Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Relasi Kepercayaan Diri pada Karakter Utama dengan Komposisi Visual di Film “TAR” Sanjaya, William; Marian, Hannalayne
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 9 No. 2
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v9i2.231

Abstract

Film “Tár” merupakan film tentang Lydia Tár, seorang maestro wanita yang menerima banyak tuduhan ketika ia dipercaya sebagai konduktor pada salah satu orkestra terbesar di Jerman. Film “Tár” memiliki beberapa tampilan visual yang menerapkan berbagai komposisi untuk menunjukkan kepercayaan diri pada karakter utamanya. Berbeda dengan film pada umumnya, film “Tár” menerapkan komposisi yang menunjukkan kepercayaan diri karakter utama di bagian awal, tengah, dan akhir cerita. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan relasi penerapan komposisi terhadap penggambaran kepercayaan diri pada karakter utama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pusposive sampling. Teori yang digunakan adalah teori komposisi visual yang dijelaskan oleh Gustavo Mercado. Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan komposisi visual dalam film “TAR” terdapat pada bagian awal, tengah, dan akhir dari keseluruhan cerita. Komposisi tersebut menunjukkan kepercayaan diri karakter melalui penerapan rule of thirds dengan ruang kosong yang luas pada pandangan karakter Lydia. Kepercayaan diri karakter juga ditunjukkan dengan garis simetris pada keseimbangan visual. Selain itu, peletakan kamera di bawah pandangan karakter menunjukkan kekuasaan pada beberapa adegannya. Dengan adanya penerapan komposisi visual dalam film “TAR”, kepercayaan diri dapat ditunjukkan melalui rangkaian visual sehingga penonton dapat memahami sifat dari karakter Lydia.
PENGGAMBARAN KENANGAN DAN KESEDIHAN MELALUI KOMPOSISI SINEMATOGRAFI PADA VIDEO MUSIK PESAN TERAKHIR William Sanjaya
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Calaccitra November 2023
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/cc.v3i2.2935

Abstract

Sinematografi merupakan salah satu aspek penting dalam pembuatan sebuah film. Sinematografi memiliki berbagai unsur, salah satunya adalah komposisi. Beberapa prinsip komposisi sinematografi yang seringkali diterapkan dalam produksi video musik adalah rule of thirds dan keseimbangan visual. Video musik “Pesan Terakhir” menceritakan tentang seorang wanita yang meninggalkan orang yang dicintainya. Video musik tersebut menarik untuk diangkat karena memiliki komposisi visual yang mendukung cerita dari awal, pertengahan dan akhir. Tujuan dari penelitian ini adalah menunjukkan peran komposisi visual dalam mendukung dramatisasi cerita dalam video musik “Pesan Terakhir”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan pusposive sampling. Hasil dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa komposisi visual berperan penting dalam menunjukkan situasi, emosi dan kondisi psikologi pada karakter. Situasi aman ditunjukkan pada awal cerita. Sedangkan situasi buruk dan ketegangan terjadi pada pertengahan dan akhir dari cerita. Dengan demikian, komposisi tidak hanya memberikan estetika visual semata, namun juga menunjukkan makna pada visual yang ditampilkan pada sebuah film, termasuk video musik.
Analisis Match Cut dalam Membangun Penceritaan dalam Film Everything Everywhere All at Once Sanjaya, William
Rekam Vol 20, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v20i1.9617

Abstract

Film “Everything Everywhere All At Once” (2022) merupakan film tentang seorang Ibu Rumah Tangga, Evelyn, yang dibawa ke semesta lain ketika ia dihadapkan dengan berbagai masalah pekerjaan dan keluarganya. Film “Everything Everywhere All At Once” (2022) merupakan film yang bertemakan keluarga, yang dikemas dengan kompleksitas perpidahan lokasi atau semesta. Film “Everything Everywhere All At Once” (2022) memiliki transisi match cut yang menarik untuk diangkat. Film “Everything Everywhere All At Once” (2022) juga berhasil mendapatkan 7 dari 11 nominasi penghargaan, salah satunya adalah Best Film Editing dari Academy Awards. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan match cut dalam membangun tahap peneritaan dalam film “Everythung Everywhere All At Once” (2022). Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan teori match cut oleh Gael Chandler dan teori struktur 5 babak oleh John Yorke. Dari analisis yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa match cut memiliki peran dalam membangun cerita. Match cut mengarahkan perhatian penonton sehingga penonton mampu memahami tindakan karakter utama yang berpindah – pindah semesta.
Analisis Visual Dalam Fotografi Sejarah Kemerdekaan Indonesia Karya Alex dan Frans Mendur Kaparang, Martinus Eko Prasetyo; Sanjaya, William
Jurnal Bahasa Rupa Vol. 7 No. 1 (2023): Bahasa Rupa Desember 2023
Publisher : Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31598/bahasarupa.v7i1.1357

Abstract

Photojournalism can depict events that hold meaning. In Indonesia, the inception of photojournalism was led by Alex Mendur and Frans Mendur. Alex and Frans Mendur were photojournalists who captured images of events during the periods of independence, the New Order era, and the Reform era. Besides documenting these events, they also photographed the atmosphere and ordinary people after the independence period. This research aims to understand the role of composition in the photographic works of Alex and Frans Mendur and the extent to which composition was applied. To prove and understand this, the research is necessary. The theory used in this study is the photography composition theory proposed by Budhi Santoso. The research method employed is qualitative descriptive, utilizing the theories of Budhi Santoso and Paul Hill as analytical tools. Based on the analysis conducted, it is concluded that the photographic works of Alex and Frans Mendur employ various compositions. These compositions are used to guide the viewer's focus on specific parts of the image. Furthermore, these compositions highlight subjects such as heroic figures and landscapes, creating an impact within the images. This research is expected to serve as a reference in the field of basic journalistic photography, emphasizing the importance of applying visual composition in capturing a narrative moment, making it easier for the audience to understand and interpret the visual message being conveyed, a practice that dates back to the period of Indonesian Independence.
MISE EN SCÈNE SINEMATOGRAFI DALAM FILM HOROR BERJUDUL PRIMBON BERTEMAKAN KEPERCAYAAN BUDAYA JAWA Prasetyo, Martinus Eko; Sanjaya, William
Jurnal Bahasa Rupa Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Bahasa Rupa April 2025
Publisher : Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31598/bahasarupa.v8i2.1532

Abstract

Indonesian horror films initially often explore mysterious stories and ghosts from local mythology, creating a mysterious atmosphere enriched with cultural elements such as addressing themes of Javanese cultural beliefs in a film titled "Primbon". Unfortunately, there have not been many studies discussing horror films in terms of Mise en Scène in Indonesia. The film titled "Primbon" is a work of director Rudy Soedjarwo, who is a director and film producer in Indonesia. He is known for his work in the Indonesian film industry. Researchers wanted to determine how important the visual appearance through Mise en Scène is in horror films. This research was conducted descriptively qualitatively, data collected through literature searches on theories related to cinematography and composition in films, using the Kurt Lewin method approach. The research revealed that the Mise en Scène in a horror film like "Primbon" appears slightly different because the impression of the storyline intended to convey is tension, fear, and audience emotional sadness, and this is felt to be very important in building the visual mood. Horror films not only always scare by presenting horror alone, but sadness and pathos can become the climax of a unique and interesting horror film.
Komposisi Visual Dalam Membangun Dramatisasi Kekuasaan Pada Lirik Lagu Video Musik “Kamu Anggap Apa” Sanjaya, William
Jurnal Bahasa Rupa Vol. 7 No. 3 (2024): Jurnal Bahasa Rupa Agustus 2024
Publisher : Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31598/bahasarupa.v7i3.1587

Abstract

The music video “Kamu Anggap Apa” narrates the story of a woman who is disregarded by her lover. The visual composition employed in the video effectively constructs a dramatization of power throughout its scenes. This study aims to elucidate the role of visual composition in constructing a dramatization of power within the lyrics of the song, thereby ensuring the proper conveyance of its message. The research methodology employed is qualitative, with purposive sampling employed to select research objects, specifically screenshots, as explanatory materials for the study objects. The study involves a detailed description of the song lyrics and screenshots. Subsequently, a discussion ensues on the application of visual composition in constructing a dramatization of power, which is subsequently correlated with the realization of the song’s message. The research findings reveal diverse applications of visual composition that depict power and a secure environment. These portrayals symbolize the protagonist’s success and liberation in achieving their objectives. The utilization of visual composition facilitates the effective communication of the song’s message to the audience.