Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

The influence of Leadership Competencies, Organizational Commitment and Job Climate on Organizational citizenship behavior (OCB) and impact Employee Performance at PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Musriha Musriha; Siti Rosyafah
Jurnal Ekonika : Jurnal Ekonomi Universitas Kadiri Vol. 7 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/ekonika.v7i1.2738

Abstract

This research discusses, the influence of leadership competensies, organizational commitment and job climate on Organizational citizenship behavior and impact employee performance at PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk. The respondent being analyzed are 116 employee at PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk. The tool used for analyzing is the path analysis obtained through the software PPS. To Sum up, the result show that: (1) Leadership competencies no significant effect on Organizational citizenship behavior (OCB); (2) Significantly influence the organizational commitment Organizational citizenship behavior (OCB); (3) Significantly influence the working climate of Organizational citizenship behavior (OCB); (4) Leadership competencies no significant effect on employee performance; (5) Organizational commitment has no significant effect on employee performance; (6) Climate significant effect on employee performance; (7) Organizational citizenship behavior (OCB) significantly affects the performance of employees; (8) The results showed a variable working climate is the dominant influence on Organizational citizenship behavior (OCB) and the performance of employees
Analysis of Factors Affecting The Implementation of The Integrity Zone Reviewing From The Gap Analysis of Employee Competency in Surabaya Industrial Research and Standardization Institute Musriha; Nurul Qomari
Ekonika : Jurnal Ekonomi Universitas Kadiri Vol. 8 No. 2 (2023): September
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/ekonika.v8i2.4985

Abstract

Bureaucratic reforms launched by the government are manifested in the form of regulations or policies that must be implemented by all government agencies under the ministry. One form of this policy is the implementation of the integrity zone and the standardization of human resources as a strategic plan which is realized in the form of a competency gap analysis. This study aims to measure compliance behavior, level of complexity, clarity of organizational goals, and level of employee participation in competency gap analysis and implementation of the integrity zone. This descriptive quantitative research takes employee sampling through saturated sampling technique and data analysis is measured through path analysis. The results of the analysis prove the value of t = 2.166; p=0.034 (p<0.05), which proves that there is an effect of the level of compliance on the competency gap; t value = -0.399; p=0.691 (p>0.05) the effect of the level of program complexity on the competency gap was not proven and the value of t = 12.835; p = 0.000 (p <0.05) proves that there is an effect of the competency gap on the implementation of the integrity zone. Competency gap analysis and employee participation levels are classified as being more capable of contributing to the implementation of the integrity zone at the Surabaya Industrial Research and Standardization Institute.
Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Budaya Organisasi Terhadap Kesiapan untuk Berubah dengan Person-Organization (PO FIT) sebagai Intervening Basuki Ari Wicaksono; Musriha Musriha; Siti Rosyafah
Indonesian Journal of Management Science Vol 2, No 2: Desember 2023
Publisher : Program Magister Manajemen Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46821/ijms.v2i2.393

Abstract

Perubahan merupakan sebuah kompenen penting dalam sebuah organisasi, khususnya pada organisasi birokrasi saat ini. Kesiapan untuk berubah merupakan entitas yang sangat krusial dalam menciptakan birokrasi berkelas dunia. Kepemimpinan transformasional sebagai sebuah konsepsi kontemporer dipandang mampu menumbuhkan kesiapan untuk berubah aparatus. Penelitian ini menggunakan Person-Organization (PO FIT) sebagai variabel antara. Dengan pendekatan positivistik dan 121 responden, penelitian ini menyimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh signifikan terhadap kesiapan untuk berubah (P values 0,000; dan T Stat. 2,643), namun variabel budaya organisasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kesiapan untuk berubah berubah (P values 0,591; dan T Stat. 5,538), Disisi lain, POF secara langsung memiliki korelasi positif dan signifikan terhadap kesiapan untuk berubah (P values 0,000 dan T Stat. 4,226).
Pengaruh Budaya Diskusi, Keterampilan Teknologi Terhadap Pemahaman Artifcial Intelligence (AI) yang Dimoderasi oleh Kemandirian Belajar pada Guru Yayasan Wacid Hasyim Surabaya Susi Susanti; Musriha Musriha; Siti Rosyafah; Mahmuda Enny Widyaningrum
Benchmark Vol. 6 No. 2: April 2026
Publisher : Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46821/benchmark.v6i2.774

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh budaya diskusi dan keterampilan teknologi terhadap pemahaman Artificial Intelligence (AI) dengan kemandirian belajar sebagai variabel moderasi pada guru Yayasan Wachid Hasyim Surabaya. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain PLS-SEM terhadap 133 guru yang dipilih melalui simple random sampling dari populasi 200 guru. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dan dianalisis menggunakan SmartPLS 4.1.4. Hasil penelitian budaya diskusi berpengaruh positif signifikan terhadap pemahaman AI (β = 0,140; p < 0,05), sedangkan keterampilan teknologi tidak berpengaruh langsung secara signifikan (β = –0,171; p > 0,05). Kemandirian belajar terbukti sebagai variabel paling dominan yang berpengaruh positif signifikan terhadap pemahaman AI (β = 0,769; p < 0,05). Selain itu, kemandirian belajar memperkuat hubungan budaya diskusi terhadap pemahaman AI (β = 0,259; p < 0,05), namun melemahkan hubungan keterampilan teknologi terhadap pemahaman AI (β = –0,183; p < 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan pemahaman AI guru tidak cukup hanya melalui penguasaan keterampilan teknologi, tetapi memerlukan penguatan kemandirian belajar dan budaya diskusi sebagai ekosistem pembelajaran kolaboratif yang berkelanjutan.
Keuangan Sehat, Masa Depan Cerah: Pengenalan Literasi Keuangan untuk Remaja Lalu Muhammad Syahril Mijidi; Endah Tri Wahyuningtyas; Mohammad Ghofirin; Muis Murtadho; Musriha Musriha; Binti Laelatul Magfuroh
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.12344

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran remaja dalam mengelola keuangan secara bijak. Kegiatan dilaksanakan di SMA Amanatul Ummah dengan melibatkan 22 siswa. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif melalui penyampaian materi, diskusi, simulasi pembagian uang saku, identifikasi kebutuhan dan keinginan, serta pengisian kuesioner sebelum dan sesudah kegiatan. Materi mencakup literasi keuangan, pengelolaan uang saku, kebiasaan menabung, perilaku konsumtif, pembelian kompulsif, dan penggunaan dompet digital secara bijak. Hasil kuesioner awal menunjukkan bahwa 72,7% siswa belum mencatat pengeluaran secara rutin, 68,2% menabung hanya apabila terdapat sisa uang, dan 77,3% pernah membeli barang karena promosi atau mengikuti tren. Setelah kegiatan, rata-rata pemahaman siswa meningkat dari 50,8% menjadi 88,7%. Sebanyak 90,9% siswa mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, 86,4% mampu membuat rencana penggunaan uang saku, dan 86,4% memahami penggunaan dompet digital secara bijak. Respons positif siswa juga meningkat dari 52,7% pada pretest menjadi 90,0% pada posttest. Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi keuangan yang kontekstual, interaktif, dan berbasis pengalaman sehari-hari efektif meningkatkan pemahaman siswa mengenai pengelolaan uang saku, kebiasaan menabung, pengendalian perilaku konsumtif, serta penggunaan layanan keuangan digital secara bertanggung jawab. Kegiatan lanjutan melalui pencatatan pengeluaran dan target tabungan diperlukan agar pemahaman tersebut berkembang menjadi kebiasaan keuangan yang konsisten dan berkelanjutan bagi siswa.