DEDE AULIA RAHMAN
Conservation Of Forest And Ecotourism Department, Faculty Of Forestry And Environment, IPB, IPB Campus Dramaga, Bogor, 16680, Indonesia

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Okupansi Mamalia Besar Pada Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Bakhtiar Aji; Mirza Dikari Kusrini; Dede Aulia Rahman
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 2 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.2.317-329

Abstract

PLTP merupakan sumber energi terbarukan alternatif untuk mencukupi kebutuhan energi yang meningkat. Potensi sumber energi ini sebagian besar berada di ekosistem hutan & memberikan dampak ekologi. PT Supreme Energi Rantau Dedap (SERD) adalah salah satu pengembang PLTP pada Hutan Lindung Bukit Jambul Gunung Patah, Sumatera Selatan. Untuk tujuan kajian kekayaan spesies mamalia besar dan okupansinya, penelitian ini menggunakan data pemantauan kamera perangkap milik SERD yang dipasang selama tahap eksplorasi dan konstruksi. Data kemudia dianalisa menggunakan pemodelan okupansi single season dengan parameter dampak perubahan habitat (distance), cahaya malam (light), dan perbedaan tipe habitat hutan berdasarkan ketinggian (elevation). Total 13 dari 14 mamalia besar terekam oleh kamera perangkap dan satu melalu laporan pertemuan langsung. Sebagian besar model okupansi terbaik adalah dengan kovariat konstan. Hog badger dan Muntjak merupakan mamalia besar yang konsisten dengan okupansi tinggi antara okupansi naif dan hasil model. Empat spesies mamalia yang tingkat okupansi dipengaruhi dampak kegiatan PLTP yaitu Surili, Babi Hutan, Tapir dan Hog badger. Hasil ini menggambarkan bahwa, pada rentang tahap pengembangan, mamalia besar masih menggunakan habitat di wilayah pengembangan PLTP meskipun beberapa spesies memberikan respons negatif terhadap dampak yang ditimbulkan. Sedangkan pada tahap konstruksi, kekayaan spesies cenderung lebih tinggi namun dengan tingkat deteksi lebih rendah dan tingkat okupansi beragam untuk tiap spesies mamalia besar.
Pendugaan Kehilangan dan Perolehan Komposisi Jenis Mamalia sebagai Dampak Perubahan Tutupan Lahan menjadi Perkebunan Kelapa Sawit Muhammad Farid Al-Faritsi; Yanto Santosa; Dede Aulia Rahman
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 2 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.2.290-300

Abstract

Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa perubahan tutupan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit menyebabkan kehilangan jenis satwaliar, salah satunya dari kelompok mamalia. Oleh karena itu, diperlukan data mengenai bagaimana besarnya kehilangan jenis tersebut. Penelitian ini menduga besaran kehilangan dan perolehan jenis mamalia akibat adanya pembangunan perkebunan kelapa sawit. Data diambil dengan pengamatan langsung (metode strip transect) secara paralel di perkebunan kelapa sawit PT. Rambang Agro Jaya, Sumatera Selatan. Penelitian ini dilakukan pada tutupan lahan antara sebelum (semak belukar) dan setelah adanya perkebunan kelapa sawit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan dari semak belukar menjadi perkebunan kelapa sawit tidak mengubah jumlah jenis mamalia, namun meningkatkan indeks kekayaan jenis dan menurunkan indeks kekayaan jenisnya. Indeks kesamaan jenis antara semak belukar dan perkebunan kelapa sawit adalah 0,56. Pembangunan perkebunan kelapa sawit juga menyebabkan kehilangan dan perolehan jenis mamalia dengan persentase yang sama, yaitu 67%. Keberadaan mamalia setelah adanya perkebunan kelapa sawit diduga disebabkan karena ketersediaan pakannya.
Harvesting Quota and Financial Feasibility of Timor Deer Captive Breeding in Sadhana Arifnusa East Lombok Ilham, Yopin Okta; Masy'ud, Burhanuddin; Rahman, Dede Aulia
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 14 No 1 (2024): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.14.1.48-57

Abstract

Timor deer breeding activities as a type of animal that has economic value have been widely carried out in Indonesia. However, management in the form of determining harvest quotas that affect the feasibility of business is still minimal in various captive Timor deer in Indonesia.The objective of this research were to determine the harvest quota of timor deer and finansial feasibility of cavtive breeding of Sadhana Arifnusa. The harvest quota which is carried out once a year is determined based on the calculation of the break even point (BEP). The scenario of harvesting twice a year is based on the growth rate, and population harvesting rate. Financial feasibility is measured based on investment appraisal criteria, namely Net Present Value, Benefit Cost Ratio, Internal Rate of Return, and Payback Period. The result revealed that the harvest quota which is carried out once a year were 5 individuals, population size that must be available at the time of harvest is 48 individuals. Meanwhile, the harvest quota that is carried out twice a year from year 1 to year 3 is 2 individuals. Based on the financial value of the scheme without slaughter and the scheme with slaughter, it can be said that the timor deer captive business potentially profitable and feasible to develop with NPV values ​​of Rp. 428,748,935 and Rp. 934,136,423 respectively; BCR value respectively 1.66 and 2.46; IRR value of 28.89% and 32.89% respectively, and ability to return investment after 4.6 years and 5.1 years.