Claim Missing Document
Check
Articles

The Anticipation of Schools Bullying Eni Hidayati; Chistina Tri Cahyani; Desi Ariyana Rahayu; Muhammad Fatkhul Mubin; Tri Nurhidayati
South East Asia Nursing Research Vol 2, No 4 (2020)
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/seanr.2.4.2020.25-31

Abstract

Bullying is an action to harm other people that continuously happen either in groups or individually. Bullying could happen in a school environment to the students who are quiet, small and to those unable to defend themselves. This study aims to determine the anticipation of bullying in the school environment. The frequency distribution test results obtained that 250 teachers were in the sufficient category in anticipating bullying prevention and 3 teachers were still in the poor category. The research hopefully can stop bullying in the school environment. Bullying is an action to harm other people which is carried out continuously either in groups or individually. Bullying could occur in a school environment to students who are quiet, small and those unable to defend themselves. Bullying prevented by regulations that could be valid to all school members. The study aims to determine the anticipation of bullying in the school environment. The frequency distribution test results obtained that 250 teachers were in the sufficient category in anticipation of bullying prevention and 3 teachers were still in the poor category. The research hopefully can stop bullying in the school environment.
Penurunan Gejala Perilaku Kekerasan Dengan Menggunakan Terapi Musik Instrumental Piano Pada Pasien Resiko Perilaku Kekerasan Junisca Vahurina; Desi Ariyana Rahayu
Holistic Nursing Care Approach Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.729 KB) | DOI: 10.26714/hnca.v1i1.8260

Abstract

Latar Belakang: Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk perilaku seseorang yang ditunjukan untuk melukai seseorang baik melukai secara fisik maupun psikologis dan dengan cara verbal ataupun nonverbal yang sehingga dapat melukai diri senidri, orang lain ataupun lingkungan. Dampak yang timbul dari seseorang yang mengalami perilaku kekerasan adalah kehilangan kontrol dirinya sendiri, dikarenakan seseorang tersebut mengalami panik dan perilaku dirinya dikuasai oleh amarahnya. Maka dari itu, diperlukan sebuah teknik untuk mengurangi perilaku kekerasan pada pasien dengan resiko perilaku kekerasan yaitu dengan melakukan teknik rerapi musik. Terapi musik merupakan suatu proses yang menggabungkan antara aspek penyembuhan dengan musik itu sendiri dengan kondisi tubuh; fisik, emosional, mental, spiritual, kognitif dan kebutuhan soasial seseorang itu sendiri. Metode: Studi kasus ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan proses asuhan keperawatan. Populasi dalam studi kasus ini yaitu semua pasien RPK di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang dan jumlah responden dalam studi kasus ini berjumlah 2 responden. Dilakukan di ruang UPIP pada bulan Desember 2019. Alat pengumpulan data dengan cara pengkajian dan lembar observasi. Hasil: Hasil post test pada study kasus ini setelah diberikan tindakan terapi musik instrumental selama 3x pertemuan menunjukkan bahwa pada kedua partisipan mengalami penurunan tanda dan gejala, pada partisipan 1 mengalami penurunan tanda dan gejala dari angka7 turun menjadi 4 dan pada partisipan 2 mengalami penurunan tanda dan gejala dari angka 8 menjadi 3. Simpulan: Ada penurunan tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan setelah diberikan intervensi inovasi terapi musik instrumental piano.Latar Belakang: Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk perilaku seseorang yang ditunjukan untuk melukai seseorang baik melukai secara fisik maupun psikologis dan dengan cara verbal ataupun nonverbal yang sehingga dapat melukai diri senidri, orang lain ataupun lingkungan. Dampak yang timbul dari seseorang yang mengalami perilaku kekerasan adalah kehilangan kontrol dirinya sendiri, dikarenakan seseorang tersebut mengalami panik dan perilaku dirinya dikuasai oleh amarahnya. Maka dari itu, diperlukan sebuah teknik untuk mengurangi perilaku kekerasan pada pasien dengan resiko perilaku kekerasan yaitu dengan melakukan teknik rerapi musik. Terapi musik merupakan suatu proses yang menggabungkan antara aspek penyembuhan dengan musik itu sendiri dengan kondisi tubuh; fisik, emosional, mental, spiritual, kognitif dan kebutuhan soasial seseorang itu sendiri. Metode: Studi kasus ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan proses asuhan keperawatan. Populasi dalam studi kasus ini yaitu semua pasien RPK di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang dan jumlah responden dalam studi kasus ini berjumlah 2 responden. Dilakukan di ruang UPIP pada bulan Desember 2019. Alat pengumpulan data dengan cara pengkajian dan lembar observasi. Hasil: Hasil post test pada study kasus ini setelah diberikan tindakan terapi musik instrumental selama 3x pertemuan menunjukkan bahwa pada kedua partisipan mengalami penurunan tanda dan gejala, pada partisipan 1 mengalami penurunan tanda dan gejala dari angka7 turun menjadi 4 dan pada partisipan 2 mengalami penurunan tanda dan gejala dari angka 8 menjadi 3. Simpulan: Ada penurunan tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan setelah diberikan intervensi inovasi terapi musik instrumental piano.
Penerapan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) Terhadap Penurunan Tekanan Darah Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Gayamsari Ariana Salwa; Desi Ariyana Rahayu
Holistic Nursing Care Approach Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.048 KB) | DOI: 10.26714/hnca.v2i2.10365

Abstract

Hipertensi adalah kondisi yang mengharuskan jantung untuk bekerja lebih berat dalam memompa darah keseluruh tubuh disebut dengan penyakit hipertensi. Suatu metode yang diimplementasikan untuk mengobati hipertensi dengan menggabungkan terapi spiritual dan juga do’a agar bisa melakukan penyembuhan secara fisik maupun psikis disebut dengan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). Riset yang dilakukan bertujuan melakukan analisis keefisienan metode SEFT terhadap tingkat penyembuhan hipertensi. Teknik yang diimplementasikan dalam riset ini yakni teknik descriptive melalui asuhan keperawatan. Sampel dalam riset menggunakan tiga responden pada pasien yang mengalami peningkatan tekanan darah penderita hipertensi, dengan kriteria penderita hipertensi yang sedang tidak menjalani komplementer, penderita hipertensi primer, mampu berkomunikasi dengan baik, bersedia menjadi responden dan dilakukan pada dewasa akhir umur 40-60 tahun. Berdasarkan riset yang telah dilakukan didapatkan hasil yaitu adanya perubahan yang signifikansi terhadap penurunan hipertensi dengan mengimplementasikan metode SEFT.
Penerapan kompres menggunakan aloevera untuk menurunkan suhu tubuh anak dengan hipertermia Faridatuz Zakiyah; Desi Ariyana Rahayu
Ners Muda Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v3i2.8376

Abstract

Demam (hipertermi) adalah keadaan suhu tubuh melebihi suhu tetap lebih dari 37ºC, yang sering diakibatkan salah satu kondisi dari tubuh atau eksternal yang dapat menyebabkan lebih panas yang biasanya dikeluarkan oleh tubuh. Kompres Aloevera merupakan metode fisik untuk menurunkan demam yang dapat dilakukan ketika anak demam tinggi. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui penurunan suhu tubuh anak hipertermi menggunakan kompres Aloevera. Studi kasus ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan proses asuhan keperawatan. Subjek studi kasus ini yaitu anak dengan jumlah 2 responden yang didapatkan secara random dengan kriteria inklusi suhu >37˚C usia pra sekolah. Kompres Aloevera dilakukan dengan meletakkan potongan aloevera yang sudah dicuci bersih dan diberikan campuran sedikit garam, dibungkus menggunakan kassa, kemudian letakkan dibagian dahi, aksila pada responden kurang lebih 15 menit. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa responden mengalami penurunan suhu rata-rata 1˚C-2˚C sesudah diberikan kompres Aloevera. Kompres Aloevera dapat menurunkan suhu anak  hipertermi.
Factors Affecting Cyberbullying In Adolescents: Literature Review Eni Hidayati; Mariyam Mariyam; Desi Ariyana Rahayu; Mohamad Fatkul Mubin; Ghodiq Ufthoni
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 7, No S2 (2022): Suplement 2
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.378 KB) | DOI: 10.30604/jika.v7iS2.1407

Abstract

One of the challenges that adolescents have to face on the internet is that they are easy to become perpetrators or victims of cyberbullying. Cyberbullying is intimidating behavior that is carried out individually or in groups using electronic media to harass, threaten, or humiliate someone and is done repeatedly. This writing aims to analyze previous research on perpetrators and victims of adolescent cyberbullying. This writing design uses research article searches in several databases with certain keywords in the 2019-2022 period and 20 articles are obtained that meet the inclusion criteria. The results of writing a literature review show that various factors influence cyberbullying behavior that occurs in victims and perpetrators among adolescents, individual factors, namely experience of violence, age, perception, psychological control, gender, and use of addictive substances. The article search method, the conclusion of writing this literature review shows that the factors that trigger cyberbullying behavior that occurs in victims and perpetrators among adolescents are gender, age, peers, and social media. In addition, there are several types of cyberbullying such as outing, cyber stalking, harassment, flaming, denigration, and impersonation. Meanwhile, a good stress-coping strategy for developing self-efficacy for victims of cyberbullying is emotional focus coping. Result: The conclusion of writing this literature review shows that the factors that trigger cyberbullying behavior that occurs in victims and perpetrators among adolescents are gender, age, peers, and social media. In addition, there are several types of cyberbullying such as outing, cyber stalking, harassment, flaming, denigration, and impersonation. Meanwhile, a good stress-coping strategy for developing self-efficacy for victims of cyberbullying is emotional focus coping. The conclusion of this literature review shows that the factors that trigger cyberbullying behavior in victims and perpetrators among adolescents are gender, age, peers, and social media. In addition, there are several types of cyberbullying such as outing, cyber stalking, harassment, flaming, denigration, and impersonation. Meanwhile, a good stress-coping strategy for developing self-efficacy for victims of cyberbullying is emotional focus coping. Astrak: Latar belakang: Salah satu tantangan yang harus dihadapi remaja di internet adalah mudahnya mereka menjadi pelaku atau korban cyberbullying. Cyberbullying adalah perilaku intimidasi yang dilakukan secara individu atau kelompok dengan menggunakan media elektronik dengan tujuan melecehkan, mengancam, mempermalukan seseorang dan dilakukan secara berulang-ulang. Tujuan: Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis penelitian terdahulu terkait dengan pelaku dan korban cyberbullying remaja. Perancangan penulisan ini menggunakan pencarian artikel penelitian di beberapa database dengan kata kunci tertentu pada periode 2019-2022 dan didapatkan 20 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Penulisan literature review menunjukkan bahwa terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku cyberbullying yang terjadi pada korban dan pelaku di kalangan remaja, faktor individu yaitu pengalaman kekerasan, usia, persepsi, kontrol psikologis, jenis kelamin, penggunaan zat adiktif. Metode pencarian artikel, kesimpulan dari penulisan literature review ini menunjukkan bahwa faktor-faktor pemicu perilaku cyberbullying yang terjadi pada korban dan pelaku di kalangan remaja adalah jenis kelamin, usia, teman sebaya, dan media sosial. Selain itu, ada beberapa jenis cyberbullying seperti outing, cyberstalking, pelecehan, flaming, fitnah, dan peniruan identitas. Sementara itu, strategi coping stres yang baik untuk mengembangkan efikasi diri bagi korban cyberbullying adalah emotional focus coping. Hasil: Kesimpulan dari penulisan literature review ini menunjukkan bahwa faktor-faktor pemicu perilaku cyberbullying yang terjadi pada korban dan pelaku di kalangan remaja adalah jenis kelamin, usia, teman sebaya, dan media sosial. Selain itu, ada beberapa jenis cyberbullying seperti outing, cyberstalking, pelecehan, flaming, fitnah, dan peniruan identitas. Sementara itu, strategi coping stres yang baik untuk mengembangkan efikasi diri bagi korban cyberbullying adalah emotional focus coping. Kesimpulan dari penulisan literature review ini menunjukkan bahwa faktor pemicu perilaku cyberbullying yang terjadi pada korban dan pelaku di kalangan remaja adalah jenis kelamin, usia, teman sebaya, dan media sosial. Selain itu, ada beberapa jenis cyberbullying seperti outing, cyberstalking, pelecehan, flaming, fitnah, dan peniruan identitas. Sementara itu, strategi coping stres yang baik untuk mengembangkan efikasi diri bagi korban cyberbullying adalah emotional focus coping.
Pengaruh Rendam Kaki Air Jahe Merah Hangat Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Dyan Sriyatna; Desi Ariyana Rahayu
Ners Muda Vol 3, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v3i3.10473

Abstract

Hipertensi atau tekanan darah tinggi yaitu dimana kondisi tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diatolik lebih dari 90 mmHg. Salah satu permaslalahan pada lanjlut uslia adlalah masallah akibat prosles degleneratif. Rendaman kaki dapat dikombinasikan dengan bahan herbal salah satunya jahe. Rasa hangat pada jahe dapat memperlebar pembuluh darah sehingga aliran darah lancar. Studi kasus ini bertujuan untulk mengetalhui penurlunan teklanan daralh tinggi padla paslien hipertenlsi setelah melakukan renldam kakli air jahe merah hanlgat. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan asuahan keperawatan pada pasien hipertensi yang mengalami tekanan darah tinggi memberikan rendam kaki air jahe merah hangat. Alat pengumpulan data dengan menggunakan lembar observasi, metode yang digunakan wawancara, spygnomanometer, dan air jahe merah hangat. Dari haslil studi klasus yang dilberikan mlelalui asuhan keperawaltan palda pasien dengaln memberikan terapli komplementer rendam kalki air jahe merah hangat pada pasien hipertensi, selajutnya dilakukan evaluasi dengan cara menilai kembali tekanan darah pada pasien. Hasil menunjukkan terdapat penurunan tekanan darah pada subjek denlgan ratla-rata penurlunan systolle sebanlyak 10 mlmHg dan penurunlan rlata-rata diastole sebanylak 10 mmlHg. Dapat disimpulkan adanya pengaruh terapi rendam kaki air jahe merah hangat terhadap pasien hipertensi dengan penurunan tekanan darah.
Efektivitas Terapi Musik Klasik pada Pasien Halusinasi Pendengaran Afif Mutaqin; Desi Ariyana Rahayu; Arief Yanto
Holistic Nursing Care Approach Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/hnca.v3i1.10392

Abstract

Halusinasi merupakan salah satu gejala dari gangguan persepsi sensori yang dapat dialami oleh penderita gangguan jiwa. Perubahan perilaku yang dapat muncul pada penderita halusinasi ialah mencurigai, takutan, perasaan yang tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak diri sendiri, kurang diperhatikan orang, tidak mampu mengambil keputusan, dan tidak mampu membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Halusinasi pendengaran yang  berasal dari dalam diri individu atau dari luar individu sendiri, suara yang didengar dapat dikenalnya, jenis suara tunggal maupun multiple bisa dianggap dapat memerintah tentang perilaku individu itu sendiri. Gangguan halusinasi dapat diatasi dengan cara nonfarmakologi, terapi nonfarmakologi bisa lebih aman digunakan karena tidak dapat menimbulkan efek samping seperti obat-obatan, salah satunya terapi nonfarmakologi yang lebih efektif adalah dengan mendengarkan musik klasik, terapi musik klasik ini dilakukan 7 hari secara berturut – turut. Studi kasus ini menggunakan desain deskriptif melalui proses asuhan keperawatan pada pasien halusinasi pendengaran. Pendekatan pengukuran yang dipergunakan adalah pre dan post test design. Studi dilaksanakan di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Subjek studi kasus dengan 3 orang yang di dapatkan melalui nonprobability sampling. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan dapat menurunkan frekuensi halusinasi pendengaran pada pasien. Pasien mengalami penurunan frekuensi halusinasi pendengaran setelah dilakukan terapi musik klasik yang diterapkan oleh penulis. Penerapan musik klasik terbukti mampu menurunkan frekuensi halusinasi pendengaran pasien.
Peningkatan Kemampuan Interaksi Pada Pasien Isolasi Sosial Dengan Penerapan Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi Sesi 1-3 Suwarni Suwarni; Desi Ariyana Rahayu
Ners Muda Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.557 KB) | DOI: 10.26714/nm.v1i1.5482

Abstract

Penderita yang mengalami gangguan jiwa di RSJD Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2018-2019 adalah sebanyak 2557 orang yang diantaranya terdapat penderita isolasi sosial 560 orang (21,9%). Kondisi diatas menggambarkan prevalensi masalah kesehatan jiwa baik gangguan jiwa ringan sampai berat cukup tinggi dan membutuhkan penanganan yang serius serta berkesinambungan. Isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Terapi Aktivitas Kelompok sangat efektif mengubah perilaku karena di dalam kelompok terjadi interaksi satu dengan yang lain dan saling mempengaruhi. Penerapan TAKS sesi 1-3 dilakukan selama 3 hari, evaluasi penerapan dilakukan setiap per sesi dan post-test dilakukan dihari keempat penerapan. Sampel pada penerapan ini berjumlah 2 responden yang dipilih menggunakan tekhnik random sampling yaitu pemilihan responden secara acak. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh TAKS sesi 1-3 terhadap peningkatan kemampuan interaksi pada pasien menarik diri di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah. TAKS sesi 1-3 dapat meningkatkan kemampuan interaksi pada pasien menarik diri di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah.
Penerapan Oral Hygiene Dengan Madu Pada Anak Usia Sekolah Dasar Dengan Evaluasi pH (Potential Of Hydrogen) Saliva Qurrata A’yun; Mariyam Mariyam; Vivi Yosafianti Pohan; Desi Ariyana Rahayu
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 4 (2021): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Post Pandemi Covid-19 Menuju Indonesia Tangguh
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebiasaan menggosok gigi dengan cara benar dan waktu yang tepat merupakan keberhasilan dalammenerapkan oral hygiene. Oral hygiene dilakukan untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut untukmenurunkan risiko pertumbuhan bakteri yang akan menimbulkan masalah pada gigi seperti kariesgigi. Salah satu oral hygiene yang dapat dilakukan untuk anak sekolah dasar adalah oral hygienemenggunakan madu. Studi kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan oral hygiene denganmenggunakan madu berdasarkan evaluasi pH saliva. Desain studi kasus ini menggunakan desainpenelitian deskriptif dengan pendekatan proses asuhan keperawatan. Subjek studi kasus adalah anakusia sekolah dasar. Subjek studi berjumlah 2 orang yang didapatkan secara purposive sampling. Datahasil studi disajikan dalam bentuk tabel intervensi evaluasi pH saliva selama 3 hari. Hasil studi kasusmenunjukkan kondisi pH saliva sebelum pemberian oral hygiene menunjukkan pH 13, kebiasaanmenggosok mengalami masalah dalam hal cara menyikat gigi, waktu pelaksanaan sikat gigi dankebiasaan mengonsumsi makanan manis. Kondisi setelah pemberian oral hygiene dengan madu pHsaliva menunjukkan pH 12, anak sudah paham cara melakukan sikat gigi dan waktu sikat gigi denganbenar serta kenyamanan menggunakan madu dibandingkan pasta gigi sehari-hari. pH saliva pasienmasih dalam rentang pH basa. pH saliva mempunyai manfaat dalam menekan risiko pertumbuhanbakteri pada mulut. Madu sebagai antibakteri ditunjukkan dengan kandungan senyawa fenol,hidrogen peroksida, osmolaritas yang tinggi, pH yang rendah efektif melawan bakteri gram positif,negatif dan methicilin-resistant Stapyhlococcis aureus (MRSA). Kesimpulan penelitian ini terdapatmanfaat madu sebagai oral hygiene sehari-hari anak usia sekolah dasar untuk menurunkan risikopertumbuhan bakteri di mulut. Kata Kunci : oral higiene, pH saliva, madu
Pregnant Mother's Anxiety Level On Stunting Risk Hidayati, Eni; Damayanti, Sifana Ayu; Rahayu, Desi Ariyana; Mubin, Mohamad Fatkhul; Hidayati, Tri Nur
South East Asia Nursing Research Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/seanr.4.1.2022.14-20

Abstract

Pregnancy at a young age and over the age of 35 is vulnerable to causing pregnant women to experience various risks of pregnancy because pregnant women at a young age do not know much about how to maintain their pregnancy conditions and pregnant women over the age of 35 experience a decrease in nutrient absorption so they are easy to experience various kinds of problems. One of the risks of pregnancy is stunting. Pregnant women usually experience a psychological decline that causes anxiety in themselves. So that it also has an impact on the growth and development of the prospective baby. The type of research used is an analytical approach. The design of this study used a cross-sectional approach. The population in this study were pregnant women in the Sembungharjo village area with a total of 27 pregnant women using a total sampling of data analysis using the chi-square test. The results of the study from 27 respondents were obtained that pregnant women with mild anxiety among as many as 16 respondents (59.3%), moderate anxiety among as many as 5 respondents (18.5%), and no anxiety among as many as 6 respondents (22.2%). Respondents with severe anxiety were 0 (0%). A total of 27 pregnant women respondents found that as many as 5 respondents (18.5%) had low risk while 22 respondents (81.5%) were not at risk, and pregnant women with high risk were 0 (0%). The conclusion is that there is no relationship between the anxiety level of pregnant women and the risk of stunting in Sembung Harjo sub-district, Genuk sub-district with a p-value of 0.366 (a> 0.05).