Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : eCo-Fin

Pengaruh Return on Equity, Capital Adequacy Ratio, dan Financing to Deposit Ratio pada Pembiayaan Bermasalah Bank Syariah Indonesia 2020-2024 Yuliarti Rezeki; Muhammad Zainuddin; Sayu Sastra Negara; Nazwa Nazwa
eCo-Fin Vol. 8 No. 1 (2026): eCo-Fin
Publisher : Komunitas Dosen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32877/ef.v8i1.3668

Abstract

Bank Umum Syariah (BUS) beroperasi dengan prinsip syariah yang menolak riba, gharar, dan maysir, serta menempatkan skema risk-sharing sebagai fondasi pembiayaan melalui akad murabahah, mudharabah, dan musyarakah. Karakter ini membedakan BUS dari perbankan konvensional yang berbasis bunga, terutama dalam pengelolaan risiko pembiayaan. Periode pandemi COVID-19 membawa tekanan pada kinerja BUS, tercermin dari rasio Non-Performing Financing (NPF) yang berfluktuasi. Pada tahun 2020 NPF berada pada kisaran 2,42%, kemudian menurun menjadi sekitar 2,11% pada 2021 dan kembali berada pada level yang sama di 2024, dengan titik terendah sekitar 2,04% pada 2023. Kecenderungan peningkatan NPF pada 2024 memunculkan kebutuhan kajian atas faktor internal bank dalam kerangka manajemen risiko syariah. Analisis difokuskan pada keterkaitan Return on Equity, Capital Adequacy Ratio, dan Financing to Deposit Ratio dengan pembiayaan bermasalah melalui pendekatan kuantitatif. Hasil pengujian statistik memperlihatkan ROE (0,201) dan FDR (0,103) tidak memiliki signifikansi karena nilai p berada di atas 0,005. Sebaliknya, CAR berhubungan negatif secara signifikan dengan pembiayaan bermasalah (0,002 < 0,005). Kondisi ini menegaskan pentingnya kecukupan modal sebagai bantalan risiko. Modal yang lebih kuat mempersempit ruang munculnya pembiayaan bermasalah dalam operasional BUS.
Dilema Likuiditas Harian: Analisis Kualitatif Hambatan Struktural Penggunaan QRIS bagi Pedagang Mikro dengan Perputaran Modal Cepat Nurhayati Nurhayati; Elma Abnaina; Yuliarti Rezeki
eCo-Fin Vol. 8 No. 1 (2026): eCo-Fin
Publisher : Komunitas Dosen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32877/ef.v8i1.3672

Abstract

Digitalisasi melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) merupakan pilar utama resiliensi UMKM pasca-pandemi. Di Kalimantan Selatan, inisiatif ini diterapkan di Pasar Terapung Lok Baintan, namun tingkat penggunaan aktif oleh pedagang masih sangat minimal. Penelitian kualitatif ini bertujuan mengeksplorasi hambatan struktural yang membentuk resistensi pedagang terhadap QRIS. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak NVivo 11. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi pedagang bersumber dari "Dilema Likuiditas Harian". Dana hasil penjualan digital yang masuk ke rekening bank menciptakan jeda waktu (time lag) pencairan, sehingga menghambat siklus modal pedagang yang membutuhkan uang tunai seketika untuk membeli stok dagangan harian. Hambatan ini diperparah oleh faktor usia (35-60 tahun) dan keterbatasan infrastruktur perbankan di area sungai yang menciptakan biaya transaksi tersembunyi tinggi. Berdasarkan teori Technology Acceptance Model (TAM), kendala operasional ini mendistorsi persepsi kegunaan teknologi. Penelitian ini merekomendasikan perlunya inovasi kebijakan berupa penyediaan unit perbankan terapung atau agen pencairan tunai di lokasi pasar untuk menyelaraskan kecepatan teknologi dengan karakteristik ekonomi mikro pasar tradisional.