Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

KAJIAN SENYAWA AKTIF DAN KEAMANAN TANAMAN OBAT TRADISIONAL DI INDONESIA SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN MALARIA Jawa La, Elisabeth Oriana; Kurnianta, Putu Dian Marani
Acta Holistica Pharmaciana Vol 1 No 1 (2019): Acta Holistica Pharmaciana
Publisher : School of Pharmacy Mahaganesha (Sekolah Tinggi Farmasi Mahaganesha)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62857/ahp.v1i1.8

Abstract

Malaria merupakan salah satu penyakit menular dengan tingkat prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia. Penyakit malaria menjadi semakin serius karena meningkatnya jumlah parasit malaria (Plasmodium) yang resisten terhadap obat-obat antimalaria. Banyaknya keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia memotivasi banyaknya penelitian dan pencarian bahan obat baru untuk berbagai terapi, terutama untuk penyakit malaria. Pemanfaatan tanaman obat sebagai agent antimalaria sudah banyak dilakukan dan dikembangkan. Berdasarkan hasil penelitian, banyak senyawa aktif terkandung dalam tanaman yang diklaim sebagai tanaman antimalaria, baik berupa tanaman utuh, simplisia, maupun ekstrak, dan senyawa isolasi. Artikel review ini menggunakan metode studi literatur dari berbagai referensi tentang pemanfaatan dan penggunaan obat tradisional. Beberapa tanaman obat telah diteliti memiliki efek farmakologi sebagai obat malaria. Tanaman-tanaman yang memiliki efek antimalaria antara lain, Sambiloto (Andrographis paniculata Nees), Mundu (Garcinia dulcis Kurz), Anting-anting (Acalypha indica L.), Johar (C. siamea Lamk), Pasak bumi (Eurycoma longifolia jack), Ketumpang (Tridax procumbens L), Cocor bebek (Kalanchoe blossfeldiana Poelln), dan Talikuning (Anamirta cocculus). Meskipun efek samping dari obat-obatan tradisional relatif kecil, tetapi keamanan obat-obatan tradisional dalam praktik klinis yang baik harus dipertimbangkan. Kata kunci : Tanaman Obat ,Malaria, Plasmodium, Antimalaria, Keamanan Abstract Malaria is one of the infectious diseases with high prevalence. This disease has become extremely serious because of the resistance of its parasites. The abundance of biodiversity in Indonesia spurs a lot of researches for new medicinal ingredients of various treatments, especially malaria. The use of medicinal plants as antimalaria agents has been widely carried out and developed. Based on the results of research about antimalaria agent in the form of whole plants, simplicia, extract and isolated compounds, many active compounds were found in the plants. This article is a literature study to review traditional medicines from various references. Some medicinal plants have been studied to demonstrate pharmacological effects as antimalaria. These plants are for example; Sambiloto (Andrographidis paniculata Nees), Mundu (Garcinia dulcis Kurz), Anting-anting (Acalypha indica L.), Johar (C. siamea), Pasak bumi (Eurycoma longifolia jack), Ketumpang (Tridax procumbens L), Cocor bebek (Kalanchoe blossfeldiana Poelln), and Talikuning (Anamirta cocculus). Although the side effects of the traditional medicines are relatively small, but safety of traditional medicines for their good clinical practice should be considered. Key words: Medicinal plants, Malaria, Plasmodium, Antimalaria, safety
TINJAUAN KOMPARATIF STUDI MENGENAI EFEKTIVITAS BIAYA ANTIDIABETES ORAL PADA DIABETES MELITUS TIPE 2 Arini, Heny Dwi; Kurnianta, Putu Dian Marani
Acta Holistica Pharmaciana Vol 1 No 2 (2019): Acta Holistica Pharmaciana
Publisher : School of Pharmacy Mahaganesha (Sekolah Tinggi Farmasi Mahaganesha)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62857/ahp.v1i2.13

Abstract

Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang jumlah penderitanya terus meningkat. Terlebih lagi, diabetes mellitus merupakan penyakit yang tidak bisa sembuh total, bahkan butuh perawatan lama dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan efektivitas terapi diabetes melitus. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas terapi tersebut adalah dengan menganalisa obat antidiabetes dalam aspek farmakoekonomi, yaitu dengan analisis efektivitas biaya. Dari beberapa studi literatur, dapat diketahui bahwa tiap antidiabetes oral menghasilkan efektivitas dan biaya yang berbeda-beda. Untuk melihat antidiabetes oral mana yang paling cost effective adalah dengan melihat nilai ACER atau ICER. Semakin rendah nilai ACER, semakin cost effective obat tersebut. Golongan antidiabetes oral tunggal dengan efektivitas biaya terbaik berdasarkan perbandingan pada beberapa literatur adalah golongan biguanid (metformin). Sedangkan, golongan antidiabetes oral kombinasi dengan efektivitas biaya terbaik adalah kombinasi obat golongan biguanid (metformin) dengan obat golongan sulfonilurea (glimepirid atau glibenklamid).
POLA PEMBERIAN ANTIBIOTIK UNTUK INFEKSI SALURAN PERNAPASAN ATAS PADA PASIEN ANAK RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT UMUM DI GIANYAR TAHUN 2018 Wulandari, Ni Putu Diah; Kurnianta, Putu Dian Marani; Dhrik, Mahadri; Arini, Heny Dwi
Acta Holistica Pharmaciana Vol 3 No 1 (2021): Acta Holistica Pharmaciana
Publisher : School of Pharmacy Mahaganesha (Sekolah Tinggi Farmasi Mahaganesha)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62857/ahp.v3i1.30

Abstract

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan infeksi di saluran pernapasan yang menimbulkan gejala batuk, pilek, disertai dengan demam, dan mudah menular. Kejadian ISPA, khususnya bagian atas, sering menimpa populasi yang rentan, seperti anak-anak. Secara umum, tata laksana penyakit ISPA melibatkan penggunaan antibiotik serta obat-obat simtomatis yang mempertimbangkan diagnosis, gejala klinis, pemeriksaan fisik, dan parameter penunjang lainnya. Oleh karena itu, pola pengobatan pasien anak yang mengalami ISPA cenderung bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan antibiotik dan obat simtomatis pada pasien anak rawat jalan yang mengalami ISPA di salah satu rumah sakit umum di Gianyar tahun 2018. Penelitian observasional dengan desain cross sectional secara retrospektif telah dilakukan. Sampel penelitian ini memenuhi kriteria inklusi yang diambil dengan teknik purposive sampling. Data penelitian bersumber pada rekam medik dan resep pasien anak yang terdiagnosis ISPA selama bulan Januari sampai Mei 2018 di salah satu rumah sakit umum di Gianyar. Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan bantuan software Microsoft Excel. Dari sebanyak 77 sampel, diagnosis golongan ISPA bagian atas tertinggi adalah rhino-faringitis (RFA) (82%) dengan frekuensi pemberian golongan antibiotik yang paling sering diresepkan, yaitu sirup azitromisin 200 mg/ 5 ml (47%). Rentan usia yang paling banyak terkena ISPA bagian atas, yaitu 1-5 tahun (76,6%), dan berat badan 10-17 kg (52%). Pola peresepan obat simtomatis tertinggi ditempati oleh golongan dekongestan (pseudoefedrin HCl) (41,5%). Penggunaan obat simtomatis lainnya adalah golongan antipiretik dan analgesik yaitu parasetamol sirup (36,66%). Penelitian selanjutnya dapat dikembangkan untuk mengetahui efektivitas pengobatan antibiotik dan simtomatis pasien anak dengan ISPA secara lebih mendalam.
MANFAAT SUPLEMEN DALAM MENINGKATAN DAYA TAHAN TUBUH SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN COVID-19 Yani, Ketut Tia Pran Anggar; Kurnianta, Putu Dian Marani; Cahyadi, Kadek Duwi; Esati, Ni Ketut; Sawiji, Repining Tiyas; Darmawan, Gede Agus; Pramana, I Gede Komang Aditya; Sujayanti, Luh Gede Tina; Putra, Kadek Ria Dwitya; Purnamasari, I Gusti Ayu Putu Prima
Acta Holistica Pharmaciana Vol 3 No 1 (2021): Acta Holistica Pharmaciana
Publisher : School of Pharmacy Mahaganesha (Sekolah Tinggi Farmasi Mahaganesha)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62857/ahp.v3i1.33

Abstract

Penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) yang bermula di Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019 telah menyebar pesat sebagai pandemi global hingga ke Indonesia. Tingginya angka kejadian dan dampak mortalitas yang ditimbulkan mendorong dilakukannya berbagai upaya penanganan maupun pencegahan sesuai karakteristik perjalanan penyakit COVID-19. Salah satu upaya pencegahan infeksi maupun perburukan kondisi penderita COVID-19 adalah melalui penggunaan suplemen untuk peningkatan daya tahan tubuh. Diantara berbagai produk suplemen komersil di pasaran, beberapa komponen mikronutrien seperti vitamin B, C, D dan E, seng, dan selenium serta probiotik adalah komponen penting yang memberikan keuntungan dalam mencegah maupun menghadapi infeksi COVID-19. Bukti-bukti ilmiah melalui penelitian telah menunjukkan bahwa masing-masing kandungan suplemen tersebut berperan dalam peningkatan respon imun dan penyeimbang regulasi proses inflamasi dalam tubuh. Dengan demikian, aplikasi penggunaan suplemen adalah upaya rasional untuk menghadapi COVID-19 menuju era new normal, selama suplementasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.
Profil Terapi Antihipertensi pada Pasien Hipertensi dengan Komplikasi Tunggal Kurnianta, Putu Dian Marani; Darmiati, Ni Komang Ari; Dhrik, Mahadri; Yuliawati, Agustina Nila
Acta Holistica Pharmaciana Vol 6 No 1 (2024): Acta Holistica Pharmaciana
Publisher : School of Pharmacy Mahaganesha (Sekolah Tinggi Farmasi Mahaganesha)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62857/ahp.v6i1.158

Abstract

Hipertensi merupakan keadaan peningkatan tekanan darah sistolik dan/ atau diastolik yang membutuhkan upaya pengendalian untuk mencegah morbiditas dan mortalitas di tengah prevalensinya yang tinggi di Indonesia, termasuk di Bali. Kontrol hipertensi untuk memperlambat perburukan penyakit berupa komplikasi organ dilakukan berdasarkan algoritma tata laksana. Intervensi farmakologi berperan besar dalam terapi hipertensi, terlebih akibat keragaman pemilihan antihipertensi yang diberikan pada pasien hipertensi dengan komplikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan profil penggunaan antihipertensi pada pasien hipertensi dengan komplikasi tunggal di salah satu rumah sakit umum swasta “X” Gianyar berdasarkan peresepan pada periode Januari-Desember 2019. Desain cross sectional diterapkan dengan pendekatan retrospektif non eksperimental terhadap data sekunder yang bersumber dari rekam medis sesuai kriteria inklusi. Data yang diikutsertakan dalam penelitian ini memenuhi persyaratan jika melibatkan pasien hipertensi rawat jalan dewasa dengan satu macam komplikasi yang menjalani pengobatan sama pada minimal dua kali peresepan secara berturut-turut. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan penyajian berupa tabel dan diagram. Dari sejumlah total 108 pasien hipertensi, kejadian komplikasi yang paling banyak dialami adalah diabetes melitus (50,00%). Kombinasi dua jenis antihipertensi berbeda paling sering ditemukan pada seluruh pasien (45,40%). Antihipertensi golongan angiotensin receptor blocker (ARB) dan calcium channel blocker (CCB) kelas dihidropiridin mendominasi profil penggunaan obat pada penelitian ini, baik pada monoterapi maupun terapi kombinasi (≥20%). Profil antihipertensi pada pasien yang diteliti menunjukkan pola yang cenderung taat pada algoritma terapi, sehingga kesesuaian obat ini perlu dievaluasi lebih lanjut terkait hasil kontrol tekanan darah pasien pada periode pengamatan yang lebih lama.
Hubungan Antara Kesesuaian Terapi Berdasarkan Guideline dengan Kejadian Eksaserbasi pada Pasien Asma Rawat Jalan RS T Denpasar Kurnianta, Putu Dian Marani; Hilwa, Ulfanni; Dhrik, Mahadri; Ratnasari, Pande Made Desy
Generics: Journal of Research in Pharmacy Vol 5, No 1 (2025): Generics: Journal of Research in Pharmacy, Volume 5, Edisi 1, 2025
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/genres.v5i1.25521

Abstract

Pengobatan asma yang mengikuti guideline tata laksana dalam mengontrol dan mengatasi gejalanya merupakan salah satu strategi untuk mencegah eksaserbasi. Penelitian dengan konsep evaluasi pengobatan dan eksaserbasi asma masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kesesuaian pengobatan terhadap guideline dengan kejadian eksaserbasi pada pasien asma rawat jalan di salah satu rumah sakit umum di Denpasar. Penelitian observasional dilaksanakan dengan desain cross-sectional dan pendekatan analitik. Seluruh pasien yang memenuhi kriteria inklusi (pasien asma periode Juni 2023-2024 dengan ketersediaan data pengobatan dan kontrol rawat jalan) diikutsertakan dengan teknik sampling jenuh. Acuan evaluasi pengobatan adalah Global Initiative Strategy for Asthma 2023. Hubungan antara seluruh kriteria kesesuaian pengobatan terhadap guideline dengan tingkat kejadian eksaserbasi akut dianalisis secara statistik dengan uji Fisher’s Exact. Dari total 64 pasien yang didominasi oleh perempuan usia produktif (>75%), kesesuaian pengobatan terhadap guideline berkisar 78-100% berdasarkan aspek indikasi, obat, dosis, dan kondisi pasien. Kesesuaian pengobatan secara menyeluruh terhadap guideline berada pada angka 65,62%. Hubungan antara tingginya angka kesesuaian pengobatan terhadap guideline dengan kecenderungan rendahnya kejadian eksaserbasi akut (12,5%) bersifat tidak signifikan (p = 0,255). Meskipun tidak signifikan, penelitian ini mendukung praktik pelayanan yang mematuhi guideline pengobatan untuk meminimalisasi beban kerugian akibat eksaserbasi asma.
Hubungan Antara Kesesuaian Terapi Berdasarkan Guideline dengan Kejadian Eksaserbasi pada Pasien Asma Rawat Jalan RS T Denpasar Kurnianta, Putu Dian Marani; Hilwa, Ulfanni; Dhrik, Mahadri; Ratnasari, Pande Made Desy
Generics: Journal of Research in Pharmacy Vol 5, No 1 (2025): Generics: Journal of Research in Pharmacy, Volume 5, Edisi 1, 2025
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/genres.v5i1.25521

Abstract

Pengobatan asma yang mengikuti guideline tata laksana dalam mengontrol dan mengatasi gejalanya merupakan salah satu strategi untuk mencegah eksaserbasi. Penelitian dengan konsep evaluasi pengobatan dan eksaserbasi asma masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kesesuaian pengobatan terhadap guideline dengan kejadian eksaserbasi pada pasien asma rawat jalan di salah satu rumah sakit umum di Denpasar. Penelitian observasional dilaksanakan dengan desain cross-sectional dan pendekatan analitik. Seluruh pasien yang memenuhi kriteria inklusi (pasien asma periode Juni 2023-2024 dengan ketersediaan data pengobatan dan kontrol rawat jalan) diikutsertakan dengan teknik sampling jenuh. Acuan evaluasi pengobatan adalah Global Initiative Strategy for Asthma 2023. Hubungan antara seluruh kriteria kesesuaian pengobatan terhadap guideline dengan tingkat kejadian eksaserbasi akut dianalisis secara statistik dengan uji Fisher’s Exact. Dari total 64 pasien yang didominasi oleh perempuan usia produktif (>75%), kesesuaian pengobatan terhadap guideline berkisar 78-100% berdasarkan aspek indikasi, obat, dosis, dan kondisi pasien. Kesesuaian pengobatan secara menyeluruh terhadap guideline berada pada angka 65,62%. Hubungan antara tingginya angka kesesuaian pengobatan terhadap guideline dengan kecenderungan rendahnya kejadian eksaserbasi akut (12,5%) bersifat tidak signifikan (p = 0,255). Meskipun tidak signifikan, penelitian ini mendukung praktik pelayanan yang mematuhi guideline pengobatan untuk meminimalisasi beban kerugian akibat eksaserbasi asma.
PERBEDAAN EFEKTIVITAS NIFEDIPIN DAN METILDOPA PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN KEHAMILAN Prasetya, Anak Agung Ngurah Putra Riana; Ratnasari, Pande Made Desy; Kurnianta, Putu Dian Marani
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 13, No 1 (2024): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v13i1.5748

Abstract

Hipertensi pada kehamilan merupakan peningkatan tekanan darah (TD) ≥140/90 mmHg saat hamil. Hipertensi pada wanita hamil dapat diklasifikasikan menjadi hipertensi kronik, gestasional, pre-eklamsia, dan eklamsia. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbedaan pengaruh Nifedipin dan Metildopa dalam menurunkan tekanan darah sistolik (TDS) dan diastolik (TDD) pada kehamilan. Penelitian ini dilakukan di RSIA X di Denpasar dan merupakan penelitian non-eksperimental dengan jenis rancangan case study dengan pengambilan data secara restrospektif. Subjek penelitian adalah data rekam medis pasien hipertensi kehamilan yang mendapatkan terapi antihipertensi nifedipin atau metildopa. 20 sampel diambil menggunakan teknik non-probability sample dengan pendekatan purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji beda Independent sample t-test. Dari hasil penelitian ini didapatkan usia terbanyak pasien hipertensi dengan kehamilan yaitu pada rentang 30 – 39 tahun (60%). Rata-rata penurunan TD pada kelompok Nifedipin yaitu TDS sebesar 27,3 ± 14,32 mmHg dan TDD sebesar 15,3 ± 11,31 mmHg. Pada kelompok Metildopa terjadi rata-rata penurunan TDS sebesar 19,5 ± 8,37 mmHg dan TDD sebesar 11,7 ± 10,43 mmHg. Berdasarkan hasil uji beda diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara pemberian nifedipin dan metildopa dalam menurunkan tekanan darah sistolik (p=0,158 0,05) maupun diastolik (p =0,469  0,05).
PENYULUHAN KURATIF BEKERJASAMA DENGAN PUSKESMAS DESA SANGEH DALAM PEMERIKSAAN DAN EDUKASI PENATALAKSANAAN HIPERTENSI KEPADA MASYARAKAT DI POSYANDU BANJAR TEGAL GERANA DESA SANGEH Kusuma, Luh Adi; Kurnianta, Putu Dian Marani; Lestari, Gusti Ayu Dewi; Pramesti, Ni Komang Ayu Dyah; Wati, Ni Ketut Sindia; Dewi, Ni Putu Nita Lusiana; Pratiwi, Ni Kadek Saskya; Abiansyah, Faisal Oktaviani Pratama; Poa, Patricia Novica Dua
SINKRON: Jurnal Pengabdian Masyarakat UIKA Jaya Vol. 3 No. 3 (2025): SEMUA ARTIKEL TERBIT SECARA ONLINE
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIKA Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/jpmuj.v3i3.2869

Abstract

Hypertension is one of the most prevalent non-communicable diseases and a major contributor to morbidity and mortality rates in Indonesia. In Banjar Tegal Gerana, Sangeh Village, hypertension cases remain high, while public awareness regarding its management is relatively low. Therefore, a community service program was carried out in the form of curative health education aimed at increasing public knowledge about hypertension. This activity was conducted collaboratively between pharmacy students and healthcare professionals from the local public health center (Puskesmas). A total of 35 participants attended the session, which covered topics including the definition, risk factors, symptoms, complications, types of antihypertensive drugs, and how to measure blood pressure independently. A structured questionnaire was used as an instrument to assess knowledge through pretest and posttest evaluations. Data analysis using the Shapiro-Wilk test confirmed that the data were normally distributed (p > 0.05), allowing for further analysis using a Paired T-Test, which revealed a significant difference between pretest and posttest scores (p < 0.001). These findings indicate that the educational intervention effectively improved participants' knowledge. This program demonstrates that collaborative education between students and health professionals can serve as an effective promotive and preventive strategy for enhancing public awareness and independent management of hypertension.
Identification of Potentially Inappropriate Medication in Geriatric Patients at Wangaya Hospital, Denpasar City with Beers Criteria and Stopp Criteria in 2023 Putri, Made Shinta Sanma; Prasetya, Anak Agung Ngurah Putra Riana; Kurnianta, Putu Dian Marani
Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 21 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/pharmacon.v21i1.5251

Abstract

Geriatric (elderly) patients generally require a number of drugs (polypharmacy) to cure health-related conditions that tend to occur Potentially Inappropriate Medication (PIM). Identification of PIM is very important to prevent Drug Related Problems (DRP).  The purpose of the study was to identify the incidence of PIM using the Beers Criteria and STOPP Criteria and analyze the relationship between PIM risk factors and the incidence of PIM in geriatric patients at Wangaya Hospital, Denpasar City. This type of research is retrospective observational in a cross-sectional manner using simple random sampling techniques on all geriatric patients for the period 2023. Samples that met the inclusion criteria, namely geriatric patients aged ≥65 years in outpatient and inpatient facilities with geriatric patients who died and who were referred to other hospitals, were excluded from this study. Of the 354 samples, the prevalence of PIM in outpatient care was (4.23%) with the most common drugs being spironolactone (55.84%), Sulfonylureas (19.48%), and NSAIDs (6.49%) with Beers criteria. In hospitalization, (0.84%) with NSAIDs (25%), corticosteroids (25%), clopidogrel (25%), and antipsychotics (25%) with STOPP criteria. Based on the evaluation results, there was a very weak correlation between the number of drugs (p=0.000; r=0.199) and there was no relationship between the number of diagnoses (p=0.674) prescribed and the incidence of PIM. Based on this, it can be concluded that the greater the number of drugs can increase the risk of PIM.