Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PENGARUH WAKTU DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP KADAR ASAM ASKORBAT BUAH PEPAYA (CARICA PAPAYA L) Fauzan, Rama Muhammad; Sandra, Yurika
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.36200

Abstract

Pepaya merupakan buah yang memiliki banyak manfaat karena memiliki kandungan nutrisi yang banyak khususnya asam askorbat. Asam askorbat merupakan senyawa Kimia yang penting bagi tubuh manusia yang memiliki fungsi yaitu sebagai antioksidan dan reaksi biosintetik seperti reaksi hidroksilasi dan amidase. Tubuh manusia tidak dapat menyimpan asam askorbat sehingga harus didapatkan dari luar tubuh yaitu dari makanan dan minuman. Kondisi geografis perkotaan sangat jarang mendapatkan buah pepaya yang segar karena lahan yang kurang cocok untuk bercocok tanam sehingga dibutuhkan kiriman dari distributor dari pedesaan. Proses distribusi yang terlalu lama menyebabkan buah pepaya mengalami penurunan kadar asam askorbat sehingga kehilangan kesegarannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu dan suhu penyimpanan terhadap kadar asam askorbat buah pepaya. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer yang bersifat kuantitatif. Sampel ialah buah pepaya yang tersedia di pasaran. Metode analisis asam askorbat buah pepaya menggunakan alat Spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kadar asam askorbat pada buah papaya yang disimpan dalam Waktu yang lebih lama, baik di simpan di suhu ruang maupun suhu kulkas. Penurunan kadar asam askorbat lebih cepat terjadi pada buah yang disimpan di suhu ruang dibandingkan suhu kulkas. Uji statistic menunjukkan adanya interaksi antara suhu dan lama penyimpanan terhadap kadar asam askorbat.
Perbandingan Kadar Amilum pada Nasi Putih Baru Matang dengan Nasi Putih yang Disimpan dalam Penanak Nasi dengan Berbagai Variasi Waktu menggunakan Uji Iodida Mutiara Sabri, Syifa; Sandra, Yurika
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 9 (2024): Mei 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v2i9.4142

Abstract

Pendahuluan: Diabetes Melitus adalah suatu kondisi kesehatan yang ditandai oleh tingginya kadar gula darah melampaui batas normal, yang secara signifikan terkait dengan pola konsumsi makanan, khususnya sumber karbohidrat yang melimpah dalam kelompok serelia seperti beras. Beras, yang selanjutnya diolah menjadi nasi, merupakan jenis karbohidrat yang tersedia dan dapat menyebabkan peningkatan cepat kadar gula darah. Masyarakat cenderung lebih menyukai nasi yang disajikan dalam keadaan panas, dan seringkali nasi disimpan untuk kemudian dipanaskan kembali saat akan dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis nasi yang memiliki kandungan amilum terbaik dalam pencegahan diabetes melitus. Metode: Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian eksperimental in vitro dengan membagi sampel menjadi kelompok 0, 4, 12, dan 24 jam. Kemudian, sampel ini diuji untuk mengukur kadar amilum menggunakan uji iodida, dan hasil data dianalisis menggunakan uji T-test untuk mengevaluasi perbandingan kadar amilum. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar amilum pada nasi baru matang sebesar 12,60% lebih tinggi dibandingkan nasi yang disimpan dalam penanak nasi dengan berbagai variasi waktu 4 jam, 12 jam, 24 jam sebesar 11,73%, 10,77%, dan 9,80%. Selanjutnya, hasil analisis uji T-test menunjukkan bahwa nilai p-value < 0,05. Kesimpulan: Dari temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa tingkat amilum pada nasi yang baru dimasak lebih tinggi dibandingkan dengan nasi yang disimpan dalam penanak nasi.
PENGARUH WAKTU DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP KADAR ASAM ASKORBAT BUAH PISANG Sari, Tasha Kumala; Sandra, Yurika
BIOPENDIX: Jurnal Biologi, Pendidikan dan Terapan Vol 11 No 2 (2025): Biopendix: Jurnal Biologi, Pendidikan & Terapan
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unpatti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/biopendixvol11issue2page149-154

Abstract

Background: Bananas are widely consumed by the people due to their soft texture, easy digested, and can be consumed directly or processed again. This fruit has characteristics that are suitable for Indonesia’s growth climate. Asia ranks first as the largest banana producer, with Indonesia being the third-largest producer. Bananas are generally classified as a source of Vitamin C, also known as Ascorbic Acid. When consuming, many people store it in the refrigerator to keep it fresh. The increase in ascorbic acid content occurrs along with longer storage time. This research aims to study the changes in ascorbic acid levels in bananas due to the effects of storage time at room temperature and refrigerator temperature. Methods: This research use a laboratory experimental by testing the levels of Ascorbic Acid contained in bananas using the spectrophotometry method in April 2024 Results: This research shows that the ascorbic acid content in bananas stored for varying durations at room temperature is lower than refrigerator temperature, and there is an interaction between storage time and storage temperature. Conclusion: The decrease in ascorbic acid levels occurred due to the interaction between storage time and room temperature and refrigerator temperature
The Effect of Storage Time and Temperature on Ascorbic Acid Content of Arumanis Mango Fruit (Mangifera indica) Arguni, Medina Aminarti; Sandra, Yurika
PROMOTOR Vol. 8 No. 2 (2025): APRIL
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/pro.v8i2.1139

Abstract

One of the most popular fruits in Indonesia is Arumanis mango, which has high levels of ascorbic acid. These levels can be influenced by storage time and temperature. The purpose of this study was to provide information about the effect of storage time and temperature on ascorbic acid levels of Arumanis mangoes. The research method used was laboratory experimental with a focus on arumanis mangoes exposed to different lengths of time (0, 2, 4, and 6 days) and temperatures (25°C and 5°C). The ascorbic acid content of the samples was then assessed using spectrophotometric methods. The collected data were analyzed using the two-way Anova test to detect the ascorbic acid content of arumanis mango fruit stored at various times and temperatures.The average ascorbic acid content of Arumanis mangoes stored at room temperature is 3.703%, while the average ascorbic acid content of Arumanis mangoes stored in the refrigerator is 5%. The ascorbic acid content decreased on days 2, 4, and 6 of storage in both temperature groups. The results of the two-way ANOVA test showed a p <0.05, indicating an interaction between storage duration and temperature in determining the ascorbic acid content of Arumanis mangoes. There is an interaction between storage duration and temperature in determining the ascorbic acid content of Arumanis mangoes. The longer the storage period, the lower the ascorbic acid content, while lower storage temperatures slow down the decrease in ascorbic acid content.
Perbandingan Kadar Pati Pada Beras Hitam Dibandingkan Dengan Beras Putih Menggunakan Uji Iodida Yoviono, Firza; Sandra, Yurika; Arifandi, Firman
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 11 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v2i11.468

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease that causes elevated blood sugar levels. This may be due to excessive carbohydrate intake. Carbohydrates are an important part of the human diet. Carbohydrates not only meet the basic needs of the body, but are also the body's main source of energy, and the most widely consumed carbohydrate in Indonesia is starch or rice starch. There are many types of rice such as white rice and black rice. This study aims to compare the starch content of white black rice and use the iodide test to determine the best type. White rice (Oryza Sativa L. Indica) and black rice (Oryza Sativa L. Indica)) were used for descriptive analysis, and iodide was used to test the sensitivity of these samples). Starch content test. Data were analyzed using t-test to compare the starch content of white rice and black rice. The results showed that the starch content of white rice was 24.47 mg/100 mg (24.47%), while the starch content of black rice was 16.94 mg/100 mg (16.94%). The statistical t test then gave a p value <0.05. This shows that the starch content of white rice and brown rice is significantly different. The results showed that white rice has a higher starch content than black rice.
Perbandingan Kadar Pati pada Beras Shirataki Dibandingkan dengan Beras Putih Menggunakan Uji Iodida Nurmarida Asriani, Salfa; Sandra, Yurika; Arifandi, Firman
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 12 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v2i12.485

Abstract

Obesitas adalah keadaan peningkatan berat badan akibat adanya penimbunan lemak tubuh yang berlebihan yang erat kaitannya dengan mengkonsumsi karbohidrat yang berlebihan. Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh manusia, salah satu sumber karbohidrat yaitu beras, beras putih merupakan makanan pokok utama masyarakat Indonesia. Selain beras putih beras shirataki dapat menjadi alternatif lain bagi individu yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Untuk menentukan jenis beras yang terbaik maka penelitian ini dibuat untuk mengetahui perbandingan kadar pati pada beras shirataki dibandingkan dengan beras putih menggunakan uji iodida. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan kelompok sampel yaitu beras putih dan beras shirataki yang diperoleh dari beras yang tersedia di pasaran kemudian sampel ini diuji kadar patinya dengan Iodida. Data dianalisis dengan uji T untuk melihat perbandingan kadar pati pada beras shirataki dan putih. Hasil penelitian menunjukkan kadar pati pada beras shirataki sebesar 3,79 gr/100 gr (3,79%), lebih rendah daripada kadar pati pada beras putih sebesar 24,47 gr/100 gr (24,47%). Kemudian hasil uji T didapatkan nilai p<0,05 yang artinya terdapat perbedaan signifikan antara kadar pati pada beras shirataki dan beras putih. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar pati pada beras shirataki lebih rendah dibandingkan dengan beras putih.
Perbandingan Kadar Pati pada Beras Coklat Dibandingkan dengan Beras Putih Menggunakan Uji Iodida Chandra, Natasya; Sandra, Yurika; Arifandi, Firman
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 12 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v2i12.488

Abstract

Kasus global menyatakan Diabetes bukan hanya penyebab kematian dini di seluruh dunia, tetapi juga penyebab utama kebutaan, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Beras (Oryza sativa) merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk di Indonesia, bahkan sebagian penduduk dunia, karena mudah dikonsumsi dan nilai energinya yang cukup tinggi. Jenis beras bermacam-macam salah satunya beras putih dan beras coklat. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui menggunakan Uji Iodida untuk membandingkan Kandungan Pati pada Beras Merah dan Beras Putih untuk menentukan jenis beras yang baik untuk dikonsumsi pengidap  penyakit diabetes. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan kelompok sampel yaitu beras putih (Oryza sativa L) dan beras coklat yang diperoleh dari beras yang tersedia dipasaran, kemudian sampel ini diuji kadar patinya dengan uji Iodida. Data dianalisis dengan menggunakan uji T untuk melihat perbandingan kadar pati pada beras coklat dan putih. Hasil penelitian menunjukkaan kadar pati pada beras coklat sebesar 22,58 mg/100 mg beras (22,58 %), lebih rendah daripada kadar pati beras putih sebesar 24,47 mg/100mg beras (24,47%) Pada hasil uji T didapatkan nilai p <0,05, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan hasil pada beras coklat dan beras putih. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar pati pada beras coklat lebih rendah dibandingkan dengan beras putih.
Perbandingan Kadar Pati pada Beras Merah Dibandingkan dengan Beras Putih Menggunakan Uji Iodida Ramirez, Igor; Sandra, Yurika; Arifandi, Firman
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 12 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v2i12.489

Abstract

Diabetes Mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan  peningkatan kadar glukosa di dalam darah, erat kaitannya dengan mengkonsumsi karbohidrat yang berlebihan. Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh manusia. Salah satu sumber karbohidrat yaitu beras. Beras merupakan makanan pokok utama masyarakat Indonesia. Jenis beras bermacam-macam salah satunya beras putih dan beras merah. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui perbandingan kadar pati pada beras merah dibandingkan dengan beras putih menggunakan uji iodida untuk menentukan jenis beras yang terbaik. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan kelompok sampel yaitu beras putih (Oryza sativa L) dan beras merah (Oryza nivara) yang diperoleh dari beras yang tersedia dipasaran, kemudian sampel ini di uji kadar patinya menggunakan uji Iodida. Data dianalisis dengan menggunakan uji T untuk melihat perbandingan kadar pati pada beras merah dan putih. Hasil penelitian menunjukkaan kadar pati pada beras merah sebesar 18,47gr/100gr (18,47%)  lebih rendah daripada kadar pati beras putih sebesar 24,47gr/100gr (24,47%). Kemudian hasil uji statistik t test didapatkan nilai p<0,05 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar pati pada beras merah dan beras putih. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar pati pada beras merah lebih rendah dibandingkan dengan beras putih.
Pengaruh Suhu dan Waktu Ekstraksi Terhadap Kadar Tanin Dari Ekstrak Etanol Daun Badotan (Ageratum conyzoides L.) Natasya, Aprilia; Titani Azzahra, Aninda; Sandra, Yurika
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i11.62392

Abstract

Daun badotan (Ageratum conyzoides L.) diketahui mengandung senyawa tanin yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Namun, kadar tanin yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekstraksi seperti suhu dan waktu, sehingga diperlukan penentuan kondisi optimum untuk memperoleh hasil maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu dan waktu ekstraksi terhadap kadar total tanin pada ekstrak etanol daun badotan. Metode yang digunakan adalah maserasi dengan pelarut etanol 70%, disertai variasi suhu (28°C, 40°C, dan 60°C) serta waktu ekstraksi (24 jam, 48 jam, dan 72 jam). Analisis kadar tanin dilakukan secara spektrofotometri menggunakan asam galat sebagai standar dan dinyatakan dalam satuan µg GAE/g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar tanin tertinggi diperoleh pada suhu ekstraksi 40°C sebesar 100,27 µg GAE/g dan waktu ekstraksi 24 jam sebesar 98,55 µg GAE/g. Peningkatan suhu maupun lamanya waktu ekstraksi yang berlebihan menyebabkan penurunan kadar tanin akibat degradasi senyawa aktif. Temuan ini mengindikasikan bahwa kondisi ekstraksi optimum diperlukan untuk mempertahankan kestabilan tanin, serta dapat menjadi landasan dalam pengembangan produk herbal dari daun badotan yang efisien dan ramah lingkungan.