Martin Halim
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 30 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

RUANG KREATIF DAN REKREASI DI PASAR BARU Kevin Liong; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8482

Abstract

 As social beings, humans really need space for interaction. This interaction space can be a background for the development of life, both in economic, social and entertainment activities. Lack of appropriate interaction space causes the community to handle it independently. In the Pasar Baru community there are problems in terms of providing interaction space facilities as well as problems in the productive age unemployment. So in this project will focus on these two problems. The program design in the Creative Recreative Place is divided into two, recreational program and educational support program, where the recreational program accommodates the community's need for social interaction space which also accommodates micro, small and medium businesses undertaken by the community in culinary business sector by creating a culinary area. Then the support program which consists of education, will facilitate the public access to informal education that will increase community expertise through creative industry training, especially in fashion and handicraft which is based on the concentration of industries in Pasar Baru where fashion and handicraft products can be easily found here. In addition, the education program also places the film industry as one of the educational programs offered. Keywords:  economy; expertise; interaction AbstrakSebagai makhluk sosial, manusia amatlah membutuhkan ruang interaksi. Dimana ruang interaksi ini dapat menjadi latar bagi perkembangan kehidupan, baik dalam kegiatan ekonomi, sosial dan juga hiburan. Kurangnya ruang interaksi yang layak mengakibatkan masyarakat mengatasinya secara mandiri. Pada Kelurahan Pasar Baru didapati permasalahan dalam hal penyediaan fasilitas ruang interaksi serta permasalahan pada pengangguran usia produktif. Sehingga dalam rancangan akan fokus pada kedua permasalahan tersebut. Secara garis besar rancangan program pada Ruang Kreatif dan Rekreasi dibagi menjadi dua yaitu program utama yang bersifat rekreasi dan program penunjang yang bersifat edukasi, dimana program utama merupakan program rekreasi yang mengakomodir kebutuhan masyarakat akan ruang interasksi sosial yang juga mewadahi usaha mikro kecil menengah yang dijalani masyarakat pada sektor usaha kuliner dengan membuat area kuliner. Kemudian program penunjang yang berupa fasilitas edukasi, akan memfasilitasi masyarakat terhadap akses pendidikan informal yang akan menambah keahlian masyarakat melalui pelatihan industri kreatif terutama bidang fashion dan kria yang didasarkan pada konsentrasi industri yang ada di Pasar Baru dimana produk fashion dan kria ini dapat mudah ditemui disini. Selain itu program edukasi juga menawarkan industri perfilman sebagai salah satu program edukasi yang ditawarkan.
TAMAN BACA MASYARAKAT ROROTAN UNTUK MENINGKATKAN MINAT BACA MASYARAKAT Muhammad Reynaldi; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16933

Abstract

It is proven from the data that the education quality in Indonesia is very low and continues to decline from year to year. At the same time, Indonesian people's reading interest is also very low compared to other countries. Here we can see the correlation between education and reading interest, because by reading we can learn. One solution is to provide a reading platform with the aim of increasing public interest in reading. In this case, the library becomes the most dominating central point in efforts to increase reading interest. But in today's electronic era, people rarely go to the library. People feel no need to go to the library because everything can be accessed anywhere. Therefore, we need a building program that adapts to the times and can attract people to come to the library. One of the programs is to include electronic elements in the reading media. The type of library that will be created is a community reading park, with this the library is focused on reading activities. A concept is also needed to increase people's reading interest. The concept that will be used is “Creating a Perfect Reading Atmosphere”, which aims to provide maximum comfort for the readers. The method used in this project is the typological method. By creating a library that uses the right typology, the library will become a comfortable and safe place for its readers. Keywords: education quality; library; reading interest; typologyAbstrakTerbukti dari data kalau kualitas pendidikan di Indonesia sangat rendah dan terus turun dari tahun ke tahunnya. Di saat yang bersamaan minat baca masyarakat Indonesia juga sangat rendah dibandingkan dengan negara lainnya. Di sini terlihat korelasi antara pendidikan dan minat baca, karena dengan membaca kita bisa belajar. Salah satu solusinya adalah menyediakan wadah membaca dengan tujuan meningkatkan minat baca masyarakat. Perpustakaan dalam hal ini menjadi titik sentral yang paling mendominasi dalam upaya peningkatan minat baca. Tetapi di zaman sekarang yang serba elektronik, orang-orang menjadi jarang ke perpustakaan. Orang-orang merasa tidak perlu untuk ke perpustakaan dikarenakan semua sudah bisa diakses di mana saja. Maka itu diperlukan sebuah program bangunan yang beradaptasi dengan zaman dan bisa memikat orang untuk datang ke perpustakaan. Salah satu programnya adalah memasukkan unsur elektronik dalam media membacanya. Jenis perpustakaan yang akan dibuat adalah taman baca masyarakat, dengan ini perpustakaan difokuskan untuk kegiatan membaca. Diperlukan juga sebuah konsep untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Konsep yang akan digunakan adalah “Menciptakan Suasana Membaca yang Sempurna”, yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan maksimal bagi pembacanya. Metode yang digunakan dalam proyek ini yaitu metode tipologi. Dengan menciptakan perpustakaan yang menggunakan tipologi yang tepat, perpustakaan tersebut akan menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi pembacanya. 
TEMPAT PETUALANGAN KULINER DI STASIUN PESING Evan Hansabian; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6832

Abstract

A thirdplace is very important on our daily basis, where the firstplace is a dwelling we live in, the secondplace is where we work to earn a living, and what about the thirdplace? This is what will be brought up by an architect of how do we scheme a thirdplace for others to create a good quality. With a phenomenological approach, many things must be considered in detail because the number of places to eat at Pesing Station are lack, unclean, and unintegrated, that made the visitors less enjoying this area. Unconsciously in it has a memory of historical value about local culinary that has faded in Jakarta and completed by some supportive local activities such as outdoor theater, pedestrian mall, local typical cafes, and local desserts, to raise the culture and habits of people in Indonesia. Since the location is close to the train station, co-working space become an additional program in this culinary place, where people who wants to work do not need to rent an office building. With a few simple eating places, they are quite convinient to find food and other entertainment facilities. There are online motorcycle taxis operating in front of Ibis hotel but hamper the traffic lanes and cause traffic jams, so the foodstreet will be a resting place for station visitors, and both online and offline motorcycle taxis to avoid disrupting the traffic. The presence of this food adventure place in Pesing Station is expected to improve the quality of social life in the environment around us, minimize the traffic congestion in front of the station, adding some knowledge about local foods, and be a thirdplace in Grogol Petamburan area. AbstrakTempat ketiga itu sangat penting bagi kehidupan manusia, dimana tempat pertama adalah rumah yang kita tinggali sehari-hari, tempat kedua adalah dimana kita bekerja untuk mendapatkan penghasilan, bagaimana dengan tempat ketiga? Ini yang akan diangkat oleh seorang arsitek, bagaimana cara merancang sebuah tempat ketiga bagi orang-orang sekitar agar bisa menciptakan kualitas yang baik. Dengan pendekatan fenomenologi, banyak hal yang harus diperhatikan secara detail, karena tempat makan di stasiun pesing jumlahnya sangat kurang, tidak bersih, dan tidak terintegrasi, sehingga membuat pengunjung sekitar kurang menikmati daerah tersebut. Secara tidak sadar di dalamnya terdapat sebuah memori pemberi nilai sejarah tentang kuliner nusantara yang sudah memudar di Jakarta dan di lengkapi dengan aktivitas-aktivitas lokal pendukung lainya seperti theater outdoor, pedestrianmall, cafe khas nusantara, dan makanan penutup nusantara, kerena ingin mengangkat budaya dan kebiasaan masyarakat di indonesia. Karena lokasi yang dekat dengan stasiun kereta api, maka co-working space menjadi program tambahan di tempat kuliner ini, dimana orang yang ingin bekerja tidak perlu menyewa gedung perkantoran. dengan adanya beberapa tempat makan yang sederhana, mereka cukup mudah untuk mencari makan dan sarana hiburan lainya. Disana terdapat ojek online yang beroperasi di depan ibis hotel tetapi cukup menghambat jalur lalu lintas dan menimbulkan kemacetan, maka foodstreet menjadi tempat peristirahatan bagi pengunjung stasiun, ojek online, dan ojek pengkolan agar tidak mengganggu jalur lalu lintas. Dengan hadirnya tempat petualangan kuliner di stasiun Pesing ini diharapkan dapat meningkatkan interaksi sosial di lingkungan sehari-hari, dapat meminimalisir kemacetan yang ada di depan stasiun, menambah wawasan tentang kuliner nusantara dan menjadi tempat ketiga bagi wilayah Grogol petamburan.
SINGGAH BLORA: MENGHIDUPKAN KEMBALI PASAR BLORA MENJADI TEMPAT KETIGA MILENIAL DENGAN STRATEGI AKUPUNKTUR PERKOTAAN Veronica Catalina; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21760

Abstract

Menteng, Blora Market, which was previously a main market for fulfill daily needs in the Menteng area has experienced memory and physical degradation. The memory degradation of the Blora Market began with the development of the business area around the Menteng area and the Dukuh Atas area which became the TOD area, making people who used to be mostly settlers become millennial commuters. With these changes, the abandoned Blora Market and its buildings were also demolished, causing physical degradation. The physical degradation of Blora Market has an impact along Jalan Blora where there are 5-7 buildings around Blora Market that are stalled and dead. The Blora market requires a new design with new innovations that capable to support the fulfillment that needs for surrounding society who are adapting to current era. Therefore, the main objective and purpose of this final project is to revive Blora Market into a market that has a benefit as a place for community interaction and can be a driver of progress in the surrounding area in terms of trade, especially culinary. Besides being a new stopover or third place for local settlers and millennial generation commuters. The result of the design is a market building that applies the third space method based on the urban acupuncture strategy by adding new programs and adjusting the market space  for the characteristics of millennial generation commuters. Keywords: Interaction; Market; Third Place; Urban Acupuncture; Virtual Office Abstrak Dengan adanya perkembangan di Kawasan Dukuh Atas yang sebelumnya merupakan salah satu perkampungan menjadi pemukiman elite di Menteng, membuat Pasar Blora yang sebelumnya merupakan pasar andalan pemenuhan kebutuhan sehari – hari di Kawasan Menteng mengalami degradasi memori serta fisik. Degradasi memori Pasar Blora ini diawali dengan berkembangnya area bisnis di sekitar Kawasan Menteng serta Kawasan Dukuh Atas yang menjadi Kawasan TOD menjadikan masyarakat yang tadinya sebagian besar adalah pemukim menjadi komuter generasi milenial. Dengan adanya perubahan tersebut, Pasar Blora yang mulai ditinggalkan dan bangunannya juga dirubuhkan, sehingga menyebabkan degradasi fisik. Degradasi fisik Pasar Blora berdampak pada sepanjang Jalan Blora dimana terdapat 5-7 bangunan disekitar Pasar Blora yang mangkrak dan mati. Pasar Blora membutuhkan perancangan dengan inovasi yang baru untuk dapat menjadi pendukung pemenuhan kebutuhan masyarakat sekitar yang beradaptasi dengan kondisi sekarang. Maka dari itu tujuan dan manfaat dari tugas akhir ini adalah membangkitkan kembali Pasar Blora menjadi pasar yang memiliki fungsi sebagai tempat interaksi masyarakat dan dapat menjadi pendorong kemajuan di area sekitarnya  dari segi bidang perdagangan terutama kuliner. Selain juga menjadi tempat singgah baru atau tempat ketiga bagi pemukim sekitar maupun komuter bergenerasi milenial. Hasil dari perancangan merupakan bangunan pasar yang menerapkan metode ruang ketiga yang didasari strategi akupunktur perkotaan dengan menambahkan program baru dan menyesuaikan program ruang pasar dengan karakteristik komuter bergenerasi milenial.
MENGHIDUPKAN KEMBALI KAWASAN MARINA CITY BATAM YANG TELAH MATI AKIBAT ADANYA REGULASI PERJUDIAN Steven Dharmawan; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21761

Abstract

Batam City is a city located in the Riau Islands Province, Over time Batam City grew and developed rapidly where this development was due to the casino at Marina City Batam at that time. However, in 2006 the 6th president of the Republic of Indonesia at that time issued a law whereby gambling was not allowed in Indonesia. This regulation causes various kinds of damage to the area, starting from the local economy caused by a drastic reduction in tourists, to the image of the area caused by various people who make this area a place for illegal gambling and prostitution. In collecting data this research is supported by various methods ranging from literature studies such as regional history, case studies related to research, where researchers can analyze the area with various aspects and regional arrangements ranging from the climate of the area to the potential that exists in the area so that by providing Various kinds of program injections in this area can be a new hope for the region. By using these various methods, Senimba Bay Shore is expected to become a new attraction and new tourist destination in the Marina City Waterfront area that can generate and improve the image of the Marina City area as a place or tourist destination by providing recreational areas, tourist attractions and shopping areas with the aim of supporting the project. as well as support existing programs. Keywords:  Degradation; Marina City; Tourist Attraction; Urban Acupuncture Abstrak Kota Batam merupakan sebuah kota yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau, Seiring berjalannya waktu Kota Batam tumbuh dan berkembang dengan pesat dimana perkembangan ini disebabkan adanya kasino di Marina City Batam pada saat itu. Namun pada tahun 2006 presiden RI ke-6 saat itu mengeluarkan Undang-Undang dimana perjudian tidak diperbolehkan di Indonesia. Regulasi ini menyebabkan berbagai macam kerusakan pada kawasan tersebut mulai dari  perekonomian warga yang disebabkan karena berkurangnya wisatawan yang sangat drastis, hingga citra kawasan yang diakibatkan berbagai macam oknum yang membuat kawasan ini sebagai tempat perjudian illegal dan tempat prostitusi. Dalam pengambilan data penelitian ini didukung dengan berbagai macam metode mulai studi literatur seperti sejarah kawasan, studi kasus yang berkaitan dengan penelitian, dimana peneliti dapat menganalisa kawasan dengan berbagai macam aspek dan tatanan kawasan mulai dari iklim bentuk kawasan hingga potensi yang ada pada kawasan sehingga dengan memberikan berbagai macam suntikan program pada kawasan ini dapat menjadi harapan baru bagi kawasan. Dengan menggunakan berbagai macam metode ini Senimba Bay Shore diharapkan menjadi atraktor baru dan destinasi wisata baru dikawasan Marina City Waterfront yang dapat membangkitkan dan memperbaiki citra kawasan Marina City sebagai tempat atau destinasi wisata dengan menyediakan tempat rekreasi, tempat wisata dan tempat perbelanjaan dengan tujuan untuk mendukung proyek maupun mendukung program existing.
APLIKASI STRATEGI URBAN ACUPUNCTURE PADA PERANCANGAN WISATA ANPIMA: WISATA AKTIVITAS NELAYAN DAN PASAR IKAN MUARA ANGKE Cynthia Phungky; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21762

Abstract

The Muara Angke area starts from the swamps. Slowly the area is lived by community participation. In addition to areas that are rich in fishery potential, natural and social conditions are also advantages for the region. The Muara Angke area is synonymous with natural attractions, fishing villages, and Traditional Fishery Products Processing Sites (PHPT). This identity is slowly disappearing, replaced by an image of a smelly, dirty, and slum area. The migration of population causes the area to become dense and experience physical and identity degradation. As a result, movement to the area decreases due to attractors and is physically degraded into slums, smells, and dirty, so the identity of the Muara Angke area needs to be improved. The ANPIMA Tourism Project is a tourism facility for fishermen and fish market activities in Muara Angke that implements an urban acupuncture strategy to revive the physically degraded Muara Angke. The research uses data collection methods related to Muara Angke, CMA theory, and urban acupuncture strategies, as well as the method of discussing design by research. While the design uses the symbiotic method. The results of the research are ANPIMA Tourism with tourism programs for fishing activities and fish markets, as well as commercial efforts to revive Muara Angke by connecting the site to the sea, residents, tourism, and fishermen. The urban acupuncture strategy is applied from the potential that makes Muara Angke widely known by the public such as activities in the area and its nature. Thus, ANPIMA Tourism: Fisherman Activity Tourism and Muara Angke Fish Market are presented to highlight the character of the traditional fishing industry as its new identity. Keywords: fishing activity tourism; fish market; muara angke; urban acupuncture Abstrak Kawasan Muara Angke bermula dari rawa-rawa. Perlahan kawasan dihidupi oleh partisipasi masyarakat. Selain kawasan yang kaya akan potensi perikanannya, kondisi alam dan sosial juga menjadi keunggulan bagi kawasan. Kawasan Muara Angke identik dengan tempat wisata alam, kampung nelayan, dan Tempat Pengolahan Hasil Perikanan Tradisional (PHPT). Identitas ini perlahan kian menghilang tergantikan dengan citra kawasan yang bau, kotor dan kumuh. Perpindahan penduduk menyebabkan kawasan menjadi padat dan mengalami degradasi fisik dan identitas. Dampaknya, movement ke kawasan menurun akibat attractor juga terdegradasi secara fisik menjadi kumuh, bau, dan kotor, sehingga identitas Kawasan Muara Angke perlu diperbaiki. Proyek Wisata ANPIMA yakni adalah fasilitas Wisata Aktivitas Nelayan dan Pasar Ikan Muara Angke yang menerapkan strategi urban acupuncture dengan tujuan untuk menghidupkan kembali Muara Angke yang terdegradasi secara fisik. Penelitian menggunakan metode pengumpulan data terkait Muara Angke, teori CMA, dan strategi urban acupuncture, serta metode pembahasan design by research. Sedangkan perancangan menggunakan metode simbiosis. Hasil penelitian adalah Wisata ANPIMA dengan program wisata aktivitas nelayan dan pasar ikan, serta komersial berupayan menghidupkan kembali Muara Angke dengan mengkoneksikan tapak terhadap laut, warga lokal, wisata, dan nelayan. Strategi urban acupuncture diaplikasikan dari potensi yang membuat Muara Angke dikenal luas oleh masyarakat sepeti aktivitas dalam kawasan dan alamnya. Dengan demikian, dihadirkan Wisata ANPIMA: Wisata Aktivitas Nelayan dan Pasar Ikan Muara Angke untuk menonjolkan karakter industri perikanan tradisional sebagai identitas barunya.
MENGHIDUPKAN KAWASAN PECENONGAN MELALUI KEGIATAN KULINER JALANAN DAN PUSAT REKREASI DENGAN STRATEGI AKUPUNKTUR PERKOTAAN Vincensius Jayson; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21763

Abstract

Culinary has now become a very important part of tourism as it is one of the basic human needs. One of those culinary tourism takes place in the heart of Jakarta, namely Pecenongan. However, in recent years Pecenongan has begun to be abandoned for various reasons, one of which is the continued emergence of culinary tourism on the other side of Jakarta, while Pecenongan itself has not experienced much change. One by one street vendors started to leave, leaving a few who were still trying to survive. The area, which mostly used as offices during the day and street culinary delights at night, is now more often than not a place of traffic passerby with few visitors stopping by. If this continues, the culinary area of ​​Pecenongan will fade and disappear leaving only memories. Therefore, the purpose of this research is to create a new attraction while still respect the existing surroundings, namely street vendors' tents and restorants. The target of the project is to attract older and younger generation who may no longer know Pecenongan. The strategy design of this project uses urban acupuncture with a non-linear narrative design method to bring life to it’s culinary in the morning, afternoon, and night of Pecenongan. The use of ramp as the main vertical circulation brings the concept of ‘road’ into the building. More open area is implemented as around Pecenongan is already quite crowded with so many dense buildings, so that visitors can experience a different atmosphere than the surrounding culinary. The program consist of Living Street Culinary Gallery, Food Market, Workshop, and Recreation is expected to invite visitors back to Pecenongan and enliven the atmosphere not only in the project but also around Pecenongan Street. Keywords:  Cullinary; Urban Acupuncture; Recreation; Tourism Abstrak Kuliner saat ini telah menjadi salah satu bagian dari pariwisata yang sangat penting karena merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Salah satu wisata kuliner itu ada di jantung Kota Jakarta yakni Pecenongan. Meskipun demikian, Pecenongan beberapa tahun terakhir sudah mulai ditinggalkan karena berbagai alasan, satu diantaranya adalah terus bermunculannya wisata kuliner di sisi lain Jakarta, sementara Pecenongan tidak mengalami banyak perubahan. Satu demi satu PKL mulai pergi dengan menyisakan beberapa yang masih berusaha bertahan di Pecenongan. Kawasan yang mayoritas perkantoran pada siang hari dan kuliner di malam hari kini lebih sering menjadi tempat lalu lalang dengan sedikit pengunjung yang mampir. Jika hal demikian terus berlanjut, daerah kuliner Pecenongan akan memudar dan menghilang menyisakan segelintir memori. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah memunculkan suatu atraksi baru dengan tetap menghormati keberadaan sekitar yang ada yakni tenda-tenda PKL dan restoran-restoran. Target dari proyek yakni dapat menarik generasi lama dan muda yang mungkin tidak lagi mengenal Pecenongan. Desain proyek ini menggunakan metode akupunktur perkotaan dengan beserta naratif non-linear guna menghidupkan kuliner di pagi, siang, dan malam Pecenongan. Penggunaan ramp sebagai sirkulasi vertikal utama membawa konsep jalan ke dalam bangunan. Area yang lebih terbuka diterapkan karena sekitar Pecenongan sudah cukup sesak dengan begitu banyak bangunan padat, sehingga pengunjung dapat mengalami suasana yang berbeda dibanding kuliner sekitar. Program galeri kuliner jalanan hidup, pasar makanan, lokakarya, dan rekreasi diharapkan dapat mengundang datangnya pengunjung kembali ke Pecenongan dan meramaikan suasana tidak hanya di proyek tapi juga disekitar Jl. Pecenongan.
MENGHIDUPKAN KEMBALI PASAR ANTIK JALAN SURABAYA MELALUI GALERI, PERTOKOAN, DAN KULINER DENGAN STRATEGI AKUPUNKTUR PERKOTAAN James Nathanael; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21764

Abstract

Antique Market is a destination for people who want to shop for antiques or just for recreation. However, nowadays people's interest in antiques has decreased, plus the convenience of shopping that can be done online makes people choose to do shopping in this way. The Antique Market on Jalan Surabaya is one of the antique markets that was affected and became empty of visitors. The project to revive the Antique Market on Jalan Surabaya was started by collecting data and supporting theories through direct visits and internet searches to determine the area. Furthermore, the determination of the location is carried out using the urban acupuncture method through area analysis. The building was then designed with a contrasting contextual method in order to give a new face to the area. This project has galleries, shops, and culinary programs. The gallery program is held as a place for antique sellers to promote their wares and introduce antiques to visitors. The shopping program was held to provide a link between the project and the Antique Market on Jalan Surabaya. The culinary program was held to attract visitors to the project and the Antique Market on Jalan Surabaya. The culinary program in question is food court that sells Colonial and traditional Betawi food and drinks. Keywords:  Antique Markets; Culinary; Gallery; Shops; Urban Acupuncture Abstrak Pasar Antik merupakan tujuan masyarakat yang ingin berbelanja barang antik atau hanya sekedar rekreasi. Namun, sekarang ini minat masyarakat terhadap barang antik sudah menurun, ditambah lagi kemudahan berbelanja yang dapat dilakukan secara daring membuat masyarakat memilih untuk melakukan perbelanjaan dengan cara tersebut. Pasar Antik di Jalan Surabaya merupakan salah satu pasar antik yang terdampak dan menjadi sepi pengunjung. Proyek untuk menghidupkan kembali Pasar Antik di Jalan Surabaya dimulai dengan melakukan pengumpulan data dan teori pendukung melalui kunjungan langsung dan penyelusuran internet untuk menentukan kawasan. Selanjutnya penentuan lokasi dilakukan dengan metode akupunktur perkotaan melalui analisis kawasan. Bangunan kemudian dirancang dengan metode kontekstual kontras agar dapat memberikan wajah baru pada kawasan. Proyek ini memiliki program galeri, pertokoan, dan kuliner. Program galeri diadakan sebagai wadah penjual barang antik untuk mepromosikan barang dagangannya dan memperkenalkan barang antik kepada pengunjung. Program pertokoan diadakan untuk memberikan hubungan antara proyek dengan Pasar Antik di Jalan Surabaya. Program kuliner diadakan untuk dapat menarik pengunjung datang ke proyek dan Pasar Antik di Jalan Surabaya. Program kuliner yang dimaksud adalah foodcourt yang menjual makanan dan minuman masa Kolonial dan tradisional Betawi.
INOVASI RUANG PUBLIK DAN TEKNOLOGI INTERAKTIF SEBAGAI PENGENALAN BUDAYA INDONESIA UNTUK GENERASI PENERUS BANGSA Gilbert Sukanta; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24290

Abstract

Globalization is an inevitable phenomenon. Through social media, people from different parts of the world can get to know other aspects of the world. This is where a lot of exchange of ideas, concepts, politics, and culture takes place. However, many people in Indonesia fail to filter and discern the cultures they absorb. The excessive inclination towards foreign cultures leads people to become apathetic towards their own culture, resulting in a shift in culture and morality, as well as a change in the mindset of the younger generation who imitate aspects of foreign cultural life. Therefore, there is a need for an accessible space that can be accessed by everyone, especially the future generation, through the integration of interactive technology that can pique the interest of the community in reacquainting themselves with their own traditional culture so that it is not left behind or forgotten. This research aims to dissect the most effective methods, technologies, and architectural aspects to realize a love for the nation. Thanks to technological advancements, art and culture can be linked to sophisticated devices such as Augmented Reality and Virtual Reality. With the introduction of public spaces integrated with advanced technology, it can become an effective means to introduce and enhance the community's love for traditional culture. By combining traditional cultural heritage with the potential of modern technology, we can manifest love and pride in our own cultural identity, thereby having a positive impact on present and future generations. Keywords:  art; culture; public spaces; globalization; technology Abstrak   Globalisasi merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindarkan. Lewat media sosial, orang dari belahan dunia lain bisa mengenal sisi dunia lainnya. Dari sinilah banyak terjadi pertukaran ide, gagasan, politik termasuk budaya. Namun banyak dari masyarakat Indonesia bersikap tidak memilah serta menyaring budaya yang diserap. Kecenderungan kecintaan terhadap budaya luar yang berlebih membuat orang bersikap apatis terhadap budaya sendiri, terjadi pergeseran budaya dan akhlak serta mengubah pola pikir generasi muda untuk meniru aspek kehidupan budaya asing. Maka dari itu, diperlukan suatu ruang bebas yang dapat diakses oleh semua orang  terutama generasi penerus bangsa lewat integrasi teknologi interaktif yang dapat menarik minat masyarakat untuk mengenal kembali budaya tradisional negara sendiri sehingga budaya sendiri tidak tertinggal dan tidak terlupakan. Penelitian ini bertujuan untuk membedah metode, teknologi serta aspek arsitektur seperti apa yang paling efektif untuk mewujudkan kecintaan terhadap bangsa. Berkat kemajuan teknologi, dapat dikaitkan antara seni dan kebudayaan dengan perangkat canggih seperti Augmented Reality dan Virtual Reality. Kemudian dengan hadirnya ruang publik yang diintegrasikan dengan teknologi canggih dapat menjadi sarana yang efektif untuk memperkenalkan dan meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya tradisional. Dengan menggabungkan warisan budaya tradisional dengan teknologi modern, kita dapat mewujudkan cinta dan kebanggaan terhadap identitas budaya kita sendiri, sehingga membawa dampak positif bagi generasi sekarang dan masa depan.  
PEMANFAATAN POTENSI DESA CIBULUH, SUBANG DALAM PENINGKATAN RESILIENSI EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA MELALUI ARSITEKTUR PARTISIPATIF Felya Monica; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24291

Abstract

The village of Cibuluh, Subang, which is flowed by water and is also a meeting place for 7 rivers, shows its identity through spatial patterns and activities. The village has potential which includes the natural beauty of the hills and the use of agricultural land, as well as a well-maintained environment. The existence of the Cipunagara river pollution phenomenon in 2016 which was suspected to be the impact of factory waste has reduced the potential of Cibuluh Village, both from the economic, tourism and river culture aspects. The loss for Cibuluh Village is not only limited to the death of native fish, but the livelihoods of the village community are also threatened. The method for this writing uses a qualitative interpretive research method on the context of people's lives from an economic, social and cultural perspective as well as the use of space in Cibuluh Village. The discussion in this paper includes mapping the physical, social and cultural environment of the village; Identify existing potentials and challenges; as well as analyzing the relationship between rivers, agriculture, and culture of Cibuluh Village, Subang. The purpose and focus of this writing is to propose a program prospect that is able to increase village resilience starting from the cultural capital and local identity that is already owned. Overall, the results of the discussion from this writing are that Cibuluh Village has great cultural potential. The thickness of the community with traditional arts and skills is a capital that has the potential to be developed. However, there needs to be spaces to allow for program interventions that are able to help increase the existence of this Cibuluh Village. Application of Participatory Architecture and Collaboration between relevant stakeholders will be key in achieving the goals. Keywords: participatory architecture; local identity; village resilience Abstrak   Desa Cibuluh, Subang yang dialiri sekaligus menjadi tempat bertemunya 7 aliran sungai ini memperlihatkan identitasnya melalui pola ruang dan aktivitasnya. Desa memiliki potensi yang meliputi keindahan alam perbukitan dan pemanfaatan lahan pertanian, serta lingkungannya yang tetap terjaga dengan baik. Adanya fenomena pencemaran sungai Cipunagara 2016 silam yang diduga merupakan dampak dari limbah pabrik telah menurunkan potensi dari Desa Cibuluh, baik dari aspek ekonomi, pariwisata, hingga budaya sungai. Kerugian bagi Desa Cibuluh bukan hanya sebatas matinya ikan natif, tetapi penghidupan masyarakat desa juga turut terancam. Metode untuk penulisan ini menggunakan metode penelitian interpretatif kualitatif terhadap konteks kehidupan masyarakat dari segi ekonomi, sosial, dan budaya serta pemanfaatan ruang di Desa Cibuluh. Pembahasan dalam penulisan ini meliputi pemetaan lingkungan fisik, sosial, dan budaya desa; Mengidentifikasi potensi dan tantangan yang ada; serta menganalisis hubungan antara sungai, pertanian, dan kebudayaan Desa Cibuluh, Subang. Adapun tujuan dan fokus dari penulisan ini adalah mengajukan suatu prospek program yang mampu meningkatkan resiliensi desa berangkat dari modal kebudayaan dan identitas lokal yang sudah dimiliki. Secara keseluruhan, hasil pembahasan dari penulisan ini yaitu Desa Cibuluh memiliki potensi budaya yang besar. Kentalnya masyarakat dengan kesenian dan keterampilan tradisional menjadi modal yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Namun, butuh adanya ruang-ruang untuk memungkinkan dilakukannya intervensi program yang mampu membantu meningkatkan eksistensi dari Desa Cibuluh ini. Penerapan Arsitektur Partisipatif dan Kolaborasi antara pemangku kepentingan yang relevan akan menjadi kunci dalam mencapai tujuan.