Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Preventive Conservation Of The Weapons At The Central Museum Of The Indonesian National Army Force (TNI AD) “Dharma Wiratama” Yogyakarta Maulana Ibrohim; Yohana Ari Ratnaningtyas; Dian Ajeng Kirana
TUMATA: Journal of Arts and Cultural Management Vol 1, No 02 (2023): Desember 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tumata.v1i02.13111

Abstract

The Central Museum of the Indonesian National Army Dharma Wiratama Army is one of the museums whose management is under the auspices of the Army and whose direction is managed by the Central Museum and Monuments of the Army History Service. The primary collection is the longbarreled weapons used by the Army during the era of independence until now. Preventive conservation is a conservation action categorized as the most essential action or category. Museum staff can carry out preventive conservation without having to study this knowledge in depth. This research was carried out to determine how preventive conservation actions or activities were carried out on the weapons collection at the Dharma Wiratama TNI AD Museum. They are using qualitative methods with a case study type. Interviews, observation, and document study are the data collection methods used in this research. The research results show that several agents of damage occur in museums, namely physical forces and theft, pollutants, humidity, ultraviolet light, and temperature. Preventive conservation actions or activities by the Dharma Wiratama TNI AD Museum. Includes security, controlling temperature, humidity, lighting, and moving or transporting collections.
PENGGUNAAN BAHAN ALAMI DALAM UPACARA JAMASAN PUSAKA DI PUNCAK SUROLOYO, KULON PROGO Purwanto, Tambak Sihno; Ratnaningtyas, Yohana Ari
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.8858

Abstract

ABSTRACT The jamasan ceremony is a Javanese cultural practice that persists. In practice, the jamasan ceremony is associated with the use of materials sourced from the surrounding environment. However, scientific studies specifically addressing the use of natural materials in the jamasan ceremony remain very limited, particularly those examining the types of materials, their contents, and application procedures. This study aims to explore the use of natural materials in the jamasan of the Kyai Manggolo Murti and Songsong Makutha Dewa at Puncak Suroloyo, Kulon Progo. The study employed a qualitative case study approach. The research stages include a preliminary survey (pre-survey), data collection, data analysis, and report preparation. Data were collected through participatory observation, interviews with caregivers and community members involved in the ritual, and documentation of the jamasan ceremony. The research was conducted at the jamasan location, namely Padukuhan Keceme, Garbosari, Samigaluh, Kulon Progo, DIY, on June 26–27, 2025. Data analysis was conducted descriptively and qualitatively through data reduction, data presentation, and concluding. The results of the study showed that the natural materials used in the jamasan of heirlooms include kawul bamboo rope (Gigantochloa apus), lime (Citrus aurantiifolia), noni fruit (Morinda citrifolia L.), green coconut water (Cocos nucifera var. viridis), and Sendang Kawidodaren water sprinkled with kantil, jasmine, rose, and cananga flowers. Each material has a specific function determined by its natural chemical composition. The application is carried out in accordance with the condition of the heirloom. The conclusion of this study is that the use of natural materials in jamasan at Puncak Suroloyo constitutes part of a spiritual ritual and represents traditional conservation practices. ABSTRAK Upacara jamasan pusaka merupakan salah satu praktik budaya Jawa yang masih bertahan hingga saat ini. Secara praktis, jamasan pusaka identik dengan penggunaan bahan-bahan yang berasal dari lingkungan sekitar. Namun, kajian ilmiah yang secara khusus membahas penggunaan bahan alami dalam upacara jamasan pusaka masih sangat terbatas. Terutama pengkajian tentang jenis bahan, kandungan, dan tata cara pengaplikasiannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan bahan alami dalam upacara jamasan pusaka Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Makutha Dewa di Puncak Suroloyo, Kulon Progo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Tahapan penelitian meliputi studi pendahuluan (pra-survei), pengumpulan data, analisis data, dan penyusunan laporan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara dengan juru kunci dan masyarakat yang terlibat dalam ritual, serta dokumentasi pelaksanaan upacara jamasan. Penelitian dilakukan di lokasi jamasan yaitu Padukuhan Keceme, Garbosari, Samigaluh, Kulon Progo, DIY pada 26–27 Juni 2025. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan alami yang digunakan dalam jamasan pusaka meliputi kawul bambu tali (Gigantochloa apus), jeruk nipis (Citrus aurantiifolia), buah mengkudu (Morinda citrifolia L.), air kelapa hijau (Cocos nucifera var. viridis), serta air Sendang Kawidodaren yang ditaburi bunga kantil, melati, mawar, dan kenanga. Setiap bahan memiliki fungsi spesifik berdasarkan kandungan kimia alaminya. Pengaplikasiannya dilakukan sesuai kondisi bilah pusaka. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan bahan alami dalam jamasan pusaka di Puncak Suroloyo berfungsi sebagai bagian dari ritual spiritual dan representasi praktik konservasi tradisional.
Community Efforts of Tutup Ngisor in Maintaining Art and Cultural Traditions Ratnaningtyas, Yohana Ari
Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Vol. 6 No. 3 (2018)
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jitode.2018.006.03.03

Abstract

The objective of the study is to find out the cause of traditional art in the sub-village of Tutup Ngisor which still survive until now. Qualitative descriptive research is used to reveal data comprehensively in the field. Techniques of data collection are conducted by holding observations of various artistic activities that exist, semi-structured interviews with figures and leader of the arts community as well as studying some literature and previous studies. The results show that interpreting the tradition and change in art is addressed with wisdom, has become a strong foundation for the people of Tutup Ngisor sub-village in maintaining its traditions, maintaining the local values and being wise in facing of outside influences. This research is expected to provide a solution to the possibility of reviving an extinct local tradition and keeping the tradition alive well. Therefore it is necessary to have a good and clear management system in order to anticipate the development of the era so that the art community can continue to grow and develop.Keywords: art community, traditional art that can survive.
RITUAL TRADISI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH: STUDI KASUS UPACARA JAMASAN PUSAKA DI PERBUKITAN SUROLOYO Tambak Suhno Purwanto; Yohana Ari Ratnaningtyas; Lontar Sauh Tantarlita; Nalendra Ajib Afisaputra; Ni Putu Arya Taru Jati
JURNAL HISTORICA Vol. 9 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : History Education, University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jhis.v9i2.53709

Abstract

Jamasan Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Makutha Dewa dilaksanakan di perbukitan Suroloyo. Tradisi ini mengandung banyak aspek yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran sejarah seperti: identitas kubudayaan dan hubungan simbolik masyarakat dengan leluhur. Oleh karena itu urgensi dari penelitian ini adalah upaya mengungkap nilai-nilai yang pada jamasan Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Makutha Dewa sebagai sumber pembelajaran sejarah. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi upacara jamasan Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Makutha Dewa di Perbukitan Suroloyo sebagai media pembelajaran sejarah, serta menjelaskan strategi pemanfaatannya dalam pembelajaran sejarah. Pertanyaan penelitian: bagaimana memanfaatkan kegiatan upacara jamasan Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Makutha Dewa di Perbukitan Suroloyo sebagai media pembelajaran sejarah dan mengaplikasikannya dalam pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara, observasi lapangan dan dokumentasi. Hasilnya, Prosesi jamasan menampilkan ritual penyucian pusaka. Prosesi jamasan memiliki nilai royong, penghormatan terhadap leluhur, serta kesadaran identitas budaya. Dengan strategi yang tepat, tradisi jamasan pusaka di perbukitan suroloyo dapat digunakan sebagai media pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran sejarah dan Proyek Penguatan Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Salah satu strategi pemanfaatannya dalam pembelajaran sejarah adalah penggunaan metode studi kasus. Melalui penerapan metode studi kasus, siswa dapat menganalisis makna historis, sosial, dan budaya dari upacara jamasan di perbukitan suroloyo. Siswa juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan reflektif. Dengan demikian, dalam konteks pembelajaran sejarah upacara jamasan pusaka di Suroloyo berfungsi sebagai media pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila serta memperkuat kesadaran sejarah peserta didik.
EFEKTIVITAS PROMOSI DIGITAL BERBASIS MEDIA SOSIAL DALAM MEMBANGUN BRAND AWARENESS KONSUMEN PADA INDUSTRI KREATIF: STUDI EMPIRIS PADA JTWO VISUAL Jasmine Nurul Asyifa; Yohana Ari Ratnaningtyas
Jurnal Manajemen, Ekonomi dan Akutansi (JUMEA) Vol. 4 No. 1 (2026): Juli
Publisher : Merwin Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69820/jumea.v4i1.488

Abstract

The growth of digital technology has transformed marketing practices, encouraging businesses to utilize digital promotion to strengthen brand positioning. This study aims to examine the effect of digital promotion on consumer brand awareness of Jtwo Visual in the creative service industry. The research employed a quantitative approach with a descriptive research design. Data were collected using a questionnaire distributed to 51 respondents selected through purposive sampling, consisting of consumers who had used Jtwo Visual services. The instrument used a 5-point Likert scale to measure the main variables: digital promotion as the independent variable and brand awareness as the dependent variable. Data analysis was conducted using simple linear regression to test the relationship between variables. The results indicate that digital promotion has a significant positive effect on brand awareness with a regression coefficient of 0.988 and a significance value of p < 0.05. The correlation coefficient (R) of 0.876 indicates a strong relationship, while the coefficient of determination (R²) of 0.768 shows that 76.8% of brand awareness variation can be explained by digital promotion. Instrument reliability testing produced Cronbach’s Alpha values above 0.70, indicating acceptable reliability. The study is limited by the relatively small sample size and the focus on a single creative business. Practically, the findings highlight the importance of consistent and interactive digital promotion through social media to enhance brand awareness in the creative industry.
PENGGUNAAN BAHAN ALAMI DALAM UPACARA JAMASAN PUSAKA DI PUNCAK SUROLOYO, KULON PROGO Tambak Sihno Purwanto; Yohana Ari Ratnaningtyas
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.8858

Abstract

ABSTRACT The jamasan ceremony is a Javanese cultural practice that persists. In practice, the jamasan ceremony is associated with the use of materials sourced from the surrounding environment. However, scientific studies specifically addressing the use of natural materials in the jamasan ceremony remain very limited, particularly those examining the types of materials, their contents, and application procedures. This study aims to explore the use of natural materials in the jamasan of the Kyai Manggolo Murti and Songsong Makutha Dewa at Puncak Suroloyo, Kulon Progo. The study employed a qualitative case study approach. The research stages include a preliminary survey (pre-survey), data collection, data analysis, and report preparation. Data were collected through participatory observation, interviews with caregivers and community members involved in the ritual, and documentation of the jamasan ceremony. The research was conducted at the jamasan location, namely Padukuhan Keceme, Garbosari, Samigaluh, Kulon Progo, DIY, on June 26–27, 2025. Data analysis was conducted descriptively and qualitatively through data reduction, data presentation, and concluding. The results of the study showed that the natural materials used in the jamasan of heirlooms include kawul bamboo rope (Gigantochloa apus), lime (Citrus aurantiifolia), noni fruit (Morinda citrifolia L.), green coconut water (Cocos nucifera var. viridis), and Sendang Kawidodaren water sprinkled with kantil, jasmine, rose, and cananga flowers. Each material has a specific function determined by its natural chemical composition. The application is carried out in accordance with the condition of the heirloom. The conclusion of this study is that the use of natural materials in jamasan at Puncak Suroloyo constitutes part of a spiritual ritual and represents traditional conservation practices. ABSTRAK Upacara jamasan pusaka merupakan salah satu praktik budaya Jawa yang masih bertahan hingga saat ini. Secara praktis, jamasan pusaka identik dengan penggunaan bahan-bahan yang berasal dari lingkungan sekitar. Namun, kajian ilmiah yang secara khusus membahas penggunaan bahan alami dalam upacara jamasan pusaka masih sangat terbatas. Terutama pengkajian tentang jenis bahan, kandungan, dan tata cara pengaplikasiannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan bahan alami dalam upacara jamasan pusaka Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Makutha Dewa di Puncak Suroloyo, Kulon Progo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Tahapan penelitian meliputi studi pendahuluan (pra-survei), pengumpulan data, analisis data, dan penyusunan laporan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara dengan juru kunci dan masyarakat yang terlibat dalam ritual, serta dokumentasi pelaksanaan upacara jamasan. Penelitian dilakukan di lokasi jamasan yaitu Padukuhan Keceme, Garbosari, Samigaluh, Kulon Progo, DIY pada 26–27 Juni 2025. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan alami yang digunakan dalam jamasan pusaka meliputi kawul bambu tali (Gigantochloa apus), jeruk nipis (Citrus aurantiifolia), buah mengkudu (Morinda citrifolia L.), air kelapa hijau (Cocos nucifera var. viridis), serta air Sendang Kawidodaren yang ditaburi bunga kantil, melati, mawar, dan kenanga. Setiap bahan memiliki fungsi spesifik berdasarkan kandungan kimia alaminya. Pengaplikasiannya dilakukan sesuai kondisi bilah pusaka. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan bahan alami dalam jamasan pusaka di Puncak Suroloyo berfungsi sebagai bagian dari ritual spiritual dan representasi praktik konservasi tradisional.