Titik Nur Aeny
Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Lampung

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENGARUH PENGOLAHAN TANAH DAN PEMULSAAN TERHADAP KERAGAMAN DAN KELIMPAHAN NEMATODA PARASIT TUMBUHAN PADA PERIODE TANAM RATOON- I DI PERKEBUNAN TEBU PT GUNUNG MADU PLANTATIONS Uswatun Hasanah; I Gede Swibawa; Titik Nur Aeny
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.928 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i1.1939

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman dan kelimpahan nematoda parasit tumbuhan akibat perlakuan sistem pengolahan tanah dan pemulsaan pada pertanaman tebu periode ratoon I. Penelitian dilaksanakan di lahan pertanaman tebu milik PT Gunung Madu Plantations dari April sampai dengan September 2012. Satuan percobaan berupa petak 25 m x 40 m dirancang menggunakan rancangan petak terbagi (split plot design) dengan sistem olah tanah sebagai petak utama dan pemulsaan sebagai anak petak, dengan lima ulangan (kelompok). Sistem olah tanah terdiri dari dua taraf, yaitu tanpa olah tanah dan olah tanah intensif. Pemulsaan terdiri dari 2 taraf, yaitu pemberian mulsa bagas 80 ton ha-1 dan tanpa mulsa. Sampel tanah diambil ketika tebu berumur 8 bulan dan 11 bulan, nematoda diekstraksi menggunakan metode penyaringan dan sentrifugasi menggunakan larutan gula dan diidentifikasi sampai pada tingkat genus berdasarkan ciri morfologinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di lahan PT GMP ditemukan 34 genus nematoda dalam 6 ordo pada pertanaman tebu ratoonI. Jumlah genus dan indeks keragaman Shannon nematoda pada pertanaman tebu ratoon I tidak dipengaruhi oleh sistem olah tanah dan pemulsaan. Indeks keragaman Simpson nematoda pada pertanaman tebu ratoon I dengan perlakuan sistem olah tanah intensif tanpa pemulsaan lebih tinggi dibandingkan pada sistem tanpa olah tanah tanpa pemulsaan. Kelimpahan nematoda parasit tumbuhan pada pertanaman tebu ratoon I tidak dipengaruhi oleh perlakuan olah tanah dan pemulsaan. Kelimpahan nematoda parasit tumbuhan pada tebu ratoon I ketika umur 11 bulan lebih rendah daripada ketika umur 8 bulan.
UJI KETAHANAN BEBERAPA VARIETAS PADI TERHADAP VIRUS TUNGRO Devita Sari; Muhammad Nurdin; Titik Nur Aeny
Jurnal Agrotek Tropika Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.908 KB) | DOI: 10.23960/jat.v1i3.2060

Abstract

Penelitian untuk mengetahui ketahanan tujuh varietas padi terhadap virus tungro telah dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Evaluasi ketahanan dilakukan dengan penularan buatan terhadap stadia bibit. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tujuh perlakuan (varietas) dan empat ulangan. Ketujuh varietas (Cigelis, Cilamaya Muncul, Inpari 13, Inpago 3, IR 64, Juita, Situbagendit) ditanam dalam gelas plastik berdiameter 8 cm dan tinggi 12 cm masing-masing dua benih per gelas. Setiap gelas dimasukkan ke dalam kurungan yang berbeda. Sebagai varietas pembanding tahan adalah varietas Cigelis dan pembanding peka varietas Inpago 3. Sumber inokulum berupa tanaman padi bergejala tungro diambil dari lapangan. Infeksi buatan dilakukan dengan cara melepaskan wereng hijau pada tanaman padi selama 24 jam kemudian diambil dan diinfestasikan pada padi dalam kurungan, masing-masing dua ekor tiap kurungan selama tiga hari. Pengamatan ketahanan varietas terhadap tungro dilakukan pada umur padi 2, 4, 6, dan 8 mst. Pengamatan keparahan penyakit dilakukan terhadap tipe gejala yang muncul dan tinggi tanaman. Tingkat keparahan gejala tungro dievaluasi sesuai dengan Standard Evaluation System for Rice, IRRI. Data hasil pengamatan indeks penyakit dan tinggi tanaman dianalisis menggunakan sidik ragam pada taraf nyata 5% dan selanjutnya nilai tengah diuji dengan uji Duncan pada taraf yang sama. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lima varietas (Cigelis, Cilamaya Muncul, Inpari 13, Juita, Situbagendit) dapat digolongkan tahan, satu varietas (Inpago 3) agak tahan, dan satu varietas (IR 64) tergolong rentan.
PENGARUH Trichoderma spp. DAN FUNGISIDA SINTETIS TERHADAP PERTUMBUHAN Sclerotium rolfsii DAN KETERJADIAN PENYAKIT REBAH KECAMBAH KACANG TANAH Anisah Fajar Mahabbah; Titik Nur Aeny; Tri Maryono
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.918 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i2.2086

Abstract

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu tanaman jenis kacang-kacangan yang penting. Produksi kacang tanah di Indonesia terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Salah satu penyebab rendahnya produksi kacang tanah adalah masih rendahnya ketahanan tanaman kacang tanah terhadap penyebab penyakit rebah kecambah. Salah satu metode pengendalian rebah kecambah pada kacang tanah adalah menggunakan agen hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan Trichoderma spp., fungisida karbendazim dan mankozeb terhadap pertumbuhan Sclerotium rolfsii patogen rebah kecambah dan keterjadian penyakit rebah kecambah pada kacang tanah. Penelitian ini terdiri atas dua sub percobaan yaitu percobaan in vitro dan pengujian in planta. Perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma spp. mampu menekan pertumbuhan Sclerotium rolfsii secara in vitro maupun in planta, sedangkan perlakuan fungisida tidak dapat menekan pertumbuhan S. rolfsii.
PENGARUH FUNGISIDA BERBAHAN AKTIF ASAM KLORO BROMO ISOSIANURIK TERHADAP INTENSITAS PENYAKIT BLAS, HAWAR PELEPAH DAUN DAN BERCAK DAUN CERCOSPORA PADA TANAMAN PADI DI GADINGREJO, PRINGSEWU Pendi Setiawan; Titik Nur Aeny; Efri Efri
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.528 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i2.2085

Abstract

Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman penghasil beras yang menjadi makanan pokok bagi hampir seluruh penduduk di Indonesia. Salah satu kendala dalam budidaya padi adalah karena serangan berbagai macam cendawan, diantaranya cendawan Pyricularia oryzae Cav. (penyebab penyakit blas), cendawan Rhizoctonia solani Khun. (penyebab penyakit hawar pelepah daun) dan cendawan Cercospora oryzae Miyake. (penyebab penyakit bercak daun cercospora). Salah satu pengendalian yang dapat dilakukan adalah penggunaan fungisida sintetik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh fungisida berbahan aktif asam kloro bromo isosianurik terhadap intensitas penyakit blas, hawar pelepah daun dan bercak daun cercospora pada tanaman padi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Wonodadi, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, pada bulan Desember 2012 sampai dengan Juni 2013. Perlakuan dalam percobaan ini disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan empat kelompok. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam dan nilai tengah masing-masing perlakuan diuji dengan uji BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi fungisida berbahan aktif asam kloro bromo isosianurik efektif menekan intensitas penyakit blas leher dan penyakit hawar pelepah daun, tetapi  tidak efektif dalam menekan intensitas penyakit blas daun dan penyakit bercak daun cercospora pada tanaman padi varietas Ciherang di Lampung. Tingkat konsentrasi fungisida yang efektif dalam menekan intensitas penyakit blas leher adalah 0,5; 1,0; dan 1,5 g L-1, sedangkan tingkat konsentrasi fungisida yang efektif menekan intensitas penyakit hawar pelepah daun adalah 1,0 g L-1 dan 1,5 g L-1. Tidak ada perbedaan yang nyata antar tingkat konsentasi terhadap intensitas penyakitpenyakit tersebut.
PENGARUH BERBAGAI TINGKAT FRAKSI EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle L.) dan DAUN BABADOTAN (Ageratum conyzoide) TERHADAP Colletotrichum capsici PENYEBAB PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA CABAI (Capsicum annum L.) SECARA IN VITRO Intan Rahayu Ningtyas; Efri Efri; Titik Nur Aeny
Jurnal Agrotek Tropika Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.044 KB) | DOI: 10.23960/jat.v1i3.2058

Abstract

Salah satu kendala untuk meningkatkan produktivitas cabai, baik dari segi kualitas maupun kuantitas adalah penyakit antraknosa, yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum capsici. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai tingkat fraksi ekstrak daun sirih (Piper betle L.) dan daun babadotan (Ageratum conyzoides) terhadap pertumbuhan C. capsici secara in vitro. Percobaan terdiri dari dua sub percobaan, masing-masing sub percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan sebelas perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan sub percobaan pertama terdiri dari kontrol (PDA tanpa perlakuan ekstrak daun sirih), ekstrak daun sirih dengan pelarut aquades, ekstrak daun sirih dengan pelarut alkohol 10% (daun sirih + alkohol 10%), pelarut alkohol 50% (daun sirih + alkohol 50%), pelarut alkohol 90% (daun sirih + alkohol 90%), pelarut etil asetat 10% (daun sirih + etil asetat 10%), pelarut etil asetat 50% (daun sirih + etil asetat 50%), pelarut etil asetat 90% (daun sirih + etil asetat 90%), pelarut  n-heksana 10% (daun sirih + n-heksana 10%), pelarut n-heksana 50% (daun sirih + n-heksana 50%), dan pelarut n-heksana 90% (daun sirih + n-heksana 90%). Sub percobaan kedua adalah ekstrak daun babadotan dengan perlakuan yang sama dengan ekstrak daun sirih.  Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan sidik ragam dan perbedaan nilai tengah antar perlakuan diuji dengan Uji Jarak Berganda (Duncan) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak daun sirih pada fraksi ekstrak n-heksana 50%, n-heksana 90%, n-heksana 10% dan etil asetat 90% menunjukkan pengaruh penghambatan terhadap pertumbuhan C. capsici. Pada daun sirih, fraksi ekstrak n-heksana 50%, n-heksana 90%, nheksana 10% dan etil asetat 90 dapat berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan jumlah spora. Pada ekstrak daun babadotan, fraksi ekstrak n-heksana 10%, n-heksana 50%, n-heksana 90% dapat menghambat pertumbuhan C. capsici. Tetapi, pada jumlah spora daun babadotan, tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan spora.