Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PENERAPAN MATA PISAU TUNGGAL PADA ALAT PENGGILING BAWANG MERAH DENGAN PENGGERAK MOTOR LISTRIK Nursalam Tahalu; Siradjuddin Haluti; Burhan Liputo
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 5 No 1 (2020): Jurnal JTPG (Mei)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v5i1.541

Abstract

Kemajuan teknologi menuntut manusia untuk bekerja secara cepat dan meningkatkan produksi. Salah satunya adalah dengan bantuan mesin atau alat, baik otomatis atau semi otomatis. Dengan adanya mesin ini menjadi solusi bagi masyarakat yang umumnya masih menggunakan cara-cara tradisional dalam pengolahan bahan makanan seperti menggiling bawang merah. Mesin yang dirancang merupakan mesin dengan penerapan mata pisau tunggal pada alat penggiling bawang merah dengan penggerak motor listrik ¼ HP. Pengujian dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan dengan berat bawang merah pada tiap pengujian sebanyak 0.5 kg dengan waktu yang berbeda. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh data lamanya waktu penggilingan untuk pengujian pertama, kedua, dan ketiga masing-masing 65, 57, dan 54 detik dengan berat akhir bawang merah setelah mengalami penggilingan masing-masing yaitu 0.45, 0.40, dan 0.35 kg.
RANCANG BANGUN KOMPOR BIOMASSA BERBAHAN BAKAR KAYU Luqman Idji; Siradjuddin Haluti; Evi Sunart Antu
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 5 No 1 (2020): Jurnal JTPG (Mei)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v5i1.543

Abstract

Pada umumnya biomassa memang dapat mengatasi kebutuhan bahan bakar dari teknologi gas dan bahan bakar lainnya Kompor biomassa yang sebelumnya dikenal dengan kompor Biomassa UB 03-1 dilengkapi dengan satu pemanas dan mekanisme pembakaran yang berlawanan untuk pembakaran yang sempurna. Kompor ini menggunakan biomassa padat sebagai bahan bakar. Pada dasarnya kompor biomassa ini menggunakan bahan bakar kayu, dan kompor biomassa yang sebelumnya menggunakan listrik atau LPG. Kompor biomassa berbahan bakar kayu sangat cocok digunakan di daerah-daerah yang terpencil. Sehingga pada kompor biomassa ini menggunakan sistem oksigen dari luar. Adapun bahan bakar yang umumnya digunakan adalah biomassa yang memiliki nilai ekonomis rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa kompor biomassa dimana dilakukan di Laboratorium Mesin Umum Program Studi Mesin dan Peralatan Pertanian Politeknik Gorontalo. Hasil dari rancang bangun kontruksi kompor biomassa dengan menggunakan bahan bakar kayu didapatkan dengan perbandingan berbagai model untuk melihat efektifitas alat yang dirancang. Hasil pengujian menggunakan 2 kg bahan bakar menghasilkan nyala efektif sebesar 19.8 menit dengan waktu operasi total sebesar 47 menit. Energi yang dihasilkan pada pengujian tahap 1 adalah daya keluar dan masuk yang memiliki nilai masing-masing sebesar 1.37 kw dan 14.6 kw.
KLASIFIKASI CACAHAN ECENG GONDOK UNTUK BAHAN KOMPOS YANG EFEKTIF TERHADAP TANAMAN HOLTIKULTURA Mohamad Rizki Buheli; Yunita Djamalu; Siradjuddin Haluti
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 5 No 2 (2020): Jurnal JTPG (November)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v5i2.679

Abstract

Eceng gondok adalah tanaman yang tumbuh disekitar danau, tanaman ini disebut sebagai tanaman pengganggu oleh masyarakat sekitar danau karena merusak lingkungan perairan. Dari sisi ekonomi penggunaan pupuk kompos cair lebih murah dan efektif dibandingkan dengan pupuk organik cair hasil pabrikan. Disamping bahan baku yang cukup meluas juga dapat diprduksi dengan skala yang lebih besar sehingga dapat meminimalisir biaya pemupukan yang berdampak efesiensi untuk anggaran petani.Tujuan penelitian ini adalah menentukan klasifikasi cacahan eceng gondok untuk pupuk kompos cair, menentukan campuran pengomposan untuk pupuk kompos cair, dan mengetahui dampak pemberian pupuk kompos cair terhadap tanaman holtikultura.Dari hasil studi kasus klasifikasi cacahan eceng gondokuntuk bahan kompos yang efektif terhadap tanaman holtikultura dapat diambil kesimpulan bahwa pupuk kompos cair dari eceng gondok berdampak positif bagi tanaman holtikultura , walaupun ada tanaman yang tidak mengalami pertumbuhan jumlah daun karena kurangnya kandungan N pada pupuk kompos itu sendiri.
Rancang Bangun Mesin Penghancur Kacang Tanah Menggunakan Motor Induksi Rizal Oponu; Siradjuddin Haluti; Burhan Liputo
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 6 No 2 (2021): Jurnal JTPG (November)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v6i2.818

Abstract

Kacang tanah merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat karena kandungan gizinya, seperti protein dan lemak. Diantara pemanfaatannya adalah sebagai bahan baku pembuatan kue kurma. Kue kurma adalah salah satu jenis kue yang bagian luarnya dilumuri/ditaburi dengan kacang tanah yang sudah dihancurkan. Proses penghancuran kacang tanah selama ini menggunakan alat tradisional berupa kayu dan botol. Penggunaan alat tradisional ini memiliki kelemahan karena memerlukan tenaga dan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu diperlukan alat atau mesin yang dapat membantu masyarakat dalam proses penghancuran kacang tanah untuk pembuatan kue kurma. Pada penelitian ini dirancang suatu mesin penghancur kacang tanah dengan menggunakan motor induksi ¼ HP. Penelitian ini bertujuan selain merancang mesin juga untuk mengetahui kinerja mesin penghancur kacang tanah. Mesin penghancur kacang tanah dibuat di Laboratorium Mesin Umum Politeknik Gorontalo. Mesin ini dibuat dari bahan stainless steel dengan sistem transmisi menggunakan pulley 4 inchi. Mesin dirancang untuk menghancurkan kacang tanah sesuai ukuran yang diinginkan dengan kapasitas 500 gr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penghancuran kacang tanah lebih cepat dibandingkan menggunakan alat tradisional. Proses penghancuran menggunakan mesin hanya memakan waktu antara 27-29 detik untuk 500 gr kacang tanah. Sedangkan penghancuran menggunakan alat tradisional memerlukan waktu 6-10 menit untuk berat kacang tanah yang sama. Dengan demikian mesin ini dapat meghancurkan kacang tanah 12 kali lebih banyak dibandingkan alat tradisional. Kinerja mesin ini mampu menghancurkan kacang tanah sekitar 64,3 kg/jam.
Analisis Kualitas Air Sawah Di Kota Gorontalo Secara Spasial Menggunakan ArcGIS Awen Dino Aryo; Siradjuddin Haluti; Iqrima Staddal
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 7 No 1 (2022): Jurnal JTPG (Mei)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v7i1.873

Abstract

Kualitas air adalah tingkat kondisi kualitas air yang menunjukan kondisi cemar atau kondisi baik pada suatu sumber air dalam waktu tertentu dengan membandingkan dengan baku mutu air. Kualitas air di Kota Gorontalo khususnya pada lahan sawah dapat terlihat melalui kualitas pH, TDS, Suhu, EC, dan salinitas. Untuk mengetahui lokasi kualitas air sawah di Kota Gorontalo dapat dilakukan melalui pemetaan. Penelitian ini bertujuan menguji dan memetakan kualitas air persawahan pada daerah perumahan di Kota Gorontalo. Penelitian ini dilakukan dengan cara observasi, mengambil sampel air kemudian diolah dan ditampilkan lokasi pengambilan sampel dalam bentuk peta. Penampilan dalam bentuk peta dilakukan menggunakan software ArcGIS. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat beberapa daerah di Kota Gorontalo yang kualitas air persawahannya memenuhi dan tidak memenuhi syarat air irigasi. Beberapa lokasi yang tidak memenuhi standar air irigasi antara lain Desa Dembe II Kecamatan Kota Utara, Desa Libuo Kecamatan Dungingi dan Desa Molosipat Kecamatan Kota Barat. Parameter yang tidak memenuhi syarat kualitas air irigasi adalah pH. Selain itu, kualitas air irigasi terpenuhi.
Rancang Bangun Instalasi Biogas Menggunakan Reaktor Fiber Agung Prayetno Ismail; Siradjuddin Haluti; Hariadi Hariadi
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 7 No 2 (2022): Jurnal JTPG (November)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v7i2.958

Abstract

Biogas is one of the energy sources that can be utilized by the community, especially for cooking. Biogas is more environmentally friendly than LPG gas that is generally used. This is because the source of biogas comes from animal manure or the like. This animal feces if not used will pollute the environment because of the unpleasant smell. Biogas is generally made from animal dung through an anaerobic fermentation process in a closed container at a certain time. In this study, biogas is made from cow dung and uses fiber as a fermentation container. In this study, biogas is made from cow dung and uses fiber as a fermentation container. The purpose of this study is to design biogas installations using fiber-type reactors. This research is based on the ease of raw materials, installation processes, and operation. The study was conducted through several stages, namely the design and making of installation drawings, preparation of the required tools and materials, design and fabrication, testing, data collection, and data analysis. Data was taken in this study in the form of pressure, flame tests, and its use to boil water. Testing and fermentation process of cow dung is carried out for 3 days. Based on the test results it is known that there was an increase in pressure during the fermentation process. During 3 days the fermentation process increased pressure to 11.5 cmHG, where the highest pressure on the third day was 15 cmHg. The results of the flame test at the final pressure show that the flame is blue for 27 minutes and 57 seconds. At a pressure of 11 cmHg, the flame began to dim. As for the 1L heating testing, water takes approximately 20 minutes and 3 seconds until the water boils.
Rancang Bangun Mesin Pencetak Biopelet dari Sekam Padi Supriandi Monoarfa; Romi Djafar; Syamsu Akuba; Siradjuddin Haluti
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 7 No 2 (2022): Jurnal JTPG (November)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v7i2.959

Abstract

Energy is one of the most important community needs in supporting everyday life such as cooking. The energy in question can come from fossil fuels or wood. However, its availability will decrease over time, especially fossil fuels. Therefore, it is necessary to have other alternatives as a substitute for fuel. One of the materials that can be used as an energy source is biopellet. This study aims to design a machine used to make biopellets. The biopellet in this study was made from rice husk as raw material. This research was conducted through several stages, namely design and design, manufacture and fabrication, and testing. The biopellet printing machine has a tube-like shape with an outer diameter of 300 mm, whereas on the inside there is a mold with a hole with a diameter of 15 mm. The biopellet printing machine is also equipped with a roller that functions to press the dough to pass through the mold. Tests for making biopellets were carried out three times with different compositions of raw materials. The first test consisted of adhesive and rice husk with a ratio of 0.50:1. The second and third tests have adhesive and rice husk ratios of 0.75:1 and 1:1, respectively. 0.50 liters of water was added to each mixture to form a dough. The test results show that biopellets have different structures and characteristics. The third test had a dense biopellet structure, a smooth and uniform surface, and fewer fractures and cracks. In addition, the productivity is also higher than the first and second tests. This difference is of course many factors that influence, such as emphasis, the main composition of the material, and the size of the main material.
Rancang Bangun Mesin Pembuat Pakan Ternak Mustofa Mustofa; Wahyudin Sudai; Siradjuddin Haluti
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 8 No 1 (2023): Jurnal JTPG (Mei)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v8i1.1165

Abstract

Pakan merupakan hal yang sangat penting dalam usaha peternakan, bahkan dapat dikatakan keberhasilan suatu usaha peternakan tergantung pada manajemen pakan. Sebagian peternak, pemberian pakan masih mengandalkan pakan siap saji yang banyak di pasaran. Kondisi ini tentu akan menyulitkan para peternak dari sisi biaya. Oleh karena itu, para peternak harus memanfaatkan sumber daya yang ada dengan bantuan teknologi. Beberapa peternak dijumpai melakukan metode pencampuran konsentrat dan hijauan sebagai pakan, dimana proses tersebut masih dilakukan secara tradisional/manual. Untuk memudahkan peternak, diperlukan suatu mesin yang dapat membantu dalam proses pembuatan pakan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang mesin pembuat pakan dan menguji kinerjanya. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu desain rancang bangun, perancangan mesin, pengujian, dan pengambilan data. Mesin pembuat pakan ini memiliki dua komponen utama yaitu pencacah dan pengaduk. Bagian pencacah memiliki volume 18,840 cm3 yang dilengkapi dengan dua jenis mata pisau. Mata pisau pertama berjumlah satu buah yang berfungsi sebagai dengan ukuran 36,4 cm x 4,1 cm dan ketebalan 3 mm. Adapun mata pisau kedua berjumlah empat buah mata yang berfungsi sebagai pencacah dengan ukuran 36,4 cm x 1,5 cm dan ketebalan 3 mm. Bagian pengaduk memiliki ukuran 98,5 cm x 48 cm yang dilengkapi dengan pengaduk tipe spiral dengan lebar 5,5 cm. Motor penggerak yang digunakan pada mesin ini adalah motor bakar dengan daya 5,5 HP. Pengujian mesin ini diaplikasikan pada dua jenis hijauan, yaitu kangkung dan rumput gajah. Mesin pembuat pakan ini memiliki kapasitas kerja yang bergantung pada jenis hijauan sebagai bahan baku pakan. Berdasarkan hasil pengujian, kapasitas kerja total mesin pembuat pakan dengan bahan baku kangkung dan rumput gajah masing-masing adalah 123,3 kg/jam dan 170 kg/jam.
Rancang Bangun Mesin Penggiling Jagung Kombinasi Mekanik Manual dan Motor Penggerak Hafiz Murad; Siradjuddin Haluti; Burhan Liputo; Syamsu Akuba
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 9 No 1 (2024): Jurnal JTPG (Mei)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v9i1.1364

Abstract

Jagung merupakan tanaman komoditas masyarakat Gorontalo. Di beberapa tempat jagung dimanfaatkan sebagai makanan pokok dan bahan tambahan makanan ternak unggas dan ruminansia. Pengolahan jagung sebelum dimanfaatkan umumnya digiling secara manual. Hal ini tentu memerlukan tenaga dan waktu yang besar. Oleh karena itu perlu adanya teknologi sebagai solusi permasalahan tersebut. Penelitian ini dimaksudkan merancang mesin penggiling jagung dengan harapan agar lebih efisien, menghemat waktu dan tenaga. Mesin ini dirancang dengan kombinasi sistem mekanik manual dan menggunakan motor penggerak. Proses perancangan mesin ini dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama desain gambar dan penjelasan pada setiap komponen. Tahap keddua adalah penyediaan alat dan bahan yang digunakan. Tahap ketiga, fabrikasi dan pembuatan mesin penggiling jagung. Tahap keempat, uji fungsi dan perbaikan. Tahap akhir adalah penerapan mesin penggiling jagung dan pengambilan data. Mesin ini memiliki rangka yang terbuat dari besi siku 49mmx33mmx3mm. Tenaga penggerak pada mesin ini dirancang dalam dua metode, yaitu manual dan menggunakan motor penggerak. Sistem penggerak pada mesin ini meliputi puli, V-belt, poros, bantalan, pasak, dan pisau penggiling. Adapun jenis motor yang digunakan adalah motor bensin 5.5 PK dengan putarn 2800 RPM. Sedangkan poros penggiling pada mesin ini memiliki diameter 50.8 mm. Mesin penggiling menggunakan motor penggerak memiliki kapasitas produksi yang lebih besar dibandingkan menggunakan manual. Kapasitas produksi menggunakan sistem manual dan motor penggerak masing-masing sebesar 18.69 kg/jam dan 38.46 kg/jam. Hal ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan motor penggerak dapat meningkatkan kapasitas produksi hingga 105.78%.
Rancang Bangun Mesin Perontok Padi Dadin Lagia; Siradjuddin Haluti; Hariadi Hariadi
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 9 No 2 (2024): Jurnal JTPG (November)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v9i2.1427

Abstract

Mesin perontok padi merupakan suatu mesin yang digunakan untuk mempermudah pekerjaan manusia untuk memisahkan antara jerami dengan butir padi (gabah). Tujuan dari penelitian ini untuk merancang bangun mesin perontok padi dan mengevaluasi performanya. Penelitian ini dilakukan dalam empat tahapan, yaitu desain dan perancangan; fabrikasi; uji fungsi komponen; dan pengujian. Pengujian mesin perontok padi dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali pengujian. Berdasarkan hasil rancangan dan fabrikasi, mesin perontok padi memiliki dimensi panjang, lebar dan tinggi masing-masing 134 cm, 56 cm, dan 149 cm. Rangka mesin menggunakan besi siku ukuran 4x4 dan besi plat dengan ketebalan 0,7 mm. Motor penggerak yang digunakan berupa motor bakar 5,5 PK dengan putaran 3.600 rpm dan pertalite sebagai bahan bakar. Berdasarkan hasil pengujian, diketahui terdapat masih banyak padi yang tidak terlepas dari batangnya. Kondisi ini terjadi pada pengujian pertama dengan putaran 1800 rpm. Hal ini menunjukkan bahwa hasil diperoleh belum maksimal karena padi masih bercampur dengan jerami. Padi pengujian kedua, putaran mesin diturunkan menjadi 1200 rpm menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil pertama. Namun demikian, pengujian kedua menghasilkan 3,9 kg padi yang sudah terpisah dari berat awal 6 kg dan padi yang bercampur dengan jerami lebih sedikit dibandingkan pada pengujian pertama. Demikian halnya pada pengujian ketiga, padi yang terpisah dengan jerami lebih banyak dibandingkan pengujian pertama dan kedua, dimana pada pengujian ketiga putaran mesin sebesar 1000 rpm. Hal ini menunjukkan bahwa putaran yang semakin tinggi masih menyisakan banyak padi yang bercampur dengan jerami.