Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

The Impact of Capability on Cooperative Performance and Sustainability: A Case Study of West Java Coffee Farmers Cooperatives Wini Fetia Wardhiani; Tuti Karyani; Iwan Setiawan; Ery Supriyadi Rustidja
International Journal of Business, Economics, and Social Development Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Research Collaboration Community (RCC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46336/ijbesd.v4i2.432

Abstract

The industrial revolution in the agricultural sector is faced with demographic challenges (ageing), so intelligent technology, artificial intelligence, big data, and augmented reality are strategic choices. The application of information technology has a direct or indirect impact on Indonesia's agricultural sector, so coffee agribusiness cooperatives' information and communication technology (ICT) is also increasingly needed to respond to market demand. Along with the development of automation, physical, cyber systems and IoT, coffee cooperatives need to be ready and adapt to the era of the industrial revolution 4.0 in capturing market demand opportunities, value chains, and the added value of coffee agribusiness. ICT's presence can improve the performance and institutional sustainability of coffee farmers in rural areas, including cooperatives. Performance is a description of the achievement of organizational tasks to realize the goals, objectives, mission and vision of the organization and its business. The performance of the cooperative describes the services provided to its members and the community/farmers as measured by using indicators to see the working mechanism of the organization and its business that has been carried out and to determine the achievement of the objectives obtained. Meanwhile, the ability to innovate is essential, especially the use of ICT, which is deemed necessary to support the performance and sustainability of coffee cooperatives, so that cooperatives can compete, be stable, or survive in the era of increasing free competition. . Quantitative descriptive method with Linear Regression analysis was used to identify the effect of cooperative capability on the performance and sustainability of cooperatives in several coffee cooperatives in West Java. The study's results found that the power of the cooperative did not significantly affect the performance of the Coffee Cooperative. Still, the capability of the cooperative had a positive and significant effect on the sustainability of the Coffee Cooperative. At the same time, the performance of the cooperative has a positive and significant impact on the sustainability of the coffee cooperative. The ability of cooperatives has a positive and significant effect on sustainability mediated by the performance of the Coffee Cooperative in the Industrial Revolution 4.0 era. This study recommends increasing the capabilities of cooperatives in membership, management, and business models to become sustainable cooperatives based on information technology to achieve added value from market-driven coffee products.
SOSIALISASI CHSE (CLEANLINESS, HEALTH, SAFETY & ENVIRONMENTAL SUSTAINABILITY) DALAM TATA KELOLA HOMESTAY PADA MASA PANDEMI DI DESA WISATA ALAMENDAH, BANDUNG Tuti Karyani; Endah Djuwendah; Ery Supriyadi; O Hasbiansyah; Nurul Risti Mutiarasari
Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Vol 12, No 2 (2023): Juni, 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v12i2.37893

Abstract

Masa pandemi covid-19 masih belum berakhir, walaupun sudah mulai terjadi penurunan. Kegiatan masyarakat sudah mulai menggeliat termasuk sektor parawisata, sehingga untuk mengantisipasinya  yaitu melalui penerapan CHSE (cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability) yang diawali dengan adanya sosialisasi. Sosialisasi CHSE  diberikan ke pengelola/pemilik homestay dan stakeholder lain di desa wisata Alamendah. Homestay di desa wisata Alamendah ada 3 type yaitu homestay dengan halaman luas, homestay di pinggir jalan dan homestay di tengah perkampungan penduduk. Hasil pelatihan  menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap pengelola/pemilik homestay mengenai CHSE namun dalam implementasinya pada ketiga type homestay masih belum sepenuhnya diterapkan dengan alasan karena wisatawan yang menginap belum banyak. Diharapkan penerapan CHSE ini menjadi kebiasaan baru dalam pengelolaan homestay sebagai salah satu daya tarik bagi wisatawan
KINERJA UNIT USAHA KEDELAI DENGAN MENGGUNAKAN METODE BALANCED SCORECARD: (Studi Kasus Pada Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia Kabupaten Kuningan) hakim, abdul; Sulviani, Agustine; Nur Hamidah, Regina Winny; Supriyadi R, Ery
JURNAL AKUNTANSI DAN SISTEM INFORMASI Vol 4 No 1 (2023): Edisi Februari 2023
Publisher : Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jaksi.v4i1.3807

Abstract

This study aims to determine the performance of the soybean business unit of the Indonesian Tempe and Tofu Producers Cooperative in Kuningan Regency using the balanced scorecard method. This research is a case study. The research informants were 3 administrators, 3 supervisors and managers, 8 employees, and 62 members of the Indonesian Tempe and Tofu Producers Cooperative, Kuningan Regency. The object of this research is the soybean business unit of the Indonesian Tempe and Tofu Producers Cooperative in Kuningan Regency which is analyzed using the Balanced Scorecard from a financial perspective, a customer or member perspective, an internal business perspective, and a learning and growth perspective. The results of the research on performance achievement in the soybean business unit of the Indonesian Tempe and Tofu Producers Cooperative in Kuningan Regency show that the financial perspective is in the negative criteria, the customer perspective has good criteria, the internal business perspective is in very good criteria, the learning and growth perspective is quite good.
KEBERLANJUTAN FINANSIAL TEKNOLOGI (FINTEK) SEBAGAI SUMBER PEMBIAYAAN KOMODITAS SAYURAN DI KABUPATEN GARUT Karyani, Tuti; Djuwendah, Endah; Yudha, Eka Purna; Supriyadi, Ery; Arifin, Zainal
Agricore Vol 9, No 2 (2024): Volume 9 Nomor 2
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v9i2.58895

Abstract

AbstrakFinansial teknologi adalah jasa keuangan dan teknologi yang beberapa tahun ini sudah merambah  ke sektor pertanian, terutama untuk komoditas sayuran yang termasuk dalam tanaman musiman. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat keberlanjutan dari  finansial teknologi (fintek) dan usahatani yang dibiayainya. Salah satu Kabupaten yang sudah ada implementasi fintek adalah Kabupaten Garut yaitu untuk komoditas cabai. Metode penelitian yang digunakan ialah stratified random sampling sebanyak 146 orang di 2 kecamatan sentra cabai yaitu Kecamatan Pasirwangi dan Cikajang. Alat analisis yang digunakan ialah  Multi Dimensional Scaling (MDS) Rapfish yang mengukur keberlanjutan berdasarkan 5 dimensi, yaitu  dimensi ekonomi,  sosial, lingkungan dan dimensi kelembagaan yang didasarkan pada Indikator fintech dengan teknik ordinasi dari Software RAPFISH (Rapid Appraisal Technique for Fisheries). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi sosial dan ekonomi indeks keberlanjutannya termasuk pada status cukup berkelanjutan, sedangkan untuk dimensi lingkungan, teknologi dan kelembagaan masih  pada status kurang berkelanjutan. Oleh karena itu perlu diperbaiki atribut-atribut yang masih lemah untuk semua dimensi terlebih untuk dimensi lingkungan, teknologi dan kelembagaan. Selain itu yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan adalah infrastruktur, literasi digital dan pengawasan yang ketat dari pemerintah dalam mengawal fintek ini agar optimal perannya dalam mendukung keberlanjutan pembangunan pertanian di perdesaan.Kata kunci: Finansial Teknologi, Keberlanjutan,  Multi Dimensional Scalling (MDS), Rapfish. AbstractFinancial technology is a financial and technological service that has penetrated the agricultural sector in recent years, especially for seasonal vegetable commodities. This study aims to measure the level of sustainability of financial technology (fintek) and the farms it finances. One of the districts that has implemented fintech is Garut Regency, namely for chili commodities. The research method used was stratified random sampling of 146 people in 2 sub-districts of chili centers, namely Pasirwangi and Cikajang sub-districts. The analytical tool used is Multi Dimensional Scaling (MDS) Rapfish which measures sustainability based on 5 dimensions, namely economic, social, environmental and institutional dimensions based on fintech Indicators with ordination techniques from RAPFISH (Rapid Appraisal Technique for Fisheries) Software. The results show that the social and economic dimensions of the sustainability index are included in the moderately sustainable status, while the environmental, technological and institutional dimensions are still in a less sustainable status. Therefore, it’s necessary to improve the attributes that are still weak for all dimensions, especially for the environmental, technological and institutional dimensions. In addition, what needs to be improved and enhanced is infrastructure, digital literacy and strict supervision from the government in overseeing this fintech to optimize its role in supporting the sustainability of agricultural development in rural areas. Keywords: Financial Technology, Sustainability, Multi Dimensional Scaling (MDS), Rapfish.
ADAKAH HUBUNGAN PARTISIPASI ANGGOTA DENGAN KEBERHASILAN KOPERASINYA? Tuti Karyani; Elly Rasmikayati; Ery Supriyadi
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 2 (2024): Edisi Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i2.4672

Abstract

Koperasi merupakan pilar dalam perekonomian Indonesia, Harapannya koperasi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama anggotanya. Salah satu koperasi yang ada dan masih aktif di Indonesia adalah Koperasi Produsen Kopi Margamulya (KPKM). Koperasi ini berangggotakan para produsen kopi di margamulya kabupaten bandung. Dengan daya produksi ceri kopi hingga 650 ton, Potensi koperasi ini sangatlah besar, Namun diketahui bahwa hanya  30 ton saja ceri kopi yang diproduksi menjadi kopi. Hal ini menujukan bahwa KPKM masih belum berjalan secara optimal. Pada penelitian ini penulis bertujuan untuk mendeskripiskan Tingkat partisipasi anggota terhadap KPKM dan faktor keberhasilan koperasi tersebut serta mengidentifikasikan hubungan antara partisipasi anggota koperasi dengan keberhasilan koperasinya. Penelitian ini disajikan menggunakan metode deskriptif dengan metode pengumpulan data menggunakan kuisioner  dan   digunakan Chi-Square test sebagai alat analisis datanya. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa partisipasi anggota koperasi dalam dua dimensi, sebagai pemilik dan pengguna, menunjukkan variasi yang signifikan. Partisipasi sebagai pemilik cenderung rendah, dengan sekitar > 50% anggota berpartisipasi rendah hingga sangat rendah. Lebih dari 60% partisipasi anggota koperasi sebagai pengguna menunjukkan partisipasi yang tinggi dalam memanfaatkan jasa koperasi. Keberhasilan usaha koperasi dinilai baik Meskipun sebagian besar anggota merasa koperasi telah memenuhi kebutuhan mereka, terdapat masalah dalam permodalan karena mayoritas anggota tidak meningkatkan simpanan mereka. Simpanan Hasil Usaha (SHU) juga menunjukkan mayoritas anggota tidak mengalami peningkatan dan pembagian SHU sering tidak tepat waktu. Tingkat partisipasi anggota koperasi sebagai anggota berpengaruh signifikan terhadap permodalan koperasi dan efektivitas pemenuhan kebutuhan dan unit usaha koperasi. Kata kunci: keberhasilan; koperasi; margamulya; pasrtisipasi; produsen kopi.
Pemetaan Multi Risiko Bencana Bagi Perencanaan Penyediaan Infrastruktur Mitigasi Di Kawasan Amfiteater Geopark Ciletuh-Palabuhanratu Chaidir, Nour; Hindersah, Hilwati; Rustidja, Ery Supriyadi
Urban and Regional Studies Journal Vol. 6 No. 2 (2024): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2024
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v6i2.3982

Abstract

Kawasan Amfiteater Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang tersusun akibat tumbukan lempeng Indo-Australia dan lempeng Benua Eurasia memiliki kerawanan gempa, pergerakan tanah, dan tsunami. Karena adanya beberapa ancaman bahaya dalam satu Kawasan tersebut, diperlukan suatu pendekatan yang mempertimbangkan lebih dari satu bahaya di tempat tertentu dan keterkaitan di antara bahayanya, termasuk kejadian simultan atau kumulatif dan interaksi potensial mereka. Dengan demikian, diperlukan pemetaan dan penentuan skala prioritas bagi perencanaan penyediaan infrastruktur mitigasi melalui pendekatan multi risiko bencana. Studi ini menerapkan pendekatan kuantitatif menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk analisis spasial dan analisis hubungan untuk memetakan tingkat bahaya, kerentanan, tingkat risiko, dan risiko multi ancaman yang ada di lokasi penelitian, serta analisa skenario tingkat risiko yang di mitigasi dalam penyediaan infrastruktur mitigasi. Hasil analisis mengindikasikan: 1) dari 9 ancaman bencana terdapat 6 ancaman bencana yang memlliki tingkat Risiko Multi Ancaman yang tinggi, 2) tingkat risiko yang dimitigasi (skala prioritas) dalam penyediaan infrastruktur mitigasi, adalah: bencana gempa bumi, tsunami, banjir, cuaca ekstrim, banjir bandang, tanah longsor, gelombang ekstrim dan abrasi, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan, 3) Sistem proteksi (mitigasi struktural) prasarana mitigasi bencana berupa: a) meningkatkan infrastruktur hijau, b) penyediaan infrastruktur mitigasi hadapi dan mitigasi hindari. The Ciletuh-Palabuhanratu Geopark Amphitheater area which is composed by the collision of the Indo-Australian plate and the Eurasian plate is prone to earthquakes, ground movements, and tsunamis. Due to the presence of multiple hazard threats in a single Area, an approach is needed that takes into account more than one hazard in a given location and the interrelationships between the hazards, including their simultaneous or cumulative occurrences and their potential interactions. Thus, it is necessary to map and determine the priority scale for planning the provision of mitigation infrastructure through a multi-disaster risk approach. This study applies a quantitative approach using Geographic Information Systems (GIS) for spatial analysis and connection analysis to map the level of hazard, vulnerability, risk level, and multi-threat risk in the research location, as well as scenario analysis of the level of risk that is mitigated in providing mitigation infrastructure. The results of the analysis indicate: 1) Of 9 disaster threats, there are 6 disaster threats that have a high level of Multi Threat Risk, 2) Mitigation risk level (priority scale) in the provision of mitigation infrastructure, namely: earthquakes, tsunamis, floods, weather extreme floods, landslides, extreme waves and abrasion, drought, and forest and land fires. 3) Protection system (structural mitigation) for disaster mitigation infrastructure in the form of: a) increasing green infrastructure, b) providing mitigation infrastructure, namely mitigating to face and mitigate to avoid.
Production Risk Mitigation Strategies In Small-Scale Goat Milk Industries Nurul Risti Mutiarasari; Deana Feraya Azzahra; Yogi Nirwanto; Leny Yuliyani; Ery Supriyadi Rustidja
International Journal of Business and Quality Research Vol. 4 No. 01 (2026): Januari - March, International Journal of Business and Quality Research (IJBQR
Publisher : Citakonsultindo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63922/ijbqr.v4i01.3046

Abstract

The purpose of this research is to identify the causes and impacts of production risks and develop appropriate mitigation strategies to deal with risks at Abah Farm dairy goat farm. The data analysis design used is the House of Risk (HOR) analysis. The results of the study showed that the causes and impacts of goat milk production risks consist of the process of doe/nanny rearing, the milking process, and the packaging and distribution process. Risk mapping of goat milk production in the rearing process five activities cause the risk of goat milk production, including feeding activities, animal sanitation, cage sanitation, livestock reproduction, and livestock animal health. Furthermore, in milking goat milk, five activities are causes, namely the milking place (cage), determining the intensity and time of milking, milking preparation, the way during the milking process, and the completion of milking. In the completion and packaging of milk, two activities are caused, namely the handover stage and the goat milk packaging stage. Several mitigation strategies can be carried out, including in the process of raising mothers, the main priority of the mitigation strategy is to adjust the composition of high-protein green feed. Furthermore, in the milking process, the top priority mitigation strategy is to supervise the implementation of the goat milking standard procedure by the supervisor and in the milk packaging and distribution process, the top priority mitigation strategy is to back up goat milk production data in a separate notebook or soft file data storage on a computer or email.
Implementasi Principal Componen Analysis untuk Mereduksi Faktor-faktor Kandungan Gizi yang Mempengaruhi Jenis Makanan Onoy Rohaeni; Mimah Mutmainah; Ariela Safmi Ramdhani; Ery Supriyadi R.
Data Enthusiast: Jurnal Ilmiah Sains Data Vol. 2 No. 1 (2026): Data Enthusiast: Jurnal Ilmiah Sains Data
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Koperasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32670/dej.v2i1.16

Abstract

Principal Component Analysis (PCA) adalah teknik statistik yang digunakan untuk mengurangi dimensi data multivariat dengan mengubah variabel asli menjadi komponen utama yang lebih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mereduksi faktor-faktor kandungan gizi yang mempengaruhi jenis makanan dengan membentuk beberapa komponen utama yang terbentuk untuk menggambarkan pola kandungan gizi makanan. PCA telah dilakukan untuk menyederhanakan data kandungan gizi makanan yang terdiri dari enam variabel. Hasil analisis menunjukkan bahwa dua komponen utama dapat menjelaskan 72,2% variasi total data. Komponen utama pertama merepresentasikan pola makanan berbasis karbohidrat, sedangkan komponen utama kedua merepresentasikan pola makanan tinggi energi dan protein. Meskipun nilai KMO rendah, hasil Bartlett’s Test of Sphericity menunjukkan korelasi signifikan antar variabel, sehingga PCA dapat digunakan sebagai analisis eksploratif untuk memperoleh gambaran awal struktur dan pola kandungan gizi makanan.
Analisis Klasifikasi Produktivitas Tanaman Biofarmaka di Kabupaten Sumedang Menggunakan Metode K-Means Clustering Ery Supriyadi Rustidja
Data Enthusiast: Jurnal Ilmiah Sains Data Vol. 2 No. 2 (2026): Data Enthusiast: Jurnal Ilmiah Sains Data
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Koperasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32670/dej.v2i2.21

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan komoditas tanaman biofarmaka di Kabupaten Sumedang berdasarkan tingkat produksi, luas panen, dan produktivitas menggunakan metode K-Means Clustering. Data yang digunakan merupakan data sekunder tahun 2025 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumedang. Tahapan analisis meliputi preprocessing data dengan normalisasi menggunakan metode Min-Max, penentuan jumlah cluster menggunakan metode Elbow, serta evaluasi hasil clustering menggunakan Silhouette Score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cluster optimal adalah tiga cluster. Cluster 0 terdiri dari komoditas kencur dan lengkuas yang memiliki tingkat produksi dan luas panen tinggi namun produktivitas relatif rendah. Cluster 1 terdiri dari jahe dan kunyit yang memiliki produktivitas tinggi meskipun produksi dan luas panen rendah. Sementara itu, cluster 2 terdiri dari kapulaga, jeruk nipis, dan serai yang memiliki tingkat produksi, luas panen, dan produktivitas relatif rendah. Hasil evaluasi menggunakan Silhouette Score sebesar 0,500 menunjukkan bahwa kualitas clustering berada pada kategori cukup baik, sehingga metode K-Means mampu memberikan pengelompokan yang cukup representatif. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam menentukan prioritas pengembangan komoditas biofarmaka di Kabupaten Sumedang.
Analisis Spasial dan Klasterisasi Ketimpangan Aset Koperasi di Tingkat Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat Ery Supriyadi Rustidja; Udin Hidayat
Data Enthusiast: Jurnal Ilmiah Sains Data Vol. 2 No. 2 (2026): Data Enthusiast: Jurnal Ilmiah Sains Data
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Koperasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32670/dej.v2i2.23

Abstract

Koperasi memegang peranan krusial dalam menopang stabilitas ekonomi akar rumput di tingkat daerah. Namun, sebaran modal yang tercermin dari nilai total aset koperasi antar-wilayah seringkali mengalami ketimpangan yang lebar, sehingga memerlukan sistem pemetaan yang objektif untuk mendukung pengambilan kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan 27 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat berdasarkan karakteristik kemiripan total aset koperasi menggunakan pendekatan sains data. Metode penelitian yang diterapkan adalah kuantitatif berbasis data mining dengan membandingkan dua arsitektur algoritma clustering, yaitu K-Means Clustering sebagai perwakilan metode non-hierarki dan Agglomerative Hierarchical Clustering dengan Ward’s Method sebagai metode hirarki. Data sekunder berupa total aset koperasi berskala satu dimensi diperoleh dari portal resmi Open Data Jabar. Penentuan jumlah kelompok optimal ditentukan melalui Elbow Method, sedangkan pengujian keandalan struktur klaster dievaluasi menggunakan metrik validasi internal Silhouette Coefficient. Hasil analisis grafik Elbow secara konsisten menunjukkan bahwa jumlah partisi paling efisien untuk dataset ini adalah tiga klaster ($K=3$). Melalui tahapan evaluasi model, algoritma Hierarchical Clustering (Metode Ward) terbukti menghasilkan performa terbaik dengan rata-rata skor Silhouette sebesar 0,665, mengungguli algoritma K-Means yang mencatatkan skor 0,587. Metode Ward dinilai lebih andal dalam memecah data satu dimensi yang memiliki varians timpang tanpa terdistorsi penuh oleh pencilan ekstrem. Hasil pemetaan terbaik mengisolasi Kota Bandung sebagai klaster mandiri tunggal dengan aset super tinggi (Rp 5,15 Triliun), diikuti oleh empat wilayah penyangga industri pada klaster aset tinggi (Rp 1,61 T – Rp 2,94 T), serta 22 kabupaten/kota lainnya yang mendominasi kelompok aset sedang-rendah (di bawah Rp 1,30 Triliun). Temuan ini mengonfirmasi adanya polarisasi ekonomi yang nyata pada ekosistem koperasi di Jawa Barat. Implikasi dari riset ini merekomendasikan pemerintah daerah untuk menerapkan kebijakan pembinaan terarah berbasis klaster (data-driven policy), di mana intervensi bantuan modal stimulan dan pendampingan manajemen diutamakan secara masif pada 22 wilayah berkembang di klaster terendah.