Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Sawerigading

POTRET BURAM FEMINIS DALAM NOVEL AKU LUPA BAHWA AKU PEREMPUAN KARYA IHSAN ABDUL QUDDUS Andi Herlina
SAWERIGADING Vol 19, No 1 (2013): SAWERIGADING, Edisi April 2013
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v19i1.404

Abstract

The writing intends to describe the dark portrait offeminist in novel of "Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan"by Abdul Quddus using psychoanalysis theory of Freud. It applies descriptive qualitative method with notingand interview technique, and library research. The analysis found out that there is tussle between id, egoand superego. Id drives and runs based on pleasure principle. Ego becomes response towards consciousand rational reality. Superego drives perfection and works based on ideal principle. The writer finds out thatSuad's willing for being political figure was high, drives his ego to depress his superego against habitualsurrounding. He finally spoils his id by deciding to be carrier woman fully. AbstrakTulisan ini bertujuan menggambarkan potret buram feminis dalam novel "Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan"karya Abdul Quddus dengan menggunakan teori psikoanalisis Freud. Tulisan ini menggunakan metodedeskriptif kualitatif dengan teknik catat, wawancara, dan studi pustaka. Analisis ini kemudian menemukanterjadi pergumulan antara id, ego dan super ego. Id menampilkan dorongan dan bekerja berdasarkan prinsipkesenangan. Ego merupakan respon terhadap realitas bersifat sadar dan rasional. Sedangkan super egoselalu menginginkan kesempurnaan karena ia bekerja dengan prinsip idealitas. Penulis menemukan bahwakeinginan Suad yang begitu besar untuk menjadi tokoh politik, mendorong egonya senantiasa menekansuper ego dengan menentang kebiasaan yang berlaku di lingkungannya. Sampai akhirnya ia kemudianmemperturutkan idnya dengan memutuskan menjadi wanita karier seutuhnya.
MISTISME BAH DALAM PUISI "BAH, DI MEULABOH" KARYA AKHMAD K SYAMSUDDIN: ANALISIS METAFORA DAN SIMBOL HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR Andi Herlina
SAWERIGADING Vol 17, No 2 (2011): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2011
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v17i2.367

Abstract

This research aimed at describing mysticism flood in the poetry "Bah di Meulaboh " by Akhmad K Syamsuddin usingmetaphor and symbol analysis and applying hermeneutic theory of Paul Ricoeur. This research applied descriptivequalitative method with noting, interview, and library study technique. Then, mysticism analysis in poetry "Bah, diMeulaboh" was awareness "I (in line)" of the natural disaster essence. The disaster could not be merely regarded ascurse. Yet, the disaster should be reminder of what had happened. Therefore, one could be better in the future to avoidthe bad incidents in order to avoid the history happened again. AbstrakTulisan ini bertujuan menggambarkan mistisme bah dalam puisi " Bah di Meulaboh" karyaAkhmad K Syamsuddin melalui analisis metafora dan analisis simbol dengan memanfaatkan teorihermeneutika Paul Ricoeur. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknikcatat, wawancara, dan studi pustaka. Analisis ini kemudian menggambarkan mistisme dari puisi "Bah, di Meulaboh " adalah kesadaran " aku lirik" tentang esensi sebuah bencana alam. Bencanajangan hanya dianggap sebagai kutukan. Namun, lebih dari itu bencana menjadi sarana pengingat,dari peristiwa yang telah terjadi. Sehingga seseorang dapat menjadi lebih baik di kemudian hari, jikatidak ingin sejarah kaum terdahulu terulang.
INTEGRITAS DIRI SEORANG PEMIMPIN DALAM SINGGIQ TORAJA Andi Herlina
SAWERIGADING Vol 16, No 2 (2010): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2010
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v16i2.309

Abstract

This writing is to describe attitude and aptitude those should be owned by somebody in order to having self integrity as a leader found in Toraja Singgiq using descriptive method. Having been analyzed, aptitude and attitude of having self integrity are (1) braveness (2) honest, (3) well educated, (4) wise, (5) and firm. Abstrak Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan sifat dan tingkah laku apa saja yang harus dimiliki oleh seseorang  agar terbentuk integritas diri sebagai seorang pemimpin yang terdapat pada singgiq Toraja. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah  metode deskriptif. Hasil analisis menunjukkan sikap dan tingkah laku pembentuk integritas diri yaitu: (1) berani, (2) jujur, (3) cendikia, (4) teguh, dan (5) bijaksana.
SUBSTANSI MITOS TOWARANI DALAM CERPEN LATOPAJOKO KARYA BADARUDDIN AMIR Andi Herlina
SAWERIGADING Vol 18, No 3 (2012): SAWERIGADING, Edisi Desember 2012
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v18i3.380

Abstract

The writing is aimed at describing substance of the brave man myth in '"Latopajoko " short story by Badaruddin Amir using Roland Barthes theory. The writing is conducted in qualitative descriptive method through noting technique, interviewing technique, and library research. Then, the analysis finds out the myth relating to the brave man, nomad ancestor, becoming bodyguard of king, having invulnerability (panimbolok), fighting until death (polopa-polopanni), having sacred teacher and having been ready to examine. Those myths have substance in building braveness, having faith in whole to transcendental thing, having been high ethos, believable, eagerness in learning, and taking part in solving the problem. Abstrak Tulisan ini bertujuan menggambarkan substansi mitos towarani dalam cerpen "Latopajoko" karya Badaruddin Amir melalui teori konsep mitos Roland Barthes. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik catat,wawancara, dan studi pustaka. Analisis ini kemudian menemukan gambaran mitos yang berkaitan dengan towarani, yakni turunan pengembara, menjadi pengawal raja, memiliki panimbohk (kekebalan), pohpapolopanni ( berjuang habis- habisan), memiliki guru yang sakti, dan siap untuk diuji. Mitos-mitos tersebut memiliki substansi yang membentuk sebuah karekter seorang pemberani, di antaranya keyakinan penuh kepada hal transendental, memiliki etos kerja yang tinggi, dapat dipercaya, selalu mau belajar, dan total dalam memecahkan masalah.
MISTISME BAH DALAM PUISI "BAH, DI MEULABOH" KARYA AKHMAD K SYAMSUDDIN: ANALISIS METAFORA DAN SIMBOL HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR. Andi Herlina
SAWERIGADING Vol 18, No 2 (2012): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2012
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v18i2.338

Abstract

This research aimed at describing mysticism flood in the poetry "Bah di Meulaboh " by Akhmad K Syamsuddin using metaphor and symbol analysis and applying hermeneutic theory of Paul Ricoeur. This research applied descriptive qualitative method with notingg, interview, and library study technique. Then, mysticism analysis in poetry "Bah, di Meulaboh" was awareness "I (in line)" of the natural disaster essence. The disaster could not be merely regarded as curse. Yet, the disaster should be reminder of what had happened. Therefore, one could be better in the future to avoid the bad incidents in order to avoid the history happened again. Abstrak Tulisan ini bertujuan menggambarkan mistisme bah dalam puisi " Bah di Meulaboh" karya Akhmad K Syamsuddin melalui analisis metafora dan analisis simbol dengan memanfaatkan teori hermeneutika Paul Ricoeur. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik catat, wawancara, dan studi pustaka. Analisis ini kemudian menggambarkan mistisme dari puisi " Bah, di Meulaboh " adalah kesadaran " aku lirik" tentang esensi sebuah bencana alam. Bencana jangan hanya dianggap sebagai kutukan. Namun, lebih dari itu bencana menjadi sarana pengingat, dari peristiwa yang telah terjadi. Sehingga seseorang dapat menjadi lebih baik di kemudian hari, jika tidak ingin sejarah kaum terdahulu terulang.