Claim Missing Document
Check
Articles

Evaluasi Performansi Tec (thermoelectric Cooler) Dari Data Teknis Dan Model Dengan Verifikasi Percobaan Anindya Nur Azizah; Tri Ayodha Ajiwiguna; Asep Suhendi
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak TEC (Thermoelectric Cooler) merupakan sebuah alat yang bekerja mengkonversi energi listrik menjadi suhu berdasarkan efek Peltier. Efek Peltier mengakibatkan salah satu sisi modul menjadi dingin karena ada proses penyerapan kalor dari lingkungan. Sisi modul TEC (Thermoelectric Cooler) menjadi panas maupun dingin tergantung arah aliran listrik. Pada penelitian ini, dilakukan pengujian nilai kalor yang diserap (Qc) dan COP (Coefficient Of Performance) dari tiga buah modul peltier TEC-12706. Setiap modul diuji secara percobaan, berdasarkan data teknis dan melihat grafik modul dengan suhu sisi panas (Th) dijaga tetap 50°C. Untuk mengetahui modul peltier yang memiliki performa paling bagus, maka hasil pengujian berdasarkan data teknis dan melihat grafik harus diverifiaksi dengan pengujian secara percobaan. Berdasarkan hasil penelitian, modul peltier TEC-12706 (A) memiliki performa paling bagus dengan nilai kesalahan pengujian kalor yang diserap (Qc) dan COP (Coefficient Of Performance) berdasarkan data teknis berturutturut sebesar 0,27% dan 1,6%. Kata Kunci: pendingin termoelektrik, efek peltier, nilai kesalahan. Abstract TEC (Thermoelectric Cooler) is a device that works to convert electrical energy into temperatures based on the Peltier effect. Peltier effect causes one side of the module to cool because there was a heat absorption process from the environment. The side of the TEC (Thermoelectric Cooler) module becomes hot or cold depending on the direction of electricity. In this study, testing the absorbed heat value (Qc) and COP (Coefficient of Performance) was carried out from three Peltier TEC-12706 modules. Each module tested experimentally, based on technical data and looking at the module graph with the heat side temperature (Th) kept 50 ° C. To find out the Peltier module that has the best performance, then the test results based on technical data and see the graph must be verified by trial testing. Based on the results of the research, the TEC-12706 (A) Peltier module has the best performance with the error value of absorbed heat testing (Qc) and COP (Coefficient of Performance) based on technical data of 0.27% and 1.6%, respectively. Keywords: thermoelectric cooler, peltier effect, error value
Mesinpengering Pakaian Menggunakan Elemen Pemanas Ptc Susetyo Agung Prabowo; Tri Ayodha Ajiwiguna; M.Ramdlan kirom
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pengeringan adalah proses perpindahan panas dan uap air secara simultan yang memerlukan energi panas untuk menguapkan kandungan air. Energi panas ini biasanya bisa didapatkan dari sinar matahari. Namun ketika musim penghujan, kondisi ini menghambat segala sesuatu yang sangat bergantung pada sinar matahari, salah satunya dalam hal mengeringkan pakaian. Maka dari itu diperlukan suatu alat bantu yang dapat mengeringkan pakaian tanpa tergantung pada sinar matahari. Mesin pengering pakaian adalah mesin yang digunakan untuk mengeringkan pakaian dengan energi panas buatan, salah satu penghasil pemanas buatan adalah elemen pemanas. Elemen pemanas buatan yang digunakan pada penelitian ini adalah elemen pemanas PTC. Elemen pemanas PTC ini akan memanaskan suhu dalam ruangan segienam hingga 50º C sehingga panas yang dihasilkan elemen pemanas PTC dapat mengubah air yang terkandung dalam pakaian menjadi uap air yang kemudian akan dilepas ke lingkungan dengan bantuan kipas. Berdasarkan hasil perhitungan dan pengujian, beban pemanasan total dari rancang bangun mesin ini sebesar 817,8 Watt, kemampuan mesin menguapkan massa air rata-rata 557.03 gram/jam dengan kelembaban ruang pengeringan ketika pakaian kering 30,06% dan mesin ini mencapai titik optimumnya untuk jumlah pengeringan pakaian sebanyak 12 pakaian. Kata kunci : Pengeringan, mesin pengering pakaian, elemen pemanas PTC, beban pemanasan Abstract Drying is a simultaneous process of heat transfer and water vapor that requires heat energy to evaporate water content. This heat energy can usually be obtained from sunlight. But during the rainy season, this condition inhibits everything that is very dependent on sunlight, one of which is in drying clothes. Therefore it is necessary a tool that can dry clothes without depending on sunlight. Clothes dryer is a machine used to dry clothes with artificial heat energy, one of the producers of artificial heating is a heating element. The artificial heating element used in this study is the PTC heating element. This PTC heating element will heat the ambient heating temperature up to 50º C so that the heat generated by the PTC heating element can change the water contained in the garment into water vapor which will then be released into the environment with the help of the fan. Based on the calculations and tests, the total heating load from the engine design is 817,8 Watt, the machine's ability to evaporate the average water mass 557.03 gram / h with the humidity of the drying chamber when 30.06% dry clothing and the machine reaches its optimum point for the number of clothes drying is 12 clothes. Keywords: Drying, clothes drying machine, PTC heating element, heating load
Evaluasi Sistem Pendinginan Malam Hari Di Kota Bandung Mochamad Firman Muzaqi Alhaq; Tri Ayodha Ajiwiguna; M.Ramdlan kirom
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Nocturnal cooling merupakan alternatif pemanfaatan energi yang didapat dari radiasi stratosfer malam hari. Sistem nocturnal cooling berkerja secara pasif tanpa ada alat bantu lain dan dapat dilihat terjadi perbedaan antara temperatur dalam sistem dengan lingkungan. Pada penelitian ini akan dirancang sistem yang terisolasi dengan bagian atas menggunakan kaca sebesar 45 x 45 cm yang memiliki ketebalan sebesar 3 mm dan memanfaatkan lempengan stainless steel dan aluminium sebesar 40 x 40 cm yang memiliki ketebalan 2 mm berwarna hitam sebagai objek penerima radiasi. Pada bagian dalam terdapat fluida sebagai media yang akan didinginkan dan sebagai alat ukur menggunakan sensor temperatur DS18B20. Pengujian dilakukan pada malam hari yaitu pukul 20.00 sampai 05.00 WIB. Data hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi fenomena nocturnal cooling. Pada kedua sistem mengalami perbedaan selisih penurunan temperatur, pada stainless steel mengalami penurunan sebesar 3,25 °C dan pada sistem yang menggunakan aluminium mengalami penurunan sebesar 3 °C. Penurunan sistem yang menggunakan stainless steel mengalami penurunan temperatur lebih besar dibandingkan aluminium, karena stainless steel memiliki nilai emisivitas 0,98 lebih besar dari aluminium yang memiliki nilai emisivitas sebesar 0,82. ada pengujian sistem bergantung pada kondisi aktual seperti berawan dan cerah. Pada kondisi berawan selisih temperatur dari kedua sistem dengan lingkungan mengalami perbedaan yang kecil, berbanding terbalik dengan kondisi cerah. Penurunan temperatur terbesar rata-rata terjadi diantara pukul 23.30 sampai 00.30 WIB. . Kata kunci : nocturnal cooling, stratosfer, radiasi, emisivitas Abstract Nocturnal cooling is an alternative energy utilization derived from night stratosphere radiation. The nocturnal cooling system works passively without any other assistive devices and it can be seen that there is a difference between the temperature in the system and the environment. In this study will be designed an isolated system with the top using a glass of 45 x 45 cm which has a thickness of 3 mm and uses a stainless steel plate and aluminum of 40 x 40 cm which has a thickness of 2 mm black as the object of receiving radiation. On the inside there is a fluid as a medium to be cooled and as a measuring instrument using the temperature sensor DS18B20. Tests are carried out at night at 20.00 to 05.00 WIB. The results of the study showed that there was a nocturnal cooling phenomenon. In both systems, there was a difference in the difference in temperature reduction, in stainless steel decreased by 3.25 ° C and in systems using aluminum decreased by 3 ° C. The decrease in the system using stainless steel has a greater temperature decrease than aluminum, because stainless steel has an emissivity value of 0.98 greater than aluminum which has an emissivity value of 0.82. there is a system test depending on actual conditions such as cloudy and bright. In cloudy conditions the temperature difference of the two systems with the environment has a small difference, inversely proportional to the clearly conditions. The largest average temperature drop occurred between the hours of 11:30 to 12:30pm. Keywords: nocturnal cooling, stratosphere, radiation, emissivity
Pengaruh Em4 (effective Microorganisme ) Pada Produksi Biogas Dengan Bahan Baku Sampah Organik Rumah Tangga Muh. Al Furqan Syafiuddin; Suwandi Suwandi; Tri Ayodha Ajiwiguna
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Biogas merupakan salah satu energi alternatif yang dapat dihasilkan dari fermentasi bahan organik oleh proses anaerob. Bahan baku dalam proses produksi biogas yang digunakan pada penelitian ini yaitu, sampah organik yang berasal dari rumah tangga. Selain ketersedian bahannya yang melimpah, juga dapat mengurangi pencermaran lingkungan. Namun permasalahan terbesar dalam proses produksi biogas adalah konstruksi, dimana pada umunya permanen. Sehingga perlu dikembangkan untuk penggunaan skala rumah tangga. Salah satu yang dikembangkan saat ini adalah homebiogas mobile. Homebiogas mobile merupakan sistem penggunaan biogas skala rumah tangga yang konstruksinya yang lebih sederhana dan mudah digerakkan secara bebas. Secara alami pembentukan biogas cukup memerlukan waktu yang lama dalam proses fermentasi, oleh karena itu dibutuhkan peran aktivator. Aktivator yang digunakan pada penelitian ini EM4 (Effective mikroorganisme). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi EM4 pada produksi biogas dengan bahan baku sampah organik rumah tangga dan variasi penambahan EM4 sebesar 5%, 7% dan 9%. Penelitian tersebut dilakukan menggunakan 2 metode yaitu wet dan dry digester. Dari hasil penelitian pada metode wet dan dry digester, dengan penambahan konsentrasi EM4 9 % total produksi gas dihasilkan lebih banyak dibandungkan variasi yang lain. Sedangkan pada pengukuran kandungan gas metana, yang menghasilkan paling baik yaitu, penambahan kosentrasi EM4 9% dengan bahan insulasi rockwool sebesar 31% pada metode wet digester. Kata kunci: Biogas, Sampah organik rumah tangga, Homebiogas mobile, EM4 (Effective mikroorganisme) ABSTRACT Biogas is one of alternative energy that can be produced from fermentation of organic material by anaerob process. Raw materials in the biogas production process used in this study is, organic waste originating from households. In addition to the availability of abundant materials, also can reduce environmental contamination. But the biggest problem in biogas production process is construction, which in general is permanent. So it needs to be developed for household use. One developed today is the mobile homebiogas. Mobile Homebiogas is a household-scale biogas usage system whose construction is simpler and easier to move freely. Naturally the formation of biogas requires quite a long time in the process of fermentation, therefore it takes the role of activator. Activators used in this study EM4 (Effective microorganisms). This study aims to determine the effect of EM4 concentration on biogas production with raw materials of household organic waste and variations of EM4 addition of 5%, 7% and 9%. The research was conducted using two methods: wet and dry digester. From the results of the research on wet and dry digester method, with the addition of EM4 concentration 9% total gas production produced more dibandungkan other variations. While the measurement of methane gas content, which produces the best is the addition of EM4 concentration of 9% with rockwool insulation material of 31% on wet digester method. Keywords: Biogas, Household organic waste, Homebiogas mobile, EM4 (Effective microorganisms)
Perancangan Sistem Kontrol Kebutuhan Air Boiler Pada Pembangkit Tenaga Sampah Rizal Murdi Saputro; Porman Pangaribuan; Tri Ayodha Ajiwiguna
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Proses pengolahan sampah di Desa Lengkong pada saat ini masih menggunakan metode pengolahan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Lahan TPA semakin sedikit dan tak sedikit TPA yang ada akan ditutup sehingga membutuhkan proses pengolahan sampah dengan metode lain salah satunya dengan cara pengolahan sampah ditempat dengan pembakaran. Incinerator adalah alat pembakaran sampah dengan suhu tertentu biasanya dengan suhu diantara 600-1200oC sehingga dapat mengurangi volume awal sampah. Gas buang hasil pembakaran incinerator harus sudah lulus uji emisi gas buang sehingga aman bagi lingkungan sekitar. Dengan pembakaran sampah menggunakan kalor yang cukup tinggi, incinerator diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai penghasil uap air dengan cara memanaskan air didalam boiler dan hasil uap airnya akan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga sampah. Pada tugas akhir ini, dibuat sistem kontrol ketinggian air pada boiler. Sistem ini akan dilengkapi dengan pompa air DC yang dapat dikontrol PWMnya dengan Fuzzy Logic Controller (FLC) karena pengontrolan ini tidak menggunakan perhitungan matematis dan menggunakan bahasa manusia untuk pendefinisian kondisi yang ada sehingga lebih praktis. Jika incinerator dapat dimanfaatkan sebagai penghasil uap air selain sebagai pembakar sampah untuk mengurangi volume sampah maka hasil dari uap air dapat digunakan untuk kebutuhan pembangkit tenaga sampah. Berdasarkan hasil perancangan dan implementasi Fuzzy Logic Controller pada sistem kontrol ketinggian air, sistem pada tugas akhir ini dapat menuju setpoint ketinggian air yang diinginkan dan mampu beradaptasi jika diberikan gangguan pembacaan sensor. Dari ketinggian awal air untuk menuju ketinggian air yang diinginkan yaitu 15 cm dengan settling time 617 detik. Selain itu, uap air yang dihasilkan pada tugas akhir ini ± 2,5 bar. Kata Kunci : Sampah, Incinerator, Uap Air, Sistem Kendali, Fuzzy Logic Abstract The waste treatment process at Lengkong Village is currently still using waste treatment methods in the Final Disposal Site. Landfill is getting less and not a few landfills will be closed so that it needs a waste treatment process with other methods, one of them is by processing waste in place with burning. Incinerator is a waste burning device with a certain temperature usually with a temperature between 600-1200oC so that it can reduce the initial volume of waste. Exhaust gas from the incinerator combustion must have passed the exhaust emission test so that it is safe for the surrounding environment. By burning waste using heat that is high enough, the incinerator is expected to be used as a producer of water vapor by heating water in the boiler and the results of water vapor will be used for waste power plants. In this final project, a water level control system in the boiler is made. This system will be equipped with a DC water pump that can be controlled by PWM with Fuzzy Logic Controller (FLC) because this control does not use mathematical calculations and uses human language to define existing conditions so that it is more practical. If the incinerator can be used as a producer of water vapor other than as a waste burner to reduce the volume of waste, the yield of water vapor can be used for the needs of a waste power plant. Based on the results of the design and implementation of Fuzzy Logic Controller on the water level control system, the system in this final project can go to the desired water level setpoint and be able to adapt if the sensor readings are disturbed. From the initial height of the water to reach the desired water level of 15 cm with a settling time of 617 seconds. In addition, water vapor produced in this final project is ± 2.5 bar. Keywords: Trash, Incinerator, Water Vapor, Full System, Fuzzy Logic
Analisis Eksergi Pada Proses Biogas Menggunakan Abr (anaerobic Baffled Reactor) Dengan Substrat Nasi Basi Andre Farlianto; M Ramdlan Kirom; Tri Ayodha Ajiwiguna
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biogas adalah salah satu inovasi dalam pengembangan energi alternatif. dapat diperoleh dengan proses anaerob. Namun proses produksi dan sejauh mana penggunaan energi pada biogas masih menjadi permasalahan dalam produksi biogas. Efisiensi dari berbagai proses produksi biogas harus dikaji lebih dalam dengan tujuan agar biogas yang dihasilkan dapat seoptimal mungkin. salah satu aspek yang harus di dikaji adalah efisiensi penggunaan energi. Analisa eksergi merupakan metode yang dapat mengidentifikasi kerugian energi yang terjadi pada proses biogas. Identifikasi kerugian ini bertujuan untuk evaluasi serta perbaikan proses biogas. Analisa eksergi dapat memberikan informasi yang diperlukan untuk meningkatkan performa sistem biogas secara efisien. Adapun metode dalam penelitian ini yaitu mengumpulkan data dari percobaan proses biogas, kemudian menganalisis secara eksergi untuk menentukan degradasi energi. Metoda ini coba diterapkan pada proses biogas menggunakan ABR (Anaerobic Baffled Reactor) menggunakan substrat nasi basi yang dilakukan dengan 2 jenis percobaan, tanpa pengondisian suhu dan dengan pengondisian suhu. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa masih besarnya rasio pemusnahan eksergi pada sistem dan masih relatif rendahnya efisiensi dari proses biogas yang dilakukan Kata Kunci : Biogas, Analisa Eksergi, Anaerobic baffled reactor, Efisiensi eksergetik.
Rancang Bangun Pendingin Untuk Perangkat Elektronik Pada Green House Galih Putra Anugrah; Abrar Ismardi; Tri Ayodha Ajiwiguna
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perangkat elektronik memiliki batas temperatur ambient dalam bekerja yaitu -20oC hingga 40oC berdasarkan IEC 60079-0 untuk mencegah potensi meledak. Sehingga thermal management sangatlah dibutuhkan dalam pemeliharaaan perangkat elektronik, salah satunya pada green house yang memiliki nilai temperatur bisa lebih besar dari 40oC. Dalam penelitian ini sebuah kotak pendingin berbahan akrilik dengan dimensi panjang 15 cm, lebar 15 cm, dan tinggi 15cm memiliki nilai beban 17,57 Watt pada pengujian temperatur lingkungan 50oC. Perancangan kotak pendingin dilakukan dengan tiga rancangan. Rancangan pertama kotak pendingin tersebut menggunakan heat exchanger dan Thermoelectric yang terintegrasi water block pada bagian luar kotak pendingin dapat menahan peningkatan pada temperatur ±34,5oC. Rancangan yang kedua kotak pendingin tersebut menggunakan heat exchanger dan Thermoelectric yang terintegrasi dengan water block dipasang didalam kotak pendingin dapat menahan peningkatan pada temperatur ±35,5oC. Rancangan ketiga bagian luar kotak serta bagian dalam kotak akan menggunakan heat exchanger, dapat menahan peningkatan pada temperatur ±28,5oC. Pada setiap perancangan, temperatur kotak pendingin dapat menahan temperatur tidak melebihi temperatur ambient tertinggi untuk perangkat elektronik sebesar 40oC
Pengembangan Kotak Pendingn Berbasis Termoelektrik Dengan Memanfaatkan Heatpipes Sebagai Komponen Pelepas Kalor Hafizh Farras Putra; Suprayogi Suprayogi; Tri Ayodha Ajiwiguna
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kotak pendingin berbasis termoelektrik adalah kotak pendingin yang memanfaatkan modul termoelektrik sebagai komponen pendingin ruang yang terinsulasi dari lingkungan. Heatpipes adalah teknologi penghantar panas dengan menggunakan pipa berukuran khusus dan memiliki fluida kerja di dalamnya. Penerapan modul TEC pada aplikasi pendiginan merupakan teknologi yang ramah lingkungan, selain itu bentuknya kecil dan tidak memerlukan sistem instalasi yang rumit menjadikan kombinasi TEC dan heatpipes sebagai pilihan yang tepat untuk diaplikasikan pada sistem pendingin. Maka dari itu dilakukan penelitian dan pembuatan kotak pendingin berbasis termoelektrik dengan memanfaatkan heatpipes sebagai komponen pelepas kalor. Pada penelitian ini sistem pendingin dapat mengkondisikan ruang di kotak pendingin hingga ±8oC dengan kondisi lingkungan di temperatur 26oC. Dengan kondisi yang sama kotak pendingin juga dapat menurunkan temperatur 800gr air menjadi ±17ºC dalam waktu 3600s. Kata Kunci: termoelektrik, kotak pendingin, heatpipes, efek Peltier, cooling box, air. Abstract Cooling box based thermoelectric is a cooling box utilizing a thermoelectric module as a cooling medium of an insulated box or chamber from the environment. Heatpipes is heat conducting technology technology using special sized pipes and have working fluids in them. The application of TEC module and heatpipes on cooling applications is an environmentally friendly technology, otherwise the shape is small and does not require a complicated installation system makes the combination of these two components as one of the right choice in order to maintain the temperature of the box. Therefore, research and manufacture of cooling box based thermoelectric by heatpipes utilizing as heat release component. This research can keep the air temperature in the cooling box of ± 8 º C on temperature in the environment ranging from 26oC. The cooling box can also lower the temperature of 800gr water to ± 17 º C within 3600s. Keywords: thermoelectric, cooler, heatpipes, Peltier effect, cooling box, water.
Pengaruh Beban Kalor Terhadap Thermal Resistance Pada Heat Sink Fan Rozan Widhi Jatnika; Tri Ayodha Ajiwiguna; M Ramdlan Kirom
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Thermal Resistance dapat menjadi salah satu aspek yang dapat mempengaruhi proses penyebaran kalor khususnya pada Heat Sink Fan. Nilai Thermal Resistance dan pengaruhnya terhadap performa Heat Sink Fan ini tidak lepas dari kalor yang dibebankan pada Heat Sink Fannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh beban kalor terhadap Thermal Resistance pada Heat Sink Fan dengan menguji 5 Heat Sink Fan yang berbeda. Untuk mendapatkan hubungan pengaruh beban kalor dengan Thermal Resistance pada Heat Sink Fan dan mendapatkan Heat Sink Fan yang paling efektif melakukan penyebaran dan pembuangan kalor, pengujian dilakukan dengan memvariasikan keluaran sumber kalor yang dibebankan pada sistem dengan menaikkan tegangannya sedikit demi sedikit dengan menggunakan dimmer dan sumber kalornya adalah modul termoelektrik TEC 12706. Dari pengujian yang dilakukan, didapatkan heatsink fan dengan thermal resistance paling kecil adalah 0,064 oC/W dan thermal resistance paling kecil adalah 0,164 oC/W, semakin tinggi beban kalornya, maka thermal resistancenya semakin rendah, Hal ini disebabkan oleh perbedaan temperatur karena adanya peningkatan temperatur pada permukaan heat sink fan yang mempengaruhi nilai laju perpindahan kalor (q) sehingga terjadi peningkatan perpindahan kalor konveksi dan nilai thermal resistancenya menjadi kecil. Kata Kunci: Thermal Resistance, pengaruh beban kalor, Heatsink Fan Abstract Thermal Resistance can be one aspect that can affect the heat dissemination process especially on Heat Sink Fan. Thermal Resistance value and its effect on Heat Sink Fan performance is not free from the heat that is charged to the Heat Sink Fan. This study aims to determine and analyze the influence of heat load on Thermal Resistance on Heat Sink Fan by testing 5 different Heat Sink Fan. To obtain the relationship of heat load effect with Thermal Resistance on Heat Sink Fan and get Heat Sink Fan which is most effective at disseminating and discharging heat, the test is done by varying the output of heat source which is charged to the system by increasing the voltage bit by bit by using dimmer and the source of calor is a TEC 12706 thermoelectric module. From this experiment, the heatsink fan with the lowest thermal resistance is 0.064 oC / W and the highest thermal resistance is 0.164 oC / W, the higher the heat load, the lower thermal resistance. This is caused by temperature differences due to an increase in temperature on the surface of the heat sink fan which affects the heat transfer rate (q) so that an increase in heat transfer of convection and the thermal resistance value becomes small. Keywords: Thermal Resistance, Heating Load Effect, Heatsink Fan
Studi Pendingin Evaporatif Untuk Pendinginan Air Benny Sarihot Tua Silalahi; Tri Ayodha Ajiwiguna; M Ramdlan Kirom
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendingin evaporatif merupakan proses pendinginan yang dilakukan dengan membiarkan kontak langsung antara udara dengan uap air. Pendingin evaporatif pada penelitian ini digunakan untuk mendinginkan air pada wadah stainless steel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan arah aliran udara masuk terhadap penyerapan kalor yang terjadi pada pendinginan air dengan memanfaat efek pendingin evaporatif. Penelitian ini dilakukan dengan eksperimen pada wadah stainless steel dengan diameter 10cm dan tinggi 10 cm dengan ketebelan 3 mm yang berisi air dan dilapisi dengan kain basah. Variabel penelitian adalah arah aliran udara masuk dengan variasi secara horizontal dan vertikal terhadap wadah air. Kecepatan angin fan sebesar 3,3 m/s. Data yang diambil meliputi data temperatur air dan temperatur lingkungan. Data-data tersebut digunakan untuk menghitung besar penyerapan kalor yang terjadi pada air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah aliran udara masuk terhadap wadah air berpengaruh terhadap penyerapan kalor yang terjadi. Pada arah aliran udara masuk secara horizontal terhadap wadah air mempunyai penyerapan kalor sebesar 2,016 watt lebih tinggi dibandingkan dengan arah aliran udara masuk secara vertikal terhadap wadah yang hanya mempunyai penyerapan kalor sebesar 1,792 watt. Kata kunci : Pendingin Evaporatif, tidak langsung, kalor penyerapan Abstract Evaporative cooling is a process that carried out by connecting directly between air and water vapor. An evaporative cooler in this case to cooling the air in a stainless steel vessel. Evaporative cooling is a process that resulting a change from the sensible heat to latent heat because of allowed direct contact between the air and water vapor. The objective of this research is to know the influence of the difference beetwen incoming airflow direction to the heat absorption which occurs on water-cooling by utilizing the effect of evaporative cooling. This research was conducted by experiment on stainless steel vessel with 10cm of height, 10cm of diameter and 3mm of thickness which is filled by water and coated with wet cloth. The research variable is the direction of airflow with variation horizontally and vertically to water vessel. Wind fan speed is 3.3 m / s. The required data are water temperature and ambient temperature data. The data is used to calculate the amount of heat absorption that occurs in water. The results of this research shows that the direction of the airflow that enter the water vessel give an effect on the absorption of heat that occurs. In the direction of the airflow vertically to the water vessel, the heat absorption is 2,016 watt, higher than the direction of the airflow vertically to the vessel which has only 1,792 watt of heat absorption. Keywords: Evaporative cooling, indirect, heat absorbtion
Co-Authors Abrar Ismardi Adhidevara , Rakha Adrian Muhammad Irwansyah Ahmad Qurthobi Anbar Trisyawati Nur Zahra Andre Farlianto Anindya Nur Azizah Aprilianto, Khoirul Tri Aqilah, Falih Ardisurya Ardisurya Asep Suhendi Atika Rizkiyatul Faizah Audi Riansyahputra Ayu, Christina Putri Benny Sarihot Tua Silalahi Darmawan, Gian Arie Daulat Kliston Simatupang Dian Gunawan Dyan Franco Sinulingga Eddy Ariffin Eky Irmansyah Faiz Auliya Ramadhan Fatahah Dwi Ridhani Fathona , Indra Wahyudhin Galih Putra Anugrah Hafizh Farras Putra Haldoko, Faisal Handri Morteza Hanifa, Firda Rizki Nur Hilda Hamdah Husniyyah Ilyas, Moh. Faiz M Indra Wahyudin Fathonah Ismudiati Puri Handayani J. W. Paletekan Jovika Alitsha Hasibuan Karim, Tsabitul Azmi Abdul Kiki Azura Kirom, Mukhammad Ramdlan M Saladin Prawirasasra Mochamad Firman Muzaqi Alhaq Mochamad Roffa Firdaus Moh Riswandha Imawan Muh. Al Furqan Syafiuddin Muhamad Ramdlan Kirom Muhammad Iqbal Muhammad Zaky Mubarok, Muhammad Zaky Mutma’innah, Febria Citra Nafliyah, Sururun Narulita Andriyani Natasha Salsabila Novika Fithrah Ulfa Nur Putrialita Nurwulan Fitriyanti Nuzul Hesty Pranita Porman Pangaribuan Ramdan, M. Rafi Reza Fauzi Iskandar Rifqi Firdaus Rio Nugroho Rizal Amirah Dalal Amran Rizal Murdi Saputro Rozan Widhi Jatnika S. Suwandi Saladin Prawirasasra Salsa, Nabiela Ika Sawaludin, Kartama Aji Shaloom, Leony Anastasya Shaloom, Mukhammad Ramdlan Sucika Nandiati Suprayogi Suprayogi Susetyo Agung Prabowo Suwandi Suwandi Weli Wahyudi Yan Dewa Prabawa Yandi Firdaus Yanky Newalse Yayu Gandis Canceria Yohanes Brahmantyo Mahardhika Zuhal Sigit Rinaldi