Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Transmisi Ilmu Tasawuf Tuan Guru di Kalimantan Selatan Asmaran Asmaran; Husnul Yaqin; Mahmud Mahmud
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol 16, No 2: Al Qalam (Maret 2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v16i2.896

Abstract

Fokus penelitian ini adalah menelaah bagaimana jaringan ilmu tasawuf Tuan Guru di Kalimanatan Selatan Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dan lapangan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif . Hasil temuan dalam penelitian ini adalah: 1). Jaringan ilmu tasawuf Tuan Guru di Kalimantan Selatan berporos pada beberapa daerah utama yaitu Martapura, Nagara (Kandangan), Barabai, Amuntai, Rantau (Tapin), Banjarmasin, dan Tabalong. 2). Materi penyampaian ilmu tasawuf Tuan Guru di Kalimantan Selatan yaitu Pertama, Tasawuf Akhlaqi yang terdiri dari takhalli, tahalli, tajalli. Kitab yang membahasnya adalah Ihyâ ‘Ulǔmuddîn, Nashâihuddîniyyah, Al-Hikam, dan Bidâyatul Hidâyah. Kedua, Tasawuf Amali yang terdiri dari syarî’ah, tharîqah, haqîqah, dan ma’rifah. Kitab yang membahasnya adalah  Ihyâ Ulǔmuddîn, Nashâihuddîniyyah, Al-Hikam, dan Bidâyatul Hidâyah. Ketiga, Tasawuf Falsafi yang terdiri dari fanâ dan baqâ, ittihâd, hulǔl, wihdatul wujǔd, dan isyrâq. Kitab yang membahasnya adalah Kifâyatul Atqiyâ, Nashâihul ‘Ibâd, Tuhfaturrâghibîn, dan Durrun Nafîs. Keempat, Manâqib yang terdiri dari manâqib Siti Khadijah dan manâqib Syekh Samman Al-Madâni. Kitab yang membahasnya adalah kitab manâqib Siti Khadijah dan kitab manâqib syekh Samman Al-Madani. 3). Metode penerimaan dan penyampaian ilmu tasawuf Tuan Guru di Kalimantan Selatan yaitu Pertama, Shuhbah berupa khidmah dan mulâzamah. Kedua, riyâdhah dan mujâhadah berupa pengamalan ilmu dan muthâla’ah. Ketiga, dzikir berupa râtib dan wirîd. Keempat, tharîqah berupa Sammâniyyah, Naqsyabandiyyah, Qadariyyah, dan Alawiyyah. Kelima, Insiasi Spritual berupa bai’at, tharîqat naqsyabandiyyah, darkah yahlal madînah, jam’iyyah ahli tharîqah. Keenam, khirqah berupa pemakaian imâmah, penyerahan tasbih, penyerahan tongkat, dan penjamuan tamu bil-aswidatain (kurma dan zam-zam).
Urgensi Akreditasi dalam Sistem Persekolahan: Telaah Konseptual tentang Tujuan, Manfaat, dan Fungsi Ulya Ulfah; Raihanah; Husnul Yaqin; Hilmi Mizani
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 5 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/0wbf1t09

Abstract

Accreditation is a strategic instrument in the school system that serves to guarantee and control the quality of education nationally. This article aims to conceptually examine the urgency of accreditation in the school system by examining its basic concepts, objectives, benefits, and functions. The research employed a library research approach with qualitative-descriptive methods. Data were obtained from laws and regulations, specifically Law Number 20 of 2003 concerning the National Education System, accreditation policies and guidelines issued by the National Accreditation Board for Schools/Madrasahs (BAN-S/M), and scientific literature related to education quality assurance systems. The analysis was conducted using content analysis techniques to synthesize various relevant concepts and regulations. The study results indicate that accreditation is a systematic and comprehensive assessment process of the eligibility and performance of educational units, resulting in a ranking (A, B, C, or not accredited). Conceptually, accreditation aims to provide an overview of school performance and ensure the eligibility of educational services. Its benefits are felt by various stakeholders, from schools, principals, teachers, the community, and the government, serving as a basis for guidance, development, and policymaking. Functionally, accreditation serves as a means of knowledge, public accountability, and continuous quality development and improvement. The implementation of the performance-based Educational Unit Accreditation Instrument (IASP 2020) emphasizes a paradigm shift from compliance-based to performance-based, thus increasingly orienting accreditation toward the quality of learning processes and outcomes. Thus,accreditation is a strategic instrument in strengthening the national education quality assurance system.
Analisis Norma, Kode Etik, dan Sanksi dalam Pelaksanaan Akreditasi Sekolah/Madrasah Nur Sobah; Norwinda; Husnul Yaqin; Hilmi Mizani
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 5 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/n839j548

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis norma, kode etik, dan sanksi dalam pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah. Akreditasi tidak hanya merupakan mekanisme penilaian eksternal untuk menentukan kelayakan satuan pendidikan berdasarkan standar nasional pendidikan, tetapi juga menjadi instrumen penjaminan mutu pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Data diperoleh dari sumber sekunder berupa buku, jurnal ilmiah, regulasi, dan dokumen akademik yang relevan dengan akreditasi serta penjaminan mutu pendidikan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran literatur, seleksi sumber, dan pengkajian dokumen, sedangkan analisis data menggunakan pendekatan deskriptif-analitis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa norma dalam akreditasi berfungsi sebagai landasan etis yang mengatur perilaku seluruh pihak yang terlibat, meliputi kejujuran, kemandirian, profesionalisme, keadilan, kesejajaran, keterbukaan, tanggung jawab, dan menjaga kerahasiaan. Kode etik berfungsi sebagai pedoman moral dan profesional bagi lembaga akreditasi, asesor, dan sekolah/madrasah dalam menjaga objektivitas serta menghindari konflik kepentingan. Sanksi berfungsi sebagai mekanisme pengendalian untuk menegakkan norma dan kode etik, sekaligus menjaga integritas, kredibilitas, dan akuntabilitas sistem akreditasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa norma, kode etik, dan sanksi merupakan tiga unsur yang saling berkaitan dan saling menguatkan dalam pelaksanaan akreditasi sebagai instrumen penjaminan mutu pendidikan yang kredibel dan berkelanjutan.
Komponen Utama dalam Instrumen Akreditasi Sekolah/Madrasah: Kajian tentang Mutu Guru dan Manajemen Sekolah/Madrasah Zaskia; Hayatun Nufus; Husnul Yaqin; Hilmi Mizani
Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah Vol. 2 No. 6 (2026): Ar-Rasyid: Jurnal Publikasi Penelitian Ilmiah (Juni 2026)
Publisher : PT. Saha Kreasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64788/ar-rasyid.v2i6.385

Abstract

This study aims to examine the main components of the madrasa accreditation instrument, particularly those related to teacher quality and school management. The research employed a literature study approach by collecting data from various sources, including books, scientific journals, official regulations, and previous studies relevant to educational accreditation. The collected data were analyzed descriptively through review and interpretation processes to develop a comprehensive understanding of the role of teacher quality and school management in improving the quality of madrasa education. The findings indicate that accreditation serves as an important instrument for educational quality assurance because it evaluates various aspects of educational implementation comprehensively. Teacher quality is considered a key indicator, covering academic qualifications, teaching performance, and professional development. Meanwhile, school management includes aspects such as planning, leadership, human resource management, evaluation, and school culture. These two aspects are closely interconnected, as effective school management can support the improvement of teacher professionalism and the quality of learning. Therefore, continuous improvement in teacher quality and the strengthening of school management are essential factors in supporting successful accreditation and enhancing the overall quality of madrasa education.
Komponen Utama dalam Instrumen Akreditasi Sekolah/Madrasah: (Mutu Lulusan dan Proses Pembelajaran) Dhiya Aulia; Abdillah Agung Himayanta; Husnul Yaqin; Hilmi Mizani
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Mei-Agustus 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v4i2.1928

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara mutu lulusan dan proses pembelajaran dalam sistem akreditasi sekolah/madrasah serta mengevaluasi efektivitas instrumen akreditasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah masih adanya kesenjangan antara standar akreditasi dengan implementasi proses pembelajaran di lapangan yang berdampak pada mutu lulusan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional. Populasi penelitian terdiri atas sekolah/madrasah yang telah mengikuti proses akreditasi, dengan sampel yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui angket, dokumentasi, dan analisis instrumen akreditasi yang mengacu pada Instrumen Akreditasi Satuan Pendidikan (IASP 2020). Data dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif dan korelasi untuk mengidentifikasi hubungan antara kualitas proses pembelajaran dan mutu lulusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap mutu lulusan. Sekolah/madrasah dengan kualitas pembelajaran yang baik cenderung memiliki capaian mutu lulusan yang lebih tinggi. Selain itu, implementasi akreditasi berbasis kinerja terbukti mampu mendorong peningkatan budaya mutu, penguatan manajemen sekolah, dan perbaikan proses pembelajaran secara berkelanjutan. Namun demikian, penelitian juga menemukan adanya keterbatasan instrumen akreditasi dalam mengukur aspek karakter dan keterampilan abad ke-21 secara komprehensif. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori penjaminan mutu pendidikan dan praktik akreditasi sekolah/madrasah melalui penguatan hubungan antara proses pembelajaran dan mutu lulusan sebagai indikator utama kualitas pendidikan.
THE RECONSTRUCTION OF ISLAMIC EDUCATION IN BUILDING THE CIVILISATION OF THE UMMAH THROUGH THE INTEGRATION OF NORMATIVE-DOCTRINAL AND EMPIRICAL APPROACHES Agung Nugroho; Husnul Yaqin; Hamdan; Hidayat Ma'ruf
INJOSEDU: International Journal of Social and Education Vol. 3 No. 4 (2026): International Journal of Social and Education (INJOSEDU)
Publisher : Adisam Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21129223

Abstract

This study aims to analyse Islamic educational strategies for building a civilised society through a normative-doctrinal approach based on the Qur’an and Hadith, as well as an empirical examination of the dynamics of the digital age. The issues addressed include the moral crisis, disinformation, and the secularisation of knowledge, which highlight the weak integration of knowledge, faith, and ethics within the education system. This study employs a qualitative approach using library research, with data sources comprising the Qur’an, Hadith, and relevant scholarly literature. Data collection was conducted through documentary analysis, whilst data analysis utilised content analysis with a dialectical approach to examine the relationship between normative ideals and empirical reality.The research findings indicate that an effective Islamic educational strategy must be built integrally through three main pillars: strengthening Tawhid as a foundation of values; developing critical reasoning based on tabayyun and ‘aql as epistemological instruments; and strengthening digital ethics as a practical manifestation in social life. The integration of these three aspects not only addresses the challenges of the digital age but also reinforces the role of Islamic education as a civilisational instrument in shaping individuals who are religious, critical, and of good moral character.
PAI dan STUDI SOSIAL-BUDAYA KONTEMPORER PERSPEKTIF SOSIOLOGI, ANTROPOLOGI, dan CULTURAL STUDIES DALAM PEMBELAJARAN PAI: Analisis Interdisipliner Perspektif Sosiologi, Antropologi, dan Cultural Studies dalam Pembelajaran PAI Tubagus Panambaian; Husnul Yaqin
AL-ULUM | JURNAL PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN Vol. 4 No. 01 (2026): AL-ULUM | JURNAL PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN
Publisher : IAI DARUL ULUM KANDANGAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63216/alulum.v4i01.572

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendidikan agama Islam (PAI) melalui pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan perspektif sosiologi, antropologi, dan cultural studies. Penelitian dilakukan dengan metode studi kepustakaan (library research) dan analisis kualitatif terhadap sumber-sumber literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konteks sosial dan budaya memengaruhi secara signifikan pelaksanaan PAI, di mana pendekatan sosiologis mengungkap perannya dalam membentuk identitas dan nilai sosial, pendekatan antropologis menekankan pentingnya integrasi budaya lokal, dan cultural studies menyoroti interaksi agama dengan media serta dinamika kekuasaan dalam masyarakat multikultural. Tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana mengintegrasikan ketiga perspektif ini secara harmonis dalam kurikulum dan praktik pembelajaran. Disimpulkan bahwa pendekatan interdisipliner dapat meningkatkan relevansi PAI dengan realitas sosial-budaya, mendorong toleransi, serta membentuk peserta didik yang kritis dan adaptif. Rekomendasi yang diajukan antara lain pengembangan kurikulum PAI yang kontekstual, peningkatan kapasitas guru, serta penggunaan media pembelajaran yang inovatif dan inklusif.