Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Kajian Etis-Teologis terhadap Peran Pendeta dalam Pengambilan Keputusan di GKJ Salatiga Selatan Gabriella Kirana Mutiara Purba; Gunawan Yuli Agung Suprabowo; Irene Ludji
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 5, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v5i2.366

Abstract

Pada GKJ Salatiga Selatan pendeta tidak menempati posisi sebagai pemimpin secara organisatoris, ketua majelis. Pendeta terikat dan diatur oleh sistem birokrasi di dalam gereja, termasuk dalam mekanisme pengambilan keputusan. Berdasarkan data yang diperoleh pada GKJ Salatiga Selatan, pendeta memiliki peranan sebagai pengajar, penengah, dan konselor pastoral dalam pengambilan keputusan. Ketiga peranan ini memberikan pengaruh dalam pengambilan keputusan etis-teologis di GKJ Salatiga Selatan. Adapun salah satu ciri khas dari proses pengambilan keputusan etis di GKJ Salatiga Selatan adalah musyawarah. Musyawarah diyakini sebagai salah satu langkah untuk menemukan kehendak Allah dalam pengambilan keputusan etis-teologis di GKJ Salatiga Selatan. Selain itu, musyawarah juga membantu majelis gereja menyelesaikan dilema moral yang dialami secara individu ketika akan mengambil sebuah keputusan.  Keputusan yang diambil diharapkan adalah keputusan etis-teologis yang sesuai dengan kehendak Allah, tidak menentang nilai-nilai ajaran Yesus, khususnya nilai kasih. Indikator dari keputusan yang diambil merupakan keputusan yang etis-teologis atau tidak adalah dengan melihat dampak dari keputusan tersebut. Jika suatu keputusan berdampak positif maka keputusan tersebut dinilai benar dan sesuai dengan kehendak Allah, begitupun sebaliknya. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan dan memberikan tinjauan etis-teologis terhadap peran pendeta dalam pengambilan keputusan di GKJ Salatiga Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara dan studi pustaka.
Memaknai Hospitalitas di Era New Normal: Sebuah Tinjauan Teologis Lukas 10:25-37 Gunawan Yuli Agung Suprabowo
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 5, No 1 (2020): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2020
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.848 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v5i1.29

Abstract

Abstract : Hospitality in the new normal era has brought new problems because the actions of hospitality towards other people are at risk of corona virus. Therefore the construction of hospitality needs to be reformulated amid a changing context. This was done through a study of the text of Luke 10: 25-37 with the historical critical method. From the results of the study is found several theological points. First, hospitality must be based on compassion which will enable a person to empathize for  strangers although faced with a difficult situation. Second, acts of hospitality need to be done collaboratively across groups, ethnicity and religions facing of an increase in the communities affected by Covid-19. Third, the construction of hospitality need to be done with a digital technology media approach that functions intertwined with human interaction and is beneficial in presenting the hospitality of God to anyone penetrating geographical boundaries.Keywords: hospitality, compassion, collaborative, digital technology. Abstrak: Hospitalitas di era new normal telah membawa persoalan baru karena tindakan hospitalitas terhadap orang lain menjadi beresiko pada penularan virus corona. Karenanya konstruksi hospitalitas perlu dirumuskan kembali di tengah konteks yang sudah berubah. Hal itu dilakukan melalui penelitian teks Lukas 10:25-37 dengan metode historis kritis. Dari hasil penelitian ditemukan beberapa pokok teologis. Pertama, hospitalitas harus berpijak pada belas kasih yang akan memampukan seseorang untuk berempati terhadap orang asing walau diperhadapkan pada situasi yang sulit. Kedua, tindakan hospitalitas perlu dilakukan secara kolaboratif lintas kelompok, etnik, dan agama dalam menghadapi meningkatnya masyarakat yang terdampak Covid-19. Ketiga, konstruksi hospitalitas perlu dilakukan dengan pendekatan media tehnologi digital yang berfungsi terjalinnya interaksi antar manusia dan bermanfaat dalam menghadirkan keramahtamahan Allah pada siapapun menembus batas-batas geografis.Kata kunci: hospitalitas, belas kasih, kolaboratif, tehnologi digital.
Penguatan Modal Sosial dan Komunikasi bagi Relawan Guru Pendidikan Agama Kristen di Salatiga Jawa Tengah Sri Suwartiningsih; Gunawan Y A Suprabowo; Nimali Fidelis Buke
Magistrorum et Scholarium: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 3 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.524 KB)

Abstract

Badan Kerja Sama Antar Gereja (BKGS) di Salatiga merasa prihatin dengan pelayanan pendidikan agama Kristen di beberapa Sekolah Dasar (SD) baik SD Negeri maupun swasta di kota Salatiga yang ternyata masih memiliki kekurangan guru. Persoalan kurangnya guru PAK khususnya di tingkat Sekolah Dasar inilah yang kemudian BPGS merekrut sukarelawan guru Pendidikan Agama Kristen (PAK). Penyelenggara Bimas Kristen Salatiga menginformasikan bahwa sejak bulan September 2018 terdapat 12 SD yang tidak terlayani pendidikan agama bagi para siswa yang beragama Kristen dan 8 SD yang tidak terlayani pendidikan agama bagi para siswa yang beragama Katolik. Sebagai sukarelawan guru-guru tidak digaji selayaknya, hanya berdasarkan sukarela dari sekolah dimana mereka mengajar. Untuk itu, agar para relawan guru ini tetap dapat menjadi guru yang profesional diperlukan suatu workshop kompetensi dan untuk meningkatkan rasa keterpanggilan serta rasa kebersamaan diperlukan kegiatan spiritual dan sosial. Untuk itu dilakukan workshop penguatan modal sosial dan komunikasi bagi para relawan guru dengan tujuan para relawan guru menyadari akan pentingnya modal sosial sehingga memiliki semangat untuk terus menguatkan modal sosial yang dimiliki dan juga menerapkan komunikasi yang komunikatif serta produktif. Metode yang digunakan yaitu dengan permainan edukatif, interaksi, dan workshop. Dari kegiatan yang sudah dilakukan para guru menyatakan memiliki manfaat terhadap materi yang sudah diberikan dan memperkuat modal sosial dalam melaksanakan tugas nya sebagai relawan guru PAK yang sedang dijalani, serta dapat memahami komunikasi yang efektif untuk diterapkan pada saat melakukan pengajaran dan pendampingan murid PAUD.
Peran Kelompok Kerja Pendampingan dan Perlindungan Anak GKJW Mewujudkan Gereja Ramah Anak Oktavia Yermiasih; Imanuel Teguh Harisantoso; Gunawan Yuli Agung Suprabowo
Integritas: Jurnal Teologi Vol 5 No 2 (2023): Integritas: Jurnal Teologi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Jaffray Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47628/ijt.v5i2.149

Abstract

This article disscusses about the role of Child Assistance and Protection Working Group (Pokja P2A) to create a Child-Friendly Church. Children are vulnerable categories who need assistance and protection. The assistance and protection can be inform of fulfilling children’s rights which become the responsibility of all parties, including the church. We can call Child-Friendly Churches for these kind of churches who take responsibilities in fulfilling children’s rights, so that holistic assistance is realized. GKJW as one of the churches that serves children formed the Child Assistance and Protection Working Group (Pokja P2A) to realize this holistic mentoring. Therefore, this study aims to find out the meeting point between the Child-Friendly Church and the Pokja P2A GKJW then analyze how the pastoral role of the Pokja P2A GKJW in realizing a Child-Friendly Church. This research was conducted using a qualitative approach with data collection methods in the form of interviews, observations, and literature studies involving GKJW Bondowoso as research subjects. Through this research, it was found that the assistance provided by the Pokja P2A contained holistic pastoral care elements. Therefore, Pokja P2A has many roles, namely as a companion, facilitator, promoter, and educator in terms of realizing a Child-Friendly Church.
PENDETA SEBAGAI MOTIVATOR KEAKTIFAN PEMUDA DALAM IBADAH DI GMIH MALADOM: TINJAUAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL Bernadus, Petran Nazario; Tampake, Tony Robert Christian; Suprabowo, Gunawan Yuli Agung
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5 No 1 (2024)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46558/bonafide.v5i1.204

Abstract

Youth is the backbone and the next generation that brings new vision, spirit, and energy in carrying out the mission of the church. However, in church life, youth often face challenges of inactivity in worship and service. The congregation of GMIH Maladom in Porniti Village, Central Jailolo, West Halmahera, North Maluku, also faces this problem. This study aims to analyze the pastor's role as a motivator of youth activeness in worship in terms of transformational leadership. The research used qualitative-descriptive method with observation and interview techniques. The selection of sources was carried out using purposive sampling technique and the research data was analyzed using phenomenological analysis techniques. The results showed that the pastor's leadership in GMIH Maladom congregation can be identified as transformational leadership. Pastors motivate youth by providing vision, creating personal closeness, providing spiritual guidance, giving responsibility, and giving appreciation. This leadership results in positive changes in youth participation in church worship and service. The findings suggest that pastors with a transformational leadership approach can be effective motivators in mobilizing youth to be active in the church.
Konstruksi Thirdspace dari Ziarah Lintas Agama di Makam Soekarno Tamawiwi, Rio Sario; Lattu, Izak Y.M; Tampake, Tony Christian; Suprabowo, Gunawan Y.A
ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Program Pascasarjana UKIM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37429/arumbae.v6i2.1268

Abstract

Soekarno's grave in Blitar is busy with pilgrims from various religions daily. This place has become a space for interfaith meetings. The Blitar government also annually facilitates interfaith prayer activities, which are held four times a year as a symbol of fostering a spirit of tolerance. When pilgrims hold a prayer ritual, a third space is formed for social interaction between the first room and the second room. This article aims to answer the ontological question regarding understanding the encounter between interfaith pilgrims who form the third space at the Soekarno Tomb. This article uses a qualitative descriptive method through literature review, observations, and in-depth interviews in the Soekarno Grave Area, Blitar. The research results concluded that interfaith encounters during the pilgrimage at Soekarno's grave created a thirdspace construction according to Edward Soja's theory, which can be applied at the individual, institutional and community levels. Based on these findings, the main argument is that Soja's thirdspace construction is a framework for thinking to build social glue. The thirdspace construction allows humans to interact socially, which connects different characters and traits.
Ritual Bancakan Sepasaran Bayi sebagai Ruang Liminalitas untuk Membangun Guyub Rukun Masyarakat di Kartasura Ariyanto, Dani; Lattu, Izak Y. M.; Tampake, Tony R. C.; Suprabowo, Gunawan Y. A.
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 6 No 2 (2024): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v6i2.238

Abstract

The era of globalisation, which is marked by the sophistication of information technology, has affected the fading of local traditions, including the bancakan sepasaran bayi ritual, and the weakening of guyub rukun. Religious fundamentalism and radicalism contribute to undermining guyub rukun in society. Building guyub rukun can be done through the bancakan sepasaran bayi ritual. This article aims to describe and analyse the formation of liminal space in the bancakan sepasaran bayi ritual, which contributes to building guyub rukun in Kartasura. The research method used is post-positivism qualitative method. Interviews were conducted using purposive sampling technique to families who were considered to have the information needed in the research. The result is that through the liminal space contained in the bancakan sepasaran bayi ritual, the community is prepared to build guyub rukun in Kartasura.
Danau Toba sebagai Ruang Moderasi Beragama dan Teologi Pariwisata dalam Perspektif Hermeneutika Biblika Limbong, Sukanto; Suprabowo, Gunawan Yuli Agung; Panjaitan, Daniel Razsekar
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 9 No 3 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v9i3.4258

Abstract

Over the past decade, tourism development in the Lake Toba region has surged significantly. However, this growth often overlooks local wisdom, ecological sustainability, and the spiritual foundations of the local community. Lake Toba is not merely a natural tourist destination but a living space rich in cultural and religious significance. Its majestic landscape holds great potential as a site for interreligious and intercultural dialogue, and can even be interpreted as a cosmic scripture that resonates with harmony and spiritual openness. This study aims to explore and describe how Lake Toba can be strengthened as a space for interfaith and intercultural dialogue, and to analyze how the HKBP Church, as the majority Christian community in the region, can develop a contextual theology of tourism and religious moderation. A qualitative research method was employed, using a historical-critical and contextual hermeneutical approach to Psalm 19:2–5. This was complemented by in-depth interviews with informants representing subjective readers and interpretive communities. The theoretical framework is based on Stephen Bevans’ contextual theology, particularly his three models: translation, anthropological, and praxis. The findings indicate that: (1) nature, as viewed through the lens of the Psalm, is not merely an aesthetic backdrop but a divine revelation that invites spiritual encounter; and (2) spiritual tourism can serve as a means of social transformation, creating space for religious tolerance and moderation that strengthens social cohesion. In conclusion, religion should play an active role in tourism development, particularly by: (1) establishing nature-based liturgical programs and ecological spiritual education within the church; and (2) positioning itself as a cultural and environmental steward by promoting sustainable spiritual tourism in which spirituality, nature conservation, and respect for local traditions are harmoniously integrated.
Iman di Era Digital: Praktik Konseling Pastoral Berbasis Teknologi Digital Simatupang, Andreas Fredriko; Suprabowo, Gunawan Yuli Agung
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 10 No. 1 (2025): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2025.101.1276

Abstract

AbstractThis article aims to identify the benefits and challenges in the integration of digital technology into pastoral counseling in the digital age. This study uses descriptive method with literature study to describe the phenomena that occur in depth and complex. The results show that digital technology can provide spiritual and emotional support through various media such as telephone, video calls, short messages, emails, and other digital platforms, which offer greater flexibility and accessibility. However, there are also shortcomings such as a lack of mastery of digital technology among companions, data privacy and security issues, formal legitimacy from church authorities, as well as a potential reduction in the depth of interpersonal relationships. This research is expected to provide valuable insights for churches in improving the quality of their pastoral care and serve as a basis for the development of better ethical guidelines in pastoral counseling practices based on digital technology. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi manfaat dan tantangan dalam integrasi teknologi digital ke dalam konseling pastoral di era digital. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan studi literatur untuk menggambarkan fenomena yang terjadi secara mendalam dan kompleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi digital dapat memberikan dukungan spiritual dan emosional melalui berbagai media seperti telepon,video call, pesan singkat, email, dan platform digital lainnya, yang menawarkan fleksibilitas dan aksesibilitas yang lebih besar. Namun, terdapat juga kekurangan seperti kurangnya penguasaan teknologi digital di kalangan konselor, isu privasi dan keamanan data, legitimasi formal dari otoritas gereja, serta potensi pengurangan kedalaman hubungan interpersonal. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan berharga bagi gereja-gereja dalam meningkatkan kualitas pelayanan pastoral mereka dan menjadi dasar bagi pengembangan pedoman etika yang lebih baik dalam praktik konseling pastoral berbasis teknologi digital.
PERAN RUMAH ADAT HIBUALAMO SEBAGAI PUBLIC SPHERE UNTUK PROSES REKONSILIASI PERDAMAIAN DI TOBELO KABUPATEN HALMAHERA UTARA. Namotemo, Yohanes Duvan; Supratikno, Agus; Suprabowo, Gunawan Yuli Agung
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 8, No 2 (2025)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v8i2.25552

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali atau melihat bagaimana rumah adat Hibualamo sebagai ruang publik, untuk proses rekonsiliasi damai di Tobelo Kabupaten Halmahera Utara. Metode yang akan dipakai di dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan Sosiology-Histoy, dengan teknik pengumpulan data diantaranya observasi, wawancara, dokumentasi, studi pustaka. Teori yang akan dipakai ada tiga bagian yaitu teori Habermas (Ruang Publik) yang dalam teori tersebut menjelaskan bahwa ruang publik merupakan ruang milik bersama tanpa membedakan, antara kaum borjuis sama rakyat biasa. Teori John Galtung (Rekonsiliasi Perdamaian) yang menjelaskan bahwa untuk menyelesaikan sebuah konflik, kita harus mencari tahu siapa di balik serangkaian peristiwa tersebut, dan bagaimana mendiskusikan antara pihak yang sedang bertingkai untuk mencari jalan keluar bersama. Teori dari Piere Bourdie (Bahasa dan Kuasa Simbolik) yang dalam teori ini menjelaskan bahwa bahasa dapat menjadi alat, untuk mempengaruhi pola pikir dari seseorang, atau kelompok ke arah yang lebih baik maupun sebaliknya. Dalam penelitian ini juga penulis melihat bahwa rumah adat ini sangat penting bagi masyarakat Halut, oleh karena dapat menjadi simbol budaya yang mampu menyatukan seluruh masyarakat Tobelo, di Halmahera utara.