Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan persepsi mahasiswa tentang lingkungan pembelajaran dengan kejadian burnout di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara tahap akademik Eirene Priscilla C. Simatupang; Yoanita Widjaja
Tarumanagara Medical Journal Vol. 3 No. 2 (2021): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v4i1.13720

Abstract

Burnout merupakan sindrom dari kelelahan emosional, depersonalisasi dan menurunnya prestasi. Kejadian burnout merupakan masalah yang masih banyak ditemui pada mahasiswa Fakultas Kedokteran. Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi terjadinya burnout salah satunya adalah lingkungan pembelajaran. Kondisi lingkungan pembelajaran yang buruk dapat menjadi stresor bagi mahasiswa. Stres yang dialami secara terus menerus akan menimbulkan burnout. Studi ini bertujuan untuk melihat hubungan persepsi mahasiswa tahap akademik terhadap lingkungan pembelajaran dengan kejadian burnout di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara (FK Untar). Studi ini menggunakan metode analitik dengan desain potong lintang. Sampel studi adalah 174 mahasiswa yang diambil secara cluster random sampling. Pengambilan data dengan kuesioner Dundee Ready Educational Enviromental Measure (DREEM) untuk menilai persepsi mahasiswa terhadap lingkungan pembelajaran dan Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS) untuk menilai kejadian burnout. Hasil studi menunjukkan persepsi mahasiswa terhadap lingkungan pembelajaran mayoritas lebih banyak positif dibanding negatif, yaitu sebanyak 162 orang (93,1%). Sebagian besar responden, 108 orang (62,1%), mengalami kejadian burnout. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan antara persepsi terhadap lingkungan pembelajaran dengan kejadian burnout (nilai p =0,635; PR=1,628). Selain itu, masing-masing aspek persepsi terhadap lingkungan pembelajaran dan burnout menunjukkan tidak ada hubungan, kecuali pada satu aspek yaitu persepsi terhadap staf pengajar (nilai p=0,007; PR=1,159). Oleh karena itu, mahasiswa harus dapat mengidentifikasi stresor dan segera mengatasinya agar tidak jatuh pada keadaan burnout, student support system dioptimalisasi, dan selanjutnya dapat diteliti mengenai pengaruh peningkatan peran staf pengajar yang berkontribusi memberikan suasana positif baik secara akademik maupun non akademik terhadap kejadian burnout pada mahasiswa.
Hubungan kecanduan internet dengan prestasi akademik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara tahap akademik Tamara Muliani; Yoanita Widjaja
Tarumanagara Medical Journal Vol. 4 No. 1 (2022): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v4i2.17754

Abstract

Kecanduan internet adalah penggunaan internet secara berlebihan yang tidak dapat dikendalikan. Kecanduan internet merupakan salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi prestasi akademik mahasiswa. Tujuan studi ini untuk mengetahui hubungan antara kecanduan internet dengan prestasi akademik mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara pada tahap akademik. Studi ini menggunakan studi analitik metode potong lintang yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Subyek studi berjumlah 242 mahasiswa yang diambil menggunakan teknik cluster random sampling dengan komposisi 179 perempuan dan 63 laki-laki yang berada dalam tahap akademik dengan berbagai rentang usia. Data diperoleh menggunakan kuesioner YIAT (Young Internet Addiction Test) yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sebanyak 194 mahasiswa (80,2%) mengalami kecanduan internet dan sebanyak 202 mahasiswa (83,5%) mendapatkan prestasi akademik yang baik. Pada studi ini didapatkan bahwa sebanyak 99 mahasiswa (51%) lebih sering membuka konten non ilmiah seperti, jejaring sosial, hiburan maupun game online. Pada studi ini juga ditemukan bahwa perempuan lebih banyak yang mengalami kecanduan internet, yaitu sebanyak 140 orang (72,2%). Kelompok usia terbanyak yang mengalami kecanduan adalah mahasiswa yang berusia 19 tahun, yaitu sebanyak 66 orang (34%). Hasil studi ini didapatkan nilai p=1 (p>0,05) yang berarti kecanduan internet tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan prestasi akademik mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara tahap akademik. Hal ini dapat berhubungan dengan konten apa yang dibuka selama bermain internet.
Eksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi motivasi belajar mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara tahap akademik Angelica Novianti; Yoanita Widjaja
Tarumanagara Medical Journal Vol. 4 No. 1 (2022): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v4i2.17849

Abstract

Motivasi adalah suatu dorongan yang terjadi pada diri seseorang, baik secara sadar maupun tidak untuk melakukan suatu aktivitas dengan tujuan tertentu. Motivasi dibutuhkan untuk meningkatkan semangat belajar sehingga mendapatkan hasil yang diinginkan. Tujuan studi ini untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang berkontribusi dalam motivasi belajar mahasiswa pada pendidikan kedokteran tahap akademik di Universitas Tarumanagara. Studi ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data dengan Focus Group Discussion (FGD) terhadap mahasiswa dan wawancara terhadap staf pengajar. Hasil FGD dan wawancara ditranskripsikan dan dianalisis. Data dianalisis menggunakan analisis tematik. Dari hasil studi diperoleh bahwa faktor yang dapat meningkatkan motivasi yaitu cita-cita, menjaga harga diri, rasa tanggung jawab, cara pandang terhadap orangtua, dan gambaran profesi dokter. Faktor yang dapat menurunkan motivasi yaitu kelelahan, homesick, keinginan untuk bersosialisasi melalui gadget. Faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi yaitu kondisi sarana prasarana, hasil ujian, strategi pembelajaran, cara mengajar staf pengajar, sumber bacaan, teman, dan tingkat kesulitan materi. Kesimpulan studi ini, motivasi berperan sebagai pendorong untuk belajar.
Hubungan Antara Burnout dengan Academic Procrastination pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Tahap Akademik Cornelia Kartika Matthew; Yoanita Widjaja
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.9515

Abstract

Burnout merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan keadaan kelelahan fisik dan mental, meningkatnya perasaan negatif atau sinisme, berkurangnya efektivitas dalam melakukan sesuatu dan sering beranggapan bahwa dirinya tidak kompeten. Mahasiswa yang mengalami burnout dan jenuh terhadap suatu proses pembelajaran lebih rentan untuk melakukan prokrastinasi akademik atau menunda tugas yang diberikan oleh dosen. Banyak mahasiswa yang melakukan penundaan dalam mengerjakan tugas, sehingga tugas yang seharusnya dikerjakan lebih awal tidak selesai dikerjakan dan semakin banyak tugas yang menumpuk. Ini dapat membuat mahasiswa menjadi semakin tertekan dan dapat menyebabkan burnout. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara burnout dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara tahap akademik. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional dan dilakukan pada 182 mahasiswa FK UNTAR tahap akademik. Pengumpulan data menggunakan kuesioner secara daring dan data dianalisis menggunakan uji statistic analysis of variance (ANOVA). Mahasiswa mengalami burnout ringan 4 (2,2%), burnout sedang 173 (95,1%), burnout berat 5 (2,7%), dan mean pada prokrastinasi akademik 25,43. Temuan ini secara statistic didapatkan p-value sebesar 0,499 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara burnout dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara tahap akademik.
KEJADIAN INFEKSI PASCA VAKSINASI COVID-19 DOSIS PRIMER PADA SASARAN VAKSIN LANJUTAN DI SENTRA VAKSINASI COVID-19 UNIVERSITAS TARUMANAGARA Wiyarni Pambudi; Sari Mariyati Dewi Nataprawira; Andria Priyatna; Yoanita Widjaja; Jennefer; Sannya Christy
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v2i2.24455

Abstract

Pemberian vaksinasi COVID-19 dosis primer telah dilakukan di Sentra Vaksinasi UNTAR pada bulan Maret hingga Agustus 2021 menggunakan vaksin Sinovac dan Astra Zeneca. Vaksinasi lanjutan dosis booster pertama diberikan pada bulan Februari 2022 kepada sasaran yang sama dengan interval minimal enam bulan, menggunakan vaksin Moderna, sesuai ketersediaan vaksin yang dibagikan oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta melalui Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Penelitian dengan desain potong lintang ini bertujuan mengetahui angka kejadian terkonfirmasi COVID-19 setelah vaksinasi dosis primer pada sasaran vaksinasi yang dilayani oleh Sentra Vaksinasi UNTAR. Selama tiga hari pelayanan vaksin lanjutan dosis booster pertama tercatat 672 sasaran Sentra Vaksinasi UNTAR, terdiri atas warga usia lanjut di atas 60 tahun 264 (39,4%), usia 25-59 tahun 359 (53,4%), usia 18-24 tahun 48 (7,2%), berjenis kelamin laki-laki 348 (51,9%) dan perempuan 322 (48,1%). Sejumlah 19 (2,8%) sasaran menyatakan terkonfirmasi COVID-19 pasca vaksinasi dosis primer, dan 39 (5,8%) sasaran memiliki riwayat terinfeksi COVID-19 sebelum mendapatkan vaksin dosis primer. Riwayat terkonfirmasi COVID-19 lebih tinggi pada kategori usia 25-59 tahun (32/58, p=0,128) dan tidak berbeda pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Individu yang terkonfirmasi COVID-10 setelah mendapat vaksin dosis primer mempunyai komorbid hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit lain (p=0,017). Gejala yang dirasakan antara lain mudah lelah, nyeri sendi, nyeri kepala, diare, dan keluhan lain yang lazim terjadi pada kasus COVID-19 ringan, mencerminkan adanya peningkatan imunitas sebagai efek dari vaksinasi dosis primer.