Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Hubungan Praktik Pemberian Makan, Ketahanan Pangan dan Akses Informasi dengan Kejadian Stunting Feby Rahmawati; Magdalena; Rosihan Anawar
Jurnal Riset Pangan dan Gizi Vol. 5 No. 2 (2023): JURNAL RISET PANGAN DAN GIZI (JR-PANZI)
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jr-panzi.v5i2.106

Abstract

Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak yang mengalami kekurangan gizi, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Prevalensi stunting di Wilayah Puskesmas Rawat Inap Cempaka pada 2018 adalah 40%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan praktik pemberian makan, ketahanan pangan rumah tangga dan akses informasi dengan kejadian stunting pada baduta 6-23 bulan. Jenis penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Baduta stunting sebagian besar memiliki praktik pemberian makan yang cukup (67.2%). Baduta stunting didominasi ketahanan pangan rumah tangganya tergolong rawan pangan dengan derajat kelaparan sedang (31%). Akses informasi pada penelitian ini ditunjukkan paling banyak adalah kategori kurang (53.4%). Kesimpulan, ada hubungan praktik pemberian makan, ketahanan pangan rumah tangga, dan akses informasi dengan kejadian stunting.
Pengaruh Edukasi Gizi Menggunakan Media Video Animasi dengan Media Video Biasa Terhadap Pengetahuan dan Sikap Tentang Obesitas Pada Remaja (Studi di SMA Negeri 3 Banjarbaru) Candra Selvia; Magdalena
Jurnal Riset Pangan dan Gizi Vol. 5 No. 1 (2023): JURNAL RISET PANGAN DAN GIZI (JR-PANZI)
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jr-panzi.v5i1.179

Abstract

Meningkatnya prevalensi obesitas disebabkan oleh salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah gizi remaja yaitu tingkat pengetahuan gizi. Riskesdas 2018 menyebutkan proporsi obesitas nasional remaja 15-18 tahun di Indonesia pada 2013 sebesar 26,6% meningkat menjadi 31,0% pada 2018. Pada Provinsi Kalimantan Selatan, terjadi kenaikan obesitas 2,4% pada 2013 menjadi 3,17% pada 2018 dengan prevalensi 26,04%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi menggunakan video animasi dengan video biasa terhadap pengetahuan dan sikap tentang obesitas pada remaja di SMA Negeri 3 Banjarbaru. Jenis penelitian ini adalah quasi experiment (experiment semu) dengan rancangan pre-test dan post-test with control group. Responden berusia 16 tahun pada kelompok kasus 62.50% dan 56.25% kontrol, 87.5% jenis kelamin perempuan, 18.75% kelas X-4 kelompok kasus dan 18.75% kelas X-2 kontrol, Ada pengaruh edukasi gizi menggunakan video animasi dan video biasa terhadap pengetahuan dan sikap tentang obesitas, Ada perbedaan pengetahuan dan sikap tentang obesitas pada hasil pre dan post test pada remaja di SMA Negeri 3 Banjarbaru setelah dilakukan edukasi gizi menggunakan video animasi dan video biasa. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat pengaruh edukasi gizi menggunakan media video animasi dengan media video biasa terhadap pengetahuan dan sikap tentang obesitas pada remaja di SMA Negeri 3 Banjarbaru.
Hubungan Pola Makan, Konsumsi Makanan dan Minuman Iritatif dengan Kejadian Dispepsia Risa Ellenczynska; Magdalena
Jurnal Riset Pangan dan Gizi Vol. 4 No. 2 (2022): JURNAL RISET PANGAN DAN GIZI
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jr-panzi.v4i2.180

Abstract

Dispepsia adalah kumpulan gejala yang terdiri dari rasa nyeri atau tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa perut penuh, sendawa yang bersifat kronik [1]. WHO (2015) kasus dispepsia di dunia mencapai 13-40% dari total populasi setiap negara [2]. Kejadian dispepsia lebih banyak ditemukan pada usia muda dan jenis kelamin perempuan. Pola makan, konsumsi makanan dan minuman iritatif merupakan faktor risiko terjadinya dispepsia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pola makan, konsumsi makanan dan minuman iritatif dengan kejadian dispepsia di Panti Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Barakat Cangkal Bacari Banjarbaru. Jenis penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh klien di Panti Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Barakat Cangkal Bacari Banjarbaru. Sampel diambil menggunakan Teknik Total Sampling sebanyak 60 orang. Data primer berupa karakteristik responden, pola makan, konsumsi makanan dan minuman iritatif, dan kejadian dispepsia diperoleh dengan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Responden dengan pola makan teratur yaitu sebesar 90%. Responden dengan kategori jarang sekali mengonsumsi makanan dan minuman iritatif yaitu sebesar 46,7%. Responden yang mengalami kejadian dispepsia yaitu sebesar 61,7%. Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan ada hubungan antara pola makan dengan kejadian dispepsia (p=0,001), dan ada hubungan konsumsi makanan dan minuman iritatif dengan kejadian dispepsia (p=0,000. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara pola makan, konsumsi makanan dan minuman iritatif dengan kejadian dispepsia.
PENINGKATAN KAPASITAS KADER POSYANDU MELALUI KONSELING PMBA SEBAGAI UPAYA PENANGGULANGAN STUNTING Fathurrahman Fathurrahman; Magdalena Magdalena; Ermina Syainah
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 5 (2025): Vol.6 No. 5 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i5.50830

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, termasuk di Desa Awang Bangkal Barat, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, dengan prevalensi 29,4% pada tahun 2024, lebih tinggi dari rata-rata provinsi (26,4%) dan ambang batas WHO (20%). Kondisi ini dipengaruhi oleh rendahnya asupan gizi balita, minimnya pemberian ASI eksklusif, masalah sanitasi, serta belum optimalnya fungsi posyandu dalam edukasi gizi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader posyandu melalui pelatihan konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) sebagai upaya pencegahan stunting. Metode yang digunakan adalah pelatihan selama dua hari, meliputi teori dasar PMBA, teknik konseling gizi, serta praktik simulasi konseling berbasis role play dan pemanfaatan pangan lokal. Evaluasi dilakukan melalui pre-test, post-test, serta observasi praktik konseling. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan kader, dengan nilai rata-rata naik dari 58,9 menjadi 89,4. Seluruh kader juga mampu melaksanakan konseling PMBA dengan baik hingga sangat baik di posyandu. Temuan ini membuktikan bahwa pelatihan konseling gizi efektif meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan kader dalam mendampingi ibu balita. Keberhasilan kegiatan ini menunjukkan pentingnya integrasi pelatihan kader ke dalam program desa untuk memastikan keberlanjutan intervensi penanggulangan stunting.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PARTISIPASI IBU DI POSYANDU DENGAN STATUS GIZI BALITA Winda Surita; Zulfiana Dewi; Rahmani Rahmani; Magdalena Magdalena
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 12, No 1 (2026): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v12i1.1644

Abstract

Stunting remains a significant problem in the Tandilang Community Health Center area, with a prevalence of 23% in 2024. Although community participation in Posyandu activities has increased, geographical barriers and limited food access are suspected to affect the nutritional status of children. The study aimed to analyze the relationship between maternal knowledge and participation in Posyandu with the nutritional status of children aged 12-59 months. The study used an analytical observational design with a cross-sectional approach. The population was all children under five in the working area, with a subject of 118 children selected by purposive sampling. Data were collected from September to November 2025 through questionnaire interviews and anthropometric measurements. Data analysis used the Chi-Square test. The result of study revealed that the majority of mothers had good knowledge (83.90%) and actively participated in Posyandu (82.20%). However, the proportion of stunted (40.68%) and severely stunted (6.78%) children was high. Bivariate analysis showed no significant relationship between maternal knowledge (p=0.919), Posyandu participation (p=0.769) and the nutritional status of children. The conclusion was showed that high maternal knowledge and active participation do not guarantee optimal nutritional status in children, indicating a knowledge-practice gap influenced by external factors such as economic and environmental conditions. It is recommended that health centers develop comprehensive nutrition programs, including sanitation improvement and integration of infectious disease management.Stunting masih menjadi masalah di wilayah kerja Puskesmas Tandilang dengan prevalensi 23% pada tahun 2024. Meskipun partisipasi masyarakat dalam Posyandu meningkat, hambatan geografis dan akses pangan diduga memengaruhi status gizi balita. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan dan partisipasi ibu di Posyandu dengan status gizi balita usia 12-59 bulan. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah seluruh balita di wilayah kerja, dengan subjek sebanyak 118 balita yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada bulan September-November 2025 melalui wawancara kuesioner dan pengukuran antropometri. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu memiliki pengetahuan baik (83,90%) dan berpartisipasi aktif di Posyandu (82,20%). Namun, proporsi balita pendek (40,68%) dan sangat pendek (6,78%) masih tinggi. Analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara pengetahuan ibu (p=0,919) dan partisipasi Posyandu (p=0,769) dengan status gizi balita. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa tingginya pengetahuan dan partisipasi aktif ibu belum menjamin status gizi balita optimal, mengindikasikan kesenjangan pengetahuan-praktik yang dipengaruhi faktor eksternal seperti kondisi ekonomi dan lingkungan. Disarankan Puskesmas mengembangkan program gizi komprehensif, termasuk perbaikan sanitasi dan integrasi penanganan penyakit infeksi.
Hubungan Asupan Energi dan Protein dengan Keseimbangan Nitrogen Pada Pasien Pasca Bedah: Studi di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Kota Banjarmasin Hannia Fredlina Adhimulya; Magdalena Magdalena; Rosihan Anwar
Antigen : Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi Vol. 4 No. 3 (2026): Agustus: Antigen: Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/antigen.v4i3.1128

Abstract

Surgery induces a metabolic stress response that increases energy and protein requirements and accelerates the body’s protein catabolism. This can affect nitrogen balance. Adequate energy and protein intake are essential for maintaining muscle mass, accelerating wound healing, and supporting recovery. This study aims to analyze the relationship between energy and protein intake and nitrogen balance in post-cancer surgery patients at Ulin Regional Hospital, Banjarmasin. A cross-sectional, observational analytical design was conducted from January to March 2026 with 15 respondents (total sampling). Intake was measured through a 24-hour food recall for two consecutive days. Nitrogen balance was calculated using protein intake and 24-hour urine urea nitrogen (UUN) values. Spearman rank analysis was used (). The results showed that the majority of respondents experienced a severe energy (66,7%) and protein (46,7%) deficit, but the majority (73,3%) had a positive nitrogen balance. No statistically significant relationship was found between energy intake and nitrogen balance (p = 0,121). Conversely, there was a significant relationship between protein intake and nitrogen balance (p = 0,016) with a strong positive correlation (r = 0,611). Protein intake is a more influential factor in nitrogen balance than energy intake. Hospitals are advisedto increase monitoring of high-protien diets, and future researchers are advised to increase the sample size and duration of their studies to ensure more representative results.