Noor C.D. Aryanto
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Jl. DR. Junjunan No. 236, Telp. 022 603 2020, 603 2201, Faksimile 022 601 7887, Bandung

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

POLA REGIONAL UNSUR UTAMA DAN MINERALOGI PERAIRAN UTARA JAWA TIMUR Noor C.D. Aryanto; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1144.749 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.2.2007.137

Abstract

Berdasarkan analisis megaskopik, jenis sedimen permukaan di daerah ini sebagian besar tersusun oleh sedimen berbutir halus berukuran lempung – lanau. Berdasarkan analisa 6 contoh sedimen dasar laut dengan menggunakan metode AAS, berhasil diidentifikasi jenis dan kandungan unsur utamanya dimana unsur-unsur tersebut memperlihatkan beberapa pola, seperti: (1) Pola linier negatif untuk CaO terhadap SiO2 (2) pola linier positif untuk K2O terhadap. SiO2 dan Al2O3 vs. SiO2 serta (3) Pola linier yang rata/datar, seperti telihat pada unsur Na2O, MgO dan Fe2O3 terhadap SiO2 . Semua ini menjelaskan tipe batuan asal di daratnya, seperti batugampingan yang tercerminkan oleh kandungan CaO dan MgO yang tinggi selain memperlihatkan pula bahwa sedimen dasar laut di lokasi telitian bersifat lempungan yang dicerminkan oleh kandungan Al2O3 (yang merupakan senyawa penyusun lempung) yang tinggi. Kata kunci: unsur utama, AAS (Atomic Absorption Spectrometry) dan Perairan utara Jawa Tengah-Jawa Timur. Based on megascopic analysizes, the sea floor surface sediment types on this area consist of fine grain sediment (from clay to silt). Atomic Absorption Spectometry (AAS) method was carried out to the 6 sea floor sediment samples that succeed to identified the different types and major element contents such as: (1) negative linier pattern for CaO to SiO2; (2) positive linier pattern for K2O to SiO2 and Al2O3 to SiO2; and (3) flat linier pattern is showed by Na2O, MgO and Fe2O3 to SiO2 . All these patterns are influenced by their source rocks on land, such as calcareous rocks have more contents of CaO and MgO where Al2O3 contents are closed to clay minerals. Key words: major element, AAS (Atomic Absorption Spectrometry) and northern central and east Java waters.
TEKSTUR SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT DI PERAIRAN TANJUNG DATU, SAMBAS-KALIMANTAN BARAT Udaya Kamiludin; Hananto Kurnio; Noor C.D. Aryanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.952 KB) | DOI: 10.32693/jgk.10.1.2012.211

Abstract

Dasar laut perairan Tanjung Datu ditempati oleh tekstur sedimen dengan jenis lanau pasiran (sZ), pasir lanauan (zS), pasir (S) dan pasir sedikit kerikilan [(g)S]. Parameter statistik berupa modus jatuh antara lanau kasar (4,5 Ø)-pasir menengah (1,5 Ø), kepencongan negatif-positif dengan kurtosis berbentuk monomodal-bimodal. Distribusi partikel tegak lurus pantai menunjukan frekuensi modus pasir halus dan menengah yang bertambah ke arah lepas pantai; dan untuk yang sejajar pantai, pasir halusnya cenderung bertambah ke bagian tengah daerah penelitian. Klasifikasi pasir terhadap kelas pemilahan berdasarkan nilai deviasi standar, dan plot skater memperlihatkan bahwa satuan pasir dan pasir sedikit kerikilan mempunyai kesesuaian dengan lingkungan marin disertai adanya kelebihan partikel kasar dan halus. Kata Kunci : Sedimen permukaan, parameter statistik, lingkungan marin, Perairan Tanjung Datu. Tanjung Datu waters occupied by sandy silt (sZ), silty sand (zS), sand (S), and slightly gravellly sand sediment texture. The above unit has the statistical parameter values, comprising: mode falls between coarse silt (4.5 Ø)-medium sand (1.5 Ø), negative-positive skewness with kurtosis monomodal-bimodal shape. The distribution of particles perpendicular to the coast showing modes frequencies of fine to medium sand increases towards offshore. The parallel distribution contains modes of fine sand tends to increase to the central part of the study area. Classification of sand to a class of sorting based on the value of standard deviation, and the scatter plot shows that the sand and slightly gravellly sand units have compatibility with the marine environment with excess coarse and fine particles. Key words: Surface sediment, statistical parameters, marine environment, Tanjung Datu Waters.
KEDALAMAN BATUAN KERAS PERAIRAN SELAT LAUT SEBAGAI DATA AWAL UNTUK RENCANA PEMBANGUNAN JEMBATAN PULAU LAUT - KALIMANTAN Noor C.D. Aryanto; Yogi Noviadi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1200.474 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.1.2007.129

Abstract

Kotabaru merupakan ibukota Kabupaten Pulaulaut, Kalimantan Selatan. Guna mempercepat proses pembangunan, diupayakan untuk membangun jembatan yang menghubungkan daratan Pulau Laut dengan daratan Kalimantan. Berdasarkan data seismik hasil survei pendahuluan diperoleh dua lokasi usulan untuk tapak fondasi kaitannya dengan kedalaman batuan kerasnya yang dikenali dari perbedaan reflektor yang demikian ekstrim, baik dari bentuk ataupun warna terhadap reflektor di atasnya. Lokasi-1 memiliki kedalaman batuan keras berkisar antara 4 hingga 20 meter dan 12 hingga 22 meter di bawah dasar laut. Di lokasi ini juga dikenali adanya struktur yang diperkirakan berupa sesar pada kedalaman 14 meter bawah dasar laut. Lokasi-2 di sayap barat dan timur P. Suwangi, memiliki kisaran kedalaman batuan keras antara 2 hingga 18 meter bawah dasar laut dengan kecenderungan makin dalam ke arah tengah perairan Selat Laut. Kata kunci : batuan keras, seismik, Selat Laut dan Pulau Laut, Kalimantan Selatan. Kotabaru is the capital of the Pulaulaut regency, South Kalimantan. The construction of the bridge that will connect Pulaulaut and Kalimantan is aimed to accelerate the development of the areas. Based on the preliminary seismic data, two propose locations for bridge foundation relates to the depth of hard rock that can be recognized by the extremely differences of acoustic impedance. Location-1 has a hard rock’s depth between 4 to 20 meters and 12 to 22 meters beneath sea floor. In this location, it is also recognized a fault structure at 14 meters depth. Location-2 in the west and east wings of Suwangi Island has the acoustic basement depth between 2 to 18 meters from the sea floor and it is deeper toward the centre of Selat Laut waters. Keywords : hard rock, seismic, Laut Strait and Laut Isle, South Kalimantan.
INDIKASI MINERALISASI DAN KETERDAPATAN MINERAL BESI DI PANTAI TAMBELAN, KEPULAUAN RIAU BERDASARKAN PEMETAAN GEOLOGI PERMUKAAN Noor C.D. Aryanto; Kris Budiono
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 3 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.267 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.3.2008.162

Abstract

Berdasarkan pemetaan geologi, memperlihatkan adanya indikasi keterdapatan mineral besi di pulau ini, masing-masing di Pantai Gayam (luas 70,84 ha) dan daerah Sekuni (luas 204 ha). Secara umum keterjadian endapan besi di kedua daerah tersebut memperlihatkan proses hidrotermal yang sama, dimana intrusi granitik merupakan sumber panas terhadap batuan induk yang berupa batuan lelehan andesitik dan dasitik. Ada perbedaan mineralisasi yang ditemukan, yaitu munculnya gejala silifikasi di blok Gayam dan gejala limonitisasi di blok Sekuni. Kata kunci: Mineralisasi, keterdapatan mineral besi, Gayam dan Sekuni. Based on the geological mapping there was indication of iron-mineral occurrences at Gayam coast (70.84 ha) and Sekuni coast (204 ha). In general, the origin of iron deposit at these areas was a similar hydrothermal process is there granitic intrusion as a heat source to the host rock of andesitic and dacitic rocks. There is a difference process of mineralization between Gayam block and Sekuni block. The difference is silisification and limonitisation. Keywords: mineralisation, iron-mineral occurrence, Gayam and Sekuni.
KETERDAPATAN HALOYSIT DAN IKUTANNYA DI PERAIRAN UTARA JAWA TIMUR Udaya Kamiludin; Noor C.D. Aryanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.022 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.1.2007.130

Abstract

Perairan Utara Jawa Timur adalah perairan berenergi rendah yang berkaitan erat dengan akumulasi sedimen berbutir halus. Berdasarkan hasil pengolahan data granulometri menunjukkan sebagian besar percontohan sedimen diklasifikasikan kedalam lanau. Hasil Analisis “X-ray diffraction”, lanau yang secara megaskopis sebagai lempung mengandung mineral lempung jenis Haloysit; ikutannya yaitu kuarsa alfa, kalsit, feldspar, halit dan hematit. Hasil analisis mineral menunjukan haloysit ini mempunyai persentase antara 38,57-55,79 % dengan penyusunnya terlihat dari hasil analisis kimia unsur utama berupa aluminium dalam Al2O3 dan silikon dalam SiO2. Keterdapatan haloysit terbentuk secara mekanik dari pelapukan mineral aluminosilikat, seperti feldspar yang bersumber dari batuan volkanik di bagian barat dan bahan gunungapi di sebelah selatan daerah penelitian. Kata kunci : Lanau, haloysit, feldspar, perairan Utara Jawa Timur North East Java waters is a low energy waters in relation to fine grain sediment accumulation. Based on the processing results of granulometry data show the majority sample of sediment classified into silt. Results of X-ray diffraction analysis, silt megascopically described as clay which is consisted of clay mineral of halloysite type; its associations are quartz alpha, calcite, feldspar, halite and hematite. Mineral analyses results show the halloysite has percentage between 38,57 - 55,79 % with composition confirmed from major element chemical analysis which show aluminum content in Al2O3 and silicon in SiO2. The occurrence of halloysite formed through mechanical processes from surface weathering of aluminosilicate minerals, as feldspars which source from volcanic rock in the west part and from volcanic materials in the south side of the investigation area. Keywords : silt, halloysite, feldspar, Northeast Java waters.
GRANIT KELUMPANG SEBAGAI GRANIT TIPE-I DI PANTAI TELUK BALOK, BELITUNG Noor C.D. Aryanto; Nasrun Nasrun; Andy Hermanto Sianipar; Lili Sarmili
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 3, No 1 (2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.554 KB) | DOI: 10.32693/jgk.3.1.2005.121

Abstract

Batuan granit mempunyai arti penting terutama akan kandungan mineral ekonomisnya. Di Indonesia bagian barat, batuan granit lebih terkenal dengan asosiasi mineralisasi kasiterit (timah). Tidak semua batuan granit mempunyai kandungan mineral kasiterit. Batugranit biotit berhubungan dengan mineralisasi kasiterit, sedangkan batugranit hornblende tidak ada hubungannya dengan mineralisasi kasiterit. Batuan granit di Pulau Belitung ditemukan di empat daerah berbeda, yaitu Tanjung Pandan di baratlaut, Gunung Mang di timurlaut, Parangbuloh di baratdaya dan Kelumpang di tenggara. Granit Kelumpang adalah salah satu dari jenis granit di daerah telitian. Secara megaskopis, batuan granit di Kelumpang terbentuk oleh mineral-mineral berbutir kasar, berwarna abu-abu-putih dan kaya akan megakristik K-Feldspar Identifikasi karakteristik granit di daerah penelitian berdasarkan hasil analisa petrografis dan penafsiran seismik pantul dangkal, yang ditunjukkan oleh pola reflektor yang membentuk struktur kerucut yang tidak menerus. Penyebaran dari batuan granit ini dapat dipetakan sepanjang lintasan kapal. Pada akhirnya, berdasarkan kenampakan megaskopis dan analisa petrografi terlihat bahwa granit di lokasi kegiatan memiliki sifat yang menyerupai granit tipe-I bukan pembawa mineral kasiterit. The granitic rock is an important rock in economic mineral deposit. In westernpart of Indonesia, the granitic rocks are well known in associated with cassiterite (tin) minerals. Not all of the granitic rocks contain of cassiterite minerals. The biotite-granitic rocks are associated with cassiterite minerals while the hornblende-granitic rocks are not related with cassiterite mineralisation. The Granitic rock in Belitung Island found in four different areas, those are, in Tanjung Pandan of northwest Belitung, Gunung Mang of northeast of Belitung, Parangbuloh of southwest Belitung, and Kelumpang of southeast Belitung. Granit Kelumpang is one of granitic rocks in the investigated area. It is megascopically formed by coarse-grained, greyish white in color and rich in K-feldspar megacrystic minerals. Identification of granitic rock in the investigated area characterised by petrographically analysis and seismic reflection interpretation. It has a reflector pattern shown by an uncontinous cone structure. The distribution of granitic rock can be mapped along the ship track as well as the shallow seismic lines. Finally, the granitic rocks in the investigated area are megascopically and petrographically belong to type I-Granite those are not associated with cassiterite.
KETERKAITAN UNSUR TANAH JARANG TERHADAP MINERAL BERAT ILMENIT DAN RUTIL PERAIRAN PANTAI GUNDI, BANGKA BARAT Noor C.D. Aryanto; Joni Widodo; Purnomo Raharjo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 2 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.481 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.2.2003.95

Abstract

Berdasarkan hasil analisa unsur terhadap 7 contoh sedimen permukaan dasar laut di Perairan Pantai Gundi, Bangka Barat, yang kemudian dianalisa dengan menggunakan metode Inductively Coupled Plasma (ICP) dapat diketahui konsentrasi kandungan unsur Niobium (Nb) dan unsur Tantalum (Ta). Selain itu dilakukan pula analisa mineral berat dengan menggunakan larutan pemisah bromoform (BJ 2,83) terhadap 15 contoh. Konsentrasi kandungan unsur jarang seperti Niobium dapat mencerminkan keberadaan mineral berat ekonomis, yaitu mineral berat yang resisten terhadap pelapukan dan mengandung unsur Titanium (Ti), seperti mineral Ilmenit (FeTiO3) dan rutil (TiO2). Juga dapat dibuktikan, di daerah selidikan bahwa keberadaan unsur Niobium dan Tantalum di alam hampir dapat dipastikan selalu berasosiasi. Di daerah selidikan asosiasi ini berupa mineral columbite-tantalite (Fe,Mn)Nb2O6-(Fe,Mn)Ta2O6 dan pyrochlore (Na, Ca, Ce…)2 Nb2O6F. Selain itu masih dengan memperhatikan asosiasi kedua unsur ini dapat diketahui pula asal batuan sumber dari sedimen-sedimen dimana mineral tersebut terakumulasi, karena asosiasi antara unsur Niobium dan Tantalum merupakan penciri untuk daerah pegmatis. Based on element analysis of 7 surface sediment samples from Gundi Waters, Western Bangka by using Inductively Coupled Plasm (ICP), the content of rare element Niobium (Nb) and Tantalum (Ta) can be identified. On the other hand heavy mineral analysis with float-sink method using bromoform as separator liquid has been applied for 15 samples. Based on observations the concentration of Niobium (Nb) element reflects the present of heavy minerals consisted of Titanium (Ti) element, such as Ilmenit (FeTiO2) and Rutil (TiO2). It is can also be proved that in the investigated area Niobium (Nb) and Tantalum (Ta) elements are occure in association. In the study area, this association shows as columbite-tantalite (Fe,Mn)Nb2O6-(Fe,Mn)Ta2O6 and pyrochlore (Na, Ca, Ce…)2 Nb2O6F minerals. Moreover, based on this association, it can be recognized the source rocks of the sediment where the minerals accumulate as association of these two elements are specific for pegmatic area.