Martin Halim
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 30 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

STRATEGI ADAPTASI KAMPUNG TERHADAP KENAIKAN AIR LAUT DAN PENURUNAN TANAH DI MUARA ANGKE Abigael Mardianto; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12335

Abstract

The capital city of Indonesia, Jakarta, is the world’s fastest sinking city, especially the Northern part with an average land surface of more than 1.5 metres below sea level. Research shows that about 95% of North Jakarta will be 4 metres or far more below sea level by 2050. Sinking land jeopardises the Angke Estuary community since people lose their homes and livelihoods. Additionally, the mangrove forests in the coastal areas are home to many flora and fauna and now at risk due to drowning. Therefore, innovation in building structure would potentially mitigate instead of remediating the current issues. The design method used in literature and precedent studies, adaptation, and modular design become the basis of building design. A Telescopic column is an adjustable-floating system made out of recycled gallon plastic containers. It is an innovative and clean approach because of its sustainability towards climate change and environmentally friendly by utilising recycled material. The floating feature enables the building to adapt to sea-level fluctuations (e.g. high - low tides). This project aims to provide better living areas for the marginal communities of Angke Estuary whilst restore the coastal ecosystems. Keywords:  Adaptive; coastal ecosystem; mangrove; Muara Angke; residential needsAbstrak Jakarta menjadi kota yang paling cepat tenggelam di dunia, khususnya area Jakarta Utara dengan rata-rata permukaan tanah sudah berada lebih dari 1,5 m di bawah permukaan laut. Penelitian menunjukan bahwa di tahun 2050 95% area Jakarta Utara akan berada lebih dari 4m dibawah permukaan laut. Dengan melihat permasalahan tersebut rumah dan mata pencaharian warga Muara Angke, Jakarata Utara sedang dan semakin tenggelam. Selain itu ekosistem pesisir yang merupakan hutan mangrove, rumah untuk banyak jenis flora dan fauna juga terancam tenggelam. Kebutuhan akan bentuk bangunan baru yang dapat mengatasi permasalahan ini secara menyeluruh bukan sementara seperti tanggul-tanggul yang dibangun oleh pemerintah saat ini. Metode perancangan yang digunakan melalui studi litelatur, studi presenden, adaptasi, dan modular menjadi dasar dari  desain bangunan. Strategi desain yang sesuai dengan cara hidup masnyarakat Muara Angke dan adaptif terhadap kenaikan air laut dengan menggunakan teknologi struktur kombinasi kolom teleskopik yang adjustable dan platform apung terbuat dari daur ulang galon plastik menjadikan lingkungan tahan terhadap perubahan iklim. Bangunan dapat menyesuaikan dengan berbagai fase kenaikan air laut yaitu pada saat pasang,surut dan tenggelam. Proyek ini bertujuan memberikan hunian yang adaptif terhadap perubahan iklim serta mengembalikan keseimbangan ekosistem pesisir Muara Angke.  
PENERAPAN METODE TIPOLOGI ARSITEKTUR PADA KANTOR DAN GUDANG KRIYA KERAMIK LOKAL Anggellina Anggellina; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16909

Abstract

Ceramics is one of the handicrafts that has existed since ancient times. Ceramic is one of the oldest handicraft products recorded in human civilization and culture. Ceramics in Indonesia are thought to have been influenced by immigrants from Southeast Asia. Unfortunately, the Indonesian people have little role in the history of ceramics, so the history of Indonesian ceramics is less well known to many people. After the Covid-19 pandemic, many ceramic craftsmen who sell offline are now out of business, craftsmen have difficulty marketing their products because of the difficulty of finding markets online. The DKI Jakarta Tourism and Culture Office once said that it wanted the public to take part in the development of Indonesian fine arts, especially ceramics. The purpose of this project is to become a forum for ceramic craftsmen who can accommodate the work of these ceramic craftsmen, and help market their work, in addition to improving Indonesia's creative economy. Another goal of this project is to introduce local artisans to the world's eyes. The method used in this project is the typological method. From the existing typology, it was rethought to form a new typology that will be applied to this project. The novelty in this design is an office that provides a space that can vent the emotions of its workers in the space provided. Then on the building applied a lot of greenery to help relieve the psychological fatigue of the workers. Keywords:  ceramics ; ceramics craftsmen ; office ; psychological ; warehouse AbstrakKerajinan keramik adalah salah satu kerajinan tangan yang sudah ada sejak zaman dahulu. Keramik merupakan salah satu produk kerajinan tertua yang tercatat dalam peradaban dan kebudayaan manusia. Keramik yang ada di Indonesia diperkirakan dipengaruhi oleh para imigran dari Asia Tenggara. Sayangnya, masyarakat Indonesia kurang berperan terhadap sejarah kerajinan keramik, sehingga sejarah mengenai kerajinan keramik Indonesia kurang diketahui banyak orang. Setelah pandemi Covid-19, para pengrajin keramik yang berjualan secara offline kini banyak yang gulung tikar, para pengrajin kesulitan memasarkan produknya karena sulitnya mencari pasar secara daring. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta pernah mengatakan bahwa menginginkan masyarakat ikut andil dalam perkembangan seni rupa Indonesia khususnya keramik. Tujuan dari proyek ini adalah menjadi wadah bagi pengrajin keramik yang dapat menampung hasil karya dari pengrajin keramik tersebut, serta membantu memasarkan karya mereka, selain itu untuk meningkatkan perekonomian kreatif Indonesia. Tujuan lain proyek ini adalah untuk  memperkenalkan  pengrajin lokal ke matadunia.  Metode yang digunakan pada proyek ini adalah metode tipologi. Dari tipologi yang sudah ada, dipikirkan kembali untuk membentuk sebuah tipologi yang baru yang akan diterapkan pada proyek ini. Kebaruan dalam hasil rancangan ini adalah sebuah kantor yang menyediakan sebuah ruang yang dapat melampiaskan emosi para pekerjanya pada ruangan yang telah disediakan. Kemudian pada bangunan diterapkan banyak penghijauan untuk membantu meredakan rasa lelah para pekerja secara psikologis.
LAYANAN TANPA TURUN SERPONG Peter Lay; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10707

Abstract

According to Martin Heidegger, dwelling is an individual activity on this earth. Shopping is one of important activity for surviving. In early 2020, COVID-19 occurred so that the government issued a policy to carry out social distancing. The policy damages the dwelling activities that occur. In general, every individual must maintain a distance but this is often violated. Vehicles can solve this problem where each individual is forced to make a distance. The site was chosen based on Jalan Raya Serpong, where it connects South Tanggerang and Bogor. The site was chosen close to the entrance of Alam Sutera because the designation was predominantly residential. More road users on the site use vehicles while pedestrians are minimal. The lack of pedestrians is due to poor public facilities. After the government issued a policy for social distancing, the public preferred to use the drive-thru facility for shopping. So that the design uses the concept of service without going down. The service without getting down here talks about 3 things, namely drive-in, drive-thru, and pickup point. Where the main programs are dine-in and drive-thru supermarkets. With the concept dwelling activity can still run. The concept is also not bound by time so that there is no expiration date because vehicles will always exist in the future. The project aims to maintain the existing lifestyle. Keywords:  Dwelling; Lifestyle; Service without going down;  Social Distancing; Transportation. AbstrakMenurut Martin Heidegger dwelling adalah sebuah aktivitas individu di dalam bumi ini. Aktivitas manusia yang paling penting adalah berbelanja dimana berfungsi untuk memenuhi kebutuhan. Pada awal tahun 2020 COVID-19 terjadi sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melakukan social distancing. Kebijakan tersebut merusak kegiatan dwelling yang terjadi. Secara umum setiap individu harus menjaga jarak namun hal tersebut sering dilanggar. Kendaraan bermotor dapat menyelesaikan masalah tersebut dimana setiap individu dipaksa membuat jarak. Tapak dipilih berdasarkan Jalan Raya Serpong, dimana jalan tersebut menghubungi Tanggerang Selatan dan Bogor. Tapak terpilih dekat dengan entrance Alam Sutera karena peruntukkan lebih dominan hunian. Pengguna jalan pada tapak lebih banyak menggunakan kendaraan bermotor sedangkan pejalan kaki sangat minim. Kurangnya pejalan kaki diakibatkan fasilitas umum yang kurang baik. Setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk social distancing masyarakat lebih senang menggunakan fasilitas drive-thru untuk berbelanja. Sehingga dalam rancangan menggunakan konsep layanan tanpa turun. Layanan tanpa turun disini berbicara 3 hal yaitu drive-in, drive-thru, dan pickup point. Dimana program utama  berupa dine-in dan drive-thru supermarket. Dengan adanya konsep layanan tanpa turun aktivitas dwelling masih dapat berjalan . Konsep tersebut juga tidak terikat dengan waktu sehingga tidak ada masa kadaluarsa karena kendaraan akan selalu ada di masa depan. Proyek tersebut bertujuan untuk mempertahankan gaya hidup yang ada.
BANGUNAN PENGOLAHAN AIR SEBAGAI SOLUSI KETERBATASAN AIR BERSIH DI MUARA BARU Johnson Wijaya; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12366

Abstract

Muara Baru region is well known as the area with clean water scarcity. The locals tried to adapt by fulfilling the daily needs of water with purchasing water on wheels.  RE.TREAT Water Treatment Project involves rainwater harvesting and dam water treatment and process them as clean water supply in Muara Baru. By definition, RE.TREAT Water Treatment Project would be defined as a place to process and treat water as a clean water supply to the neighbourhood and provides recreational space to self sooth. The research began with mapping the affected area of the clean water scarcity. Thus the best possible location was chosen and analyzed with the principles of landscape urbanism to create the base design guideline. Being the result of the concept, the base design guideline is applied in the massing study and thus created the RE.TREAT Water Treatment Project. With the purpose of water treatment and supporting recreational functions, the residents of Muara Baru will have a steady clean water source with a more affordable price and a public space to get away from the crowd and daily routine. Keywords : clean water scarcity; water treatment; Muara Baru AbstrakDaerah Muara Baru dikenal sebagai daerah yang kekurangan air bersih. Penduduk setempat mencoba beradaptasi dan memenuhi kebutuhan air bersihnya dengan membeli air pikulan. Proyek Pengolahan Air RE.TREAT merupakan proyek pengolahan air hujan dan air waduk yang dimanfaatkan kembali menjadi suplai air bersih di Muara Baru. Berdasarkan definisinya, Proyek Pengolahan Air RE.TREAT memiliki makna sebagai tempat memproses dan memelihara air untuk suplai air bersih yang dipakai kembali dan rekreasi untuk mencari ketenangan batin. Proses penelitian diawali dari langkah pemetaan daerah terdampak krisis air bersih. Kemudian site dengan potensi terbaik dianalisis lingkungan sekitarnya melalui prinsip landscape urbanism untuk menghasilkan pedoman mendesain. Pedoman mendesain kemudian dituangkan melalui studi gubahan massa dalam menciptakan bangunan Pengolahan Air RE.TREAT. Dengan RE.TREAT sebagai hasil arsitektur pengolahan air dan fungsi penunjang rekreasi setempat, maka penduduk Muara Baru akan memiliki sumber air bersih baru dengan harga yang lebih terjangkau dan ruang terbuka publik untuk melepas penat di tengah area pelabuhan dan perkampungan yang hiruk pikuk.
JELAMBAR BARU RECREATION AND ENTERPRENEURSHIP SPACE Givin Natan Lie; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8476

Abstract

Gaps within citizens is a problem that runs amok inside a city, so as in Jelambar Baru, that is one of the densest districts in Jakarta, Jelambar Baru also has a gap between its citizens. A unique environment in an urban area where a separation between the elites and the lower middle class happens, that indirectly affects the actions and behaviors of the citizens. Adding on the lacking public facilities to accommodate both of the society groups, so enter the project Jelambar Baru recreation and entrepreneurship space. In accommodating various activities that can bridge the gap in Jelambar Baru’s citizens, Jelambar Baru recreation and entrepreneurship space has a vision to unite both the elites of society and the lower middle class, with various social activities that is done together. Apart from that, Jelambar Baru recreation and entrepreneurship space can also be a gathering place for all citizens and communities in Jelambar Baru as a third place in society. Interacting with the people of Jelambar Baru, doing observations, surveys, and analysis, produces an optimal program to attract and unite both of Jelambar Baru’s citizen class, so this Open Architecture project can become an activity space with variety, and a public space for all class of society. Keywords:  gap; social activities; unite AbstrakKesenjangan masyarakat dalam sebuah kota merupakan sebuah masalah yang merajalela, begitu pula pada kelurahan Jelambar Baru, yang merupakan salah satu kelurahan terpadat di Jakarta. Suasana yang unik pada daerah urban dimana terjadi separasi antara masyarakat golongan atas dengan golongan menengah kebawah, yang secara tidak langsung mempengaruhi tindakan dan perilaku masyarakat tersebut. Ditambah dengan kurangnya berbagai fasilitas umum untuk mewadahi kedua golongan masyarakat tersebut, maka masuklah proyek ruang rekreasi dan kewirausahaan di Jelambar Baru. Dengan mewadahi berbagai aktivitas yang dapat menjembatani kesenjangan dalam masyarakat Jelambar Baru, ruang rekreasi dan kewirausahaan di Jelambar Baru memiliki visi untuk mempersatukan kedua golongan masyarakat atas dan menengah kebawah, dengan berbagai aktivitas sosial yang dapat dilakukan bersama. Selain itu, ruang rekreasi dan kewirausahaan di Jelambar Baru juga dapat menjadi sebuah tempat berkumpul bagi seluruh masyarakat kelurahan Jelambar Baru sebagai sebuah Third Place dalam masyarakat. Berinteraksi dengan masyarakat Jelambar Baru, melakukan observasi, survey, dan analisis, dapat diambil sebuah program yang optimal untuk menarik dan mempersatukan kedua golongan masyarakat Jelambar Baru, sehingga proyek Open Architecture dapat menjadi tempat kegiatan yang beragam, dan juga ruang publik bagi seluruh golongan masyarakat.
SENTRA UMKM MODE Agatha Lavinia; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10717

Abstract

Dwelling is a human respond for tha changes, but not all humans are ready for it. Humans who are not compatible enough will unable to compete with who are ready to take advantages for the changes especialy techologhy related. Likewise with the problem that accured in Tanah Sereal, Tambora, West Jakarta. Tanah Sereal has has many problem, one of wich isdie to the scattered location of the production house conduce limited opportunity for the buyers to determine existing production house. Apart from that, the pandemic effect the sales rate to decrease in Tanah Sereal. This leads manya production houses to change to online trading. Online Trading creates new problem for buyers because of the items are personalized they need to be tried on. To respond of these problem, it is necessary to agglomerate the production houses to make it easier for the prospective buyer to choose existing sellers. It also provide opportunities for buyers to try the purchased item so that fashion MSME center are creates. The choses theory is in the form of study of dwelling according to Christian Norbrg-Schulz, job training, MSMEs, and MSME centers. Desain method that is used is analysis-synthesis method based on region data and community activity patterns in Tanah Sereal. With fashion MSME center, it is hoped to solve the distribution location of production houses, provide conectivitu between visitors and production hoises to improve the image of Tanah Sereal. Keywords: Convection; Dwelling; Fashion MSME Center; Tanah Sereal AbstrakBerhuni merupakan cara manusia untuk merespon perubahan yang ada, namun tidak semua manusia siap akan adanya perubahan tersebut. Manusia yang tidak siap beradaptasi dengan kecanggihan teknologi akan kalah bersaing dengan manusia yang siap memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada. Demikian halnya dengan permasalahan yang terjadi di daerah Tanah Sereal, Tambora, Jakarta Barat. Tanah Sereal memiliki banyak permasalahan salah satunya adalah dikarenakan lokasi rumah produksi yang tersebar menyebabkan membatasi kesempatan pembeli menentukan rumah produksi yang ada. Selain dari itu, pandemi mempengaruhi tingkat penjualan konveksi di tanah sereal hingga menurun. Hal ini menyebabkan banyak pedagang beralih ke perdagangan online. Perdagangan online menimbulkan masalah baru bagi bara pembeli karena barang yang dibeli bersifat personal sehingga butuh dicoba. Dalam merespon kedua permasalahan tersebut dibutuhkan pengelompokan rumah produksi untuk memudahkan pembeli memilih penjual yang ada dan memberikan kesempatan bagi pembeli mencoba barang yang dibeli sehingga sentra UKM mode tercipta. Kajian teori yang dipilih berupa kajian mengenai terori dwelling menururt Chistian Norberg-Schulz, teori everydayness, pelatihan kerja, UMKM, dan sentra UMKM. Metode perancangan yang dilakukan menggunakan metode analisis-sintesis berdasarkan data kawasan dan pola kegiatan masyarakat di Tanah Sereal. Dengan adanya sentra UMKM mode diharapkan dapat menyelesaikan masalah tersebarnya rumah produksi, memberikan konektivitas antar pengunjung dengan rumah produksi sehingga dapat meningkatkan citra kawasan Tanah Sereal.
PERANCANGAN PERTANIAN VERTIKAL YANG TERINTEGRASI UNTUK MENGATASI MASALAH PANGAN MASA DEPAN Caroline Natalie; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16854

Abstract

Based on existing data, people in Indonesia will migrate to urban areas which will cause population problems. One of them is the food problem, coupled with the fast demand for fresh food in the capital, which lacks planting media and sunlight. Vertical agriculture is considered to be one solution to this problem. However, until now there has been no special building for vertical agriculture that stands in the capital. This is because to build a special building for vertical agriculture requires a large amount of cost and energy. The vertical design approach by rethinking the typology based on the analysis of existing studies produces a typology of open masses and blocks as edges, a typology of terracing and grid patterns, the placement of vertical farms in buildings using solar energy sources and technology (hybrids), and hydroponic, aquaponic, and hydroponic cultivation methods. and aeroponics with retail and office programs as supporting programs that are directly integrated with vertical farming as the main program. So that the "Integrated Vertical Farming" project is expected not only to be able to answer food and environmental problems, but also the economy. Keywords: Food Problems; Program; Typology; Vertical Farming AbstrakBerdasarkan data yang ada, masyarakat di Indonesia akan bermigrasi ke daerah perkotaan yang akan menimbulkan masalah kependudukan. Salah satunya adalah masalah pangan, ditambah dengan permintaan bahan pangan segar yang cepat di ibukota yang minim media tanam dan matahari. Pertanian vertikal dinilai menjadi salah satu solusi masalah tersebut. Namun hingga kini belum ada bangunan khusus pertanian vertikal yang berdiri di ibukota. Hal tersebut dikarenakan untuk membangun bangunan khusus pertanian vertikal membutuhkan biaya dan energi yang cukup besar. Pendekatan perancangan pertanian vertikal dengan rethinking typology berdasarkan analisis studi yang ada menghasilkan tipologi massa yang terbuka dan blok sebagai tepi, tipologi pola terasering dan grid, penempatan pertanian vertikal pada bangunan dengan penggunaan sumber energi matahari dan teknologi (hybrid), dan metode penanaman hidroponik, akuaponik, dan aeroponik dengan program retail dan office sebagai program pendukung yang terintegrasi langsung dengan pertanian vertikal sebagai program utama. Sehingga proyek “Integrated Vertical Farming” ini diharapkan tidak hanya mampu menjawab permasalahan pangan dan lingkungan, tetapi juga ekonomi.
TAMAN SOSIAL DAAN MOGOT Seandy Sebastian; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6764

Abstract

As time goes by, the culture of society that continues to change every time resulted in changes in various aspects of life, especially regarding interactions between people. Life that has a fast level of mobility causes decreased interaction between humans because they must always move. This incident happened in big cities and Jakarta is one of them. This condition can be found in cluster housing, one of which is Daan Mogot Baru Housing and Kalideres Permai, where interaction between neighbors is minimal. Therefore, research is carried out why and how this problem can be solved through architecture. This study began by collecting data using 2 methods, namely questionnaire and observing the environment around the object boundaries. The results of the data from the questionnaire from 40 respondents who came from residents of Daan Mogot Baru and Kalideres Permai residents proved that the level of interaction between neighbors there was lacking. One of the main causes of the lack of interaction is the lack of place / place to do joint activities. To make a container, it takes a program that will be an activity in the container, based on the data obtained in the program questionnaire, the most needed is sports facilities. But sports facilities alone will not be able to solve the problem of low interactions in Daan Mogot Housing and Kalideres Permai. The container must be equipped with a container for interaction such as a place to sit and chat and have a place to eat so that they have a reason to stay after they move and create situations that support the occurrence of interaction. AbstrakSeiring berjaannya waktu, budaya masyarakat yang terus berubah setiap waktu mengakibatkan perubahan pada berbagai macam aspek kehidupan terutama mengenai interaksi antar sesama. Kehidupan yang memiliki tingkat mobilitas yang cepat menyebabkan menurunnya interaksi antar manusia karena mereka harus selalu bergerak. Kejadian ini terjadi di kota – kota besar dan Jakarta adalah salah satunya. Kondisi ini dapat kita temui di perumahan kluster salah satunya adalah Perumahan Daan Mogot Baru dan Kalideres Permai, dimana interaksi antar tetangga sangatlah minim. Oleh karena itu dilakukanlah penelitian mengapa dan bagaimana masalah ini dapat diselesaikan melalui arsitektur. Penelitian ini dimulai dengan mengumpulkan data menggunakan 2 metode yaitu kuisioner dan obsevasi lingkungan sekitar batasan objek. Hasil data dari kuisioner yang berasal 40 responden yang berasal dari warga Perumahan Daan Mogot Baru dan Kalideres Permai membuktikan bahwa memang tingkat interaksi antar tetangga disana kurang. Salah satu penyebab utama kurangnya interaksi adalah kurangnya tempat / wadah untuk melakukan aktivitas bersama. Untuk membuat suatu wadah maka dibutuhkan program program yang akan menjadi kegiatan dalam wadah tersebut, berdasarkan data yang didapat dalam kuisioner program yang paling dibutuhkan adalah sarana olahraga. Namun sarana olahraga saja tidak akan bisa menyelesaikan masalah rendahnya interaksi di Perumahan Daan Mogot dan Kalideres Permai. Wadah tersebut harus dilengkapi dengan wadah untuk berinteraksi seperti tempat duduk untuk mengobrol dan bercengkrama serta tempat makan sehingga mereka memiliki alasan untuk tetap tinggal setelah mereka beraktivitas dan tercipta situasi yang mendukung untuk terjadinya interaksi.
SENTRA PEDAGANG KECIL SEMANAN Bianca Belladina; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10720

Abstract

According to Martin Heidegger, Dwelling in his book entitled "Building, Dwelling, Thinking" states that dwelling is a concept to inhabit or a unique way of being (dasein) in the world, namely to stay, wander (to wander) and survive (to linger). ). The concept of human habitation is more about survival. In general, humans cannot just stand by to survive, humans must work to meet their needs in survival. Then the question arises, "How do the lower class society, especially the traders live?" Seeing that small traders do not have land to sell so many of them sell on the side of the road. Semanan Small Traders Center is a place for small traders, especially the Semanan area, where traders who do not have land to sell now get land to sell so that traders do not need to  use the road again as a place to sell. In addition, this project seeks to answer the needs of the people around Semanan. The method used is Respond to Site - Contextualism. The design process in buildings is realized by a relationship with the environment around the needs of the surrounding community and the problems that exist around the site. Keywords: Dwelling; Semanan; Trader. AbstrakDwelling menurut Martin Heidegger dalam bukunya yang berjudul “Building, Dwelling, Thinking” meyebutkan bahwa dwelling sebagai sebuah konsep menghuni atau cara khas ada (dasein) di dunia yaitu untuk menetap (to stay), berkelana (to wander) dan bertahan hidup (to linger). Konsep berhuni manusia lebih ke bertahan hidup. Pada umumnya manusia tidak bisa hanya berdiam diri saja untuk bertahan hidup, manusia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dalam bertahan hidup. Lalu muncul pertanyaan “Bagaimana masyarakat kalangan bawah khususnya para pedagang berhuni?”. Melihat para pedagang kecil tidak memiliki lahan berjualan sehingga banyak dari mereka berjualan di pinggiran jalan. Sentra Pedagang Kecil Semanan merupakan wadah bagi para pedagang kecil khususnya daerah Semanan, dimana para pedagang yang tidak memiliki lahan untuk berjualan sekarang mendapatkan lahan untuk berjualan sehingga para pedagang tidak perlu memakai ruas jalan lagi sebagai tempat berjualan. Selain itu proyek ini berusaha untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekitar Semanan. Metode yang digunakan yaitu Respond to Site – Contextualism proses desain pada bangunan diwujudkan dengan adanya hubungan dengan lingkungan sekitar kebutuhan masyarakat sekitar dan masalah yang ada disekitar tapak.
PENERAPAN ARSITEKTUR EKOLOGIS DAN SUSTAINABLE PADA RUANG DAUR ULANG DAN REKREASI SAMPAH DI DADAP Leah Alifahni; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12375

Abstract

Recycling is the process to turn waste into new materials that can be reused and utilized. The most numerous and difficult types of garbage to decipher one of them is plastic and cans. The building of the Waste Recycling and Recreation Center aims to reduce the waste that is in Dadap then will be recycled (plastic and cans) that have been selected, then used as building materials to be sold and as a new experience in learning, which applies the waste in the form of temporary exhibition like in recreation. And it is expected to prosper people's lives in the economy. The waste management strategy itself consists of 4 main activities, namely, sorting, collection, processing, and distribution (production results) of the main components in recycling as well as the 4R hierarchy (reduce, reuse, recycle, and replace). In addition to recycling and recreation, other supporting programs include education and RTH. The project uses design methods by applying 5 principles of ecological architecture (utilization of climate potential, provision of RTH, local materials (application of 3/4R), water management. Land, and sustainable air and community space). Keywords: Education; Public Space; Recreation; Types of Waste; Waste Recycling;3-4R AbstrakDaur ulang adalah proses mengolah sampah menjadi bahan baru yang bisa digunakan kembali dan dimanfaatkan. Jenis sampah yang paling banyak dan sulit diuraikan salah satunya adalah plastik dan kaleng. Bangunan Daur Ulang dan Rekreasi sampah ini bertujuan untuk mengurangi sampah yang berada di Dadap kemudian akan didaur ulang (plastik dan kaleng) yang sudah dipilih, lalu dijadikan material bangunan yang akan dijual serta sebagai pengalaman baru dalam pembelajaran, yang dimana mengaplikasikan sampah tersebut dalam bentuk temporari exhibition pada rekreasi. Dan diharapkan bisa mensejahterakan kehidupan masyarakat dalam perekonomian. Strategi pengelolaan sampah itu sendiri terdiri atas 4 kegiatan utama yaitu, pemilahan, pengumpulan, pemprosesan, dan pendistribusian (hasil produksi) komponen utama dalam daur ulang serta hierarki 4R (reduce, reuse, recycle, and replace). Selain daur ulang dan rekreasi, program pendukung lainnya berupa edukasi dan RTH. Proyek ini menggunakan metode perancangan dengan menerapkan 5 prinsip arsitektur ekologis (pemanfaatan potensi iklim, penyediaan RTH, material lokal (penerapan3/4R), pengelolaan air, tanah, dan udara berkelanjutan dan ruang masyarakat).