations at the Tulungagung District Land Office related to the Agrarian Reform on the Control and Use of Agricultural Land and Regional Regulations in force, then photographing how they are applied in the field so as to draw conclusions from the factors that influence the implementation of Agrarian Reform, one of which is a change use of agricultural land to become non-agricultural. The results of the study concluded that a strategic step is needed in the form of food agricultural land protection in Tulungagung Regency by regulating and immediately establishing it as a Sustainable Food Agriculture Area.
The comparison of narcotics criminalization in Indonesia and The Netherlands Fedhli Faisal; Ali Imron
Priviet Social Sciences Journal Vol. 5 No. 12 (2025): December 2025
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v5i12.1063

Abstract

This article discusses the comparative punishment for drug crimes in Indonesia and the Netherlands, two countries with very different legal approaches to dealing with drug-related cases. This article's primary goal is to examine the variations in the two nations' criminal policy strategies, the types of sanctions, and the legal foundations. This study uses a comparative legal method by examining the laws, doctrines, and criminal policies in force in each country. The results show that Indonesia tends to use a repressive approach with the threat of severe criminal penalties, including the death penalty and life imprisonment, whereas the Netherlands adopts a limited decriminalization approach for certain substances, focusing on rehabilitation and harm reduction. These findings reflect the differences in criminal law philosophy between punitive and more progressive legal systems. This article recommends a re-evaluation of the effectiveness of punishment in Indonesia, taking into account a more humane and public health-based approach, such as that applied in the Netherlands
Legal Ambiguity in Handling Cryptocurrency Evidence: Challenges and Solutions Kartono Kartono; Neva Sari Susanti; Samuel Soewita; Agus Salim; Ali Imron
Interdiciplinary Journal and Hummanity (INJURITY) Vol. 3 No. 11 (2024): INJURITY: Journal of Interdisciplinary Studies.
Publisher : Pusat Publikasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58631/injurity.v3i11.1307

Abstract

This study explores the legal ambiguities and challenges in handling cryptocurrency evidence in criminal cases, particularly in Indonesia. Cryptocurrencies, with their decentralized and anonymous nature, are increasingly being used in illegal activities such as money laundering, fraud, and drug trafficking. The absence of clear regulations on the legal status and treatment of cryptocurrencies as evidence creates significant hurdles for law enforcement, including difficulties in seizure, identification of owners, and admissibility in court. By employing a qualitative approach with descriptive analysis, the study analyzed legal frameworks, conducted interviews with legal experts, and reviewed cases involving cryptocurrencies. Findings highlight the need for clear regulations defining the legal status of cryptocurrencies, structured training programs for law enforcement on blockchain technology, and international cooperation to address cross-border challenges. The study offers actionable recommendations, including legal reform, capacity building, and enhanced international collaboration, aiming to improve governance and ensure justice in cases involving cryptocurrency evidence.
Penerapan Machine Learning Menggunakan Teachable Machine untuk Mendeteksi Pengelompokan Gambar di SMK Letris 1 Cheby Raka Sadewa; Ariyansyah; Faros Fadillah Robinson; Fajar Ramadhan; Ali Imron; Frans Wendi M.C.P; Eka Muhammad Guntur; Dahlan Supriatna
APPA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 1 (2026): APPA : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat 
Publisher : Shofanah Media Berkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (ML) menuntut siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk menguasai digital literacy yang relevan. Namun, pemahaman siswa mengenai implementasi praktis teknologi ini masih terbatas. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk mengenalkan konsep dasar Machine Learning beserta penerapannya melalui pelatihan klasifikasi gambar menggunakan platform Google Teachable Machine di SMK Letris 1 Indonesia. Metode pelaksanaan yang digunakan meliputi empat tahapan sistematis, yaitu persiapan dan survei, desain solusi dan penyusunan materi, implementasi interaktif melalui workshop praktik, serta evaluasi menyeluruh. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa peserta memiliki antusiasme yang tinggi dan berhasil membangun model pengelompokan gambar sederhana secara mandiri tanpa kendala pemrograman yang rumit. Pelatihan ini terbukti efektif meningkatkan digital literacy, kemampuan computational thinking, serta kesiapan siswa dalam menghadapi perkembangan teknologi di era industri.