Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

KAJIAN MATERIAL REFLEKSI DALAM PADA DINDING TERHADAP INTENSITAS PENCAHAYAAN ALAMI Muhammad Sega Sufia Purnama; Mukhamad Risa Diki Pratama; Dian Nugraha; Ukti Lutvaidah
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v7i2.3151

Abstract

Abstract: Natural lighting has been widely studied by measurement and simulation methods. Aperture is the factor under study associated with the intensity of light in the room. Reflective materials in their kind are walls and furniture. It also plays a role in determining the intensity of light in a room. This study aims to examine the various materials commonly used for walls and their effect on the intensity of light in a room. The research method used in this study is a quantitative method with a simulation using dialux Evo 8.6 software. Research begins by creating a model. The room model is made of 7 pieces in a row. After the model is finished, a window with a size of 1 x 1.3 m is created. Each room will be given a different wall material. The result is a room with wooden walls has the highest light intensity. The lowest intensity is in a room with walls of glass block material. The order from lowest to highest after red brick is rough plaster, followed by concrete, vinyl and then ceramic. This has to do with the condition of the surface of the material. The conclusion is that a room that has walls with a rough surface will experience a decrease in light intensity due to light diffraction. Color plays a role as an absorber of light. Even though the surface is smooth, if the color of the field is dark, the room will have low light intensity.Keyword: natural lighting, walls, inner reflection, light intensityAbstrak: Pencahayaan alami sudah banyak diteliti dengan metode pengukuran dan simulasi. Bukaan menjadi faktor yang diteliti dikaitkan dengan intesitas cahaya dalam ruangan. Material refleksi dalam jenisnya adalah dinding dan furnitur. Hal ini juga memainkan peran dalam menentukan intensitas cahaya dalam sebuah ruangan. Penelitian ini bertujuan mengkaji beragam material yang biasa digunakan untuk  dinding dan pengaruhnya terhadap intensitas cahaya dalam sebuah ruang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan simulasi menggunakan software dialux Evo 8.6. Penelitian dimulai dengan membuat sebuah model. Model ruang dibuat sebanyak 7 buah berjejer. Setelah model selesai maka dibuat jendela dengan ukuran 1 x 1.3 m. Setiap ruang akan diberikan material dinding yang berbeda. Hasilnya adalah ruang dengan dinding kayu mempunyai intesitas cahaya yang paling tinggi. Intensitas paling rendah ada pada ruangan dengan dinding material blok kaca. Urutan dari paling rendah ke lebih tinggi setelah bata merah ada pelster kasar disusul beton, vinyl lalu keramik. Hal ini ada hubungannya dengan kondisi permukaan material tersebut. Kesimpulanya adalah ruang yang memiliki dinding dengan permukaan yang kasar akan mengalami penurunan intensitas cahaya disebabkan terjadinya difraksi cahaya.Warna memainkan peran sebagai penyerap cahaya. Walau permukaannya halus bila warna bidang gelap maka ruang akan punya intensitas cahaya rendah. Kata Kunci: pencahayan alami, dinding, refleksi dalam, intensitas cahaya
Analisis Sumber Inspirasi Mahasiswa Arsitektur dalam Gubahan Massa Bangunan Bentang Lebar lukman afif; Mukhamad Risa Diki Pratama; Bambang Perkasa Alam; Okita Sisy Tiara; muhammad sega sufia purnama
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4355

Abstract

Abstract: This study aims to identify the sources of ideas used by architecture students during the process of mass composition exploration in two types of buildings, medium-rise buildings and wide-span buildings. The research method used a descriptive quantitative approach involving 74 students as respondents who produced two mass compositions each. The data obtained were then analyzed qualitatively and quantitatively to identify the origin of ideas, both from the building function, environmental elements, basic geometric forms, and cultural context. Findings reveal that the predominant source of ideas is derived from pure geometric transformations, followed by objects in the surrounding environment and thematic concepts such as organic and tropical styles. A minority applied pragmatic inspiration adapting to environmental conditions. These results underline the diversity of conceptual approaches among students and emphasize the importance of environmental context and cultural elements in architectural creativity. The study contributes to better understanding of the creative process in architectural education and provides insights for curriculum development aimed at nurturing student creativity. Keyword: Mass composition, Idea sources, Architecture students, Design process, Architectural education, Creative process. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumber ide yang digunakan mahasiswa arsitektur dalam proses eksplorasi gubahan massa pada dua jenis bangunan, yaitu bangunan bertingkat sedang dan bangunan bentang lebar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 74 mahasiswa sebagai responden yang menghasilkan dua gubahan massa masing-masing. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mengidentifikasi asal usul ide, baik dari fungsi bangunan, elemen lingkungan, bentuk geometri dasar, maupun konteks budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber ide dominan berasal dari perubahan bentuk geometri murni, diikuti oleh ide dari objek atau benda sekitar, dan konsep tematik seperti organik dan tropis. Sebagian kecil menggunakan ide pragmatis sebagai bentuk adaptasi dan respon terhadap lingkungan. Temuan ini menegaskan keragaman pendekatan mahasiswa dalam mencari ide untuk eksplorasi gubahan massa, serta pentingnya konteks lingkungan dan konteks budaya dalam proses kreatif perancangan arsitektur. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman proses kreatif dalam pendidikan arsitektur dan dapat menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum yang menunjang kreativitas mahasiswa. Kata Kunci: Gubahan massa, Sumber ide, Mahasiswa arsitektur, Proses perancangan, Pendidikan arsitektur, Kreativitas desain.