Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

STRATEGI MANAJEMEN KRISIS PUBLIC RELATIONS KOMISI PERLINDUNGAN ANAK INDONESIA (KPAI) Kenni Cea; Rut Rismanta Silalahi; Ratu Nadya
MEDIASI : Jurnal Kajian dan Terapan Media, Bahasa, Komunikasi Vol 1, No 3 (2020): September
Publisher : Politeknik Negeri Media Kreatif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.853 KB) | DOI: 10.46961/mediasi.v1i3.144

Abstract

Tujuan penelitian ini ingin mengetahui strategi manajemen krisis yang digunakan oleh public relations KPAI kemudian untuk mengetahui hambatan yang dihadapi oleh public relations dan seperti apa bentuk dukungan yang diterima oleh KPAI selama pelaksanaan manajemen krisis. Teori yang digunakan yaitu Teori Situasional Crisis Communication Theory (SCCT) atau teori komunikasi krisis situasional, yaitu menghubungkan antara strategi respons krisis dengan situasi krisis di mana organisasi merangkai strategi respons krisis sebagai jawaban untuk menyelamatkan reputasinya. Metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian adalah strategi manajemen krisis yang dilakukan oleh public relations KPAI yaitu melakukan rapat internal, melangsungkan konferensi pers serta membuat press release yang kemudian media mempublikasikannya.
Peningkatan Literasi Kesehatan Digital Bagi Ibu-Ibu Rumah Tangga Di Posyandu Flamboyan, Bekasi Rut Rismanta Silalahi; Puri Bestari Mardani; Maria Febiana Christanti
Journal of Dedicators Community Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.857 KB) | DOI: 10.34001/jdc.v4i1.993

Abstract

Internet allows people to access various types of information, including health information. The problem is not all of the health information that circulating through Internet come from reliable sources. This community service intended to enhance the digital literacy on health information for the housewives in Flamboyan integrated healthcare center, Bekasi. Digital health literacy known as e-health literacy is the ability to seek, find, understand, and appraise health information from electronic sources and apply the knowledge gained to addressing or solving a health problem. These abilities are important especially for housewives since scientific research shows that there is a significant correlation between the levels of mother’s literacy and the health of family. Through this community service, the housewives in Flamboyan integrated healthcare center were trained to detect hoax through a simple fact-checking process. We found out that none of the participants know how to verify the health information that they get through social media or messaging application. They were only suspicious about the information that they get if the information contains title, content, or image that does not make sense. This community service has successfully shared the effective and simple way for housewives to do fact-checking process of health information with their own smartphones.
HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI TELEMARKETING ASURANSI DENGAN SIKAP CALON PELANGGAN TERHADAP TELEMARKETER [Relations Between Insurance Telemarketing Communication and Potential Customer’s Attitude Towards Telemarketers] Rut Rismanta Silalahi; Witanti Prihatiningsih; Ratu Laura M P B
Metacommunication Journal of Communication Studies
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.222 KB) | DOI: 10.20527/mc.v3i2.5450

Abstract

ABSTRACT                 Telemarketing of insurance products is used by many companies because it is considered as simple, inexpensive and effective way to reach more customer. However, the potential customer may have different attitudes toward this method. They may be happy to receive such calls, but some of them might feel annoyed and inconvenienced. This study aims to find out whether there is a relation between insurance telemarketing communication and potential customer's attitude towards telemarketers. Using Instrumental Model of Persuasion, we took two factors into account: telemarketer as source factor and content of the call as message factor. The population of this quantitative research is potential customer who had been called by insurance telemarketers in Jakarta. We used snowball sampling technique and collected data through observation, questionnaire, interview and literature study. As the result, we found a significant and strong relation between insurance telemarketers and the attitude of potential customers. There is also a significant relation between messages delivered by telemarketers and the attitudes of potential customers, but with weak coefficient of closeness.Keywords:  Telemarketing Communication, Telemarketer, Attitudes, Instrumental Model of Persuasion. 
KARAKTERISTIK STRATEGI CROWDSOURCING UNTUK MEMBATASI PENYEBARAN HOAKS DI INDONESIA Studi Kasus: Masyarakat Anti Fitnah Indonesia Rut Rismanta Silalahi; Puri Bestari; Windhi Tia Saputra
Metacommunication Journal of Communication Studies
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.77 KB) | DOI: 10.20527/mc.v2i2.4090

Abstract

AbstrakMaraknya berita-berita bohong atau hoaks yang beredar di Indonesia kini sudah masuk tahap meresahkan. Hoaks tidak hanya merugikan masyarakat tetapi juga bisa mengganggu pembangunan nasional. Pemerintah sudah mengambil sikap untuk memerangi hoaks. Masyarakat yang peduli terhadap masalah ini juga mulai bergerak. Salah satunya adalah Komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) yang resmi didirikan pada tanggal 19 November 2016. Sebelum dideklarasikan secara resmi, komunitas ini sudah beraktivitas lewat Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH) di Facebook. Komunitas ini bersifat independen dan seluruh aktivitasnya mengandalkan partisipasi sukarela dari masyarakat. Strategi untuk melibatkan masyarakat dalam gerakan sosial seperti ini dikenal dengan istilah crowdsourcing. Mafindo menerapkan strategi ini untuk mengajak masyarakat bergotong royong melawan hoaks. Jumlah hoaks yang begitu banyak tidak dapat diatasi sendiri-sendiri. Oleh karena itu, perlu keterlibatan semua pihak untuk membuat bantahan terhadap berbagai hoaks yang beredar. Dengan menggunakan wawancara mendalam, observasi dan pengumpulan data sekunder, peneliti menggambarkan karakteristik crowdsourcing yang dilakukan oleh Mafindo untuk membatasi penyebaran hoaks di Indonesia.Kata Kunci: crowdsourcing, gerakan sosial, hoaks, internet, relawan AbstractIndonesia is facing critical problem related to the spread of fake news or hoaxes in the internet. Hoaxes need to be taken seriously because they are not only harmful to our society but also dangerous to our national development. Indonesian government has expressed concern about this problem and started to find solution to fight hoaxes. This problem also has driven concerned activists to establish a community called Indonesian Anti-Slander Community (Mafindo) on November 19th 2016. Before the establishment, the members of this community have been debunking hoaxes actively in a Facebook Group called Anti-slander, Anti-pitting, and Anti-Hoax Forum. Mafindo is an independent community who claims to use crowdsourcing strategy to fight hoaxes. It means that Mafindo organize it’s work by sourcing tasks to it’s members. Participation in Mafindo’s crowdsourcing strategy is completely voluntary. The benefit of this strategy is the collaborative work by large number of individuals to debunk as many hoaxes as possible. By using in-depth interview, observation and secondary data collection, we describe the characteristics of crowdsourcing strategy used by Mafindo to halt the spread of hoaxes in Indonesia. Keywords: crowdsourcing, social movement, hoaxes, internet, volunteer 
Strategi Pesan Persuasif Terkait Program One Ride One Seed Pada Postingan Instagram @Bluebirdgroup Rifa Qurrotu Ainie; Rut Rismanta Silalahi; Uljanatunnisa .
Persepsi: Communication Journal Vol 3, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.409 KB) | DOI: 10.30596/persepsi.v3i1.4370

Abstract

AbstrakJakarta memiliki kualitas udara buruk hampir sepanjang tahun yang di sebabkan oleh asap kendaraan bermotor. Berdasarkan keprihatinan atas masalah tersebut, Bluebird Group bertekad #BirukanLangitJakarta dengan mengadakan program One Ride One Seed dalam upaya meminimalkan pencemaran udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pesan persuasif apa saja yang digunakan Bluebird dalam mensosialisasikan program One Ride One Seed pada postingan instagramnya @Bluebirdgroup. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori persuasif menurut Robert B. Cialdini. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian analisis isi deskriptif. Populasi dan sampel penelitian ini adalah postingan instagram @Bluebirdgroup pada program One Ride One Seed sebanyak 13 postingan dengan teknik pengolahan data diproses menggunakan lembar coding. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari keenam startegi persuasif, Bluebird tidak menggunakan strategi authority pada postingan program One Ride One Seed di instagram-nya dan lebih banyak menggunakan strategi reciprocation.Kata kunci :  Analisis Isi Deskriptif, Strategi Pesan Persuasif, Instagram
OPTIMALISASI PEMANFAATAN INTERNET SEBAGAI MEDIA HIBURAN DAN EDUKASI BAGI REMAJA DI TENGAH WABAH COVID-19 Rut Rismanta Silalahi; Puri Bestari Mardani; Ratu Nadya W
Ikon --Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 24 No 3 (2020): Vol. 24 No. 3 Desember 2020 IKON
Publisher : Program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.346 KB)

Abstract

Pandemi Covid 19 yang terjadi saat ini membuat begitu banyak aktivitas kehidupan manusia terganggu, bahkan terhenti. Salah satunya adalah aktivitas di bidang pendidikan. Aturan social/physical distancing memaksa sekolah untuk meniadakan kegiatan belajar mengajar tatap muka dan menggantinya menjadi proses belajar daring di rumah. Kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Skala Besar) membuat semua orang harus berdiam di rumah dan tidak bepergian jika tidak ada keperluan mendesak. Selain belajar daring, para siswa menghabiskan waktu mereka sehari-hari untuk mengakses media sosial dan bermain game online. Tidak jarang mereka terlena dan waktu mereka pun habis terbuang percuma. Kondisi ini sangat disayangkan mengingat sebenarnya internet itu tidak hanya sebatas media sosial dan game online. Ada begitu banyak situs-situs edukatif dan hiburan yang bisa diakses dan dinikmati oleh para siswa. Situs-situs edukatif dan menghibur yang tadinya berbayar pun menjadi gratis selama masa pandemi ini. Hal ini lah yang mendorong kami untuk melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dalam hal ini remaja, agar mereka mengetahui bahwa mereka bisa mengoptimalisasi penggunaan internet mereka untuk menambah wawasan mereka. Kegiatan ini dibagi menjadi tiga tahap. Pertama, para siswa diminta untuk menceritakan kegiatan yang mereka lakukan dengan internet untuk menghabiskan waktu di rumah. Kedua, tim PKM memberikan informasi mengenai situs-situs edukatif dan hiburan yang dapat mereka akses supaya wawasan mereka bertambah. Ketiga, para siswa ditugaskan untuk mencoba mengakses situs-situs yang sudah mereka ketahui dan menceritakan pengalaman serta apa yang mereka peroleh dari situs tersebut.
MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF DENGAN GENERASI Z: PELATIHAN GURU TIK (Teknologi, Informasi dan Komunikasi) OPTIMA EDUCATION Rut Rismanta Silalahi
MADANI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 1 (2018): Madani : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM UPN Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.038 KB) | DOI: 10.53834/mdn.v4i1.416

Abstract

The effectiveness of teaching and learning in the classroom is inseparable from the quality ofcommunication between the teacher and students. Differences in generations between teachers and students can create barriers to communication because each party speaks 'language' and a different style. The current generation of school students is known as generation Z. They were born in the period 1995-2010. Z generation students are very familiar with technology and the digital world. They are able to learn independently with the information they get from the internet. In class, they want an interactive learning experience and the opportunity to exchange ideas. They like to use visual communication. The characteristics of students like this are certainly a challenge for teachers who have monotonous ways of teaching, only rely on one-way lectures, and do not keep up with the times. Especially if the subjects are ICT (Technology, Information and Communication) that requires teachers to actively find out and learn the latest information technology applications. Based on this situation, the author held a communication training for ICT teachers from Optima Education. In this training, the teachers were given an understanding of the characteristics of generation Z and how to effectively communicate with them. Theoutput of this training is to increase teacher understanding to communicate with Z generation students effectively. The teachers were also asked to evaluate their previous teaching methods and make a commitment to make real changes in the teaching and learning process in the classroom.
REKONSTRUKSI MAKNA HOAKS DI TENGAH ARUS INFORMASI DIGITAL Rut Rismanta Silalahi; Vinta Sevilla
Global Komunika : Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 3 No 1 (2020): Global Komunika
Publisher : FISIP UPNVJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hoaks kini menjadi catch-all phrase yang digunakan untuk menyebut semua hal yang dianggap bohong, mulai dari fitnah, ghibah, hasut, misinformasi, disinformasi, dan kemudian melebar hingga mencakup janji kampanye yang tidak terpenuhi, hoax yang membangun, propaganda, satir, dan lain-lain. Pemahaman hoaks yang melebar ini membingungkan masyarakat, terutama dalam mengidentifikasi mana informasi yang termasuk hoaks dan mana yang bukan. Ternyata kebingungan ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di luar negeri, juga terjadi kebingungan yang sama terhadap istilah Fake News. Sehingga, para akademisi dan praktisi di bidang komunikasi dan media menilai perlu adanya definisi operasional yang jelas tentang apa itu Fake News. Penelitian ini berupaya merespon tantangan tersebut, dalam hal ini tentang hoaks. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana hoaks dimaknai oleh pemerintah, media (jurnalis), akademisi dan aktivis anti hoaks di Indonesia, untuk kemudian mencapai kesepakatan bersama tentang definisi dan indikator hoaks yang sesuai dengan konteks Indonesia. Metode penelitian ini adalah kualitatif dan pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumen, wawancara mendalam dan Focus Group Discussion. Harapan peneliti adalah dengan adanya makna hoaks yang disepakati bersama, para stakeholders dapat menggunakannya untuk mengklasifikasikan informasi hoaks dengan lebih tepat, mengedukasi masyarakat awam tentang definisi hoaks, sehingga masyarakat bisa mengidentifikasi hoaks dengan lebih jelas dan terhindar dari tipu daya hoaks.Kata Kunci: fake news, hoaks, makna, informasi digital