Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Dimensi Kearifan Lokal Masyarakat Bali Dalam Antologi Cerpen Malam Pertama Calon Pendeta Karya Gde Aryantha Soethama: Penelitian Andi Bacok, Anggriyani; Karmin Baruadi, Mohamad; Achmad Bagtayan, Zilfa
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2161

Abstract

Penelitian ini membahas kearifan lokal masyarakat Bali yang tercermin dalam antologi cerpen Malam Pertama Calon Pendeta karya Gde Aryantha Soethama dengan menggunakan teori kearifan lokal menurut Jim Ife. Cerpen ini menggambarkan kehidupan masyarakat Bali yang penuh dengan tradisi, sistem kasta, dan adat yang mempengaruhi kehidupan sosial sehari-hari, di mana tokoh-tokoh cerita harus menghadapi dilema antara pilihan pribadi dan tuntutan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dimensi-dimensi kearifan lokal dalam cerpen tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui membaca berulang kali, mencatat, serta memverifikasi teks dan referensi terkait. Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan antropologi sastra, berfokus pada enam dimensi kearifan lokal menurut Jim Ife: (1) pengetahuan lokal, (2) kebudayaan lokal, (3) sumber daya lokal, (4) keterampilan lokal, (5) proses lokal, dan (6) kerja dalam solidaritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan belas budaya yang teridentifikasi dalam keenam dimensi tersebut, yang menggambarkan kesenian, upacara adat, profesi, dan nilai-nilai sosial masyarakat Bali.
DIGLOSIA DALAM TUTURAN REMAJA DI DESA AYUHULALO KECAMATAN TILAMUTA KABUPATEN BOALEMO Gusani , Syisilia Maharani; Baruadi, Mohamad Karmin; Zakaria, Ulfa
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.35698

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan situasi penggunaan bahasa oleh remaja di Desa Ayuhulalo melalui permasalahan tentang 1) bagaimana bentuk diglosia dalam tuturan remaja di Desa Ayuhulalo, dan 2) faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya diglosia dalam tuturan remaja di Desa Ayuhulalo. Tujuan penelitian yakni, 1) mendeskripsikan bentuk diglosia dalam tuturan remaja di Desa Ayuhulalo dan 2) mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya diglosia dalam tuturan remaja di Desa Ayuhulalo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yakni, teknik simak, teknik catat, teknik wawancara, dan teknik dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan urutan pereduksian data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bentuk diglosia dalam tuturan remaja di Desa Ayuhulalo terdapat 2 bentuk yang sering digunakan yakni (1) diglosia dalam ragam tinggi mencakup Bahasa Indonesia dan Dialek Melayu Manado dan (2) diglosia dalam ragam rendah mencakup Bahasa Gorontalo dan Dialek Melayu Manado. Faktor penyebab terjadinya diglosia dalam tuturan remaja yang ditemukan dalam penelitian ini meliputi (1) faktor fungsi, (2)faktor prestise, (3) faktor pemerolehan, (4) faktor stabilitas
PRONOMINA BAHASA GORONTALO DAN BAHASA ATINGGOLA (SUATU KAJIAN ANALISIS KONTRASTIF) Tobelo, Nur Afni; Baruadi, Mohamad Karmin; Ntelu, Asna
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.41417

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan bentuk, persamaan dan perbedaan pronomina bahasa Gorontalo dan bahasa Atinggola. Data penelitian ini berupa kata yang dituturkan secara lisan oleh masyarakat di desa Mokonowu Kecamatan Monano dan desa Tombulilato. Metode penelitian ini adalah pendekatan analisis kontrastif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni Teknik Simak, teknik cakap, teknik catat serta teknik rekam suara dan gambar. Pada teknik analisis data pada penelitian yaitu mentranskip data, mengidentifikasi data, mengelompokkan data, mengiterpretasi data dan menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan adanya bentuk-bentuk pronomina diantaranya: kata ganti orang, kata ganti tanya, kata ganti penunjuk, pronomina tak tentu, kata ganti kepemilikan dan kata ganti penghubung. Perbandingan pronomina pada bahasa Gorontalo dan bahasa Atinggola ditemukan persamaan pronomina bahasa Gorontalo dan bahasa Atinggola pada kata ganti diri orang pertama tunggal dan jamak yaitu bentuk wa’u dan ami sedangkan perbedaan pada bahasa Gorontalo dan bahasa Atinggola terdapat pada kata ganti orang pertama tunggal dan jamak, orang kedua tunggal dan jamak dan orang ketiga tunggal dan jamak, kata ganti tanya, kata ganti penunjuk, kata ganti milik dan kata ganti penghubung. Simpulan dari penelitian ini terdapat bentuk-bentuk, persamaan dan perbedaan pronomina bahasa Gorontalo dan bahasa Atinggola.
The Symbolic Meanings of Traditional Objects in the Mohuntingo Procession in Kabila District Yuyun Indriani Ointu; Mohamad Karmin Baruadi; Muslimin
INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 12 No. 4 (2025): INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36232/interactionjournal.v12i4.4642

Abstract

The Mohuntingo procession is a sacred birth ritual in the Gorontalo community, performed as an expression of gratitude through the ceremonial cutting of an infant’s hair. Beyond its ceremonial nature, this tradition embodies deep philosophical values reflected in each ritual stage and the symbolic use of traditional objects. Every element in the Mohuntingo procession represents the cultural worldview of the Gorontalo people, which is strongly rooted in customary practices and Islamic principles. This study provides a detailed description of the Mohuntingo stages in Kabila District and examines the symbolic meanings of the traditional objects used, including young coconut, betel nut, dulang, fragrant oil, a razor, flowers, and lu’adu. A descriptive qualitative design was employed, with data gathered through observation, interviews with traditional and religious leaders, cultural practitioners, and local residents, as well as field documentation. Data were analyzed through reduction, presentation, and interpretation while maintaining the sociocultural context of Gorontalo society. The findings reveal that each traditional object holds symbolic meanings related to purity, protection, cultural identity, life harmony, and the reinforcement of religious values. The ritual also strengthens social cohesion, deepens kinship ties, and functions as a medium for transmitting customary and Islamic values to younger generations. Overall, the study concludes that Mohuntingo is not merely a birth ritual but a cultural transmission system rich in spiritual, social, and educational significance, demonstrating the enduring relevance of Gorontalo’s cultural identity amid modernizing influences.
Penguatan Identitas Budaya melalui Toponimi Danau Perintis sebagai Daya Tarik Wisata Edukatif di Desa Huluduotamo Baruadi, Mohamad Karmin; Eraku, Sunarty Suly; Pambudi, Moch. Rio
Lamahu: Jurnal Pengabdian Masyarakat Terintegrasi Vol 5, No 1: February 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/ljpmt.v5i1.34858

Abstract

Huluduotamo Village is developing Lake Perintis as a culture-based educational tourist attraction, but the local toponymic narrative is still predominantly oral, undocumented, and not yet integrated into the visitor experience. The Thematic Community Service Programme (April–June 2025) aims to explore and document the toponymy of Lake Perintis, strengthen the storytelling skills of residents, and provide digital interpretation media to support the preservation of cultural identity. The activities use a participatory-educational approach involving 32 participants (village government, traditional leaders, youth, community, and academics) through initial observation, perception/knowledge surveys, Focus Group Discussions (FGD) for narrative validation, interpretation content production, and dissemination. The programme produced (1) agreed cultural narratives from the FGD, (2) a destination interpretation content package combining historical/toponymic narratives, maps of important points, and visitor ethics, and (3) three QR codes installed at strategic points around the lake. Pre- and post-evaluations of participants showed an increase in understanding of toponymy and the importance of cultural preservation, accompanied by strengthened community participation in maintaining the cleanliness and environment of the destination. The integration of toponymy, storytelling, and QR codes enriches the learning experience of tourists while strengthening local cultural identity, making it a relevant strategy for sustainable educational tourism development in Huluduotamo Village.
Balinese Language Lexicon in the Tradition of Installing Penjor at the Galungan Celebration in Sari Bhuana Village, Toili Jaya District Laksmiasih, Eka Devi; Baruadi, Mohamad Karmin; Agustin, Puspita Dian
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Maret 2026
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v5i2.1177

Abstract

The tradition of installing penjor is a Balinese cultural heritage that is full of values and symbolism. In this tradition, there are various Balinese lexicons used in the process of making penjor during the Galungan celebration, but the understanding of their use and meaning has not been widely studied, especially in Sari Bhuana Village, Toili Jaya District. The lexicon does not only function as linguistic terms, but is also related to the cultural identity and spiritual values of the community. This study aims to examine the Balinese lexicon used in the tradition of installing penjor and analyze the meaning of each element of penjor, such as tieng, wastra, lamak, tebu, biu, and jaje, based on the understanding of the people of Sari Bhuana Village as part of their cultural identity and spiritual values. This study uses a descriptive method to examine the Balinese lexicon in the tradition of installing penjor during the Galungan celebration in Sari Bhuana Village. Data were obtained through observation, interviews, and documentation of the process of making penjor and sources such as the village head, parisada chairman, traditional leaders, and village officials. Data analysis was carried out through reduction, presentation, and drawing conclusions with a focus on identifying terms, functions, and meanings of the lexicon. Data validity was strengthened through triangulation of sources and techniques. The results of the study indicate that the Balinese lexicon in the penjor installation tradition functions not only as linguistic terms but also contains cultural meaning in each of its elements. This lexicon represents the relationship between humans and nature and spiritual values passed down through generations. Based on the results of the study, it can be concluded that the Balinese lexicon in the penjor installation tradition serves as a cultural symbol that conveys a philosophy of life and a form of devotion to the Creator.