Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengaruh Konseling Kontrasepsi Hormonal Terhadap Pengetahuan Akseptor Keluarga Berencana Siti Amallia; Yessy Octa Fristika
JURNAL KEBIDANAN AKADEMI KEBIDANAN BUDI MULIA PALEMBANG Vol 12 No 2 (2022): Jurnal Kebidanan : Jurnal Ilmu Kesehatan Budi Mulia
Publisher : STIKes Budi Mulia Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.382 KB) | DOI: 10.35325/kebidanan.v12i2.322

Abstract

Menurut World Health Organization, 2017 penggunaan kontrasepsi telah meningkat di banyak bagian dunia, terutama di Asia dan Amerika Latin dan terendah di Sub-Sahara Afrika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai rata-rata pengetahuansebelumdan setelahdiberikan konseling kontrasepsi hormonal serta untuk mengetahui apakah ada pengaruh pengetahuan sebelum dan setelah diberikan konseling. Penelitian ini dilakukan selama 21 hari menggunakan metode pre eksperiment dengan bentuk desain penelitian yang digunakan adalah one group- pretest-postest design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua akseptor keluarga berencana yang berkunjung ke RB Citra Palembang dengan jumlah sampel minimal yang diambil sebanyak 30 responden berdasarkan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh konseling terhadap pengetahuan akseptor keluarga berencana kontrasepsi hormonal di RB Citra Palembang, dengan nilai ρ value 0,003(α=0,05). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan rata-rata nilai pengetahuan sebelum diberikan konseling kontrasepsi hormonal adalah 7,53 yang diperoleh dari 15 pertanyaan kuesioner dengan nilai standar deviasi 1,106 sedangkan rata-rata nilai pengetahuan setelah diberikan konseling kontrasepsi hormonal adalah 10,70 yang diperoleh dari 15 pertanyaan kuesioner dengan nilai standar deviasi 1,208 dan ada pengaruh konseling kontrasepsi hormonal terhadap pengetahuan akseptor keluarga berencana di RB Citra Palembang dengan ρ value = 0,003. Disarankan kepada petugas kesehatan untuk dapat meningkatkan konseling pada akseptor pengguna kontrasepsi agar dapat mewujudkan keberhasilan program pelayanan kesehatan khususnya dalam bidan keluarga berencana, menambah pengetahuan akseptor sehingga tidak salah memilihalatkontrasepsi.
PENTINGNYA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 0 - 6 BULAN Siti Amallia; Era Mardia Sari; Meta Rosdiana; Nelly Mariyam; Yessy Octa Fristika; Helni Anggraini
Ukhuwah : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2023): UKHUWAH : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : STIK SITI KHADIJAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52395/ujpkm.v1i1.372

Abstract

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan, diberikan tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain, walaupun air putih, sampai bayi berumur 6 bulan. Masih banyak ibu yang memberikan makanan tambahan pengganti ASI (MP-ASI) kepada bayi yang berumur kurang dari empat bulan. Pemberian MP-ASI terlalu dini mempunyai resiko kontaminasi yang sangat tinggi yaitu terjadinya gastroenteritis yang sangat berbahaya bagi bayi dan dapat mengurangi produksi ASI lantaran bayi jarang menyusui. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu tentang pentingnya pemberian ASI Eksklusif pada bayi. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah ceramah dan tanya jawab dengan menggunakan media cetak seperti Flip Chart dan leaflet. Kegiatan ini dilaksanakan di PMB Misni Herawati Kota Palembang pada tanggal 03 Desember 2021 dan diikuti oleh 24 orang peserta penyuluhan. Hasil yang didapatkan dalam kegiatan ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan dan pemahaman ibu tentang manfaat pemberian ASI Eksklusif pada bayi. Diharapkan dari kegiatan ini semua ibu hamil dan ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan dapat memberikan ASI Eksklusif hingga bayi berusia 2 tahun karena ASI mengandung zat gizi dan berbagai zat kekebalan tubuh yang dibutuhkan bayi sehingga dapat melindungi bayi dari penyakit seperti diare, sakit telinga, infeksi saluran pernafasan dan alergi.
PENCEGAHAN PENYAKIT GANGGUAN REPRODUKSI MELALUI PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG KEPUTIHAN PADA IBU RUMAH TANGGA DI KELURAHAN GANDUS Nelly Mariyam; Meta Rosdiana; Siti Amallia; Anur Rohmin; Era Mardia Sari; Helny Anggraini; Yulia; Ramesia Ratnawati
Ukhuwah : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2025): UKHUWAH : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : STIK SITI KHADIJAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52395/ujpkm.v3i2.534

Abstract

Keputihan merupakan tanda peringatan dini adanya gangguan pada sistem reproduksi wanita sehingga tidak boleh dianggap sebagai kondisi yang normal atau sepele. Wanita disarankan untuk melakukan pemeriksaan secara rutin agar penyebab keputihan dapat diketahui sejak dini. Oleh karena itu, ibu rumah tangga perlu memiliki pengetahuan yang memadai mengenai gangguan reproduksi, khususnya keputihan, agar mampu bersikap tepat dalam menjaga kesehatan dirinya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu rumah tangga tentang penyakit gangguan reproduksi, terutama keputihan, melalui pendidikan kesehatan. Sasaran kegiatan adalah ibu rumah tangga usia produktif di RT 19 Kelurahan Gandus, Palembang. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan kesehatan menggunakan metode ceramah dan diskusi. Media yang digunakan meliputi leaflet, alat peraga, dan banner. Peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi, terlihat dari keaktifan mereka dalam mengajukan pertanyaan selama penyuluhan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan berdasarkan perbandingan hasil pre-test dan post-test. Pada pre-test, sebagian besar peserta memiliki pengetahuan rendah (56,2%), sedangkan pada post-test mayoritas peserta memiliki pengetahuan tinggi (71,9%). Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong ibu rumah tangga untuk menerapkan pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin di Puskesmas Gandus.
Implementation of Clinical Pathways and Its Impact on Average Length of Stay (ALOS) in Major Surgery Cases: A Secondary Data Analysis of BPJS Kesehatan Claims Siti Amallia
Journal of Health Service Administration and Hospital Management Vol. 2 No. 1 (2026): January, 2026
Publisher : CV. Get Press Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69855/laceri.v2i1.468

Abstract

The adoption of the Indonesia Case-Base Groups (INA-CBGs) framework mandates a fundamental shift toward hospital operational optimization through standardized medical protocols. This investigation explores the empirical influence of Clinical Pathway (CP) integration on the Average Length of Stay (ALOS) for major surgical interventions within the National Health Insurance (JKN) ecosystem. Purpose: This study aims to quantify the relationship between protocol adherence and inpatient duration while elucidating its role in systemic cost-containment. Methods: Utilizing a quantitative explanatory design, the research analyzed the 2024 BPJS Kesehatan Sample Dataset, comprising 245,672 verified surgical claim entries from diverse hospital classifications across Indonesia. The methodology employed a stratified random sampling approach, utilizing multivariate regression and Pearson correlation analyses to examine clinical compliance indices, demographic determinants, and procedural outcomes relative to National Guidelines (PNPK). Results: The empirical data demonstrates a compelling negative correlation between protocol compliance and hospitalization duration (; ), yielding a comprehensive 33.8% reduction in national ALOS. The most pronounced efficiencies were documented in complex orthopedic procedures (38.1%) and high-risk Cesarean sections (40.4%), generating an average fiscal saving of IDR 4.4 million per encounter. Implications: These results position standardized clinical trajectories as essential deterministic instruments for ensuring fiscal solvency and maximizing bed turnover rates. Conclusion: Stringent CP adherence effectively curtails unwarranted service variability and alleviates financial pressures on social security funds. Future inquiries should synthesize administrative datasets with longitudinal patient-reported outcomes to validate that accelerated discharge protocols do not diminish post-surgical health quality.