Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pemberdayaan kader kesehatan dalam meningkatkan kemampuan melakukan assessment dukungan keluarga pada lansia dengan penyakit kronis Nanik Dwi Astutik; Monika Luhung
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 5 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i5.33877

Abstract

Abstrak Desa Gunungronggo merupakan salah satu desa binaan Program Studi Sarjana Keperawatan yang berada di kecamatan Tajinan Kabupaten Malang. Jumlah lansia yang menderita penyakit kronis di Desa Gunungronggo cukup banyak yaitu 135 lansia. Berdasarkan buku kunjungan posyandu, belum semua lansia yang menderita penyakit kronis datang kontrol secara rutin salah satu alasannya karena tidak ada keluarga yang mengantar. Keluarga menyampaikan alasan tidak mengantar karena sibuk bekerja dan lansia sudah tidak ada keluhan sehingga keluarga menganggap tidak perlu lagi untuk memeriksakan diri atau kontrol. Salah satu peran keluarga dalam perawatan lansia yang sakit adalah memberikan motivasi, dukungan dan memfasilitasi kebutuhan kesehatan bagi lansia. Pada kegiatan ini tim pengabdian masyarakat melakukan pemberdayaan kader kesehatan dengan memberikan edukasi dan pelatihan bagi  kader kesehatan dalam melakukan assesment dukungan keluarga pada lansia dengan penyakit kronis. Hasil pengukuran pre dan post test didapatkan bahwa pada tahap pre test rata-rata pengetahuan kader kesehatan adalah 62,73 sedangkan pada tahap post test didapatkan rata-rata pengetahuan meningkat menjadi 77,27 setelah diberikan materi dan pelatihan. Hasil evaluasi untuk ketrampilan kader kesehatan mampu melakukan dengan baik 100% semua tindakan sesuai prosedur. Peserta memberikan respon dan sangat antusias terhadap materi. Oleh karena itu perlu ditingkatkan kegiatan edukasi dan pelatihan kepada kader kesehatan, maka rekomendasi rencana tindak  lanjut yang  diajukan oleh tim adalah kegiatan serupa dilaksanakan secara kontinu sehingga adanya peningkatan kemandirian masyarakat dalam melakukan assesment dukungan keluarga pada lansia dengan penyakit kronis sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup lansia khususnya yang menderita penyakit kronis. Kata kunci: pemberdayaan kader; assessment; dukungan keluarga lansia; penyakit kronis. Abstract Gunungronggo Village is one of the villages supported by the Bachelor of Nursing Study Program in Tajinan sub-district, Malang Regency. Number of elderly people suffering from chronic diseases In Gunungronggo Village there are quite a lot, namely 135 elderly people. Based on the posyandu visit book, not all elderly people who suffer from chronic diseases come for routine check-ups, one of the reasons is because there is no family to accompany them. The family stated that the reason for not taking them was because they were busy working and the elderly had no complaints, so the family thought there was no need for further examination or control. One of the roles of the family in caring for sick elderly people is to provide motivation, support and facilitate the health needs of the elderly. In this activity, the community service team empowered health cadres by providing education and training for health cadres in conducting family support assessments for elderly people with chronic diseases. The results of the pre and post test measurements showed that at the pre test stage the average knowledge of health cadres was 62.73, while at the post test stage it was found that the average knowledge increased, namely 77.27 after being given material and training. The evaluation results for the skills of health cadres are able to carry out 100% of all actions according to procedures. Participants responded and were very enthusiastic about the material. Therefore,it is necessary to increase education and training activities for health cadres, so the recommendation for the follow-up plan proposed by the team is that similar activities be carried out continuously  so that there is increased community independence in carrying out assessments of family support for elderly people with chronic diseases so that it can improve the quality of life of elderly people, especially those suffering from chronic diseases.  Keywords: cadre empowerment; assessment; support for elderly families; chronic diseases.
Pelatihan kader kesehatan lansia terkait deteksi dini DM Tipe 2 Achmad Syukkur; Nanik Dwi Astutik
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 2 (2025): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i2.29107

Abstract

Abstrak Peningkatan jumlah lansia berdampak pada meningkatnya masalah kesehatan, termasuk diabetes melitus (DM) tipe 2, yang menjadi risiko signifikan pada usia di atas 45 tahun. Berdasarkan laporan Posyandu di lokasi mitra, DM merupakan masalah kesehatan ketiga tertinggi setelah nyeri sendi dan hipertensi. Akan tetapi, kader kesehatan lansia masih minim pengetahuan mengenai deteksi dini DM tipe 2 dan penggunaan glucometer. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mendeteksi DM tipe 2 melalui edukasi dan pelatihan deteksi dini DM tipe 2. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan dari 63,33 menjadi 86,67 (36,84%) dan peningkatan keterampilan kader dari 57,00 menjadi 80,20 (40,70%). Temuan ini menunjukkan keberhasilan program dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader. Diharapkan program serupa dapat dilanjutkan dan diperluas untuk mengoptimalkan peran kader kesehatan lansia dalam deteksi dini DM tipe 2. Kata kunci: lansia; kader kesehatan lansia; pengetahuan; pelatihan; deteksi dini DM tipe 2 Abstract The increasing number of elderly individuals has led to a rise in health issues, including type 2 diabetes mellitus (DM), which poses a significant risk for those aged over 45 years. According to reports from Posyandu at the partner location, DM ranks as the third-highest health problem after joint pain and hypertension. However, elderly health cadres still lack adequate knowledge about early detection of type 2 DM and the use of glucometers. This program aims to enhance the knowledge and skills of cadres in detecting type 2 DM through education and glucometer training. The program results showed an average knowledge improvement from 63.33 to 86.67 (36.84%) and an increase in practical blood glucose measurement scores from 57.00 to 80.20 (40.70%). These findings demonstrate the program's success in improving the cadres' knowledge and skills. It is hoped that similar programs can be continued and expanded to optimize the role of elderly health cadres in the early detection of type 2 DM. Keywords: elderly; elderly health cadres; knowledge; training; early detection of type 2 DM.
The Effectiveness of Autogenic Relaxation-Based Distress Management Therapy in Reducing Anxiety Among Older Adults with Chronic Diseases Nanik Dwi Astutik; Yustina Emi Setyobudi
TEKNOLOGI MEDIS DAN JURNAL KESEHATAN UMUM Vol 10 No 1 (2026): Medical Technology and Public Health Journal March 2026
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/mtphj.v10i1.7873

Abstract

Aging is an inevitable biological process marked by a gradual decline in physiological function. This decline affects various organ systems, including the cardiovascular, musculoskeletal, and nervous systems, and is accompanied by a reduced regenerative capacity, often leading to chronic diseases. The prevalence of chronic illness in individuals over the age of 65 is significant, reaching 60-70%. Anxiety frequently arises in older adults with chronic illnesses due to uncertainties about disease progression, dependence on caregivers, fears of death, and financial burdens associated with medical expenses. To aid older people in managing stress and anxiety, interventions such as autogenic training (AT) and relaxation therapy can be effective. This research employs a quantitative approach with a Pre-Experimental design, utilizing a one-group pre-post test methodology. This design includes an initial observation (pre-test) to evaluate changes following the intervention (post-test). The study involves primary data collected from 70 older adults participants who meet the inclusion criteria. The research instrument incorporates autogenic therapy procedures and employs the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) to assess anxiety levels. Data analysis is conducted using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results reveal a significance value (p-value) of 0.000 < 0.05, indicating a statistically significant difference in anxiety levels before and after the implementation of autogenic relaxation-based distress management therapy. The negative Z value (-7.124) signifies a reduction in anxiety scores among the older adults y following the intervention. Therefore, older adults individuals with chronic diseases who experience anxiety are encouraged to engage in autogenic relaxation exercises to alleviate their anxiety. Keywords: Elderly, Autogenic Relaxation, Anxiety, Chronic Illness.
Penguatan peran kader kesehatan dalam meningkatkan dukungan sosial: identifikasi kebutuhan caregiver informal lansia Yustina Emi Setyobudi; Nanik Dwi Astutik
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.37945

Abstract

Abstrak Kader kesehatan memiliki peran strategis dalam mendampingi caregiver informal, khususnya dalam mengidentifikasi kebutuhan dukungan sosial bagi keluarga yang merawat lansia dengan penyakit kronis. Namun, keterbatasan kapasitas kader masih menjadi kendala dalam optimalisasi peran tersebut. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader kesehatan melalui pelatihan identifikasi kebutuhan dukungan sosial. Kegiatan dilaksanakan melalui metode edukasi, diskusi, demonstrasi, dan latihan, disertai evaluasi pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan kader, ditandai dengan penurunan kategori pengetahuan kurang dari 11% menjadi 0% dan peningkatan kategori pengetahuan baik dari 64% menjadi 84%. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 7,1 menjadi 8,4. Ketrampilan kader juga meningkat dari 5,4% kompeten menjadi 27%. Rata-rata nilai ketrampilan adalah dari 9,91 menjadi 12,62. Pelatihan melalui edukasi dan pelatihan terstruktur merupakan strategi yang terbukti efektif meningkatkan kapasitas kader kesehatan dalam memahami dan mengidentifikasi kebutuhan dukungan sosial caregiver informal. Penguatan kapasitas ini diharapkan dapat memperkuat peran kader sebagai penghubung layanan kesehatan dan sosial di tingkat komunitas. Kata kunci: kader kesehatan; dukungan sosial; caregiver informal. Abstract Community Health Workers (CHWs) play a strategic role in supporting informal caregivers, particularly in identifying social support needs among families caring for older adults with chronic diseases. However, limited CHW capacity remains a major barrier to optimizing this role. This Community Service Program (Pengabdian kepada Masyarakat) aimed to enhance CHWs’ capacity through training on identifying social support needs. The activities were conducted using educational sessions, discussions, demonstrations, and practical exercises, accompanied by pre-test and post-test evaluations. The results showed an increase in CHWs’ knowledge, indicated by a decrease in the proportion of CHWs with poor knowledge from 11% to 0% and an increase in those with good knowledge from 64% to 84%. The mean knowledge score increased from 7.1 to 8.4. CHWs’ skills also improved, with the proportion of competent CHWs increasing from 5.4% to 27%, and the mean skill score rising from 9.91 to 12.62. Structured education and training were proven to be effective strategies for improving CHWs’ capacity to understand and identify the social support needs of informal caregivers. Strengthening this capacity is expected to reinforce the role of CHWs as a bridge between health and social services at the community level. Keywords: community health workers; social support; caregiver informal.
Pengaruh Pemberian Edukasi Terhadap Tingkat Pengetahuan Hipertensi Menggunakan Modul Di Puskesmas Tajinan Malang Merry Tri Kusuma Wardani; Elizabeth Yun Yun Vinsur; Nanik Dwi Astutik
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37294/jrkn.v9i2.780

Abstract

Abstrak Hipertensi adalah kondisi peningkatan tekanan darah melebihi angka normal, dikenal juga dengan sebutan darah tinggi. Tujuan penelitian ini Menganalisis pengaruh pemberian edukasi tentang hipertensi terhadap tingkat pengetahuan hipertensi menggunakan modul pada penderita hipertensi di Puskesmas Tajinan Kabupaten Malang Penelitian ini menggunakan pra-experimental dengan one group pre test – post test design. Subjek dalam penelitian ini adalah penderita hipertensi sejumlah 33 orang yang diambil menggunakan sampel purposive sampling. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh edukasi melalui modul terhadap tingkat pengetahuan hipertensi di Puskesmas Tajinan Kabupaten Malang. Pengumpulan data yang dilakukan dengan mengisi kuesioner sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) dilakukan intervensi dan menganalisis bagaimana pengaruh edukasi pengetahuan kemudian melakukan analisis data menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test.   Kata Kunci: Hipertensi, Edukasi Modul, Tingkat Pengetahuan
Hubungan Kualitas Tidur Lansia Dengan Kecerdasan Emosional Lansia Di Posyandu Sekar Arum Tajinan Kabupaten Malang Mamoba Anastasy; Yafet Pradiktama; Nanik Dwi Astutik
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1502

Abstract

Mamoba Anastasy, 2026. Skripsi Hubungan Kualitas Tidur Lansia Dengan Kecerdasan Emosional Lansia Di Posyandu Sekar Arum Tajinan Kabupaten Malang. Program Studi Sarjana Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang 2026. Pembimbing I : Ns. Yafet Pradikatama, M.Kep, Pembimbing II: Dr. Nanik Dwi Astutik, S.Kep.,Ns., M.Kes. Pendahuluan: Lansia mengalami perubahan fisiologis dan psikologis yang dapat memengaruhi kualitas tidur dan kecerdasan emosional. Kualitas tidur yang baik berperan dalam menjaga kondisi psikologis dan kemampuan lansia dalam mengelola emosi. Tujuan: Mengetahui hubungan kualitas tidur dengan kecerdasan emosional lansia di Posyandu Sekar Arum Tajinan Kabupaten Malang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan 155 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan kuesioner kecerdasan emosional. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Sebanyak 128 responden (82,6%) memiliki kualitas tidur baik dan 124 responden (80,4%) memiliki kecerdasan emosional tinggi. Hasil uji Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara kualitas tidur dengan kecerdasan emosional (p=0,000; r=0,962). Kesimpulan: Terdapat hubungan positif dan signifikan antara kualitas tidur dengan kecerdasan emosional lansia. Kata kunci: Lansia, Kualitas Tidur, Kecerdasan Emosional.Kata kunci: Lansia, Kualitas Tidur, Kecerdasan Emosional. Mamoba Anastasy, 2026. Undergraduate Thesis: The Relationship Between Sleep Quality and Emotional Intelligence Among Older Adults at Sekar Arum Integrated Health Service Post (Posyandu), Tajinan, Malang Regency. Bachelor of Nursing Study Program, Panti Waluya School of Health Sciences Malang, 2026. Supervisor I: Ns. Yafet Pradikatama, M.Kep. Supervisor II: Dr. Nanik Dwi Astutik, S.Kep., Ns., M.Kes. Introduction: Older adults experience physiological and psychological changes that may affect sleep quality and emotional intelligence. Good sleep quality plays an important role in maintaining psychological well-being and the ability to regulate emotions. Objective: To determine the relationship between sleep quality and emotional intelligence among older adults at Sekar Arum Integrated Health Post, Tajinan, Malang Regency. Methods: This study used a cross-sectional design involving 155 respondents selected using stratified random sampling. Data were collected using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) and an emotional intelligence questionnaire. Data were analyzed using the Spearman Rank test. Results: A total of 128 respondents (82.6%) had good sleep quality, while 124 respondents (80.4%) had high emotional intelligence. The Spearman Rank test showed a positive and significant relationship between sleep quality and emotional intelligence (p=0.000; r=0.962). Conclusion: There was a positive and significant relationship between sleep quality and emotional intelligence among older adults. Keywords: Older Adults, Sleep Quality, Emotional Intelligence.
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Diet Pada Lansia Penderita Diabetes Melitus Di Wilayah Kerja Puskesmas Bululawang Theofani Putri Rahayu Utomo; Nanik Dwi Astutik; Monika Luhung
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1596

Abstract

Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang penatalaksanaannya dijalani seumur hidup,salah satunya melalui pengaturan diet 3J yaitu tepat jenis, jumlah, dan jadwal. Lansiapenderita Diabetes Melitus rentan mengalami ketidakpatuhan diet akibat penurunan kondisifisik, daya ingat, dan rasa jenuh terhadap aturan diet. Dukungan keluarga diduga menjadifaktor penting dalam keberhasilan pelaksanaan diet. Penelitian ini bertujuan mengetahuihubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pada lansia penderita DiabetesMelitus di wilayah kerja Puskesmas Bululawang. Penelitian ini menggunakan desaindeskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 81 lansiapenderita Diabetes Melitus tipe 2 peserta Prolanis yang dipilih dengan proportional randomsampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dukungan keluarga HDFSS 29 itemdan kuesioner kepatuhan diet 3J 18 item. Analisis data menggunakan uji Chi-Square denganpembacaan Fisher&#39;s Exact Test. Hasil penelitian ini sebagian besar responden mendapatdukungan keluarga kategori baik 62 orang (76,5%) dan patuh diet 72 orang (88,9%). Hasil ujistatistik menunjukkan nilai p = 0,029 (p &lt; 0,05), yang berarti terdapat hubungan yangsignifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pada lansia penderita DiabetesMelitus. Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara dukungankeluarga dengan kepatuhan diet pada lansia penderita Diabetes Melitus. Semakin baikdukungan keluarga, maka semakin tinggi kepatuhan diet lansia. Puskesmas disarankanmelibatkan keluarga dalam edukasi diet Diabetes Melitus melalui kegiatan Prolanis danPosyandu Lansia agar berperan aktif mengawasi jenis, jumlah, dan jadwal makan lansia.