Udaya Kamiludin
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Jl. DR. Junjunan No. 236, Telp. 022 603 2020, 603 2201, Faksimile 022 601 7887, Bandung

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

KAITAN TIPOLOGI PANTAI DENGAN KEBERADAAN PASIR BESI DI PANTAI MUKOMUKO, BENGKULU Udaya Kamiludin; Yudi Darlan; Deny Setiady
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 10, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1503.884 KB) | DOI: 10.32693/jgk.10.2.2012.216

Abstract

Pasir besi merupakan salah satu potensi di sebagian kawasan pantai Indonesia yang erat kaitannya dengan keberadaan kondisi geologi batuan bersusunan andesitik-basaltik, oleh sebab itu salah satunya dipilih pantai Mukomuko sebagai objek penyelidikan. Pasir besi ini terakumulasi sebagai endapan alokhton dari hasil pelapukan dan erosi tanah yang diangkut oleh sungai dan diendapkan di pantai. Proses marin berupa abrasi dan akrasi terbentuk di sepanjang garis pantai oleh pemusatan gelombang dan arus sejajar pantai. Metode penyelidikan meliputi deskripsi kualitatif karakteristik pantai, penentuan posisi, pemercontohan sedimen, analisis megaskopis, dan pemisahan mineral bersifat magnetik dengan menggunakan magnet tangan disertai foto mikrograf. Tipologi pantai Mukomuko terdiri dari gisik berpasir (Sand beach) yang sebagian di atasnya ada bangunan dinding laut, dan gisik berkerikil (Gravel beach). Endapan pasir besi umumnya menempati gisik berpasir, baik pada muka pantai maupun pada tanggul gisiknya yang sebagian membentuk pematang pantai. Distribusi persentase magnetit (% Fe) sejajar pantai memiliki pola besaran relatif sama dengan kadar frekuensi yang berkisar antara 0 % - 10 %, anomali dijumpai secara setempat pada tanggul gisik dengan kisaran antara 30,07 % - 45,73 %. Berdasarkan klasifikasi cebakan plaser, genesa pasir besi terkonsentrasi oleh media cair yang bergerak sebagai jenis plaser pantai yang dipengaruhi oleh fluviatil. Keterdapatan pasir besi diduga berasal dari Formasi Hulusimpang yang dikorelasikan sebagai Andesit Tua, Batuan Gunungapi Kuarter dan lapisan konglomerat aneka bahan Formasi Bintunan yang bersusunan andesitik-basaltik. Kata Kunci : Karakteristik pantai, magnetit, plaser pantai, sumber batuan, pantai Mukomuko Bengkulu. Iron sand is one of the mineral potential in some coastal areas of Indonesia, which is related to the presence of andesitic-basaltic rocks, therefore Mukomuko coast is then selected as the object of investigation. The iron sand is accumulated as the alochton deposit as the product of the weathering and soil erosion transported by the river and it is accumulated on the beach. The abrasion and accretion processes are formed along the shoreline by waves and currents parallel to the coast. The methods of investigation include coastal characteristics mapping, positioning, sediment sampling, megascopic analysis, and magnetic separation of minerals by using a hand magnet with micrograph photo. The coastal characteristics of Mukomuko consist of gravel beach, and sand beach that some sea walls built on. Iron sand deposits generally occupy a sand beach, either on the beach face or on the berm which partially form the beach ridge. The distribution of magnetite parallel to the coast has the same relative magnitude patterns with the frequency content ranging from 0 % - 10 %, anomaly is found locally on the berm with the frequency content ranging between 30.07 % - 45, 73 %. Based on the classification of placer deposits, iron sand is concentrated in the formation of moving liquid media as placer beach types affected fluvial. The presence of iron sand supposed to be derived from the Hulusimpang Formation is correlated as Old Andesite, Quaternary Volcanic Rocks and conglomerate layers of different materials of andesitic-basaltic composition from Bintunan Formation. Keywords: Coastal Characteristics, magnetite, beach placer, source rocks; shore of Mukomuko, Bengkulu.
RONA LINGKUNGAN GEOLOGI KELAUTAN DI PERAIRAN P. ROTE NUSA TENGGARA TIMUR Yudi Darlan; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 3 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1833.864 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.3.2013.239

Abstract

Sejalan dengan perubahan Pulau Rote dari Pemerintahan Kecamatan menjadi Kabupaten, pembangunan infrastruktur pesisir dan sektor lainnya di pulau ini meningkat. Pembangunan tersebut dari tahun ke tahun dapat menimbulkan perubahan kondisi lingkungan pesisir dan perairan Pulau Rote. Perubahan kondisi lingkungan dapat diidentifikasi melalui analisis data rona lingkungan. Data seismik memperlihatkan morfologi teras-teras pantai, dan intrusi diapir serpih di perairan Pulau Rote yang mengiindikasikan pulau ini mengalami proses pengangkatan sejak ribuan tahun yang lalu hingga sekarang. Sedimen permukaan dasar laut Pulau Rote terdiri atas pasir dan pasir lanauan mengandung mineral kuarsa, piroksen, mineral karbonatan dan cangkang moluska menunjukkan kondisi lingkungan sedimentasi rendah. Baku Mutu air dan sedimen permukaan dasar laut di perairan Pulau Rote dalam kondisi baik. Jenis pantainya berupa pantai berenergi tinggi, pantai erosi, pantai teluk, dan pantai kantong pasir masih dalam kondisi baik dan cukup bagus bagi wisata pantai dan laut. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagain besar kondisi lingkungan perairan Pulau Rote masih dalam kondisi baik. Sebagian kecil ada perubahan sebagai dampak aktivitas manusia. Kata kunci: rona lingkungan, geologi kelautan, intrusi, diapir serpih, Nusa Tenggara Timur, Pulau Rote Since the Rote Island government changed from the Kecamatan to Kabupaten Government, the development of coastal infrastructures and other sectors in the island increased. The development from time to time can lead to changes in coastal and marine environmental of the Rote Island. The environmental conditions can be identified through analysis environmental base data. The seismic data shows the morphology of coastal terraces, and intrusion of shale diapir in the Rote Island waters which indicate that this island has uplifted since thousands years ago until now. Surficial sediment of the Rote Island waters consists of sand and silty sand containing quartz and pyroxene minerals, and shells of mollusks which indicate low sedimentation environment. The standard quality of surface water and surficial sediment of the Rote Island is still in good condition. Coastal characteristics of this island consist of high-energy beaches, sand pocket beaches, bays, and erosion coasts which are still in good condition and suitable for tourism. This study shows that in general the environment of the Rote Island waters environment is normal conditions. A few of environmental changes is as an impact of human activities. Keywords: environment features, intrusion, shale diapir, Nusa Tenggara Timur, Rote island.
PENGARUH PENGANGKATAN DAN PERUBAHAN POLA SEDIMENTASI TERHADAP SEBARAN PASIR BESI DI PESISIR DAN PERAIRAN PANTAI BAGIAN BARAT PULAU TALAUD SULAWESI UTARA Hananto Kurnio; Moch. Akrom Mustafa; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10005.343 KB) | DOI: 10.32693/jgk.13.2.2015.262

Abstract

Hasil penelitian sumber daya pasir besi di pesisir barat Pulau Talaud, menyimpulkan bahwa sebarannya sebagian dikontrol oleh proses tektonik aktif yang berlangsung sekarang berupa pengangkatan yang mengakibatkan perubahan pola sedimentasi. Proses tektonik ini mengakibatkan terangkatnya bagian barat Pulau Talaud, yang ditunjukkan oleh terdapatnya terumbu-terumbu karang yang mati. Peristiwa ini berhubungan dengan gempabumi di laut sebelah barat pulau yang terjadi pada tahun 2009 dengan magnitude 7,2 sekala Richter, kedalaman episenter kurang dari 35 kilometer. Proses pengangkatan ini, sekitar 1 meter berdasarkan informasi penduduk setempat, mengakibatkan terjadinya fenomena re-distribusi endapan pasir besi. Pasir besi di pesisir tersebar ke arah laut membentuk dangkalan-dangkalan (shoals), yang tampak jelas pada saat air laut surut. Kata kunci pengangkatan, perubahan pola sedimentasi, pasir besi, Perairan Pulau Talaud Results of research on iron sand resource in coastal zone of Talaud Island concluded that its distribution is partly controlled by active tectonic process which took the form of uplifting and changing of sedimentation pattern. This tectonic process was causing uplifting of western side of Talaud Island, which is shown by mortality of coral reefs. This event was related to a 2009's earthquake of 7.2 Richter scale which was located at the sea west of the island, epicenter depth less than 35 kilometers. The uplifting process, approximately 1 meter based on local residence information, generates phenomenon of redistribution of iron sand deposit. The iron sand is distributed toward sea forming shoals, which is clearly could be seen during low tide. Keywords: uplift, sedimentation pattern change, iron sand, Talaud Island Waters
SEBARAN ENDAPAN KUARSA DI PERAIRAN DELTA KAPUAS, PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT Udaya Kamiludin; Yudi Darlan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 3 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.234 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.3.2008.157

Abstract

Dasar laut Delta Kapuas ditutupi oleh fraksi sedimen lempung sampai pasir yang secara tekstural mempunyai persentase pasir antara kosong sampai 100 %. Fraksi sedimen ini berdasarkan hasil analisis oles tipis yang ditunjang oleh sebagian analisis mineralogi butir umumnya berkomposisi utama kuarsa. Ikutannya dalam jumlah relatif kecil, terdiri atas feldspar, mika, ilmenit, piroksen Fe/Mn oksida, foraminifera, fragmen dan mikrit. Secara lateral, sebaran kuarsa relatif membesar ke arah bagian hulu sungai dengan persentase mencapai 75 %. Berdasarkan tatanan stratigrafi dan cara pembentukannya maka keberadaan kuarsa dalam sedimen permukaan dasar laut, selain dari hasil pengerjaan ulang Aluvium dan arenit kuarsa itu sendiri juga berasal dari erosi batuan primer Granit Sukadana yang berada di sebelah timur daerah penelitian. Kata Kunci : Sedimen permukaan, analisis oles tipis, kuarsa, Granit Sukadana dan perairan Delta Kapuas. Sea floor of Kapuas Delta is covered by sediment fraction from clay to sand in size. Texturally, the percentages of sand fraction is ranging between null to 100 %. Base on smear slide and grain analysis the sediment fraction is composed mainly quartz. Associated mineral accessories are relatively small which is consisted of feldspar, mica, ilmenite, pyroxene, Fe/Mn oxide, foraminifera, calcareous fragment and micrite. Laterally, distribution of quartz relatively increased towards upstream with percentage reaches 75 %. Based on stratigraphy setting and its formation, the existence of quartz in the sea floor surficial sediment, apart resulted from reworking of Alluvium and quartz arenite itself, it also comes from erosion of primary rock Granite Sukadana located eastside of the investigation area. Keywords: Surface sediment, smear slides analysis, quartz, Granite Sukadana and Delta Kapuas water.
KARAKTERISTIK PASIR DI PANTAI DAN LEPAS PANTAI BINUANGEUN, LEBAK-BANTEN Udaya Kamiludin; Yudi Darlan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1955.555 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.2.2013.235

Abstract

Pasir merupakan sesuatu penomena yang menarik karena padanya tersimpan misteri bagaimana partikel itu terendapkan sesuai dengan lingkungannya, apakah merupakan pasir pada lingkungan marin, pantai atau sungai. Untuk mengetahui lingkungan pengendapan tersebut maka dilakukan identifikasi karakteristik pasirnya. Metoda penelitan meliputi pengambilan contoh, analisis besar butir, klasifikasi nomenklatur sedimen dan parameter statistik. Klasifikasi nomenklatur sedimen pada endapan sedimen permukaan dasar laut, gisik pasir, tanggul gisik dan endapan sungai aktif didapat pasir sebanyak, masing masing 19, 35, 15 dan 3 percontoh. Ke empat jenis endapan mempunyai ukuran butir rata-rata (mean) relatif seragam, yaitu pasir halus (2 Φ - 3 Φ). Begitu juga ukuran pasirnya berupa pasir halus dengan kurva distribusi persen berat fluktuatif. Perbedaan terlihat pada ukuran pasir sedimen permukaan dasar laut dan sedimen sungai aktif, selain pasir halus hadir pula pasir menengah (1 Φ - 2 Φ). Klasifikasi lingkungan pasir memperlihatkan bahwa ke empat endapan mempunyai kesesuaian lingkungan pengendapan disertai adanya muatan partikel yang mengkasar dan menghalus dengan bentuk kurtosis leptokurtik dan platikurtik monomodal. Sumber batuan asal sedimen diduga berasal dari hasil abrasi batugamping terumbu yang tersingkap di pantai bagian tengah daerah penelitian dan pengerjaan ulang batuan gunungapi dan batuan sedimen asal volkanik yang umum tersingkap di utara daerah penelitian. Kata Kunci : Sedimen permukaan dasar laut, gisik pasir, tanggul gisik, sedimen sungai aktif, lingkungan pengendapan pasir, sumber batuan. Sand sediment is something interesting phenomenon because the sand is stored in the mystery of how the sand particles sedimented according to the deposition environment, what is the sand that was deposited in marine, beach or river environment. The identification of sand sediment characteristic is used for the determination of depositional environment. Study methods include sediment sampling, grain size analysis of sediment, sediment nomenclature classification and computing the statistical parameters. Sediment nomenclature classification results on the seafloor surface sediment, sand beach sediment, berm sediment and active stream sediment derived as much sand sediment types, respectively 19, 35, 15 and 3 samples. The four types of sediment deposition that has mean is relatively uniform, which falls on the fine sand (Φ 2 - Φ 3). While the size of sand fall in the fine sand with fluctuating weight percent distribution curve. The difference was in the size of the sand on the sea floor sediments and active stream sediments, in addition to fine sand also present medium sand (Φ1 - Φ2). Sand environment classification showed that all four types of the sediments have suitability depositional environment be accompanied excess coarse and fine particles with curved kurtosis leptokurtic and platykurtic monomodal. Source rocks of the sediments probably derived from the abrasion of coralreef limestone exposed in the central coast of study area and rework volcanic rocks and sedimentary rocks of volcanic origin are commonly exposed in the northern of study area. Key words: Seafloor surface sediment, sand beach, berm, active stream sediment, sand depositional environment, source rocks.
KETERDAPATAN HALOYSIT DAN IKUTANNYA DI PERAIRAN UTARA JAWA TIMUR Udaya Kamiludin; Noor C.D. Aryanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.022 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.1.2007.130

Abstract

Perairan Utara Jawa Timur adalah perairan berenergi rendah yang berkaitan erat dengan akumulasi sedimen berbutir halus. Berdasarkan hasil pengolahan data granulometri menunjukkan sebagian besar percontohan sedimen diklasifikasikan kedalam lanau. Hasil Analisis “X-ray diffraction”, lanau yang secara megaskopis sebagai lempung mengandung mineral lempung jenis Haloysit; ikutannya yaitu kuarsa alfa, kalsit, feldspar, halit dan hematit. Hasil analisis mineral menunjukan haloysit ini mempunyai persentase antara 38,57-55,79 % dengan penyusunnya terlihat dari hasil analisis kimia unsur utama berupa aluminium dalam Al2O3 dan silikon dalam SiO2. Keterdapatan haloysit terbentuk secara mekanik dari pelapukan mineral aluminosilikat, seperti feldspar yang bersumber dari batuan volkanik di bagian barat dan bahan gunungapi di sebelah selatan daerah penelitian. Kata kunci : Lanau, haloysit, feldspar, perairan Utara Jawa Timur North East Java waters is a low energy waters in relation to fine grain sediment accumulation. Based on the processing results of granulometry data show the majority sample of sediment classified into silt. Results of X-ray diffraction analysis, silt megascopically described as clay which is consisted of clay mineral of halloysite type; its associations are quartz alpha, calcite, feldspar, halite and hematite. Mineral analyses results show the halloysite has percentage between 38,57 - 55,79 % with composition confirmed from major element chemical analysis which show aluminum content in Al2O3 and silicon in SiO2. The occurrence of halloysite formed through mechanical processes from surface weathering of aluminosilicate minerals, as feldspars which source from volcanic rock in the west part and from volcanic materials in the south side of the investigation area. Keywords : silt, halloysite, feldspar, Northeast Java waters.
ANALISIS SEDIMEN DAN PERUBAHAN KONDISI LINGKUNGAN:DAERAH KASUS DELTA MAHAKAM KALIMANTAN TIMUR Yudi Darlan; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.872 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.1.2009.167

Abstract

Delta Mahakam mempunyai sumberdaya minyak dan gas bumi serta sumberdaya laut lainnya. Hutan mangrove di kawasan Delta Mahakam merupakan salah satu parameter kelestarian lingkungan. Pembukaan lahan mangrove Delta Mahakam untuk daerah pertambakan ikan, pemukiman, dermaga, dan industri, serta untuk alur pelayaran mengakibatkan berkurangnya tanaman mangrove, perubahan dinamika sedimentasi dan lingkungan kawasan pesisir. Kawasan yang rusak diperkirakan lebih dari 80 persen. Sekitar 20 persen dari luas sekitar 1.400 kilometer persegi, hutan mangrove yang masih baik. Ini adalah sebagai bukti Delta Mahakam mengalami proses destruktif. Sebanyak 15 contoh sedimen permukaan dan 2 contoh air permukaan diambil dari lokasi dekat dengan kegiatan industri perminyakan dan daerah hunian telah dianalisis unsur utama dan unsur logam berat. Berdasarkan analisis unsur utama dan unsur logam berat ke 15 contoh sedimen tersebut mengandung unsur silika (SiO2) >50% dan unsur air raksa (Hg) < 2000 ppb. Ke 2 contoh air mengandung unsur logam berat Cadmium (Cd) antara 0 ppb dan 54 ppb, dan Hg antara 1 ppb – 2 ppb. Merujuk pada baku mutu air laut dan baku mutu sedimen maka kualitas air laut dan sedimen Delta Mahakam masih dalam batas normal atau dikatagorikan sebagai kondisi belum tercemar. Jadi perubahan kondisi lingkungan Delta Mahakam tidak memberikan dampak terhadap kuallitas baku mutu sediment dan air secara kimiawi, Kata kunci: analisis unsur utama, analisis unsur logam berat, perubahan lingkungan, Delta Mahakam, Kalimantan Timur The Mahakam Delta has natural resources of oil and gas and other marine resources. Mangroves of the Delta Mahakam is one of an environmental indicator Deforestation of mangroves of Delta Mahakam for fishery ponds, settlements, harbor, industries, and for marine transports cause to decrease of those mangroves, changes of dynamics of sedimentation and coastal environments. Mangroves are about 80% in bad condition and whereas 20% of them are in still good condition from total areas of 1.400 km square. This indicates that the Delta Mahakam is in destructive processes. 15 samples from surfacial sediment and 2 samples from surface water taken from locations where close to oil industry fields and settlement areas were analyzed for major and heavy metal elements. According to the analyses those 15 samples, they content elements of silica (SiO2) >50% and mercury (Hg) <2000 ppb. The two samples of water content elements of cadmium (Cd) from 0 ppb – 54 ppb, and Hg from 1 ppb – 2 ppb. Referring to the standard of seawater and sediment quality the water and sediment of the Mahakam Delta are in good condition or no pollution. In fact, changes of the Mahakam Delta environmental condition do not cause impacts to the quality of seawater and sediment of the Mahakam Delta. Keywords: major element analyses, heavy metal element analyses, environmental changes, the Mahakam Delta, East Kalimantan
ENDAPAN MINERAL BERAT DI PERAIRAN PACIRAN DAN SEKITARNYA, LAMONGAN JAWA TIMUR Udaya Kamiludin; Maman Surachman; Wayan Lugra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 1 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.292 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.1.2004.103

Abstract

Sedimen permukaan dasar laut di perairan Paciran dan sekitarnya umumnya mengandung magnetit, hematit, limonit, piroksen, amfibol, biotit, pirit dan rutil. Ragam mineral berat ini terdapat pada satuan lanau pasiran, pasir lanauan dan pasir. Unsur utama pembentuk mineral berat yang terlihat dari analisis kimia berupa SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, MgO, K2O,Na2O dan TiO2. Selain terbentuk secara mekanik endapan mineral berat ini, terutama magnetit dan pirit sebagian terbentuk secara insitu. The surficial sediments Paciran waters and its vicinity consist of magnetite, hematite, limonite, pyroxene, amphibole, biotite, pyrite and rutile. These heavy minerals can be found in sandy silt, silty sand and sand. The major elements of these heavy minerals can be seen from the chemical analysis as SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, MgO, K2O,Na2O and TiO2. Another mechanical processes of these heavy mineral deposits, especialy magnetite and pyrite, some are formed authogenically.
HUBUNGAN KEBERADAAN MINERAL KASITERIT DENGAN BESAR BUTIR BERDASARKAN DATA SEDIMEN PERMUKAAN DI PERAIRAN KUNDUR - MENDOL Deny Setiady; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.999 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.1.2010.181

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran kandungan mineral kasiterit pada sedimen dasar laut hubungannya dengan besar butir sedimen. Contoh sedimen diambil menggunakan pemercontoh comot sebanyak 46 contoh sedimen dan menggunakan penginti gaya berat (gravity core) sebanyak 14 contoh. Sebaran Sedimen Permukaan Dasar Laut di daerah selidikan terdiri dari: Lanau (Z), Lanau pasiran (sZ), Lumpur (M), Pasir dan kerikil pasiran (sG). Kandungan kasiterit antara 0,0006% - 0,04124%, tersebar luas mulai dari lembah perairan Kundur barat sampai dengan laut lepas kedalaman laut antara 10 - 24 m. Kasiterit ditemukan umumnya pada 16 sampel sedimen permukaan dasar laut yang dianalisis. Kasiterit ditemukan pada sedimen dengan ukuran butir pasir sampai kerikil, menunjukkan bahwa proses transportasinya belum begitu jauh dari batuan sumber. Kata Kunci: mineral kasiterit, pasir dan kerikil pasiran, Kundur - Mendol The aim of the study is to know the distribution of cassiterite minerals content in seafloor sediment in relation to sedimentary grain size. Fourty six samples were taken by using a grab sampler, and fourteen (14) samples were taken by using a gravity corer. Sea bottom surficial sediment in the study area consists of silt, sandy silt, mud, sand and sandy gravel. The cassiterite content are between 0,0006% - 0,04124%, they distribute along the west Kundur valley area in between10 – 24 m depth. Cassiterite minerals are found in sixty seafloor sediment samples which have been analysed. Cassiterite minerals generally founded in sand to gravel sediment grain size, and they show that sedimentary process is not far from source rock. Keywords: cassiterite mineral, sand and sandy gravel, Kundur – Mendol.
KANDUNGAN KONSENTRAT EMAS PLASER DI PERAIRAN BAYAH KABUPATEN LEBAK Udaya Kamiludin; Yudi Darlan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 3 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.541 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.3.2007.140

Abstract

Ekstraksi emas berdasarkan hasil amalgamasi terhadap konsentrat gisik pasir (sand beach) pada muka gisik (beach face) menunjukan bahwa di pantai Bayah dan sekitarnya mengandung emas (Au) lantak (bullion) berkisar 6 – 71 ppb dan ikutannya, perak (Ag) 4 – 47 ppb. Kadar tertinggi kandungan emas ditemukan pada muka gisik di daerah pantai Bayah dan terendah di Cihara. Hasil penambangan memperlihatkan semakin besar jumlah berat contoh asal maka kandungan emas dan ikutan yang didapat semakin besar walaupun dalam berat konsentrat yang relatif sama. Adanya penyimpangan kadar emas di pantai Bayah, selain hasil rombakan sumber batuan yang dibawa oleh aliran sungai Cimandur, diduga berasal pula dari lautan dekat pantai yang dibawa oleh gelombang laut. Daerah mineralisasi batuan berupa urat kuarsa, bijih silika dan skarn merupakan komplek Kubah Bayah yang terletak di sebelah utara daerah penelitian. Kata kunci : Gisik berpasir, muka gisik, emas letakan, amalgamasi, hasil penambangan, urat kuarsa, pantai Bayah dan sekitarnya. Gold extractions based on the amalgamation process resulted from the sand beach concentrate of the Bayah beach and its vicinity, contain gold (Au) bullion 6 - 71 ppb and its association, silver (Ag) 4 - 47 ppb. The highest and the lowest of gold content in each samples are found at the Bayah and Cihara beach areas. Result of the traditional gold mining show that the greater bulk sample, hence the greater gold content and its association eventhough in the same weight of concentrate. The occured gold anomalies in Bayah coast is resulted of source rock brought by Cimandur stream, probably deposited in the marine environment brought by wave near the coast. Rock mineralization took the form as quartz veins, ore silica and skarn represent Dome Bayah complex located in the north of research area. Keyword: Sand beach, beach face, gold placer, amalgamation, result of mining, quartz veins, Bayah and its vicinity.