Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KOMPOS APUAPU TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASILTERUNG (Solanum melongena L.) Aritka Diun Pratama; Ince Raden; Mohamad Fadli
Jurnal Magrobis Vol. 22 No. 1 (2022): Jurnal Magrobis
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of kompos apu-apu on the growth and yield of eggplant. This study started from December 2017 to March 2018. Located in the Sumber Sari Village, Loa Kulu District, Kutai Kartanegara Regency. This research is compiled using a Randomized Completely Block Design (RCBD) consisting of four replications and consists of seven levels, that is: k0 : 0 (control), k1 (5 t ha-1), k2 (10 t ha-1), k3 (15 t ha-1), k4 (20 t ha-1), k5 (25 t ha-1), k6 (30 t ha-1). The results showed that compost fertilizer had no significant effect on plant height and plant age when flowering, number of plants, crop weight, and fruit weight per hectare. Treatment k6 (30 t ha-1) gave the highest average yield of 5,63 t ha-1. The treatment of k0 (control) gave the lowest average yield of 2,55 t ha-1).
Pengaruh POC Dan AB MIX Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Pakchoy (Brassica chinensis L.) Dengan Sistem Hidroponik Sundari Sundari; Ince Raden; Untung Slamet Hariadi
Jurnal Magrobis Vol. 16 No. 2 (2016): 2016
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Evaluasi Pembangunan Bidang Pertanian Di Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2013 Thamrin Thamrin; Sabran Sabran; Ince Raden
Jurnal Magrobis Vol. 15 No. 1 (2015): 2015
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran Pupuk Organik Kompos Berbasis Kotoran Hewan Terhadap Peningkatan Kesuburan Tanah Dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Ince Raden; Mohamad Fadli; Aswan Efendi
Jurnal Magrobis Vol. 14 No. 1 (2014): 2014
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IDENTIFIKASI KOMODITAS UNGGULAN SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Ince Raden; Thamrin Thamrin; Darmi Darmi; Mohamad Fadli
Jurnal Magrobis Vol. 11 No. 1 (2011)
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan sektor pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara. Untuk mencapai tujuan tersebut ada tujuh kriteria yang dijadikan dasar penilaian, yaitu kesesuaian lahan, dominasi pengusahaan, tingkat produktivitas wilayah (nilai relatif produktivitas komoditas), keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif, perdagangan komoditas antar wilayah, dan keterkaitan produk ke depan. Penelitian dilaksanakan di 8 kecamatan dan analisis data dilakukan secara deskripsi kuantitatif menggunakan skor 1 sampai 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padi sawah, padi ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kedelei merupakan komoditas unggulan tanaman pangan, sementara itu komoditas ungggulan sayuran adalah ketimun, kacang panjang, sawi, semangka, kangkung, cabe rawit, bayam, terung dan tomat. Komoditas unggulan buah-buahan adalah rambutan, pisang, durian, nangka, sukun, nenas, papaya, dan mangga, Sementara itu komoditas unggulan perkebunan meliputi karet, kopi, kelapa, kelapa sawit, lada, dan kakao Komoditas unggulan peternakan adalah karbau, ayam buras, itik, sapi, kambing, dan ayam potong. Sedangkan komoditas komoditas unggulan perikanan, yaitu tambak, perikanan laut, kolam, keramba dan perairan umum. Komoditas unggulan tersebut tersebar di 8 kecamatan dan masing-masing kecamatan memiliki tiga komoditas unggulan.
PENGARUH AKTIVATOR MOL IKAN TERHADAP pH, C/N RASIO, UNSUR HARA MAKRO DAN MIKRO PUPUK ORGANIK CAIR ASAL LIMBAH PASAR Ince Raden; Mohamad Fadli
Jurnal Magrobis Vol. 13 No. 2 (2013)
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan pH, C/N rasio, unsur hara makro dan unsur hara mikro Pupuk Organik Cair (POC) asal limbah pasar dengan menggunakan MOL ikan. Metode penelitian dilaksanakan secara deskriptif dengan hanya membandingkan peubah yang diamati antara sistem fermentasi aerob dan anaerob. Peubah yang diamati adalah pH, C/N rasio, N-total, P2O5, K2O, Catotal, Mg, S, Fe, Mn, Co, Cu, B, dan Zn. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik cair yang difermentasi aerob memiliki pH (5.14) dan N-Total (0,02 %) lebih tinggi dibandingkan anaerob, sebaliknya sistem fermentasi anaerob memberikan nilai kandungan bahan kimia atau unsur hara yang lebih tinggi dibandingkan kondisi aerob pada peubah C/N rasio (22,14), C/N rasio (4,19%), P2O5 (0,0095%), Ca-Total (86,695 ppm), Mg (520.6 ppm), dan S (700,00 ppm). Sementara itu K2O merupakan unsur hara yang memiliki nilai 0,051% yang sama antara kondisi aerob maupun anaerob.Key word : Mol ikan, aerob, anaerob, POC
AKLIMATISASI PERTUMBUHAN BIBIT ANGGREK CATTLEYA (Orchidaceae cattleya sp) HASIL KULTUR JARINGAN DENGAN PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR (POC) Eka Rahmawati; Ince Raden; Mutiah Mutiah
Jurnal Magrobis Vol. 17 No. 2 (2017)
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

REKLAMASI LAHAN PASCA TAMBANG BATUBARA MENJADI LAHAN PRODUKTIF DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Thamrin Thamrin; Ince Raden
Jurnal Magrobis Vol. 18 No. 2 (2018)
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara  merupakan kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources). Penambangan batubara secara terbuka memberikan dampak negatif terhadap penurunan kualitas  lahan, seperti perubahan bentang lahan (alam), rusaknya pipa-pipa kapiler dan permeabilitas tanah, kurangnya  daya  penyimpanan  air, dan terjadinya penurunan kualitas tanah sehingga reklamasi lahan pasca tambang yang benar menjadi sangat strategis untuk pemanfaatan lahan selanjutnya agar menjadi produktif.Tujuan kajian ini adalah untuk  meningkatkan kualitas lahan  pasca tambang guna untuk dimanfaatkan menjadi lahan produktif dengan berbagai kegiatan reklamasi. Kajian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2014 dalam wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.Metode analisis  yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa reklamasi lahan pasca tambang harus dilakukan sejak tahap  prakonstruksi, konstruksi,   operasi sampai pasca operasi tambang. Pada tahap prakonstruksi,  upaya   reklamasi melalui pembebasan lahan dengan sistem sewa lahan  kepada   pemilik lahan lebih cepat terjadi peningkatkan kualitas lahan dibanding sistem pembebasan lahan ganti putus karena perusahaan dituntut memperbaiki kondisi lahan sehingga menjadi produktif. Pada tahap   konstruksi, upaya reklamasi dengan pembukaan lahan tanpa pembakaran (zero burning) dan pengolahan biomassa hasil   pembersihan   lahan menjadi pupuk organic mempercepat perbaikan kualitas lahan.  Kemudian pada tahap operasi, tanah pucuk (top soil) dan tanah   penutup (sub soil) yang dikembalikan pada posisi semula (sebelum penambangan) dan dilanjutkan dengan kegiatan revegetasi dengan pengayaan tanah   melalui   penambahan pupuk  organik   dan  pertanian  terpadu melalui integrasi ternak dengan tanaman produktif  dan  bernilai   ekonomis sangat mendukung peningkatan kualitas lahan. Selanjutnya,    pada tahap pasca operasi yang dilakukan kegiatan reklamasi lanjutan minimal tiga tahun pasca tamban dapat  memperbaiki kondisi tanaman   sehingga  lahan  menjadi produktif.Keyword : Reklamasi, lahan pasca tambang, lahan produktif
ANALISIS TINGKAT PERKEMBANGAN WILAYAH UNTUK PEMBANGUNAN PERTANIAN BERBASIS KOMODITAS UNGGULAN DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Thamrin Thamrin; Ince Raden
Jurnal Magrobis Vol. 19 No. 2 (2019)
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis tingkat perkembangan  wilayah untuk pembangunan pertanian berbasis komoditas unggulan di kabupaten kutai kartanegara. Penelitian menggunakan metode analisis skalogram,  analisis sentralitas, dan analisis komoditas unggulan dan andalan, dengan dukungan data sekunder dan data primer dari berbagai sumber. Sesuai hasil analisis disimpulkan; a) Pembangunan pertanian berbasis wilayah dibangun melalui tiga zona yaitu zona hulu berpusat di Kecamatan Kota Bangun, zona tengah berpusat di Kecamatan Tenggarong, dan zona pantai berpusat di Kecamatan Muara Jawa; dan b) Pembangunan pertanian dilaksanakan dalam 3 tahap, yaitu tahap pertumbuhan (tahap 1), tahap pengembangan (tahap 2), dan tahap pemantapan (tahap 3). Tahap 1 adalah penguatan on-farm didukung pengembangan industri hulu. Tahap 2 dan 3 fokus pada pengembangan industri hilir (off-farm) dan perluasan investasi pembangunan industri penunjang didukung oleh kegiatan on-farm; c) Komoditas unggulan di Kabupaten Kutai Kartanegara antara lain : padi sawah, jagung dan singkong (tanaman pangan); kelapa sawit dan karet (tanaman perkebunan); sapi potong, kambing, ayam kampung, ayam pedaging dan ayam petelur (peternakan); dan perikanan laut, tambak, dan keramba (perikanan); dan d) Pembangunan pertanian berbasis wilayah akan mendukung pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu meningkatkan kelestarian lingkungan melalui konservasi tanah, air dan tanaman.
Peningkatan Produksi dan Analisis Kelayakan Usaha Padi Sawah Dengan Sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Ince Raden; Thamrin Thamrin; Eka Rahmawati
ZIRAA'AH MAJALAH ILMIAH PERTANIAN Vol 35, No 3 (2012)
Publisher : Pusat Publikasi Jurnal Universitas Islam Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/zmip.v35i3.49

Abstract

This study aims to determine the growth and productivity of low land rice, Inpari 14 variety managed under the integrated farming system (PTT) and to conduct its feasibility analysis with the same system.  The research used Randomized Block Design (RBD) non factorial consisting of 9 treatments and 3 replications.  The treatments used, namely: control (“square” style of plant spacing 20cm x 20cm, transplanting 17 days after sowing, 3 seedlings per planting hole, and no manure); PTT 1 (square plant spacing 20cm x 20cm, transplanting 15 days after sowing, one seedling per planting hole, and 1 t ha-1 manure); PTT 2 (“legowo style” of plant spacing of 2:1, transplanting 15 days after sowing, planting one seedling per planting hole, and 1 t ha-1 manure); PTT 3 (square plant spacing of 20cm x 20cm, transplanting 15 days after sowing, 2 seedlings, and 1 t ha-1 manure); PTT 4 (legowo spacing of 2:1, transplanting 15 days after sowing, planting 2 seeds per planting hole, and 1 t ha-1 manure); PTT 5 (square planting spacing of 20cm x 20cm, transplanting 15 days after sowing, planting one seed per planting hole , and 2 t ha-1 manure); PTT 6 (legowo spacing 2:1, transplanting 15 days after sowing, planting one seed per planting hole, and 2 t ha-1 manure); PTT 7 (square planting spacing of 20cm x 20cm, transplanting 15 days after sowing, 2 seeds per planting hole, and 2 t ha-1 manure), and PTT 8 (legowo spacing of 2:1, transplanting 15 days after sowing, 2 seeds per planting hole, and 2 t ha-1 manure).  Results showed that an increase in production of 0.9 t ha-1 or 17.33 percent of the rice attained by PTT 8 treatment compared to the control with each production 5.25 t ha-1 and 4.34 t ha-1.  There were trends that the dried husk rice results ha-1 of legowo cropping systems, namely PTT 2 (4.96 t ha-1), PTT 4 (5.21 t ha-1) , PTT 6 (4.13 t ha-1), and PTT 8 (5.25 t ha-1) had a higher yield than the PTT tile systems treatment, namely PTT 1 (3.18 t ha-1); PTT3 ( 4.13 t ha-1); PTT 5 (4.17 t ha-1), and PTT 7 (4.19 t ha-1).  The PTT 8 treatment gave profit per hectare of Rp. 16,171,057 (Sixteen Million One Hundred Seventy One Thousand Fifty Seven Rupiah) that was higher compared to control of Rp. 13,002,557 (Thirteen Million Two Thousand Five Hundred Fifty Seven Rupiah)                                          that mean the PTT 8 treatment provided increased revenue by 20%