Articles
PENDIDIKAN KEHIDUPAN YANG MERDEKA RUANG DAN WAKTU MASYARAKAT SAMIN SUKOLILO, PATI
Agus Supratikno;
Suwarto Adi
Jurnal Dinamika Pendidikan Vol. 14 No. 1 (2021): April
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51212/jdp.v14i1.2438
This paper is the result of research on the Samin Community Education Model in Ngawen Hamlet, Sukolilo, Pati. They do not send their children to formal schools. Their decision not to send their children to formal schools was motivated by the history of the Samin Suronsentiko movement against Dutch colonialism. In their collective memory, there is a memory that the Dutch are smart but their intelligence is used to fool others. Another reason why they do not send their children to formal schools is that there is an obligation for their children to attend lessons in other religions that are not their beliefs. How does the education of the Samin community compare to Romo Mangun's vision of true learning that is liberating and contextual, not limited by time and space and is carried out throughout life. This type of research is descriptive qualitative research. The main data collection techniques are carried out through observation, in-depth interviews, and documentation. Meanwhile, secondary data collection is done through literature study. From the results of research and comparative studies, it is found that the education model of the life of the Samin community that is independent of time and space, although very simple, is in some way consistent with Romo Mangun Wijaya's educational vision. Keywords: Education Model, Freedom of learning, Space and time, Samin
Merajut Kembali Komunitas Damai: Studi Landasan Biblis Dan Teologis Resolusi Konflik
Agus Supratikno
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 3, No 2 (2019): Juli
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (175.017 KB)
|
DOI: 10.46445/ejti.v3i2.161
"REINFORCING PEACEFUL COMMUNITIES": The Study of Biblical and Theological Foundations for Conflict Resolution. Studi Landasan Biblis dan Teologis Untuk Membangun Komunitas Damai. Plurality which is considered as a nation's wealth, it also turns out to be the cause of the emergence of conflicts with nuances of ethnicity, race and religion. Unfortunately political elites often politicize issues based on ethnic and religious sentiments to gain power. They did not consider the serious effects that were caused as a result of the politicization of ethnic and religious issues. Horizontal conflicts with nuances of religion and ethnicity that have occurred in various regions in Indonesia, such as in Ambon, Poso, Kalimatan, are more often triggered by the politicization of religious and ethnic issues or initially the conflict is not caused by ethnic or religious problems, but often the conflict brought to the realm of religion so as to make the conflict increasingly enlarged and inevitable. This writing is an effort to explore the biblical and theological foundation for an effort to build a peaceful community post the conflict. This study uses hermeneutic studies and the library research methods by utilizing library resources both books and journals related to conflict resolution. MERAJUT KEMBALI KOMUNITAS DAMAI”: Studi Landasan Biblis dan Teologis untuk Resolusi Konflik. Pluralitas yang dianggap sebagai suatu kekayaan bangsa, ternyata juga bisa menjadi penyebab munculnya konflik bernuansa suku, ras dan agama. Sayangnya para elite politik justru sering mempolitisasi isu-isu berdasarkan sentimen suku dan agama untuk meraih kekuasaan. Mereka tidak mempertimbangkan dampak serius yang ditimbulkan sebagai akibat politisasi isu suku dan agama. Konflik-konflik horizontal bernuansa agama dan suku yang pernah terjadi di berbagai daerah di Indonesia, seperti di Ambon, Poso, Kalimatan, lebih sering dipicu oleh adanya politisasi terhadap isu agama dan suku. Pada awalnya konflik tersebut bukanlah disebabkan oleh masalah agama, tetapi seringkali konflik tersebut dibawa ke ranah agama sehingga menjadikan konflik semakin membesar dan tak terelakkan.Tulisan ini adalah sebuah upaya menggali landasan biblis dan teologis bagi suatu upaya merajut kembali komunitas damai pasca konflik. Penelitian ini menggunakan metode perpaduan antara studi hermeneutik dan literatur dengan memanfaatkan sumber-sumber pustaka baik buku maupun jurnal yang berkaitan dengan topik yang dibahas.
PELATIHAN SABLON UNTUK MENCIPTAKAN SOUVENIR KAOS DESA WISATA KREATIF PERDAMAIAN SRUMBUNG GUNUNG
Suharyadi Suharyadi;
Evi Maria;
Rini Kartika Hudiono;
Agus Supratikno
Magistrorum et Scholarium: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (746.941 KB)
|
DOI: 10.24246/jms.v2i12021p77-87
Karang Taruna Muda Tama (KTMT), Srumbung Gunung does not yet have the knowledge and skills to create souvenirs in the t-shirts’ form with creative writings with messages of peace. The purpose of this community service activity is to increase the ability and creativity of KTMT to produce T-shirts souvenir. In addition, this activity is expected to create new business opportunities, so that the welfare of the community increases. The activity is performed through three methods: the procurement of screen printing equipment and materials, screen printing training and assistance. This activity was carried out from July 12 to October 12, 2020. The results, among others, are screen printing on the t-shirts with creative message of peace and the online market for the t-shirts printed is available on the Dusun Market website. The online market sold 25 t-shirts by the end of 2020.
Mengembangkan Desa Wisata Kreatif Perdamaian Sebagai Upaya Menghadirkan Shalom di tengah Ancaman Disintegrasi Bangsa
Agus Supratikno;
Rini Kartika Hudiono;
Evi Maria;
Suharyadi Suharyadi
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 2: Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30995/kur.v6i2.228
This paper is an analytical study of the "Peace Creative Tourism Village" initiated by the Creative and Peace Srumbung Gunung Society (CPSS). The analysis is carried out using sustainable tourism theory and socio-theological perspective through exploring the meaning of shalom. Srumbung Gunung Hamlet has the potential, both physically and non-physically, to be developed into a Peace Tourism Village. The physical potential of Srumbung gunung hamlet includes beautiful mountain views, traditional arts, and historical sites. Meanwhile, the non-physical potential is having local traditions and culture, having local wisdom, still living the values of harmony and mutual cooperation in the plural Srumbung Gunung community. All of these potentials are synergized into the capital to build a peace tourism village with an emphasis on the dimension of peace as its branding. The research results show that DWK "P" can be a model for a tourist village to bring peace (shalom) in the midst of the threat of national disintegration. Abstrak Tulisan ini adalah kajian analisis ??SDesa Wisata Kreatif Perdamaian? yang diinisiasi oleh Creative and Peace Srumbung Gunung Society (CPSS). Analisis dilakukan dengan menggunakan teori sustainable tourism dan perspektif sosio-teologis melalui menggali makna shalom. Dusun Srumbung Gunung mempunyai potensi, baik secara fisik maupun non-fisik untuk dikembangkan menjadi Desa Wisata Perdamaian. Potensi fisik yang dimiliki dusun Srumbung Gunung, antara lain pemandangan pegunungan yang indah, kesenian-tradisional, dan situs-situs bersejarah. Sedangkan potensi non-fisiknya adalah memiliki tradisi dan budaya lokal, memiliki kearifan lokal, masih hidupnya nilai-nilai kerukunan dan kegotongroyongan dalam masyarakat Srumbung Gunung yang plural. Semua potensi tersebut disinergikan menjadi modal untuk membangun desa wisata perdamaian dengan penekanan pada dimensi perdamaian sebagai branding. Hasil analisis menunjukkan, DWKP dapat menjadi salah satu model desa wisata sebagai sebuah upaya untuk menghadirkan damai (shalom) di tengah-tengah ancaman disintegrasi bangsa.
Mayoritarianisme dan Kekeliruan Demokrasi Indonesia: Kritik Terhadap Praktik Politik Identitas Keagamaan dalam Pemilihan Umum
Kumowal, Joshua Frans;
Lattu, Izak Y. M.;
Supratikno, Agus
Jurnal Christian Humaniora Vol 8, No 1 (2024): Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46965/jch.v8i1.2446
Tulisan ini bertujuan untuk mengkritisi praktik politik identitas keagamaan oleh para kandidat dalam Pemilu Indonesia. Peneliti menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan studi kasus kolektif. Hasil penelitian, ditemukan bahwa terjadinya praktik politik identitas keagamaan dalam Pemilu Indonesia disebabkan oleh kecenderungan masyarakat berpolitik sarat dengan pertimbangan agama. Selain itu, praktik politik identitas keagamaan oleh mayoritas memiliki korelasi dengan mayoritarianisme. Penentuan kebijakan berbasis jumlah, seperti yang ada dalam Pemilu, dapat menghasilkan interseksi hingga berpotensi terciptanya pergeseran filosofi politik – dari demokrasi menuju mayoritarianisme. Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan teori-teori yang relevan dalam penelitian ini, yaitu kolaborasi konsep public reason dari John Rawls dan wertrational dari Max Weber, konsep politik identitas dari Francis Fukuyama, konsep mayoritarianisme dari Izak Y. M. Lattu, dan konsep demokrasi dari Aristoteles. Kesimpulannya, meminjam istilah Tan Malaka, kecenderungan logika mistika dalam berpolitik di masyarakat perlu dimoderasi melaluisosialisasi dan edukasi untuk mereduksi praktik politik identitas keagamaan di Indonesia. Selain itu, mempertimbangkan potensi agama dalam memberikan kontribusi yang positif, klaim kebenaran kelompok keagamaan dalam agenda politik perlu diterjemahkan secara epistemik sehingga tidak bersifat eksklusif.
National Political Differences as a Cause of Debate Between the Pharisees and Jesus
Supratikno, Agus
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 8 No 2 (2024): July 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46445/ejti.v8i2.821
The prevailing view of the frequent debates between Jesus and the Pharisees was based on Jesus’ criticism of their hypocrisy and formalism. However, if we look further, the debate was also caused by the contrasts between the national political vision of Jesus and the Pharisees regarding Israel’s National Identity. This research explores that the debate between Jesus and the Pharisees is also caused by the differences between the national vision of Jesus and the Pharisees regarding the national identity of Israel in the 1st Century. This research used hermeneutical methods and library research with nation-state theory. This research proved that the sharp contradictions in the national visions of the Pharisees and Jesus regarding Israel’s national identity were also the cause of their frequent debates. The national political vision of the Pharisees was based on “Imitatio Sanctitatis Dei,” which was interpreted as separation, so it was exclusive. Jesus’ national vision was based on “Imitatio Misericordiae Dei,” which was inclusive. Through this research, it can be concluded that the debate between Jesus and the Pharisees was not only caused by Jesus’ criticism of formalism and hypocrisy but was also caused by contradictions regarding their national political vision of Israel’s national identity.
Virtualisasi Toleransi Beragama: Rekognisi Netizen Lintas Agama Atas Patung Yesus Burake di Tanah Toraja Sulawesi Selatan
Popang, Kiki Clara;
Lattu, Izak Y.M.;
Tampake, Tony;
Supratikno, Agus
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 6 No 2 (2024): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37364/jireh.v6i2.246
This study aims to examine the shift in religious tolerance from factual space to virtual space through the Jesus Burake statue. The research subjects are Toraja people and Netizens in virtual space. The research method that will be used is qualitative with the type of digital ethnography research. The author raises the Burake Jesus Statue as one of the religious tourism objects in Toraja that has become a shared space. This phenomenon will be studied using Axel Honneth's theory of Recognising the principles of love, law and solidarity. Izak Lattu's ‘Click Ritual’ theory to analyse how netizen click rituals on social media bring narratives of peace in virtual spaces. The author finds that the statue of Jesus Burake has become a shared space for interfaith people in South Sulawesi. Several interfaith activities were conducted at the statue, such as a joint prayer for world peace, raising the red and white flag during the Indonesian Independence Day and planting 1,000 trees. Documentation of these activities shared on social media gave rise to narratives of tolerance and peace. So that virtual space becomes a creative new space to strengthen attitudes of tolerance between religious communities.
Teologi Trauma Berbasis Budaya Orang Basudara Bagi Korban Konflik Komunal
Tahamata, Marfan Ferdinanda;
Tampake, Tony;
Supratikno, Agus
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 9, No 1 (2024): Oktober 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30648/dun.v9i1.1417
Abstract. The conflict that occurred in Ambon in 1999 between Christians and Muslims still left deep trauma for the people in the city of Ambon, especially for members of the congregation at the Church X. This research aimed to examine the post conflict traumatic experience on the Church X conggregations and seeking remedial steps for them. The method used in this research was a case study with a trauma theology approach based on the culture of the Orang Basudara.The research result showed that the integration of trauma theology with local cultural philosophy can be an effective means for healing trauma resulting from communal conflict because it departs from a philosophy of life that has been lived together regardless of religious differences.Abstrak. Konflik yang terjadi di Ambon pada tahun 1999 antara umat Kristen dan Muslim masih meninggalkan trauma yang mendalam bagi masyarakat di kota Ambon, khususnya bagi warga jemaat di Gereja X. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengalaman traumatik di Gereja X pasca konflik sekaligus mengupayakan langkah-langkah pemulihan bagi korban di Gereja X. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan teologi trauma berbasis budaya Orang Basudara. Hasil penelitian menunjukan bahwa integrasi antara teologi trauma dengan falsafah budaya lokal dapat menjadi sarana efektif bagi penyembuhan trauma akibat konflik komunal oleh karena berangkat dari falsafah hidup yang selama ini dihidupi bersama terlepas dari adanya perbedaan agama.
PERAN RUMAH ADAT HIBUALAMO SEBAGAI PUBLIC SPHERE UNTUK PROSES REKONSILIASI PERDAMAIAN DI TOBELO KABUPATEN HALMAHERA UTARA.
Namotemo, Yohanes Duvan;
Supratikno, Agus;
Suprabowo, Gunawan Yuli Agung
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 8, No 2 (2025)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30829/jisa.v8i2.25552
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali atau melihat bagaimana rumah adat Hibualamo sebagai ruang publik, untuk proses rekonsiliasi damai di Tobelo Kabupaten Halmahera Utara. Metode yang akan dipakai di dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan Sosiology-Histoy, dengan teknik pengumpulan data diantaranya observasi, wawancara, dokumentasi, studi pustaka. Teori yang akan dipakai ada tiga bagian yaitu teori Habermas (Ruang Publik) yang dalam teori tersebut menjelaskan bahwa ruang publik merupakan ruang milik bersama tanpa membedakan, antara kaum borjuis sama rakyat biasa. Teori John Galtung (Rekonsiliasi Perdamaian) yang menjelaskan bahwa untuk menyelesaikan sebuah konflik, kita harus mencari tahu siapa di balik serangkaian peristiwa tersebut, dan bagaimana mendiskusikan antara pihak yang sedang bertingkai untuk mencari jalan keluar bersama. Teori dari Piere Bourdie (Bahasa dan Kuasa Simbolik) yang dalam teori ini menjelaskan bahwa bahasa dapat menjadi alat, untuk mempengaruhi pola pikir dari seseorang, atau kelompok ke arah yang lebih baik maupun sebaliknya. Dalam penelitian ini juga penulis melihat bahwa rumah adat ini sangat penting bagi masyarakat Halut, oleh karena dapat menjadi simbol budaya yang mampu menyatukan seluruh masyarakat Tobelo, di Halmahera utara.
Peran Politik Gereja dalam Tahun Politik 2024
Tahamata, Marfan Ferdinanda;
Supratikno, Agus
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 13 No 2 (2024): Januari-Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51828/td.v13i2.386
Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 menjadi tonggak penting penguatan fondasi demokrasi dan kesejahteraan sosial. Partisipasi sosial politik dalam pemilu sangat penting untuk mendapatkan pemerintahan yang mewakili kepentingan semua masyarakat. Gereja memainkan peran penting dalam membimbing dan membentuk perspektif dan visi etis bagi masyarakat khususnya umat Kristiani. Penelitian ini akan membahas peran gereja menyongsong Pemilu 2024, dengan fokus pada bagaimana Gereja memainkan peran positif dalam mendukung proses demokrasi. Beberapa pandangan para teolog Indonesia yang terkait dengan hubungan antara gereja dan negara akan di pakai dalam membedah artikel ini. Menggunakan metode kualitatif studi kasus penulis akan mendeskripsikan bahwa Gereja Kristen Indonesia (GKI) Serpong telah melakukan peran politisnya. Penelitian ini menemukan bahwa GKI Serpong telah mengedukasi warganya tapi masih kurang kehadiran dari warganya. Berdasarkan temuan tersebut maka argumentasi utama tulisan ini adalah pentingnya peran gereja untuk memberikan edukasi kepada warganya agar dapat memiliki kesadaran politik sehingga menggunakan hak pilih/atau hak suaranya pada Pemilu 2024.