Adriani Rahma Pudyaningtyas
Universitas Sebelas Maret

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PARTISIPASI ORANGTUA DALAM MEWUJUDKAN CHILDREN WELL-BEING PADA MASA PANDEMI ADRIANI RAHMA PUDYANINGTYAS; NURUL KUSUMA DEWI; VERA SHOLEHA
Early Childhood Education and Development Journal Vol 4, No 1 (2022): Early Childhood Education and Development Journal
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.993 KB) | DOI: 10.20961/ecedj.v4i1.56776

Abstract

Masa pandemi covid-19 membawa perubahan di semua bidang, termasuk dalam dunia pendidikan anak usia dini. Pembelajaran yang selama ini berlangsung secara tatap muka, beralih menjadi pembelajaran yang dilaksanakan di dalam jaringan (daring) melalui konsep belajar dari rumah (BDR). Aktivitas pembelajaran semua dilakukan dari rumah. Perubahan ini membawa pengaruh bagi semua aspek perkembangan anak. Orangtua sebagai support system terdekat anak yang berada dalam keluarga mempunyai peran yang besar dalam mendampingi anak untuk menghadapi perubahan lingkungan yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk partisipasi orangtua dalam membantu optimalisasi tumbuh kembang anak usia dini di masa pandemi untuk mewujudkan children well-being. Bentuk partisipasi meliputi tiga aspek yaitu fisik, kogntif, serta sosio-emosi. Penelitian dilakukan dengan subjek orangtua siswa TK Kelas A dan B berjumlah 33 orang. Pengumpulan data penelitian menggunakan kuesioner.
The The Role of Parents in Developing 5-6 Years Children's Self-Control Maghfirota Auriza; Adriani Rahma Pudyaningtyas; Anjar Fitrianingtyas
Indonesian Journal of Early Childhood Education Studies Vol 12 No 1 (2023): June 2023
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijeces.v12i1.60134

Abstract

This study aimed to (1) describe 5-6 years of children’s self-control development at Dusun Mangunrejo RW 12, (2) describe the role that parents took during the self-control development process, also (3) describe support and obstacle factors that parents felt during children’s self-control development process. This research was ethnography research with an ethnomethodological approach. Informants in this research were ten parents that have 5-6 years of children with random cluster sampling as a sampling technique. The results showed that 5-6 years of children’s self-control development were pretty good. Children’s development indicated that they could do 6-8 form 8 points in 5 – 6 years developmental self-control stage. Parent’s role in helping develop children’s self-control was education and guidance. Many support and obstacle factors were found during educating and guiding processes.
SELF-AWARENESS SEBAGAI PREDIKTOR PERILAKU TANGGUNG JAWAB PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN Dian Pertiwi Agustin; Adriani Rahma Pudyaningtyas; Muhammad Munif Syamsuddin
Kumara Cendekia Vol 13, No 3 (2025): KUMARA CENDEKIA
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/kc.v13i3.95847

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self-awareness dengan perilaku tanggung jawab anak usia 5-6 tahun dan untuk mengetahui prediktor bagi perilaku tanggung jawab pada anak usia 5-6 tahun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif noneksperimen yang menggunakan analisis regresi linear sederhana. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 73 anak usia 5-6 tahun yang berasal dari dua TK di daerah Kartasura yang diambil dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner/angket untuk kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu variabel self-awareness akan menyebabkan kenaikan variabel perilaku tanggung jawab sebesar 0,681. Sumbangan efektif prediktor self-awareness terhadap perilaku tanggung jawab sebesar 69,6% dan sisanya 30,4% dari faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil uji hipotesis dapat diputuskan bahwa hipotesis H0 ditolak dan hipotesis H1 diterima yang berbunyi “self-awareness memiliki hubungan dengan perilaku tanggung jawab anak usia 5-6 tahun dan dapat dijadikan sebagai prediktor perilaku tanggung jawab anak usia 5-6 tahun”. Self-awareness dapat memprediksi munculnya tanggung jawab, sehingga diperlukan upaya dalam menstimulasi self-awareness agar perilaku tanggung jawab pada anak sejak usia dini dapat meningkat.
PENGARUH PERMAINAN SIRKUIT TERHADAP PERKEMBANGAN GERAK LOKOMOTOR ANAK USIA 5-6 TAHUN Ratih Indah Permatasari; Adriani Rahma Pudyaningtyas
Kumara Cendekia Vol 13, No 1 (2025): KUMARA CENDEKIA
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/kc.v13i1.100112

Abstract

Gerak lokomotor adalah salah satu gerak dasar penting untuk anak karena merupakan fondasi aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh permainan sirkuit terhadap gerak lokomotor anak usia 5-6 tahun. Penelitian ini merupakan pendekatan penelitian kuantitatif jenis eksperimen dengan metode kuasi eksperimen. Desain penelitian yang digunakan adalah One Group Pre-test-Post-test Design desain ini terdapat pre-test sebelum diberi perlakuan dan post-test sesudah diberi perlakuan. Populasi pada penelitian ini berjumlah 20 anak. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel probability sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah tes unjuk kerja. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa observasi, peneliti akan mengamati secara langsung terhadap aspek gerak lokomotor anak. Uji validitas dan reliabilitas menggunakan SPSS 25 for Windows dengan rumus Cronbach’s. Uji normalitas menggunakan Kolmogorov Smirnov dan Shapiro Wilk menunjukkan bahwa data terdistribusi normal. Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Paired Samples Statistics untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh dari permainan sirkuit terhadap fisik motorik khususnya pada gerak lokomotor anak. Analisis penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan rata-rata nilai pada kelas eksperimen, yaitu ketika pre-test sebesar 13.95 menjadi 14.70 ketika post-test. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh permainan sirkuit terhadap perkembangan gerak lokomotor anak usia 5-6 tahun.
Powtoon as Learning Media to Improve Listening Skills in Children Aged 5-6 Years Anggita Nur Azizah; Vera Sholeha; Adriani Rahma Pudyaningtyas; Sittipat Chitkrajang
Kumara Cendekia Vol 14, No 1 (2026): KUMARA CENDEKIA
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/kc.v14i1.87165

Abstract

Listening skills is the ability to understand verbal and nonverbal information. These skills form the foundation for children’s language and communication development, but are often overlooked in learning, leaving children less active in processing information. The Powtoon application serves as a solution by presenting engaging and interactive learning experiences. This study aims to improve the listening skills of 5- to 6-year-old children at a kindergarten located in Colomadu, Karanganyar, by utilizing the Powtoon application as a learning medium. Classroom action research was conducted through collaboration between the researcher and the teacher up to cycle II, with each cycle consisting of three meetings. The stages of planning, implementation, observation, and reflection followed the Kemmis and McTaggart model. Data collection included observation, interviews, oral tests, and documentation, with both quantitative and qualitative analyses applied. Source and technique triangulations were carried out to ensure data validity. The research was guided by specific indicators, namely the ability in maintaining attention for 10–15 minutes, answering questions based on the information heard, and retelling information in the correct sequence. The research findings indicate that children’s listening skills improved after utilizing the Powtoon application as a learning medium. Classical improvement progressed from 21.43% in the pre-intervention stage to 57.12% in cycle I, and reached 85.71% in cycle II. These findings demonstrate that the Powtoon application plays an important role in improving the listening skills of 5- to 6-year-old children at a kindergarten located in Colomadu, Karanganyar.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN PAPER MACHE PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN Hamida Hanifah; Adriani Rahma Pudyaningtyas
Early Childhood Education and Development Journal Vol 7, No 2 (2025): Early Childhood Education and Development Journal
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ecedj.v7i2.108810

Abstract

Kemampuan motorik halus yang berkembang dengan baik pada usia dini akan memberikan kemudahan anak untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang melibatkan jari tangan yang dikoordinasikan dengan mata pada masa depan. Faktanya, tidak semua perkembangan kemampuan motorik halus anak berjalan dengan optimal. Dalam meningkatkan motorik halus, peneliti menggunakan kegiatan Paper mache. Indikator penelitian yang digunakan adalah mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit, melakukan gerak manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk dengan menggunakan berbagai media, mengontrol gerakan tangan yang menggunaan otot halus (menjumput, mengelus, mencolek, mengepal, memelintir, memeras). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian anak usia 4-5 tahun yang berjumlah 24 anak. Sumber data yang digunakan adalah guru dan anak. Pada penelitian ini teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, unjuk kerja, dan dokumentasi. Teknik uji validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik, serta teknik analisis data menggunakan analisis data kualitatif dan data kuantitatif. Prosedur penelitian yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pada hasil penelitian pra tindakan memperoleh nilai ketuntasan sebesar 29,17%, meningkat pada siklus I sebesar 45,83% dan siklus II sebesar 79,17%. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan paper mache dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia 4-5 tahun. 
PENINGKATAN KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN BERMAIN PERAN Anggita Putri Riyadi; Upik Elok Endang Rasmani; Adriani Rahma Pudyaningtyas
Early Childhood Education and Development Journal Vol 7, No 3 (2025): Early Childhood Education and Development Journal
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ecedj.v7i3.106157

Abstract

Perkembangan sosial emosional diartikan sebagai salah satu kemampuan yang dibutuhkan seseorang dalam membangun sebuah interaksi, komunikasi dan melakukan penyesuaian diri terhadap lingungan sekitar. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan sosial emosional melalui penerapan kegiatan bermain peran pada anak usia 5-6 tahun. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas selama 2 siklus dengan subjek anak usia 5-6 tahun sejumlah 22 anak. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi dengan sumber data guru dan anak. Teknik uji valiiditas data dilakukan dengan triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Analisis data yang dilakukan peneliti yaitu dengan analisis data kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan bermain peran dapat memberikan pengaruh dan mampu meningkatkan kemampuan sosial emosional pada anak usia 5-6 tahun. Persentase peningkatkan kemampuan sosial emosional anak semakin meningkat pada setiap siklus dan telah mencapai minimal target keberhasilan anak yaitu sebesar 75%. Pada akhir siklus 2 hasil ketuntasan kemampuan sosial emosional anak sebesar 83,6%. Hasil ketuntasan tersebut dicapai oleh 18 anak dari 22 nak di kelas. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa melalui kegiatan bermain peran dapat meningkatkan kemampuan sosial emosional pada anak usia 5-6 tahun.
Dukungan Orang Tua Berbasis Lingkungan Bermain di Rumah dan Kesiapan Anak Masuk Sekolah Dasar Adriani Rahma Pudyaningtyas; Anayanti Rahmawati; Nurul Kusuma Dewi; Vera Sholeha; Warananingtyas Palupi; Panggung Sutapa
PAUDIA: Jurnal Penelitian dalam Bidang Pendidikan Anak Usia Dini Vol 15 No 1 Periode Desember - Februari 2026
Publisher : Pendidikan Guru PAUD Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/paudia.v15i1.3013

Abstract

Studi ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara dukungan orang tua berbasis lingkungan bermain di rumah dengan kesiapan anak memasuki sekolah dasar (SD). Latar belakang penelitian ini berangkat dari pentingnya masa transisi anak dari pendidikan anak usia dini ke pendidikan dasar yang menuntut kesiapan sosial-emosional, kognitif, dan regulasi diri yang baik. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional. Subjek penelitian berjumlah 102 orang tua yang memiliki anak usia 5–6 tahun. Instrumen penelitian terdiri dari dua kuesioner, yaitu dukungan yang diberikan oleh orang tua dalam penyediaan lingkungan bermain di rumah dan kesiapan anak masuk SD. Analisis data dilakukan dengan menggunakan korelasi pearson. Hasil korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara dukungan orang tua dengan kesiapan anak masuk sekolah dasar (r = 0,791; p < 0,01). Hasil tersebut menunjukkan bahwa dukungan orang tua yang tinggi dalam menciptakan lingkungan bermain yang edukatif, aman, dan interaktif berhubungan dengan tingginya tingkat kesiapan anak untuk memasuki jenjang SD. Temuan ini menegaskan pentingnya peran orang tua dalam memberikan stimulasi bermain yang bermakna sebagai fondasi bagi kesiapan belajar anak di tahap pendidikan selanjutnya.